Menikahi Om-om

Menikahi Om-om
Amarah Kikan


__ADS_3

Saat Reno membuka matanya dia terkejut karena tidak mendapati Rania disisinya, mencoba untuk tidak bepikiran macam-macam Reno mencari Rania di kamar mandi namun gadis itu tidak ada, membuatnya merasa panik karena tidak biasanya gadis itu sudah keluar kamar pada jam segini.


Reno keluar kamarnya dengan tergesa-gesa dia menuruni tangga dan menghampiri orang tuanya dan Alvian yang sedang duduk di meja makan.


“Pagi sayang sini kita sarapan dulu” Ajak Kikan sambil tersenyum.


“Apa kalian melihat Rania?” Tanya Reno tanpa menjawab pertanyaan Kikan.


Ketiganya saling berpandangan dan menggeleng tidak tahu.”Gak ada dari tadi kita belum lihat Ran” Jawab William.


“Iya aku juga gak lihat Ran, padahal tadi aku udah bangun dari subuh” Jawab Alvian.


“Ada apa Ren, Rania kenapa?” Tanya Kikan khawatir.


“Ran hilang” Jawab Reno dan tanpa menunggu jawaban dengan badan yang masih mengenakan kaos hitam dan celana santai Reno pergi meninggalkan mereka.


Di dalam mobil Reno terus melirik kanan-kiri berharap jika dia bisa melihat istrinya itu, sebelumnya dia sudah menelepon Joshua dan menanyakan keberadaan Rania, namun Joshua mengatakan jika Rania tidak datang kesana.


“Kemana kamu Ran” Gumam Reno cemas.


Setelah sampai di depan gedung apartemen miliknya Reno berjalan cepat menuju unit apartemennya, dengan perlahan dia membuka pintu itu namum Rania tidak ada disana, Reno mencari Rania di kamar dan juga ruangan lainnya membuat Reno mengerang frustasi dan menendang pintu kamarnya dengan kesal.


Dia takut dan juga khawatir tentang keadaan Rania diluar sana, dia takut Rania kenapa-napa dan juga Reno takut jika Rania pergi meninggalkannya, tangannya tak henti memencet nomor Rania yang tak juga mendapat jawaban membuat Reno tambah kalang kabut.


Sore harinya Reno berjalan dengan gontai memasuki rumah orang tuanya, dia terlihat lelah setelah seharian mencari Rania dan tidak menemukan gadis itu, Kikan yang sudah menunggu kepulangan Reno langsung menghampiri anak sulungnya.


“Bagaimana apa Rania ketemu?” Tanya Kikan sambil memegang kedua lengan Reno menatap anaknya itu penuh harap.


Reno menatap Kikan sambil tersenyum samar dan menggeleng.”Belum aku sudah menghubungi semua orang termasuk teman-teman Ran, tapi tidak ada yang tahu keberadaannya” Jawabnya dengan lesu.


“Terus dimana Ran, dia kemana kenapa dia bisa pergi tanpa mengatakan apa-apa hp nya juga tidak dibawa, sebenarnya ada apa ini Ren?” Tanya Kikan sedih.


Reno menjatuhkan tubuhnya sambil bersandar pada sofa.”Ini semua mungkin karena dia merasa bersalah apalagi apa yang dikatakan Papa Bram membuat Rania berpikir dia benar-benar anak haram” Ucap Reno sendu.


“Ma-maksud kamu apa Ren?” Tanya Kikan bingung karena sebelumnya dia memang tidak tahu apa-apa tentang apa yang dikatakan Bram pada Rania.


Reno pun menceritakan semua yang diketahuinya tentang apa yang dikatakan Bram pada Rania, Kikan dengan serius mendengarkan semua yang dikatakan Reno atas apa yang terjadi pada Rania.


“Dasar biadab, berani sekali dia menuduh menantuku anak haram” Umpat Kikan kesal.


Kemudian Kikan menatap Alvian yang baru saja pulang dari kantor tengah berjalan menghampiri mereka.”Al nyalakan mobil ayo Ren kita temui Bram” Ucap Kikan penuh amarah sambil menarik Reno untuk pergi bersamanya.

__ADS_1


Alvian langsung mengangguk patuh, dia berlari keluar rumah dan menyalakan mobil miliknya yang sudah terparkir di depan, dia tidak ingin membantah ibunya yang terlihat marah itu, bahkan ini adalah pertama kalinya Alvian melihat ibunya begitu marah pada seseorang, setelah Kikan dan Reno naik tanpa banyak bicara dia menjalankan mobilnya menuju rumah Bram.


Plakk


Bram menatap Kikan marah karena sudah menamparnya dengan tiba-tiba, sebelumnya Kikan bersama 2 anakmya itu datang ke rumahnya dan saat dia menemui dan menyapa mereka, Kikan malah menamparnya dengan keras.


“Apa yang kamu lakukan?”Bentak Bram marah.


“Apa hah, aku tidak takut dengan teriakanmu Bram, aku datang kesini untuk memberimu pelajaran karena sudah berani menuduh menantuku anak haram” Ucap Kikan tidak gentar dengan amarah Bram.


Bram tersenyum kecut, jadi alasan Kikan menamparnya adalah karena gadis itu.”Kenapa, memangnya aku salah dia memang anak haram Kikan dia itu anak hasil perselingkuhan Alea” Ucap Bram tegas.


Plak.


Kikan kembali menampar Bram hingga sudut bibir Bram mengeluarkn sedikit darah, Bram mengelap sudut bibirnya itu dengan jempolnya saat melihat darah ditangannya Bram menatap Kikan marah sambil mengangkat tangannya hendak membalas Kikan namum tidak jadi dilakukannya.


“Kenapa apa kamu takut ayo tampar aku kalau berani Bram!” Tantang Kikan sambil menyodorkan pipinya sendiri, namun Bram tidak melakukannya dengan perlahan dia menurunkan tangannya kembali membuat Kikan tersenyum sinis.


“Jangan pernah menuduh Alea selingkuh Bram, dia bukan wanita seperti itu” Ucap Kikan serius.


“Tapi dia memang selingkuh dan Rania adalah hasil dari perselingkuhannya” Ucap Bram menimpali.


Sejenak Bram memikirkan pertanyaan Kikan kemudian dia mengangguk dengan ragu.”Iya aku yakin aku pernah melihatnya bersama seorang lelaki di taman bertiga dengan gadis sial itu Rania, kamu tahu aku yakin mereka disana sedang berkumpul menertawakan kebodohanku yang bisa dibodohi oleh Alea” Ucap Bram sambil tersenyum sinis.


“Apa itu cukup membuktikan kalau Alea selingkuh dan Rania anak hasil perselingkuhannya hah? jangan bodoh Bram aku tahu kamu lebih tahu tentang hal itu bukan” Ucap Kikan dengan nada tinggi menatap Bram sambil tersenyum kecut.


“Apa maksudmu bicara seperti itu Kikan?” Tanya Bram curiga yang mulai mengerti arah pembicaraan Kikan.


“Jangan pura-pura lupa Bram, kamu ingat dulu siapa yang pernah ketahuan selingkuh hah, itu kamu Bram kamu yang  pernah selingkuh saat Alea masih belum juga memiliki anak, dan kamu malah melampiaskan kekesalanmu dengan berselingkuh dengan sekertaris sialanmu itu!” Ucap Kikan penuh emosi dengan menunjuk-nunjuk muka Bram.


Hening, Bram terdiam tidak berani menjawab saat Kikan mengungkit masa lalunya dulu, Reno dan Alvian yang sedari tadi diam mendengarkan pertengkaran mereka terkejut dengan fakta yang baru saja diucapkan oleh ibu mereka Kikan.


“Ma uda-”


Kikan mengangkat tanganya menyuruh Alvian untuk tidak ikut campur, dia menatap Bram orang yang telah menyakiti menantu kesayangannya dengan kesal, amarahnya masih menggebu dia ingin sekali memukuli pria brengsek di depannya itu.


“Lucu sekali bukan kamu menuduh orang lain tanpa bukti yang jelas sedangkan kamu sendiri yang sudah jelas ketahuan selingkuh tidak bisa menyadari kesalahanmu sendiri!” Ucap Kikan masih meluapkan kekesalannya.


“Kamu tahu Bram aku kadang berpikir apa yang terjadi pada Nat adalah karma karena perbuatanmu dimasa lalu dan itu membuatku kesal, anak sebaik Nat tidak pantas mendapat karma dari perbuatan bejatmu dulu” Ucap Kikan emosinya kembali meluap.


“Jangan bawa-bawa Nat dia tidak ada hubungannya dengan itu” Bentak Bram marah, dia tidak terima Kikan mengungkit masalah kehamilan Natalya yang diluar nikah.

__ADS_1


Mendengar itu Kikan tersenyum miris, ternyata Bram cukup sensitif jika dia membahas anak kesayangannya itu, tapi jika yang dibahas Rania mungkin Bram tidak akan perduli.


“Tapi itu fakta Bram, ternyata kamu bisa marah juga ya jika kesalahan Nat diungkit, bagaimana dengan Rania apa kamu pernah memikirkan bagaimana perasaannya saat kamu mengatakan hal-hal kejam yang bahkan dia sendiri tidak tahu?” Ucap Kikan.


“Untuk apa aku perduli dia bukan anakku!” Ucap Bram sambil tersenyum sinis.


“Bagaimana jika dia anakmu?” Tanya Kikan membuat Bram terdiam seketika.


“Jangan mengambil kesimpulan dengan cepat Bram, bahkan kamu sendiri belum bisa membuktikan dia anak kandungmu atau bukan, harusnya sebelum kamu membenci Rania cari tahu dulu semuanya dan lakukan tes DNA agar kamu lebih yakin, aku tidak mengerti bagaimana kamu bisa sebodoh itu dan berasumsi sendiri” Ucap Kikan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tak mengerti.


“Ayo kita pergi, Mama tidak mau membuang-buang waktu disini!” Ucap Kikan sambil berjalan diikuti oleh Alvian dan Reno meninggalkan Bram yang tertunduk karena omongan telak dari Kikan, tiba-tiba Reno menghentikan langkahnya membuat Bram menatapnya bingung.


“Jangan pernah ganggu Rania jika itu hanya untuk menyakitinya, dan ingat jika anda melakukannya maka aku sendiri yang akan menghancurkan hidupmu!” Ancam Reno tanpa berbalik memandang Bram yang terlihat takut melihat aura kekejaman dalam diri Reno, tanpa berkata apa-apa lagi Reno pergi menyusul Kikan dan Alvian.


Di sebuah taman yang terletak di dekat apartemen Reno, Rania tengah duduk sendirian sambil memandang orang-orang yang berlalu lalang di depannya, gadis itu menghembuskan napasnya kasar sejak meninggalkan rumah dia berjalan kesana kemari tanpa tujuan dan akhirnya dia sampai disini.


Rania bingung harus pergi kemana, dia tidak mungkin menginap di rumah teman-temannya karena Reno akan dengan mudah menemukannya, Rania tidak mau itu terjadi dia belum siap kembali kepelukan Reno setelah apa yang terjadi padanya.


“Heh bocah ngapain duduk sendirian disini, baru diusir dari rumah?”


Ucapan seseorang membuyarkan lamunan Rania, dia mendongak menatap orang yang sedang berdiri di depannya itu.


“Mbak A--”


Gubrak


Sebelum menyelesaikan kata-katanya Rania jatuh pingsan membuat orang yang tadi menegurnya berteriak panik dan meminta orang-orang disekitarnya untuk membantu mengangkat Rania.


-------


Sumpah aku jadi pengen bejek2 Si Bram terus lempar dia kelaut konoha😈😈


Udah aku penasaran Reno bakal ngapain😆😆😆


jgn khawatir konfliknya udah mau end kok jd jangang jualan bawang disini ntar dagangan aku gak laku😂😂😂


Dukung aku dgn Vote, like n komen kalian guys.


Salam Sayang


Author Jualan Bawang

__ADS_1


__ADS_2