Menikahi Om-om

Menikahi Om-om
Belajar


__ADS_3

Seorang gadis tengah duduk diatas karpet di ruang tengah ditemani sang suami yang duduk diatas kursi sambil memainkan laptop miliknya, sore itu Reno tengah mengajari Rania belajar agar gadisnya itu bisa lulus sekolah dengan nilai yang cukup baik.


Saat ini Reno tengah mengajari Rania tentang pelajaran Matematika, dia melihat Rania yang tengah mengerjakan soal yang dia berikan kepadanya.


Rania mengetuk-ngetukan pulpen yang sedang dipegangnya keatas meja, dengan mata terpejam dan kening berkerut Rania mencoba mencari jawaban dari soal yang diberikan oleh Reno.


Setelah dirasa mendapat jawaban yang tepat Rania langsung menuliskan jawabannya di kertas yang sudah disediakan, setelah itu Rania memberikan kertas tersebut kepada Reno yang langsung melihat isi jawaban yang Rania tulis di kertas tersebut.


“Gimana Mas aku benar kan?” Tanya Rania, dia tersenyum seolah yakin jika jawabannya benar.


Reno tersenyum samar dia melihat lagi jawaban yang ditulis istrinya itu, kini dia sadar alasan Rania bisa masuk rangking 3 dari bawah.


“Sepertinya aku harus kerja ekstra untuk membuatnya pintar!” Ucap Reno dalam hati.


“Jawabannya kurang tepat Ran, coba dengar aku mau tanya apa kamu paham perkalian dan pembagian dalam matematika Ran?” Tanya Reno kemudian sambil menaruh laptopnya dan juga kertas jawaban milik Rania ke atas meja.


Rania terlihat berpikir sejenak kemudian menatap Reno sambil mengangguk dengan yakin.


“Tentu saja Mas itu pelajaran SD mana mungkin aku tidak tau” Jawabnya kemudian.


“Terus kenapa jawaban dari pertanyaanku ini bisa salah Ran, disini tertulis 4x5:2 dan kamu malah menjawab 11 kenapa bisa begitu Ran?” Tanya Reno sambil mengetukan jarinya diatas kertas jawaban milik Rania.


Rania melihat kembali isi jawaban yang dia tulis.”Aku bingung Mas pertanyaanya terlalu berbelit-belit perkalian kok disatuin sama pembagian, sesuatu yang beda itu gak boleh disatuin Mas bakal berantem nanti!” Ucap Rania panjang lebar.


Reno mengehmbuskan nafasnya kasar, kalau soal berdalih istrinya itu memang jagonya seperti ibu kandungnya Kikan yang saat ini tengah pergi bersama William entah kemana, jika tidak ibunya itu pasti sudah mengganggunya dengan Rania.


Setelah pesta peluncuran beberapa hari yang lalu, dia dan Rania memang menginap di rumah orang tuanya, itu semua karena permintaan Kikan yang bersifat seperti ancaman saat memintanya dan Rania menginap, ibunya itu mengancam jika mereka berdua tidak menginap maka Kikan yang akan ikut mereka ke apartemen.


Alhasil dengan amat terpaksa Reno menyetujui permintaan ibunya itu dan menginap disini, jika Kikan sampai datang ke apartemennya dia yakin ibunya itu akan membuat hidupnya lebih tidak tenang dari pada dia disini.


“Baiklah Ran kita coba belajar pelajaran lain, ah kita mulai belajar tentang sejarah saja bagaimana Ran apa kamu siap?” Tanya Reno setelah dia mengambil buka sejarah diatas meja.


Rania mengangguk.”Siap Mas aku paling jago soal sejarah apalagi soal mantan” Jawabnya sambil tersenyum.


Reno tersenyum geli mendengarnya, dia pun membuka halaman demi halaman buku tersebut mencari soal yang paling mudah dari buku pelajaran SMP tersebut.


“Ah ini dia coba beri tahu aku tentang nama candi yang ada di jawa timur Ran!” Ucap Reno, dia yakin Rania pasti bisa menjawab pertanyaannya dengan mudah.


“Aku tahu Patung Liberty!” Jawab Rania dengan yakin.

__ADS_1


Reno langsung melongo dia menatap Rania dengan pandangan tidak percaya sedangkan gadis itu hanya cengengesan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal,  Reno mengerjapkan matanya beberapa kali hingga akhirnya dia kembali membuka halaman buku tersebut.


“Jawabanmu salah sayang, ah mungkin kamu masih belum siap coba kita cari pertanyaan lain yang lebih mudah ya!” Ucap Reno sambil menyunggingkan senyumnya kepada Rania.


Gadis itu mengangguk setuju. “Iya Mas jangan kasih pertanyaan yang berat-berat dong otakku gak sampai nih” Ucapnya kemudian.


Reno hanya mengangguk sambil tersenyum, dia mengacak rambutnya kasar.Padahal dari tadi dia sudah memberikan Rania pertanyaan paling mudah bahkan mungkin anak SD saja bisa menjawabnya.


“Baiklah sayang coba dengar ini baik-baik sebutkan nama kota yang terkenal dengan istilah kota hujan?” Kali ini Reno bertanya tanpa melihat buku, dia menaruh buku tersebut ke atas meja sambil memandang Rania yang terlihat berpikir.


“Kota Jogja ya Mas atau Jakarta ya soalnya disini kan sering banjir, ah iya pasti Jakarta jawabannya mana ada yang bisa ngalahin Jakarta soal banjir” Ucap Rania yakin setelah memikirkan jawabannya kembali.


“Kalau kota kembang?”


“Sudah jelas itu Bogor!”


“Sebutkan 3 nama binatang yang dilindungi!”


“Buaya buntung, kadal bersisik, ah satu lagi tikus kurapan!”


Reno langsung terduduk lemas di atas karpet, dia mendadak sakit kepala setelah mendengar semua jawaban  Rania yang menurutnya sudah melenceng dari semua jawaban paling bodoh sekali pun.


Rania mencolek lengan suaminya itu pelan dengan pandangan mata polosnya, Reno terlihat banyak pikiran saat mengajarinya membuat dia sendiri jadi malas belajar.


Reno melirik Rania yang bersandar padanya, dia mengacak rambut gadis itu dengan gemas, biar bagaimanapun Rania adalah orang yang sangat dia cintai dalam hidupnya, dia tidak akan sanggup menolak permintaan gadis kesayangannya itu.


“Baiklah ayo sayang!” Ucap Reno sambil tersenyum, dia menarik Rania untuk berdiri bersamanya.


Reno dan Rania ke kamar sebentar untuk mengambil dompet dan juga kunci mobil setelah itu mereka pun belajar keluar rumah, disana mereka bertemu dengan Kikan dan William yang baru saja kembali dari acara mereka.


“Hai sayang sudah selesai belajarnya?” Tanya Kikan,  tadi sebelum pergi dia memang sudah mengetahui jika Rania tengah belajar bersama Reno.


Rania mengangguk dengan lesu.”Belum Ma, ini kita istirahat dulu mau beli es krim biar semangat lagi belajarnya!” Jawabnya kemudian.


“Ren kamu kalau ngajarin Ran jangan keras-keras dong, kasihan mantu Mama jadi kecapean!” Omel Kikan sambil memeluk Rania.


“Betul itu Ren, dia ini masih kecil jangan kamu samakan dengan kamu yang sudah berpengalaman Ren!” Ucap William ikut mengomeli anak sulungnya itu.


“Gak lah Pa, Ma, mana mungkin aku membiarkan Rania kecapean, ayo sayang kita pergi saja kamu mau es krim apa sayang, kalau perlu kita beli semua yang ada di toko biar kamu senang ya” Ucap Reno sambil tersenyum lembut mencoba menghibur istrinya itu.

__ADS_1


“Benarkah, kalau begitu ayo kita pergi aku sudah tidak sabar!” Ucap Rania sambil menggandeng tangan Reno dengan semangat.


Mereka pun mulai berjalan ke arah mobil yang terparkir di depan mereka, namun suara panggilan dari Kikan membuat mereka berhenti dan berbalik memandang Kikan dan William.


“Ada apa Ma, Mama mau nitip sesuatu?” Tanya Reno.


“Tidak Ren, kalian tidak usah pergi kemana-mana!” Ucap Kikan menjawab pertanyaan Reno.


“Yah kenapa Ma, terus siapa yang beliin aku es krim dong masa gak jadi beli” Ucap Rania dengan pandangan mata sendu.


“Tenang sayang kamu pasti dibeliin es krimnya kok, Al sini sayang!” Panggil Kikan kepada Alvian yang baru saja selesai mencuci mobilnya.


Dengan gontai Alvian menghampiri ibunya itu, entah kenapa Alvian selalu was-was jika ibunya itu memanggilnya seolah akan ada kesialan yang menimpanya.


“Ada apa Ma?” Tanya Alvian malas.


“Dengar nak, kamu mau gak dapat pahala yang banyak biar masuk surga?” Tanya Kikan berbasa-basi.


“Maulah Ma, tapi aku gak mau disuruh jadi ustadz ya Ma!” Ucap Alvian mengingatkan.


“Gak lah sayang, kalau kamu jadi ustadz bisa-bisa kamu jadi pintar buat ceramahin Mama, nih Al beliin Rania es krim ya nak Mama juga mau, jadi beli aja yang banyak biar kebagian semua!” Ucap Kikan sambil memberi Alvian selembar uang 10 ribuan kepada Alvian.


“Apa ini Ma, kebiasaan deh ngasih uang gak pernah cukup!” Ucap Alvian menatap ibunya kesal.


“Itu buat ongkos kamu naik angkot Al, kalau buat beli es krim uang kamu lah masa photografer terkenal gak bisa beli es krim doang sih!” Ucap Kikan.


“Ayo Ran kita masuk saja gak usah ngurusin anak kere!” Ucapnya lagi sambil menarik Rania untuk masuk ke dalam rumah bersamanya.


Reno tersenyum ke arah Alvian yang terlihat sangat sedih, namun tanpa berkata apa-apa dia juga ikut masuk ke dalam rumah, William menepuk pundak anak bungsunya prihatin, Alvian menatap ayahnya dengan mata berbinar senang, setidaknya ayahnya masih peduli padanya.


“Papa mau rasa pisang sama coklat ya Al jangan sampai salah loh ya!” Ucap William dan berlalu pergi meninggalkan Alvian yang langsung terkulai lemas saat mendengar kata-kata dari ayahnya itu.


Dia tersenyum miris, dia pikir William akan menghiburnya tapi tidak ayahnya itu hanya meminta Alvian untuk membeli es krim yang dia mau, Alvian melirik pakaiannya yang basah karena habis mencuci mobil tadi.


“Al cepet ngapain berdiri terus disitu kayak patung saja!” Teriak Kikan dari dalam rumah.


Alvian menghembuskan nafasnya kasar, bahkan semua orang dirumah itu tidak mengizinkannya untuk berganti baju dulu.


“Sungguh keluarga penyayang anak” Gumam Alvian sedih.

__ADS_1


----


Mampir kelapak Nungky"Kepentok Cinta Nungky"


__ADS_2