
Setelah Natalya dan Joshua pamit pergi meninggalkan apartemen mereka, Reno mengajak Rania untuk pergi kerumah orang tuanya.
"Mas kita ngapain kerumah Mama Kikan, katanya kamu gak suka kalau aku sering ketemu sama Mama?" Tanya Rania bingung.
Saat ini mereka sedang berada di dalam mobil, Reno mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, dia melirik Rania sambil tersenyum dan kembali fokus kedepan memperhatikan jalanan.
"Katanya kamu mau didandanin yang cantik, yaudah aku ajak kamu kerumah Mama, sekalian kita berangkat dari sana bareng yang lain" Ucap Reno menjelaskan.
Rania mengangguk mengerti dia baru ingat jika ayahnya itu berteman baik dengan keluarga Reno, bukan tidak mungkin jika mereka turut diundang oleh ayahnya itu.
Tidak lama kemudian mereka pun sampai dirumah orang tua Reno, dengan senang Kikan langsung memeluk Rania tanpa memperdulikan Reno.
"Raniaku sayang akhirnya kamu datang juga nak, Mama tiap malam mikirin kamu sayang, kenapa jarang kesini Mama kangen tahu Ran?" Ucap Kikan sedih.
Kikan mengajak Rania duduk di kursi, Reno ikut duduk disamping ayahnya dan juga Alvian sambil menatap Rania dan Kikan.
"Maaf Ma, kemarin aku sibuk belajar buat ujian" Ucap Rania sambil melirik Reno disampingnya.
"Emang habis libur sekolah kamu masih belajar juga nak, atau itu cuma alasan anak Mama yang jahat itu biar kamu gak kesini nak?" Ucap Kikan sambil mendelik kearah Reno.
"Gak Ma, Ran beneran sibuk belajar setelah masuk nanti dia akan mengahdapi ujian kelulusan Ma, dia gak bisa main-main sekarang" Ucap Reno menjelaskan.
"Alasan kamu, belajar disinu juga bisa Mama gak ganggu kok, bilang saja kalau kamu mau memenjarakan istri kamu Ren biar kamu bisa puas iyakan?" Ucap Kikan dengan pandangan menuduh.
"Bebas apa sih Ma, jangan asal nuduh deh aku baik loh gak pernah jahat sama Ran, iyakan Ran sayang?" Tanya Reno sambil menatap Rania.
"Iya Ma, Mas Reno baik kok tiap hari dia selalu manjain aku Ma" Ucap Rania membela suaminya itu.
"Udah sayang Mama ngerti kok, kamu pasti terpaksa bilang gitu iyakan , dan kamu juga Ren jangan sering-sering tempur kasihan Ran, lihat dia jadi agak kurusan sekarang" Ucap Kikan sambil menatap tubuh Rania yang sebenarnya masih sama saja seperti terakhir mereka bertemu.
"Gak apa-apa kok Ma aku juga suka, kita lagi seru-serunya ngelakuin itu apalagi Mas Reno makin hari makin gesit tahu gak Ma" Ucap Rania sambil tersenyum diliriknya Alvian yang sudah terbakar api cemburu saat Rania mengatakan itu.
"Rasain kamu Al, biar sadar kamu kalau aku bukan untukmu lagi" Ucap Rania dalam hati merasa puas dengan reaksi Alvian.
"Iya Ma, kayak gak ngerti saja kitakan masih penganten baru iyakan sayang?" Ucap Reno sambil memeluk pinggang Rania.
"Iya betul Mas, makanya kita gak bisa kesini Ma soalnya aku sama Mas Reno masih sibuk bikin anak" Ucap Rania sambil tersenyum malu.
"Hahaha bagus-bagus nak, gak apa-apa Mama ngerti kok, Pa lihat nih mantu Mama baik banget kan Pa, mau saja nurutin keinginan Reno" Ucap Kikan bangga.
__ADS_1
"Iya Ma bagu Ran pertahankan sayang Papa dukung, jadi istri itu memang harus layanin suami nak, Ma ikutin Ran dong sayang Papa juga mau tempur tiap hari" Ucap William menggoda Kikan.
"Diam Pa, semalam kan udah belum cukup juga apa?, sekarang itu giliran Rania sama Reno kita ma belakangan Pa" Ucap Kikan membuat Reno dan Rania tersenyum malu, sedangkan Wiliam sudah menekuk wajahnya lesu.
Alvian menatap Rania yang tersipu malu saat membela Reno, gadis itu seolah sedang kasmaran ditambah dia juga melihat Reno yang memandang Rania penuh damba.
Mereka terlihat sama-sama bahagia, tak terlihat sedikit pun ruat wajah kebohongan ataupun keterpaksaan diantara mereka, yang ada dia malah melihat cinta yang berbinar diantar Rania dan Reno.
"Apa aku terlambat?" Pikirnya dalam hati.
"Al kamu kenapa ngelamun gitu, pengen juga ya makanya nikah, jomblo sih jadi mupeng kan" Ledek Kikan.
"Al jomblo juga laku mah, Al bisa pilih siapa pun buat jadi pasangan aku Ma" Ucap Alvian dengan bangga.
"Palingan tuh cewek mau porotin kamu doang Al, ingat nyari cewek-cewek baik-baik itu susah apalagi yang kayak mantu Mama ini Ran, gak ada yang bisa gantiin" Ucap Kikan memuji Rania dengan bangga.
"Kalau ada cewek kayak Ran jangan dilepasin Al, yang ada kamu bakal nyesel sendiri, susah tahu dapat cewek baik-baik jaman sekarang Al" Ucap Kikan menasehati.
Jlebb
Rania menatap Alvian yang juga menatapnya sambil tersenyum miris setelah mendengar ucapan ibunya itu, Rania langsung membuang muka dia tidak ingin Alvian masih berpikir jika dia masih perduli pada Alvian.
Reno menatap Rania dan Alvian secara bergantian, entah mengapa dia selalu merasa ada yang mereka berdua sembunyikan, Reno mengangkat bahunya acuh mungkin itu hanya perasaannya saja.
Alvian dan Rania tidak mungkin memiliki rahasia apa pun yang disembunyikan darinya, mereka baru bertemu tidak mungkinkan kalau mereka sudah mengenal satu sama lain, atau sebelumnya mereka pernah bertemu? Reno jadi bingung sendiri dengan apa yang dia pikirkan.
"Tidak, tidak mungkin mereka itu adalah keluargaku dan juga bagian dari hidupku, mana mungkin mereka menyembunyikan sesuatu dariku" Ucap Reno dalam hati mengenyahkan segala pikiran buruk tentang Rania dan juga Alvian.
Dia mempercayai mereka bahkan melebihi dirinya sendiri rasanya mustahil jika mereka menutupi sesuatu yang penting darinya.
"Ma, tolong dandanin Ran yang cantik ya buat pesta nanti, aku mau dia terlihat berbeda dari yang lain" Ucap Reno sambil tersenyum.
"Tentu saja Ren, tanpa kamu suruh pun Mama pasti melakukannya, ayo nak kita kekamar sekarang biar Mama bisa dandanin kamu" Ucap Kikan mengajak Rania sambil beranjak berdiri.
"Aku ikut ya Ma, aku juga mau lihat saat istriku di dandani" Ucap Reno dengan semangat sambil ikut berdiri.
"Iya boleh sekalian Mama juga butuh asisten buat bantuin Mama dandanin Ran" Ucap Kikan sambil mengangguk mengiyakan.
"Jangan Ren, kamu disini saja temenin Papa main catur, Mama cari orang lain saja untuk dijadiim asisten Papa kangen main catur sama Reno" Ucap William melarang Reno ikut pergi bersama Kikan dan Rania.
__ADS_1
"Yasudah yuk Al bantuin Mama dandanin Rania, eh sebelum itu kamu tolong ambilin baju pesanan Mama di butik langganan kita ya Al, jangan pakai lama ya Al, Mama mau pakai soalnya!" Perintah Kikan.
"Kok Al sih Ma, Al mau ngedit photo Ma sekarang!" Ucap Alvian menolak.
"Diam jangan ngebantah kamu Al, ngapain sih kamu ngurusin photo si nyai ronggeng itu bikin eneg tahu gak" Ucap Kikan kesal.
"Namanya Adinda Ma bukan nyai ronggeng" Ucap Alvian membenarkan ucapan Kikan.
"Apalah itu Mama gak perduli, kamu juga Ren ngapain ngerekrut dia jadi model sabun kamu kayak gak ada model lain saja, Mama yakin produk sabun kamu pasti gak laku deh!" Ucap Kikan.
Kikan memang tidak menyukai Adinda karena Adinda dengan tidak sengaja pernah mengintipnya mandi saat gadis itu masih remaja, sampai sekarang Kikan masih menaruh dendam pada Adinda yang suda berani mengintipnya itu.
"Mama gak suka sama kak Adinda?" Tanya Rania memastikan.
"Kamu kenal dia nak?" Tanya Kikan yang dijawab Rania dengan anggukan pelan.
"Iya Mama gak suka sama dia nyebelin orangnya" Ucap Kikan sebal.
"Sama dong Ma aku juga gak suka sama dia" Ucap Rania semangat.
Dia sangat senang karena jalan untuk menyingkirkan Adinda jadi lebih mudah, apalagi sekarang dia memiliki sekutu yang tak lain adalah Kikan ibu mertuanya sendiri.
"Bagus nak, kamu memang mantu sejati Mama, ayo nak kita bahasnya di kamar saja biar gak ada yang ganggu" Ucap Kikan sambil menarik Rania menuju tangga.
"Al jangan lupa pesenan Mama, dalam 5 menit harus udah sampe ya Al!" Ucap Kikan dari tangga.
"5 menit Ma? mana bisa jarak kesana saja 30 menit Ma" Ucap Alvian lesu.
Namun Kikan tidak memperdulikan teriakan Alvian, dia asyik mengobrol bersama Rania sambil terus menaiki tangga.
"Sabar Al, besok kamu beli helikopter saja ya biar bisa cepat dan kilat" Ucap Reno sambil menepuk pundak adiknya pelan yang diangguki oleh ayah mereka William.
--------
Holla
Jangan lupa likenya ya, vote n tips bagi yang mau😚
Salam Sayang
__ADS_1
Authot Galau