
Rania baru saja selesai mandi, gadis itu duduk diatas kursi meja riasnya sambil menggosok rambutnya yang basah, Rania berdecak kesal saat melihat beberapa tanda merah yang terdapat di leher dan juga bagian dadanya.
“Huh dasar Mas Reno kalau main gak bisa banget main lembut, tapi aku suka sih” Gumamnya tersenyum sendiri, pipinya merona merah saat mengingat kejadian semalam yang dia lakukan bersama Reno.
“Ran sini deh!” Panggil Reno yang sedang duduk di sofa sambil memandangi laptopnya, pria itu terlihat bahagia membuat Rania penasaran apa yang sedang dilihat suaminya itu, dia pun beranjak dan berjalan menghampiri Reno sambil menggosok rambutnya yang masih basah.
“Kenapa Mas kamu lihat apa sih?” Tanyanya penasaran sambil duduk disamping Reno.
“Nih sayang lihat deh aku mau bikin taman bermain buat Bima di rumah kita Ran, gimana menurut kamu bagus gak?” Tanya Reno sambil memperlihatkan layar laptopnya pada Rania.
Rania melihat semua gambar yang ditunjukan Reno, dia mengangguk sambil tersenyum kecil saat melihat beberapa gambar yang menurutnya cocok untuk bayi seusia Bima, namun senyumannya langsung memudar saat melihat wahana permainan lain yang akan dibuat suaminya itu.
“Astagfirullah Mas ini apa-apaan kamu mau bikin permainan yang digantung-gantung gini dirumah kita, ini juga perosotannya panjang banget Mas, ingat Mas Bima itu masih kecil masa mainnya kayak beginian” Omel Rania menatap suaminya itu kesal.
Reno menunduk sambil mencebikkan bibirnya sebal, dia tidak mengerti kenapa istrinya itu jadi lebih galak setelah melahirkan, apalagi jika mengenai tentang anak mereka Bima, Rania selalu mengomelinya saat dia sedang bersama Bima dengan mengatakan jika yang dia lakukan pada Bima itu keterlaluan, namun dia tidak merasa itu salah dia hanya mengajak Bima untuk belajar mengerjai Alvian dengan memasukan kecoa ke dalam baju adiknya itu, alhasil Bima yang tidak tau apa-apa ikut-ikutan memasukan ulat yang dia temukan di taman membuat Rania yang mengetahuinya langsung murka.
“Aku cuma mau Bima jadi anak yang kuat Ran, jadi dia harus belajar melakukan aksi berbahaya sejak dini, lagipula itu bukan untuk sekarang sayang tapi nanti kalau Bima sudah lebih besar” Ucap Reno menjelaskan sambil menatap Rania.”Jadi bolehin ya sayang kan itu bisa jadi tempat main buat anak-anak kita yang lain” Ucapnya lagi merayu Rania sambil memegang kedua tangan istrinya itu dengan lembut.
Rania melepaskan tangan Reno dan mengembuskan napasnya pelan, dia tidak mengerti kenapa orang setampan dan sepintar Reno bisa jadi begini, umur Bima sekarang baru menginjak usia hampir dua tahun dan suaminya malah berniat membuat wahana kecil di rumah mereka.
“Dengar Mas Reno Ku sayang Bima itu masih kecil sayang dan aku gak setuju kalau kamu mau bikin gituan di rumah, dan ingat aku aja belum hamil lagi Mas dan kamu udah mikirin wahana buat anak-anak kita nanti, gimana kalau aku hamil terus anak kita cewek masa mainnya tembak-tembakkan, sudahlah Mas biar aku saja yang urus semuanya!” Ucap Rania panjang lebar dengan meruntuhkan semua ide Reno yang berniat membuat wahana permainan untuk anak mereka.
“Oh iya Mas memangnya kamu sudah ngomong sama Mama kalau kita mau pindah ke rumah kita dan tinggal disana saja?” Tanya Rania, dia memang sudah penasaran sejak Reno mengajaknya pindah rumah, dia tidak yakin jika Kikan akan mengizinkan mereka untuk pindah rumah dengan mudah, apalagi ibu mertuanya itu tidak bisa jauh-jauh dari Bima.
“Belum Ran aku belum sempat ngomong sama Mama tapi kemarin aku sudah ngomongin ini sama Papa sih” Jawab Reno membuat Rania menatap suaminya itu kesal.
“Kamu gimana sih Mas harusnya kamu minta izin sama Mama dulu kan dia yang paling sulit buat dirayu” Omelnya Rania kesal.”Pokoknya kamu aja ya yang ngomong sama Mama aku gak mau ikut-ikutan” Ucapnya lagi.
__ADS_1
“Iya sayang aku tahu, pokoknya serahkan saja semuanya padaku!” Ucap Reno menenangkan Rania, padahal dia sendiri bingung bagaimana cara untuk membuat ibunya itu mengerti jika dia dan Rania akan pindah mengingat watak Kikan yang keras kepala.
“Ja-jadi kalian mau pindah rumah?”
Rania dan Reno mendongak Kikan yang berdiri diambang pintu bersama Bima yang berdiri sambil memegang tangan neneknya itu, Reno mengutuk dirinya sendiri yang selalu lupa menutup pintu yang dibukanya saat tau dia membuat kopi.
“Mama” Ucap Rania oelan menatap ibu mertuanya itu dengan gugup kemudian dia menoleh menatap Reno yang terlihat sama gugupnya.
Kikan menatap mereka dengan bibir bergetar dan mata berkaca-kaca, sedetik kemudian air mata sudah mengalir membasahi pipi mulusnya yang terawat, Bima yang tidak mengerti melepaskan tangan Kikan dan berjalan menghampiri ibunya sambil tersenyum senang.
“Mama” Ucap Bima lucu saat Rania menggendongnya, bayi kecil itu kini sudah bisa menyebutkan beberapa patah kata meski belum bisa berbicara lancar, kemudian dia kembali menatap ibu mertuanya yang masih berdiri diambang pintu sambik menangis membuatnya beranjak dan menghampiri Kikan.
“Mama kenapa Ma, jangan nangis gitu Ma” Ucap Rania sambil menyentuh pundak Kikan, Bima menatap neneknya sambil tersenyum dengan tangan yang terulur menyentuh pipi Kikan yang basah.
“Benar itu Ran, kamu mau ninggalin Mama dan pindah ke rumah kamu?” Ucap Kikan balik bertanya tanpa mengindahkan ucapan Rania.
Rania mengangguk lesu” Iya Ma, kata Mas Reno kita harus pindah soalnya Bima kan sudah besar sekarang” Jawab Rania sambil menunduk takut menatap ibu mertuanya itu.”Lagi pula aku dan Mas Reno tidak enak kalau harus ngerepotin Mama terus makannya kita mau pindah” Ucapnya lagi sambil mendongak menatap Kikan dengan senyuman lembutnya.
“Diam kamu anak kurang ngajar” Bentak Kikan dia menatap Rania dan Reno dengan pandangan nanar.”Mama gak nyangka kamu menyetujui ajakan sesat Reno Ran, Mama kecewa” Ucapnya lagi sambil berlalu pergi meninggalkan mereka dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.
Reno dan Rania langsung berlari menyusul Kikan ke kamarnya, terlihat ibu mertuanya itu sedang menangis tersedu-sedu di pelukan William suaminya, Wiliam mengelus punggung istrinya itu dengan lembut kemudian dia menoleh menatap Rania dan Reno yang berdiri di depannya bersama Bima yang baru saja turun di gendongan Rania dan memegang salah satu tangan Kikan yang bebas.
“Apa apa ini, kalian membuat ulah apa?” Tanya William membuat Rania dan Reno menunduk takut tidak berani menjawab pertanyaan William.
“Mama gak kuat Pa gak kuat punya anak durhaka semua, ya Allah kenapa jadi ibu itu harus sesulit ini” Ucap Kikan merana.
“Maaf Ma aku gak maksud buat nyakitin Mama” Ucap Rania yang kini ikut menangis bersama Kikan membuat Bima yang melihatnya juga menangis dengan keras.
__ADS_1
“Ada apa nih kok rame banget?”
Alvian yang mendengar suara tangisan Bima langsung datang, dia melihat Kikan dan Rania fang sedang menangis, William mencoba menenangkan kedua wanita yang tengah menangis itu dengan sabar. sedangkan Reno tengah menunduk seperti pelaku dari kekacauan ini.
Entah mengapa Alvian seperti mengalami Dejavu saat melihat Reno yang seolah terpojok, Rania menggendong Bima yang tengah menangis membuat anaknya itu langsung memeluk ibunya erat.
Kikan mengusap rambut Rania yang kini duduk di sampingnya dengan lembut.”Jangan menangis Sayang, Mama tau kok ini semua salah Reno, kamu hanya menuruti keinginan suami jahatmu itu” Ucapnya sambil menatap Reno dengan tatapan tajam.
“Puas kamu Ren lihat Mama sama Ran nangis kayak gini, memang kamu itu anak gak punya akhlak” Ucap Kikan memojokan Reno.
“Aku kan sudah bilang Mas, Mama pasti terluka jika kita pindah dan kamu malah ngeyel terus jadinya gini kan?” Ucap Rania mengomeli suaminya itu.
“Sudah-sudah kalian berdua jangan menangis terus, Ren sudahlah kamu menyerah jangan melawan takdir Nak” Ucap William mengingatkan.
Reno menghembuskan napasnya kasar sambil menatap ibunya dan Rania.”Baiklah-baik aku tidak jadi pindah” Ucapnya pelan mungkin ini memang yang terbaik untuk sekarang.
Mendengar itu Kikan langsung menghentikan tangisannya sambil tersenyum.”Nah gitu dong dari tadi jangan kebanyakan mikir Ren bikin Mama capek saja!” Ucap Kikan mengomel, kemudian dia menarik tangan William dan Rania bersamanya.”Ayo ah kita makan nangis pagi-pagi gini bikin Mama lapar!” Ucapnya lagi mengajak William dan Rania bersama Bima sambil tersenyum senang.
Setelah kepergian mereka Alvian menepuk pundak kakaknya itu dengan tatapan prihatin.”Yang sabar ya Kak, ingatlah ratu dirumah ini itu Mama, jangan berpikir kamu bisa menang, katahuilah itu hal yang mustahil” Ucapnya dan berlalu pergi meninggalkan Reno sendirian.
Renk mengacak rambutnya frustasi, lagi-lagi dia gagal melawan ibunya dan sialnya lagi dia harus tetap tinggal bersama Kikan dan William meski sudah mempunyai rumah sekalipun, dia tidak tahu kapan hidupnya dan Rania akan tenang.
-------#
Like n komen yang banyak itu aja cukup buatku😆😆😚😚
Bosan gak sih?
__ADS_1
Salam Sayang
Othor Ngenes