Menikahi Om-om

Menikahi Om-om
Rumah Sakit


__ADS_3

Saat Reno dan Rania tengah asyik menonton tv setelah lelah menjalani runtintas di siang hari, mereka mendapat telepon dari Kikan yang memberitahu jika Alvian masuk ke rumah sakit, segera setelah itu Reno mengajak Rania langsung pergi ke rumah sakit.


Di dalam mobil Rania melirik Reno yang terlihat gusar dengan pikiran yang tidak fokus Reno mengendarai mobilnya dengan ugal-ugalan.


Rania menyentuh lengan suaminya itu sambil tersenyum lembut, dia bisa mengerti bagaimana perasaan suaminya itu saat tahu adiknya masuk rumah sakit, Alvian adalah orang yang dulu selalu Reno asuh dan ajak bermain.


Reno menoleh ke arah Rania yang menatapnya dengan pandangan lembut dan penuh kasih sayang yang terpancar dimatanya, Reno berusaha menyunggingkan senyumannya kepada Rania.


“Terima kasih Ran!” Ucap Reno pelan.


Rania mengangguk mengiyakan, disaat seperti ini sudah tugasnya untuk menemani Reno dan memberinya kehangatan sebagai seorang pasangan yang akan menemaninya seumur hidup.


Sesampainya di rumah sakit Rania mengikuti langkah kaki Reno yang beralan dengan cepat menyusuri koridor rumah sakit dia tidak memperdulikan orang-orang yang berlalu lalang disekitarnya, yang dia pikirkan hanya satu yaitu ingin segera menemui adiknya dan mengetahui bagaimana keadaanya.


“Bagaimana keadaan Al, apa dia baik-baik saja?” Tanya Reno kepada William dan juga Kikan yang sedang berdiri disisi ranjang dimana Alvian tengah terbaring dengan mata tertutup.


“Reno, Ran, Alvian anak mama kena demam berdarah!” Ucap Kikan sambil menangis dan memeluk Rania.


“Sabar ya Ma, aku yakin Al pasti baik-baik saja dan bisa segera sembuh!” Ucap Rania sambul mengusap punggung ibu mertuanya itu dengan lembut dia menoleh ke arah Reno yang terlihat memperhatikan Alvian.


“Tenang Ren, Al sudah baik-baik saja sekarang, hanya saja dia harus menginap disini selama beberapa hari untuk mendapatkan perawatan” Ucap.William menjelaskan keadaan anak bungsungnya itu sambil menepuk pundak Reno pelan.


“Ini semua salah Reno karena membuatnya kecapean saat di Lombok kemarin, sampai dia harus kena demam berdarah dan masuk rumah sakit” Ucap Reno dengan mata sendu menatap adiknya yang kini sedang terbaring lemah.


“Ini bukan salah kamu Ren, Papa tahu  anak-anak Papa semuanya memang gila kerja dan juga Al itu memang suka lupa waktu jika sudah menyangkut pekerjaan!” Ucap William pelan.


“Iya si Al pulang malah bawa penyakit demam berdarah, Mama kan nyuruh dia nyari cewek bukan nyari penyakit, jadi gini kan dia sekarang malah sakit coba!” Ucap Kikan sedih sambil mengelap ingusnya ke baju Rania membuat gadis itu bergidik merasa jijik.


“Mama gak kuat diginiin coba, Mama sudah tua kalau lihat anak Mama sakit gini rasanya Mama mau ikut sakit aja, terus Mama mati penasaran karena belum dapat cucu dan juga mantu kedua!” Ucap Kikan sambil memeluk Rania.


Rania melirik Reno mereka saling berpandangan sambil tersenyum simpul, ibunya itu dalam keadaan begini pun masih saja suka bicara hal yang tidak pada tempatnya.


“Tenang Ma soal cucu aku dan Ran lagi usaha kok, Mama tunggu kabar baiknya saja!” Ucap Reno menghampirinya ibunya itu sambil mencium kening Rania membuatnya tersipu malu dengan pipi merona merah.

__ADS_1


“Bagus itu kalau kamu ngerti,sekarang sudah berani ya nyosor di depan Mama, ya sudah Pa anterin Mama cari makan Mama lapar!” Ucap Kikan sambil menarik tangan suaminya William dan keluat ruangan meninggalkan Reno dan Rania.


“Bukannya tadi kita sudah makan Ma, lapar lagi?” Tanya William bingung.


“Bukan Pa, Mama gak kuat kalau liat adegan sosor menyosor suka pengen ikutan, kita biarin tuh si Reno bikin anak sama Rania kita nyingkir aja dulu!” Ucap Kikan sambil terus melangkahkan kakinya dengan cepat.


“Mana mungkin juga mereka melakukan itu di rumah sakit apalagi ada Alvian disana, kalau dia bangun lihat mereka lagi ngelakuin yang enak-enak bisa syok dia Ma” Ucap William.


“Biarin tuh bocah biar tahu rasa siapa suruh bikin Mama jantungan, disuruh nyari pacar malah dapat penyakit, lagian kalau si Al lihat gituan dia bisa cepat-cepat nikah gak jomblo terus Pa!” Ucap Kikan membuat suaminya itu menggelengkan kepalanya tak mengerti, istrinya memang lain dari yang lain, dia memilih untuk tidak berkomentar dan mengikuti istrinya itu pergi.


“Ran tunggu sebentar ya aku cari makanan dulu buat kamu, tadi kan kita belum sempat makan malam!” Ucap Reno kepada Rania yang tengah duduk disisi ranjang Alvian.


Rania menoleh sambil mengangguk. “Jangan lama-lama ya Mas, aku tidak mau sendirian disini sepi!” Ucap Rania pelan.


“Iya tolong jaga Al ya aku pergi dulu!” Ucap Reno sambil tersenyum dan berlalu pergi meninggalkan Rania berdua dengan Alvian.


Setelah Reno pergi, Rania beralih memandang wajah Alvian yang tengah tertidur pulas dengan tenang, Rania tersenyum samar melihat adik ipar sekaligus mantan kekasihnya yang kini terbaring lemah.


Rasanya sudah lama dia tidak sedekat ini dengan Alvian apalagi setelah dia dan Reno menikah, Alvian memang kadang membuatnya risih dengan tingkahnya yang selalu saja mengejar Rania meski gadis itu sudah memperingatkannya.


“Cepat sembuh Al, jangan sakit lagi!” Ucap Rania pelan sambil mengusap lengan Alvian lembut.


“Ran!”


Rania menoleh menatap Alvian yang baru saja memanggil namanya dengan suara lemah, Alvian menatap Rania sambil berusaha tersenyum mengenyahkan rasa sakit di tubuhnya.


“Kamu datang melihatku Ran?, kamu tahu aku sangat bahagia sekarang harusnya aku sakit dari dulu agar kamu bisa perduli padaku!” Ucap Alvian sambil terkekeh pelan.


“Sudah cukup Al jangan bicara sembarangan lagi, aku kemari bersama Mas Reno kakakmu” Ucap Rania memberi tahu.


“Ya aku tahu kalau tidak, kamu mungkin tidak akan sudi datang kemari Ran!” Ucap Alvian pelan menatap Rania sendu.


“Maaf Al”

__ADS_1


Rania tidak tahu harus berkata apa lagi kepada Alvian, dia hanya diam berharap Reno cepat kembali agar suasana canggung diantara mereka bisa kembali tenang dengan kehadiran Reno.


“Untuk apa meminta maaf, aku merindukanmu Ran sungguh aku tidak bisa melupakanmu sekeras apapun aku mencoba!” Ucap Alvian sambil memegang tangan Rania.


Tes


Rania melihat air mengalir di pipi Alvian saat menatapnya penuh damba, sejenak gadis tertegun dibuatnya baru kali ini dia melihat Alvian selemah ini saat bersamanya bahkan saat mereka masih menjadi pacaran dulu Rania tidak pernah melihat Alvian menangis apa lagi jika itu karenanya.


“Lepas Al!” Ucap Rania berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Alvian.


“Tidak kumohon ijinkan aku memegang tanganmu sekali saja Ran!” Ucap Alvian menolak melepaskan tangan Rania membuat gadis itu bimbang dan akhirnya dia membiarkan Alvian terus memegang tangannya.


“Apa aku benar-benar tidak memiliki kesempatan untuk kembali Ran?, kamu tahu aku tidak bisa hidup tanpamu” Ucap Alvian sedih.


“Ini sudah terlambat Al aku sudah bersama Mas Reno dan aku bahagia bersamanya” Ucap Rania pelan sambil tersenyum samar.


“Aku mohon dengarkan aku sekali ini saja Al lupakan aku!” Ucap Rania bersungguh-sungguh sambil menatap kedalam kedua bola mata Alvian.


“Bagaimana caranya beri tahu aku Ran, aku sudah mencoba dan aku gagal” Ucap Alvian mengacak rambutnya frustasi.


“Kenapa ini harus terjadi padaku, kenapa kamu harus menikah dengan Kak Reno kakak kandungku sendiri Ran?” Ucap Alvian sambil terus menangis meluapkan segala emosinya.


“Sadarlah Al kita sudah tidak mungkin bersama dan juga terimalah ini sebagai takdir untuk kita yang tidak berjodoh” Ucap Rania mencoba mengerti pengertiannya kepada Alvian.


“Kamu tahu dulu saat kamu pergi aku juga sangat terluka, dan aku mencoba melupakan kamu tapi meski aku mencoba pacaran dengan orang lain aku tetap tidak bisa menghilangkan semua perasaan dan juga kenangan tentang kita, hingga akhirnya aku bertemu Mas Reno dan kami menikah, dan sejak saat itu aku baru bisa melupakan kamu Al!” Ucap Rania sambil tersenyum memandang Alvian, tak terasa air matanya mengalir membasahi pipinya.


“Apa kamu mencintai Kak Reno Ran, jawablah dengan jujur aku ingin tahu!” Ucap Alvian sambil menatap Rania dengan lekat.


“Katakan padaku kenapa sampai sekarang kamu masih belum membicarakan tentang hubungan kita dulu kepada kak Reno, Ran?” Tanya Alvian lagi menunggu jawaban Rania yang mungkin akan mengubah segalanya.


Di depan pintu kamar Alvian, Reno berdiri sambil memegang handle pintu, sedari tadi dia ada disana mendengarkan percakapan Rania dan Alvian dalam diam mencerna setia kata yang mereka ucapkan.


--------

__ADS_1


Holllaa terima kasih untuk kamu yg setia pd novel ini😚😚


__ADS_2