
2 minggu berlalu semenjak kepergian Rania, kini Natalya sudah sembuh dan untuk mengobati kakinya yang lumpuh, Joshua mengajak anaknya dan Natalya pergi ke luar negeri tepatnya Singapura, banyak hal berubah semenjak kepergian gadis itu, kini rumah terasa sepi tanpa tawa seperti biasanya.
Reno tengah duduk di kantornya sambil mengerjakan tugas kantornya yang menumpuk, pria yang biasanya selalu ceria dan baik kini menjadi pendiam dan cepat sekali marah, banyak karyawan yang kabur jika berpapasan dengannya dijalan ataupun di kantor, mereka takut menjadi amukan Reno yang suka mengomeli mereka untuk hal kecil sekalipun.
Penampilan Reno sekarang sedikit berubah, dagunya yang biasanya rutin dicukur kini sudah memiliki jenggot tipis yang malah membuat Reno seperti lelaki tampan berewok, dibawah matanya memiliki kantung hitam akibat Reno yang suka lembur dan mencari Rania.
Tok
Tok
“Masuk” Perintah Reno.
Iyan masuk sambil membawa berkas yang harus ditanda tangani Reno, setelah Iyan menaruh berkas tersebut diatas mejanya Reno membacanya sekilas dan langsung menandatanganinya.
“Apa ada kabar terbaru tentang Rania?” Tanya Reno.
Iyan menggeleng lesu.”Belum jejaknya tidak ada dimanapun, bahkan kami sudah mengikuti semua pergerakan orang-orang yang dikenal Rania tapi hasilnya nihil” Ucapnya pelan.
“Sebenarnya apa yang kalian kerjakan selama ini kenapa mencari 1 orang gadis saja kalian tidak becus” Teriak Reno marah.
Iyan tidak menjawab teriakan Reno, dia tahu temannya itu sedang frustasi karena istrinya Rania juga belum ditemukan sekarang, padahal keluarga Reno sudah menyewa banyak detektif untuk mencari gadis itu namun hasilnya juga nihil.
Reno menyandarkan tubuhnya dengan frustasi sambil memejamkan matanya membayangkan wajah Rania, dia merindukan istrinya yang menghilang selama 2 minggu tapi serasa 2 abad baginya, entah kenapa mencari gadis itu terasa sulit seolah dia tidak ada di kota ini.
“Ren” Panggil Iyan pelan.
“Hmmmm”
“Aku sudah mendapat kabar tentang orang itu, sekarang dia sudah pulang dari Jerman dan sekarang dia ada di Indonesia” Ucap Iyan tiba-tiba.
Mata Reno langsung terbuka lebar, sebelum Rania menghilang dia memang menyuruh Iyan untuk menyewa detektif dan mencari tahu tentang masa lalu Rania, dan kini setelah beberapa minggu akhirnya ada kabar baik tentang orang yang selama ini dicarinya.
“Siapkan mobil dan suruh mereka membawa orang itu padaku!” Perintah Reno sambil tersenyum sinis,
“Baik” Jawab Iyan sambil beranjak pergi meninggalkan ruangan Reno.
Dirumah Bram, pria itu tengah sibuk membaca koran ditemani secangkir kopi yang masih mengepul, dengan tenang duduk di meja kerjanya seolah hidupnya baik-baik saja apalagi Natalya sedah dalam masa penyembuhan untuk kakinya, rasanya dia tidak perlu lagi mengkhawatirkan apa pun, kecuali rambutnya yang entah kenapa tiba-tiba botak separo sejak dia terbangun dari tidurnya beberapa hari lalu yang membuatnya seperti pria tua berkepala botak separo.
Tiba-tiba penjaga rumahnya datang menghampiri Bram, pria itu melirik tuannya takut karena sudah mengganggu waktu istirahat tuannya itu.
__ADS_1
“Pe-permisi tuan” Ucapnya pelan.
“Ada apa?” Tanya Bram tanpa mengalihkan perhatiannya dari korang yang sedang dia baca.
“I-itu ada tuan Reno bersama seorang lelaki datang kemari katanya mau bertemu tuan, ada hal penting yang ingin dia bicarakan sama tuan” Ucap si penjaga.
Bram menaruh koran yang dibacanya ke atas meja, keningnya berkerut bingung atas kedatangan Reno yang tiba-tiba ke rumahnya, dia penasaran sebenarnya siapa yang datang bersama Reno apakah itu William?.
“Baiklah suruh mereka kemari!” Ucap Bram.
Si penjaga mengangguk patuh dan lansung meninggalkan ruangan Bram untuk memberi tahu Reno agar menemui tuannya di ruang kerja.
Tidak lama Reno pun datang bersama seorang pria yang memakai setelan kemeja dan memakai kacamata yang bertengger menutupi matanya, Bram langsung bangun dari duduknya saat dia melihat orang yang dibawa Reno adalah orang yang sangat dibencinya.
“Mau apa kamu kemari, cepat keluar!” Teriak Bram marah mengusir pria berkacamata yang berdiri didepannya itu.
Si pria melirik Reno yang melarangnya untuk pergi dan mengajaknya untuk duduk di depan Bram.
“Apa-apain ini Reno kenapa kamu membawa pria sialan itu kemari?” Ucap Bram marah.
“Tentu saja untuk menyelesaikan semua masalah tentang Rania, duduklah biar kita mengobrol dengan santai tapi jika Papa Bram ingin berdiri juga terserah” Ucap Reno sambil tersenyum sinis.
Merasa takut dengan aura Reno yang tidak biasa Bram menurut dan duduk di kursinya, dia menatap pria berkacamata itu dengan tajam seolah ingin mengulitinya hidup-hidup.
Si pria berkacamata yang dipanggil dokter Arya itupun menganngguk sambil membuka tas yang dibawanya dan mengeluarkan sebuah map didalamnya.
“Selamat malam tuan Bram nama saya Arya, saya adalah dokter spesialis penyakit dalam yang juga merupakan dokter yang merawat ibu Alea istri bapak” Ucap Arya menjelaskan.
“Merawat apa maksudmu aku tidak mengerti?” Tanya Bram dengan kening mengkerut bingung.
“Jangan coba-coba menipuku Alea tidak pernah sakit, aku tahu ini hanya akal bulusmu kan untuk menutupi perselingkuhanmu dan istriku!” Ucapnya lagi sambil tersenyum sinis.
“Tidak pak Bram saya tidak berbohong saya memang dokter yang merawat istri anda, kalau tidak percaya silahkan lihat berkas ini, disitu adalah riwayat pengobatan yang dilakukan oleh ibu Alea sebelum beliau meninggal” Ucap Arya menyodorkan map yang di pegangnya kepada Bram.
Dengan perlahan Bram membaca satu persatu berkas yang berada di dalam map tersebut, ekspresi wajahnya berubah saat dia membaca semua laporan medis tentang istrinya Alea, tangannya tiba-tiba bergetar saat membaca lembar terakhir dari map tersebut.
“A-apa ini jadi istri saya-” Bram tidak mampu melanjutkan kata-katanya.
“Betul Pak Bram istri anda mengidap penyakit kanker otak stadium akhir” Ucap Arya menjelaskan.
__ADS_1
“Tapi bagaimana bisa, dulu saat bersamaku dia terlihat baik-baik saja, dia juga tidak pernah mengatakan apapun padaku” Ucap Bram pelan seolah tak mempercayai tentang penyakit Alea.
“Beliau sengaja merahasiakannya dari anda dan orang-orang disekitarnya, dia mungkin tidak mau membuat anda dan yang lain khawatir, makannya ibu Alea suka diam-diam jika bertemu saya, dan ya dia memang suka membawa anak bungsunya untuk ikut saat kami bertemu ataupun saat dia sedang berobat” Ucap Arya menjelaskan panjang menjawab semua asumsi Bram yang salah selama ini.
“Jadi anda tidak berselingkuh dan memiliki anak dengan pasien anda sendirikan dokter Arya?”Tanya Reno sambil melirik Bram yang menatap mereka penasaran.
“Tentu saja tidak bagaimana mungkin saya melakukan itu, hubungan saya dan ibu Alea hanya sebatas dokter dan pasien tidak lebih” Ucap Arya sambil tersenyum.
Mendengar itu Bram terduduk lemas sambil bersandar dikursinya, jadi selama ini tuduhannya tentang Alea salah besar, istrinya itu tidak pernah selingkuh apalagi memiliki anak haram hasil perselingkuhannya.
Dan Rania apakah gadis itu memang anak kandungnya? matanya berkedut menahan tangis saat mengingat semua perlakuan yang sudah dia lakukan pada Rania, Bram menggeleng mencoba untuk menghilangkan rasa bersalahnya, dia berharap jika Rania memang bukan anaknya karena kalau benar dia sendiri tidak tahu apa yang harus dilakukannya untuk menghukum semua perbuatannya sendiri.
“Tapi kenapa saat istri saya kecelakaan kamu menghilang dan tidak pernah ada kabar?” Tanya Bram mencoba untuk menelaah lebih dalam tentang semuanya.
“Oh saat itu saya sudah pindah ke Jerman bersama keluarga saya, maaf saya juga baru mengetahui ibu Alea meninggal dari Pak Reno” Ucap Arya menjelaskan.
“Baik terima kasih dokter atas waktunya bapak boleh pergi sekarang, supir saya yang akan mengantarkan anda pulang!” Ucap Reno sambil tersenyum berterima kasih pada dokter tersebut.
Dokyer Arya mengangguk sambil membereskan tasnya.”Baik saya permisi kalau begitu” Pamit dokter Arya.
“Papa dengar sendirikan Mama Alea tidak pernah selingkuh dan juga sekarang sudah jelas kalau Rania bukan anak haram apalagi anak sial seperti yang selama ini papa tuduhkan padanya” Ucap Reno setelah dokter Arya pergi menyisakan mereka berdua diruangan itu.
“Kalau Papa tidak percaya bacalah hasil laporan hasil test DNA ini, disitu dengan jelas mengatakan kalau Rania anak kandung Papa” Ucap Bram sambil menyerahkan hasil laporan test DNA Rania dan Bram.
Bram langsung meluruh dilantai saat dia membaca hasil laporan tersebut sambil menangis tersedu-sedu, sekarang sudah jelas kalau Rania memang benar anak kandungnya membuat dia merasakan rasa bersalah yang teramat dalam.
Reno diam melihat Bram yang menangis tersedu-sedu dilantai, kini semua kesalahpahaman itu sudah berakhir dan Bram sudah menyesali perbuatannya, tugasnya sekarang adalah mencari keberadaan istrinya itu, tanpa berkata-apa Reno beranjak dari duduknya dan melangkah meninggalkan Bram.
“Tunggu!” Ucap Bram membuat Reno menghentikan langkah kakinya.
“Dimana Ran, dimana anakku sekarang apa dia baik-baik saja?” Tanya Bram menatap Reno yang berdiri membelakanginya.
Reno tersenyum samar mendengar nada kekhawatiran dalam kata-kata yang diucapkan Bram.”Berdoa saja dia baik-baik saja saat ini, karena dia sudah pergi meninggalkan rumah sejak Nat kecelakaan” Ucap Reno dan langsung melanjutkan langkah kakinya meninggalkan seorang pria paruh baya yang menyesali perbuatannya selama ini.
--------###--
Jgan lupa like, Vote n komen guys😆😆😆
mampir ke *Kepentok Cinta Nungky*
__ADS_1
dan mampir juga ke *Bima Abraham*
kasih dukungan berupa vote like n komen giys😆😆😆