
Rania berjalan melewati beberapa karyawan yang memberi hormat padanya yang dibalas dengan senyuman manisnya, gadis itu baru saja selesai merayakan pesta kelulusan di sekolahnya.
Akhirnya hari itu kini telah tiba, sekarang Rania dan ketiga temannya sudah resmi menamatkan sekolah mereka di SMA, seragam Rania terlihat warna-warni yang dipenuhi coretan-coretan berisi kenang-kenangan dari teman-teman seangkatannya.
Brak
Rania membuka pintu ruangan kantor Reno dengan keras membuat Reno yang tengah sibuk mengetuk terkejut dan menoleh ke arahnya, Rania langsung menghampiri Reno sambil memeluk dan duduk dipangkuan suaminya itu dengan senang.
“Mas aku lulus!” Ucapnya senang.
“Benarkah Ran, kamu lulus?” Tanya Reno seolah tak mempercayai pendengarannya.
Rania mengangguk sambil tersenyum.”Iya Mas aku lulus dan kamu tahu aku masuk peringkat ketiga dengan nilai tertinggi saat ujian Nasional!” Ucapnya girang karena senang.
“Alhamdulilah selamat sayang akhirnya kamu lulus juga, dan ya aku sangat bangga mendengarmu masuk peringkat ketiga selamat sekali lagi untukmu Ran!” Ucap Reno memeluk Rania dengan erat.
“Terima kasih Mas aku cinta kamu!” Ucap Rania sambil mengecup bibir Reno sekilas.
“Ehmmmmmm!
Suara deheman seseorang membuat keduanya mengalihkan perhatian mereka ke arah pintu dimana Kikan dan juga Iyan tengah berdiri sambil tersenyum ke arah mereka.
“Mama, Mas Iyan” Ucap Rania pelan sambil beranjak dari pangkuan Reno dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
“Aduh Mantu kesayangan Mama sudah berani nyosor duluan ya, bagus nak Mama suka” Ucap Kikan terkikik geli sambil melangkah masuk bersama Iyan disampingnya dan duduk di sofa ruangan Reno.
Pipi Rania langsung bersemu merah mendengar ucapan ibu mertuanya itu, dia melirik ibu mertuanya dan juga Iyan yang tersenyum simpul ke arahnya, ingin rasanya dia menenggelamkan dirinya ke dasar bak saking malunya.
“Mama ngapain kesini sih ganggu aja, kalau mau masuk ketok pintu dulu kek!” Omel Reno tidak suka, ibunya itu selalu saja muncul disaat yang tidak tepat seperti yang dia lakukan sekarang.
“Apasih Ren disalahin mulu Mama, siapa suruh pintunya gak ditutup ngapain juga Mama ngetuk pintu kalau pintunya aja gak ditutup!” Ucap Kikan balas mengomeli anaknya Reno sambil menatapnya sebal.
“Maaf Mas tadi aku lupa tutup pintu!” Cicit Rania pelan.
__ADS_1
“Gak apa-apa sayang kamu gak salah kok!” Ucap Reno sambil tersenyum lembut pada Rania.
Reno kemudian menoleh ke arah Iyan yang terlihat salah tingkah karena telah melihatnya dan Rania bermesraan.
“Ada apa Yan?” Tanya Reno kemudian.
“I-ini Ren itu aku mau minta tanda tangan buat berkas proyek kita!” Ucap Iyan sambil menyerahkan berkas yang dibawanya kepada Reno.
Reno melihat isi berkas tersebut dan mulai menandatanginya, kemudian dia mengembalikan berkas tersebut kepada Iyan yang sedari tadi menunduk tanpa menatapnya dan juga Rania.
“Kamu kenapa Yan?” Tanya Reno bingung.
Iyan menggeleng dan mengambil berkas tersebut.”Gak Ren yaudah aku permisi dulu, Ran aku duluan ya!” Pamit Iyan pada Reno dan Rania sambil berlalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.
“Mama habis dari mana Ma cantik banget?” Puji Rania sambil duduk disamping Kikan.
Kikan tersenyum mendengarnya.”Gak dari mana-mana sayang, Mama sengaja kesini buat ketemu kamu Ran, tadinya Mama mau jemput kamu ke sekolah eh kata Nungky sama yang lain kamu sudah pulang duluan dan ke kantor Reno, makannya Mama nyusul kesini!” Ucap Kikan menjelaskan dengan panjang lebar.
“Harusnya Mama langsung pulang saja ngapain pake nyusul kesini segala” Ucap Reno membuat Kikan melotot padanya.
“Oh iya nak selamat ya sayang kamu lulus sekolah juga, Mama senang dengernya nak!” Ucap Kikan sambil memeluk Rania dengan senang.
Rania membalas pelukan Kikan sambil tersenyum.”Iya Ma makasih ya Ma” Balasnya.
“Jadi kalau udah lulus kamu bisa hamil dong Ran?” Tanya Kikan sambil melepaskan pelukan mereka.
“Pengennya sih Ma doain aja ya Ma biar Ran bisa cepat hamil” Ucap Rania sambil tersenyum.
“Tentu sayang Mama selalu doain yang terbaik buat kamu nak!” Ucap Kikan sambil tersenyum lembut dan membelai rambut Rania.
Sebenarnya Rania tidak menunggu sampai dia lulus sekolah dulu baru mau hamil, bahkan sebelum luluspun dia sudah berharap jika dia bisa cepat hamil, tapi apa mau dikata jika dia belum diberi kepercayaan oleh sang pencipta Rania tidak bisa berkata apa-apa.
Rania melirik Reno yang tengah berjalan ke arah mereka, dia tahu suaminya itu sudah menginginkan agar Rania cepat hamil, mengingat umur Reno yang sudah cukup matang, suaminya itu pasti juga menginginkan diusianya yang ke 30 ini dia sudah menggendong seorang bayi mungil darah dagingnya sendiri.
__ADS_1
Ada juga Kikan ibu mertua yang sudah seperti seorang ibu baginya yang sudah tidak sabar untuk menggendong seorang cucu pertamanya dan juga William, melihat hal itu hati kecil Rania merasa bersalah karena belum bisa mewujudkan keinginan dari orang-orang yang disayanginya.
Kemudian ada juga ayahnya Bram, Rania sebenarnya ingin memberitahu ayahnya itu tentang kelulusannya, namun dia merasa segan jika dia mengatakannya langsung mungkin Bram malah akan mengomelinya dengan mengatakan itu tidak penting.
Rania tersenyum miris membayangkannya, dia yakin Natalya juga sudah memberitahu Bram tentang kelulusannya, dan jika ayahnya itu peduli pasti dia akan mengirim pesan berisi ucapan selamat padanya.
Reno yang melihat Rania tengah melamun langsung memegang tangan istrinya itu dengan lembut, dia duduk disamping Rania sambil tersenyum lembut pada Rania yang menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.
“Sudah sayang jangan nangis ya ini hari bahagia kamu!” Ucap Reno membuat Rania kembali ceria.
“Nah gitu dong mantu Mama yang paling Mama sayang gak boleh sedih terus, ingat sekarang kamu punya Mama, Papa William dan juga Reno yang akan menjaga kamu Ran!” Ucap Kikan lembut.
“Iya Ma, Ran janji gak bakal sedih lagi mulai sekarang!” Ucap Rania sambil tersenyum.
Tidak lama kemudian Alvian datang sambil menenteng kresek berisi kotak makanan dengan muka yang ditekuk, dengan kesal dia meletakan makanan tersebut dan menyajikannya di meja tanpa berkata sedikitpun.
“Wah rajinnya kamu Al datang-datang bawa makanan, tahu aja kalau aku sama Ran belum makan” Ucap Reno tersenyum senang sambil mengambil makanan miliknya dan juga Rania.
Alvian tersenyum kecut sambil menoleh ke arah Kikan yang sedang menyantap makanannya dengan lahap tanpa memperdulikan Alvian yang menatapnya tajam.
“Bukan rajin aku diancam sama seseorang!” Ucap Alvian sambil melirik Kikan.
“Suka gitu kamu Al, kapan coba Mama ngancam kamu tadi Mama cuma nyuruh kamu beliin Mama sama yang lain makanan doang!” Ucap Kikan tak terima dengan tuduhan Alvian.
“Iya tapi Mama nyembunyiin kamera aku kalau aku gak nurut Mama ngancam buat jual kamera aku, Kak Ren dia itu ibu kandung atau ibu tiri sih?” Ucap Alvian kepada Reno.
Mendengar itu Kikan langsung menjitak anaknya dengan kesal karena asal bicara.”Enak saja Mama ini Mama kandung kamu Al, mau di tes juga pasti positif hasilnya, kalau kamu anak tiri Mama kamu pasti udah dilaut sekarang Al, Mama suruh nyari harta karun firaun disana!” Ucap Kikan membuat Rania dan Reno terkikik geli.
“Sudah Al terima nasib aja, berdoa saja istri kami nanti orangnya baik kayak Rania” Ucap Reno membuat istrinya itu tersenyum malu.
“Pasti itu Kak, pokoknya aku gak mau nikah sama orang kejam kayak Mama!” Ucap Alvian penuh tekad.
----''-
__ADS_1
yNg nanyain eps di bandung lihat di "Kepentok Cinta Nungky"