Menikahi Om-om

Menikahi Om-om
Aku Mundur Alon-Alon


__ADS_3

Rania berjalan berdampingan bersama Reno yang memegang tangannya sambil berjalan melewati para karyawan kantor yang memberi hormat pada mereka saat keduanya memasuki kantor Reno.


Asti sang resepsionis langsung membungkuk hormat pada Rania dan Reno, dia tidak mau membuat kesalahan lagi seperti saat pertama kali Rania datang ke kantor suaminya Reno, Rania tersenyum geli melihat Asti yang terlihat gugup saat bertatapan muka dengannya, namun gadis itu tidak perduli dan tetap melanjutkan langkah kakinya bersama Reno.


“Huh untung saja dia gak ngaduin aku sama Boss Reno kalau gak bisa habis aku!” Gumam Asti lega.


Gadis berseragam SMA itu menjatuhkan badannya diatas sofa ruangan Reno, dia menghembuskan nafasnya kasar setelah lelah sehabis ujian, Reno ikut duduk di depan Rania yang sedang menyalakan tv dengan malas.


Tadi setelah pulang dari sekolah Rania.meminta ikut bersama Reno ke kantornya, gadis itu merasa bosan jika dirumah mertuanya sendirian apalagi Kikan sedang pergi ke kantor ayah mertuanya William membuat Rania tidak punya teman mengobrol.


“Sayang kamu lapar gak?” Tanya Reno.


Sekejap Rania menoleh kepada Reno sambil menggelengkan kepalanya pelan dan kembali menonton acara kartun favoritnya itu.”Gak Mas aku cuma capek aja mau istirahat!” Jawabnya.


Reno mengangguk mengerti.”Baiklah kamu tunggu disini ya Ran, aku harus menyelesaikan pekerjaanku dulu habis itu baru kita pulang!” Ucap Reno sambil beranjak dari duduknya kemudian dia duduk di depan meja kerjanya dan mulai mengerjakan pekerjaannya dengan cepat.


Rania menatap suaminya itu yang terlihat sibuk mengerjakan tugas kantornya, kemudian dia memosisikan badanya mencari posisi yang enak untuk berbaring sambil menonton tv.


Waktu berlalu dengan cepat Reno merenggangkan ototnya yang terasa pegal karena berjam-jam duduk dikursi tanpa beranjak sekali pun, kemudian dia menoleh kearah sofa dimana Rania tengah tertidur pulas dengan memegang remot tv yang menjuntai ditangannya.


Reno tersenyum samar kemudian dia beranjak dari duduknya dan menghampiri Rania, sambil berjongkok disamping gadis kesayangannya itu Reno mengusap kepala Rania dengan lembut.


Reno mengambil kaca mata yang bertengger dihidung Rania yang mancung, Reno terkikik geli saat gadis itu mengusap hidungnya pelan dan kembali tidur, dengan perlahan Reno membuka jas yang dipakainya dan menyelimuti Rania.


“Manis sekali kalian!”


Reno berbalik menatap seseorang yang berbicara barusan, keningnya mengernyit bingung saat Adinda berdiri di depannya sambil tersenyum manis.


Gadis itu sudah beberapa waktu menghilang dan kini dia berdiri di depan Reno, Adinda duduk diatas sofa dengan gaya anggunya membuat Reno beranjak dan ikut duduk di atas sofa yang lain.


Adinda menoleh menatap Rania yang masih terlelap tidur sambil mengerakan badannya pelan, dengan posisi membelakanginya dan juga Reno yang tengah duduk di sofa tunggal.


“Maaf aku langsung masuk barusan aku sudah mengetuk pintu tapi kamu tidak menyahut kupikir tidak ada orang makannya aku langsung masuk!” Ucap Adinda meminta maaf.


“Ah ya tidak apa, ada apa kamu kemari Din apa ada yang perlu kamu bicarakan?” Tanya Reno.


Adinda menggeleng sambil tersenyum simpul.”Tidak aku hanya mau menyapamu saja Mas, kebetulan aku baru saja pulang dari Bandung, oh iya ini buat kamu Mas!” Ucap Adinda mengambil bingkisan yang dia taruh disisinya dan memberikan bingkisan itu kepada Reno dengan meletakannya diatas meja.

__ADS_1


Reno menatap bingkisan dan Adinda secara bergantian, gadis didepannya itu terlihat berbeda dari biasanya, Adinda yang dia lihat sekarang lebih tenang dan tidak keganjenan padanya seperti dulu.


“Terima kasih Din aku akan membukanya bersama istriku Rania nanti jika dia sudah bangun!” Ucap Reno pelan.


Adinda mengangguk mengiyakan.”Apa kamu bahagia Mas, maksudku apa kamu bahagia dengan pernikahanmu bersama Rania?” Tanya Adinda tiba-tiba.


Reno menatap Adinda yang menatapnya dengan tulus, seolah pertanyaanya itu tidak bermaksud untuk menghina atau menyudutkan Rania seperti yang biasa Adinda lakukan.


“Tentu harusnya kamu tahu jawabannya tanpa perlu bertanya!” Jawab Reno.


Adinda tersenyun mendengarnya.”Kamu benar Mas harusnya aku tidak perlu menanyakan hal yang sudah jelas, tapi kamu tahu rasanya sulit bagiku untuk menerimanya!” Ucap Adinda dia menatap Reno dengan pandangan nanar.


“Tolong mengertilah Din aku sudah berkeluarga dan bahagia sekarang, kamu harus melupakanku dan menjalani hidupmu yang baru!” Ucap Reno tulus.


Dia berharap Adinda bisa mengerti dan mampu menerima kenyataan tentang dirinya yang sudah menikah dan bahagia sekarang, terlebih lagi Adinda juga tahu jika dia dan Rania tidak mungkin dipisahkan.


Reno yakin gadis didepannya yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri itu bisa memahami keadaannya sekarang, Reno tahu sebenarnya Adinda tidak jahat karena dia sudah mengenal Adinda sejak kecil,  hanya saja gadis itu terbiasa mendapatkan apa yang diingankannya jadi Adinda bertingkah seolah menjadi seorang pelakor yang membuatnya bermusuhan dengan Rania.


Reno menatap Adinda yang sedang menunduk tanpa menjawab ucapannya, dia tahu gadis itu sedang mencerna semua perkataan yang Reno ucapkan, gadis itu terlihat merenung dalam diamnya.


“Aku mengerti kok Mas, aku sadar selama ini aku salah, tolong maafkan aku atas semua perbuatanku yang menyakitimu dan juga Rania!” Ucap Adinda menatap Reno dan Rania dengan berurai air mata.


“Tidak apa Din, aku senang kamu bisa menerima dan mengerti sekarang” Ucap Reno sambil tersenyum lembut, kini dia bisa bernafas lega akhirnya permasalahannya dengan Adinda bisa terselesaikan dengan baik.


“Akhir-akhir kamu kemana saja Din, aku sudah lama tidak melihatmu?” Tanya Reno balik bertanya saat dilihatnya Adinda diam.


“Aku banyak kerjaan diluar kota dan juga luar negeri kemarin aku di Bandung selama seminggu Mas, ah selain itu aku juga banyak merenung tentang kita!” Ucap Adinda menatap Reno dengan mengulas senyumannya yang indah.


Reno tersenyun mendengarnya, Adinda sudah terlihat seperti Adinda yang dulu dikenalnya.”Oh jadi karena itu kamu datang kemari, untuk mengatakan jika kamu sudah mengikhlaskanku dan Rania?” Tanya Reno.


Adinda mengangguk pelan.”Iya bisa jadi, aku akan berusaha untuk tidak mengganggumu dan juga Rania Mas, tapi gak janji loh aku bisa datang kapan saja dan menggodamu lagi Mas!” Ucapnya sambil tersenyum.


Reno balas tersenyum, dia tahu Adinda sedang bercanda padanya, gadis itu tidak akan mungkin menggodanya dan membuat Rania naik pitam lagi.


“Lalu apa rencanamu sekarang Din, apa kamu akan segera mencari penggantiku dan segera menikah?” Tanya Reno.


“Tidak aku mungkin akan fokus pada pekerjaanku dulu sekarang, lagipula aku tidak mau patah hati lagi dengan jatuh cinta pada lelaki yang salah!” Ucapnya sambil terkekeh.

__ADS_1


Adinda mengenakan kacamata hitam yang dibawanya di dalam tas, kemudian Adinda beranjak dari duduknya sambil tersenyum kepada Reno.


“Baiklah aku pulang saja dulu Mas sebelum istrimu bangun dan menyiksaku lagi!” Ucapnya sambil tersenyum dan berjalan menuju pintu.


Namun tiba-tiba  Adinda kembali berbalik dan langsung memeluk Reno yang baru saja berdiri, Reno menegang seketika dia bingung harus berbuat apa, dia tidak tega melepaskan pelukan Adinda yang tengah menangis.


“Tolong jaga diri kamu baik-baik ya Mas, maaf atas kelancanganku!” Ucap Adinda sambil melepaskan pelukannya dan kembali berbalik memunggungi Reno.


“Tentu kamu juga Din!” Ucap Reno sambil tersenyum.


“Oh iya jika kamu sudah siap membuka hatimu untuk pria lain, teleponlah Iyan Din, dia adalah orang yang akan mencintai kamu dengan tulus!” Tambah Reno.


Adinda tidak menjawab sambil tersenyum dia berjalan keluar ruangan meninggalkan Renl dan Rania yang masih berbaring diatas sofa.


“Aku gak dipeluk juga Mas?”


Reno menoleh kearah Rania yang merentangkan tangannya manja masih dengan posisi berbaring, gadis itu menatap Reno dengan wajah polosnya yang menggemaskan, dengan segera Reno memeluk Rania dengan erat  kemudian dia mendudukan gadis pujaannya itu di pangkuanya.


“Jadi kamu mendengar semuanya hmmm?” Tanya Reno.


Rania mengangguk mengiyakan sambil memainkan kancing kemeja Reno dengan jari-jari mungilnya, sebenarnya Rania sudah bangun sejak Adinda datang namun gadis itu sengaja diam dan tetap pura-pura tidur.


Dia mendengar semua yang Adinda katakan pada Reno,  dia juga melihat bagaimana Adinda memeluk Reno barusan namun Rania tidak merasa marah untuk hal itu, dia bisa memahami perasaan Adinda sebagai sesama wanita dia tidak mau bersikap egois.


“Aku baik kan Mas, buktinya aku gak marah pas mba Adinda meluk-meluk kamu tapi itu sekali doang loh ya jangan sering-sering!” Ucap Rania mengingatkan.


Reno mengangguk sambil tersenyum, gadis pujaannya itu memang baik, dia bisa mengerti dan menganggap perlakuan Adinda  barusan sebagai bentuk perpisahan saja.


Dengan perlahan Reno mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Rania yang dibalas oleh Rania sambil mengalungkan kedua lengannya di leher Reno untuk memperdalam ciuman mereka.


Jika aku tidak bisa memilikmu dan membuatmu bahagia.


       Maka aku cukup merelakanmu untuk bahagia bersama orang lain yang kamu cintai.


aku mencintaimu seperti matahari yang tak akan berhenti menyinarimu meski kamu tidak pernah menganggapku ada.


----------

__ADS_1


Ini kenapa pada nanyain eps Di Bandung kan Rania sama Reno gak ikut jadi aku gk mungkin ada di lapak mereka😆😆😆😆😆


yang penasaran eps Di Bandung mampir ke lapak "Kepentok Cinta Nungky" Hari ini aku usahakan mau crazy up dsitu😆😆😆


__ADS_2