MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
100. MENGINAP


__ADS_3

~POV AYU~


******


Jatuh cinta pada seseorang tidak dapat kita prediksi kapan akan terjadi.


Tapi justru karena datangnya cinta tak di undang membuat kisah cinta kita menjadi seru.


Contohnya aku, beberapa tahun lalu, tepatnya ketika aku baru memasuki Sekolah Menengah Atas, saat itu aku sangat mengagungkan cintaku yang ku labuhkan pada seseorang di hari pertama melihatnya.


Mungkin karena umurku yang masih di bawah standard dan pemikiranku masih dalam masa transisi dari anak-anak - remaja - dewasa. Saat itu aku sangat percaya bahwa cinta pada pandangan pertama adalah suatu yang everlasting.


Diumurku yang masih sangat belia, aku sudah berani bermimpi tentang masa depan bersama pria yang kujatuhi cinta pada pandangan pertama. Duniaku serasa hanya di isi oleh dia seorang.


"Biasa aja! Jauh di bawah bang Aan ku," jawabku waktu itu pada Ririn saat dia tanya apa ketos kami ganteng atau tidak menurutku.


"Yang mana aja boleh, toh ujung-ujungnya bakal jadi istrinya bang Aan." Itu jawabanku ketika kami membahas tentang jurusan di kelas sepuluh nanti.


Setiap hari, Aan Aan saja yang aku bahas. Bahkan jika tidak ada topik yang bisa menyangkut Andrian a.k.a Aan waktu itu, aku akan selalu mencari topik baru. Pokoknya dalam sehari harus ada nama bang Andrian yang ku sebut.


"Kayaknya bang Aan pasti tambah hensem kalo pake ini yah Rin," ucapku dengan sangat antusias seraya berpose dengan berbagai gaya dengan topi baru di kepala.


Jika saja Ririn tidak menghentikan aku, aku pasti sudah membeli topi itu dengan menguras seluruhnya tabunganku.


Tapi apa daya, ternyata itu hanya cinta tak berbalas karena doi sudah ada yang punya.


Ternyata cinta yang ku agungkan itu tidak ada artinya sama sekali untuknya.


Kandas bahkan sebelum di terima.


Aku pernah mendengar ini, "Kisah cinta yang bahagia adalah impian dan harapan semua orang. Jika kisah cinta yang kamu perjuangkan tidak bahagia, berarti itu bukan kisah cintamu yang kamu tunggu. Cinta seharusnya bahagia."


Lalu, kisah cintaku yang sekarang setelah bertahun lalu tidak bahagia, apakah yang sekarang ini kisah bahagiaku?


Banyak rintangan yang kami hadapi dalam percintaan ini. Bukan soal restu yang baru saja turun ini. Tapi dari sikap dan kepribadian kami masing-masing.


Bukan cuma sekali kami ceng. Berkali-kali dan itu kebanyakan dariku. Aku dengan pikiran yang masih labil, sering memutuskan sepihak tentang bagaimana hubungan ini kedepannya.


Aku beruntung karena pria yang mencintaiku sekarang adalah pria dengan pemikiran yang matang. Dia selalu memaklumi ku bahkan ketika aku memutuskan untuk berpisah.


Lihat saja, malam ini aku bahkan sudah menginap di rumahnya. Di salah satu kamar di bawah atap yang sama dengannya.


Dan baru saja kami memasuki kamar masing-masing setelah berkencan romantis tanpa pengeluaran di taman rumahnya.


Jansen P:

__ADS_1


'Udah tidur?


Aku yang masih berbaring telentang dengan menatap langit-langit kamar ini menggeleng seolah-olah dia bisa melihatku.


Me:


'Belum.'


Jansen P:


'Why, kamu merasa tidak nyaman?'


Me:


'Hmmm,'


Jansen P:


'Apa AC nya nyala?'


' kurang dingin?'


Me:


'Room is oke!'


Jansen P:


'Oh, kirain nggak nyaman di bagian apa.'


'Perlu celana juga?'


Me:


'Gak perlu,'


'Aku cuma perlu baju.'


Jansen P:


' My mind is traveling🤭🤭'


Me:


🤬🤬🤬

__ADS_1


Tak berselang lama, aku mendengar pintu di ketuk. Aku membukanya dan menemukan Jansen ada di depan mengacungkan kaos dan celana trening.


"Aku bawain kamu bekas aku pake, biar ada bau-baunya," ucapnya dengan senyum sumringah. Aku mengulurkan tangan mengambil baju itu lalu segera menciumnya. Benar saja, ada bau Jansen disana.


Ya jelaslah iya kan, nggak mungkin jadi baunya si Andrian yang ada di bajunya.


"Thanks, gut nait," jawabku seraya bersiap menutup pintu.


"Yang, aku bisa tidur disini nggak?"


Dengan senyum manisnya dia bertanya seperti itu. Aduh, gimana ini? Aku ijinin gak papa kali yah. Upss 😁😁😁


"Kamu mau kita di gerebek satu rumah dan segera di nikahkan besok?" tanyaku pada akhirnya. Akal sehatku kembali pas aku hendak jawab iya tadi.


"Kan bagus kalo langsung di nikahkan." Dia malah sangat sumringah saat mengatakannya.


"Kamu mau Ibu sama Bapakku tiba-tiba?"


Telingaku sebenarnya sudah mulai berasap karena jawabannya. Astaga! Pria ini benar-benar sudah kebelet kayaknya.


"Ya nggak lah, masa karena nikah cepat langsung struk. Lagian Bapak sama Ibu udah kasih restu, mau di nikahi kapan pun mereka setuju kok!"


"Mereka setuju, aku kan nggak. Udah sana! Kelamaan disitu, aku beneran tarik kamu ke dalam!" ancamku.


Dengan terkekeh dia melangkah mundur lalu berjalan ke kamarnya di lantai atas.


******


Tidak tidur cepat tadi malam sebenarnya membuat aku sedikit lebih malas untuk bangun pagi. Tapi aku masih tau diri dimana aku berpijak saat ini.


Aku bangun dengan kaos Jansen yang menjadi gaun jika sudah ku pake.


Aku meraih celana trening Pada sudut ranjang dan memakainya.


Aku keluar dan dengan modal ingatan seuprit tadi malam, aku berhasil tiba di dapur dan menemukan beberapa pembantu sudah bangun dan sedang mengerjakan pekerjaan rumah.


'Buset, pagian mereka dari ayam keknya', batinku kala melihat beberapa sudah hampir selesai dengan pekerjaan mereka.


"Eh, Non. Selamat pagi. Pagi sekali bangunnya Non!" sapa salah satu dari mereka yang sudah menyadari keberadaan ku di antara mereka.


"Pagi mba, ada yang bisa aku bantu mba?" jawabku sambil bertanya.


"Nggak ada, Non. Non balik lagi aja ke kamar."


Setelah menghabiskan satu gelas besar air, aku langsung berputar dan balik ke kamar aku tadi malam.

__ADS_1


Aku berbaring lagi, setidaknya aku sudah mau membantu yah tadi, batinku.


Hingga tanpa kusadari, aku tertidur lagi.


__ADS_2