MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
113. MENTAL DI UJI


__ADS_3

~AUTHOR POV~


(Kasih komen dan likenya dong man teman)


********


    "Cuih... bilangnya aja nggak suka, tapi lihat itu, haha hihi sampai mulut hampir sobek." Seorang gadis tinggi nan elegan mencibir sekumpulan wanita yang sedang duduk melingkar di sebuah meja kafe. Di hadapan mereka ada berbagai macam hidangan. Terlihat sesekali tangan mereka mengangkat gelas atau cangkir untuk menyesap minuman.


    Gadis itu, Mira Lesmana. Gadis yang di gadang-gadang akan menjadi menantu di keluarga Pradipta. Gadis yang sangat di sukai oleh Nyonya Pradipta. Tapi, kini gadis itu meragukan kata-kata yang pernah keluar dari mulut calon mertua gagalnya itu.


    "Sampai kapanpun, tante nggak akan suka sama perempuan itu."


    "Kamulah pilihan tante. Tante akan perjuangkan kamu untuk Jansen."


    "Kamu gadis yang bisa memahami tante dari segala sisi, kita sepemikiran. Selera kita sama."


    "Kamu tenang aja, Tante akan menegur perempuan itu agar menjauh dari Jansen."


Itu sebagian kalimat yang pernah dia dengar dari Nyonya Helena. Tapi sekarang, sepertinya wanita paruh baya itu sedang amnesia.


    "Tak ada orang yang bisa di percaya di dunia ini, aku menyesal karena aku terlanjur membuka hati dan menaruh harapan masa depanku pada keluarga kalian, cuih!" Sekali lagi gadis itu mencibir, lalu memutar badan dan meninggalkan mal kafe itu tanpa sempat menikmati hidangan yang sudah di angankannya.


    "Selera makanku hilang begitu saja!" dumelnya seorang diri.


    Karena mood sudah hancur, akhirnya dia keluar, berjalan menuju parkiran. Dia membanting pintu mobilnya saat hendak menutupnya. Raut wajahnya masih saja tidak bersahabat. Itu sangat buruk untuk di lihat.


Dengan tergesa, dia memasang seatbelt yang entah kenapa hari ini malah macet. Sekali, dua kali dan tiga kali, tidak bisa terpasang dengan benar walau sudah di coba berulang kali.


    "Brengseeeek!!!" makinya seorang diri. Lalu memukul setir karena kesal pada keadaan. Tak lama, wajahnya yang memerah di susul dengan mata berkaca-kaca. Dia berkedip berkali-kali untuk menghalau air mata yang sudah berdesakan hendak keluar.


    Duk...

__ADS_1


    Gadis itu -Mira- menjatuhkan kepalanya  pada kemudi. Tak lama terdengar isak memilukan. Dia mengeluarkan semua sesak di dadanya.


    "Bukan aku yang menyodorkan diriku, tapi kalian yang minta. Jika saja kalian tidak minta, aku tidak akan pernah memberi kesempatan pada diriku untuk membuka hati pada pria. Kalian jahat, kalian tidak memikirkan bagaimana perasaanku. Hiks ... Hiks ... Hiks ..."


    "Tidak suka apanya, kalau tidak suka tidak mungkin minum bersama di meja yang sama sambil tertawa. Tante bohong sama Mira. Tante nggak benar-benar sayang sama Mira. Tante pembohong ..."


    Dia memukul pelan dadanya yang terasa sesak beberapa kali.


    "Jansen, aku berdoa semoga pilihanmu salah. Semoga kau tidak bahagia untuk selamanya. Semoga suatu saat kau sadar, bahwa aku, Mira Lesmana adalah wanita paling cocok untukmu." Dia bicara pelan sambil sesenggukan. Pikirannya  sudah di penuhi oleh roh jahat makanya dia sampai bersumpah untuk  ketidakbahagiaan Jansen dengan pilihannya.


    Dia menghapus kasar air mata dan menarik ingusnya tanpa peduli pada keeleganan yang selama ini melekat pada dirinya. "Tante, Tante sudah salah memilih, Tante akan menyesal."


Dia mematut dirinya di cermin kecil, lalu mengusap wajahnya yang masih memerah.


    "Sendiri untuk selamanya adalah pilihan yang tepat!"


Detik berikutnya, mobil itu bergerak cepat keluar dari parkiran.


*******


Mereka berenam duduk melingkar pada sebuah meja makan di dalam cafe sebuah mal. Beberapa paper bag ada yang tergeletak di bawah meja, lebih tepatnya di dekat kaki mereka masing-masing.


Tiga orang paruh baya itu adalah Nyonya Pradipta dan du orang iparnya -ipar dari suami- Ada Johana dan juga seorang anak perempuan dari salah seorang paruh baya itu.


"Jadi, kapan rencana pestanya?" tanya Farida -Bibi paling tua- .


"Noh, tanya yang bersangkutan," jawab nyonya Helena yang menunjuk Ayu dengan dagunya.


"Kok malah nanya Ayu sih Len. Yang mau pestakan anak bujangmu, so pasti yang urus kan kamu, orang dia tinggal bareng kamu." Balas mbak Farida.


"Dia yang belum siap lepas masa lajang, sepertinya!" Dengan nada cuek, tante Helena menjawab lagi.

__ADS_1


"Kok belum siap, belum siap apanya, Yu?"


Tante Farida menatap orang yang di tanya.


"Kalau bicara soal siap dna tidak, sampai kapanpun pasti ada sesuatu yang kita rasakan yang membuat kita tidak siap, tapi itulah yang harus kita hadapi saat sudah berumah tangga," lanjutnya karena yang di tanya a.k.a Ayu tidak memberi respon.


"Hehehehe, iya Tan, ini Ayu lagi persiapkan mental aja." Malah nyengir.


"Tapi nggak siap-siap sampai sekarang, Ibu kamu kayaknya udah capek nasehatin kamu, tapi otak kamu bebal bangat." Kalimat manis yang mematikan keluar dari mulut sang nyonya.


Ayu diam tidak memberi respon. Dia hanya menunduk. Berpikir bahwa sampai hari ini, calon mertuanya itu belum ikhlas menerima dia, makanya selalu berbicara ketus.


Sebenarnya, apa yang di takuti Ayu setelah berumah tangga nanti adalah, hubungan dia dengan mertuanya nanti. Jika mertuanya itu terus-terusan bicara dengan nada yang ketus dan kata-kata yang di keluarkan sangat memuji seperti barusan, itu yang membuat mental Ayu nggak sehat. Di tambah lagi dengan fakta keluarga itu, yang tetap tinggal bersama orang tua walau sudah menikah.


Soal yang di bicarakan Helena tadi benar, bahwa sejak malam dimana Ayu di lamar resmi oleh keluarga Jansen. Ibunya selalu memberi wejangan untuk meningkatkan kualitas mental anaknya. Apalagi calon keluarga barunya adalah orang terpandang, yang pasti akan banyak aturan yang berlaku di keluarga itu.


Dasar Ayu si bebal, walau sudah di cekoki dengan wejangan, tetap saja mentalnya menolak. Karena setiap akhir pekan dia bertemu dengan calon mertua perempuan, makan akan selalu di omeli lagi dengan wajah tak bersahabat.


"Kamu ino gimana sih, pake baju masih kayak gitu. Belajar pake gaun! Kamu akan sering pergi-pergi ikut Jansen ke acara-acar formal, mau kamu membuat Jansen malu karena bawa istri yang pake celana jins?"


Sejak saat itu, Ayu merubah gaya berpakaiannya, setiap.ke rumah Jansen, dia akan memakai gaun santai di tambah sepatu kets. Penampilan yang bagus dan modis, tapi tidak bagi camer.


"Ayo, kita beli baju gaun untukmu, sakit mata tante lihat celana kamu yang sobek-sobek. Gaya anak muda sekarang, entah mencontoh dari siapa. Atasan kurang bahan hingga menampakkan pusarnya bahkan ujung branya, pake celana sobek-sobek, paling parahnya udah sobek malah hanya sejengkal saja. Entah kenikmatan apa yang di mereka dapatkan dari cara berpakaian seperti itu," lanjut nyonya Helen.


Alhasil, mulai saat itu, setiap kali Ayu akan ke rumah Jansen, dia akan memilih pakaian yang yang berupa gaun yang di belikan oleh nyonya Helena. Bahkan dia belajar pakai sepatu high heel demi menunjang keeleganan penampilan pribadinya.


"Kamu jangan ketus gitu dong, Len! Ayu ketakutan tau!" ucap tante Hasna.


"Ketus apanya?" Biasa aja kayaknya.


"Bagi kamu biasa, bagi kami nggak apalagi calon mantumu itu. Bisa-bisa dia syok benaran liat kamu"

__ADS_1


Rip ramah tama.


#Absurd bangat yah, tapi gpp deh, like dan komen yah man teman


__ADS_2