
~AYU POV~
*****
Astaga! Benar-benar norak, hanya karena kasur empuk ini, bisa-bisanya aku ketiduran lagi. Dan sekarang aku pasti di cap jelek karena bangun kesiangan. Apa mereka semua sudah bangun dan sedang membicarakan aku sekarang? Aku bergegas hendak bangun dari tidurku. Tapi kok berat? Serasa ada yang menimpa ku.
Aku menoleh dan betapa kagetnya aku kala melihat Jansen berbaring di sampingku dan tangannya ada di atas tubuhku, lebih tepatnya di atas perutku.
Aku menepuk tangannya dengan keras. Dan responnya di luar dugaan. Kurang asem nih cowok sebiji. Pagi-pagi udah mancing-mancing.
"Beb, lepas ih!" kataku seraya menepuk-nepuk pelan punggung tangannya.
"Bentar lagi, lagi pw ini!" ucapnya dengan mata tertutup seraya menarik aku lebih dalam ke pelukannya. Tangannya yang sedang memelukku semakin di kencangkan. Astaga! kalau tiba-tiba ada yang masuk, aku mau taruh muka aku aku dimana?
"Ihhh, lepas aku bilang malah makin di kencengin! Ntar ada yang masuk dan lihat kita lagi baringan gini gimana? Awas ih!" Aku memaksa tangannya lepas dari perutku.
"Udah! Gak papa, tadi Mama udah masuk kesini, udah lihat posisi kita begini," ucapnya dengan santai.
"Ini hari libur, gak papa bangun telat," lanjutnya tanpa menghiraukan protesku.
Gawat ini, camer gua yang paling pelit kasih restu malah udah lihat posisi wenak kami ini katanya tadi. Makin minus dah nilai gua.
"Kok kamu ada disini? Perasaan aku kunci pintunya deh tadi subuh," tanyaku tanpa berusaha menyingkirkan tangannya dari perutku, malah kini tanganku ada di atas tangannya, nangkring dengan begitu santainya.
Lalu tiba-tiba aku bersyukur karena sudah bangun tadi pagi. Kenapa? Karena aku berniat bantu-bantu, akhirnya celana trening yang teronggok mengenaskan di pinggir kasur jadi ku kenakan. Coba kalau aku tidak bangun tadi pagi, auto menang banyak si Jansen. Upssss
"Coba kalo kita kayak gini di rumah aku, aku pikir salah satu kupingku udah di tebas sama Bapak, karena tidak berguna mendengar nasehat-nasehatnya."
"Makanya waktu di rumah kamu, aku nggak berani peluk kamu gini, sekarangkan ini di rumah aku. Lagian, kamu sengaja nggak kunci pintu ya, Yang? Kamu nungguin aku datang, kan?" ucapnya kepedean.
Siapa yang nungguin dia datang? Nggak lah yah, nggak salah lagi. Eh
"Ya udah lepas ih, nggak enak sama mama kamu, masa di masa trening aja aku udah nggak lolos."
Jansen ngakak dengan sangat lepas. Aku tidak tau apa yang membuat dia sengakak itu.
Apa aku baru saja melawak? perasaan nggak deh.
"Kok nggak bilang sekalian kamu anak bawang disini, Yang?"
"Kan aku nggak lagi trening di kantor papa kamu atau di kantor kamu, atau trening jadi pembokat disini. Ngapain jadi anak bawang?
"Pagiku kali ini benar-benar luar biasa. Secepatnya aku harus ngomong sama Bapak sama Ibu," ucapnya membuat aku semakin bingung. Tadi ngakak, bilang aku anak bawang, sekarang mau ngomong sama bapak dan ibu. Otakku tercecer dimana sebagian? Kok aku nggak ngudeng.
Jansen melepas pelukannya lalu duduk di kasur. Aku masih berbaring melihat apa yang akan di lakukannya lagi, mau langsung berdiri dan pergi atau berbaring lagi, atau ... morning kiss maybe, hihihi.
Muahh,
Haaaaa
"Bangun, Yang. Ganti baju, kita renang!" Jansen meraih paper bag yang ada di lantai samping kasur dan mengangsurkannya padaku yang masih berbaring. Lalu dia turun dari atas tempat tidur dan berjalan ke arah pintu tanpa menghiraukan aku yang masih sedikit syok karena morning kiss nya tadi yang tiba-tiba.
"Beb!" panggilku dan dia berbalik tanpa bersuara.
"Once more!" pintaku seraya tersenyum manis penuh rayuan.
"Morning Kiss, once more, yang tadi kurang berasa!" Aku mengulangi permintaanku dengan sagat jelas terperinci karena dia seperti bingung ketika tadi aku berkata, "Once more".
Dengan senyum sumringah, dia menghampiriku lagi dan memberikan yang ku minta bahkan lebih. Untung saja aku masih waras, kalo tidak, posisiku yang sedang berbaring sudah sangat menguntungkan untuk sesuatu yang lebih sedap.
"Cukup! Malah ketagihan!" ucapku seraya mendorong bahunya. Aku berpura-pura kesal tetap percaya deh, dalam hati aku menjerit-jerit minta tambah. Tambah level yah, tambah durasi aja.
"Kamu yang mancing, Yang! I'm sure, you know well, men in the morning," ucapnya sambil merem.
Gawat, aku udah berubah jadi wanita penggoda ini. Aku mendorong bahunya kuat dan aku segera duduk. Langsung meraih paper bag, melihat apa saja isinya. Oh ... ternyata baju aku kira sertifikat rumah, eh...
Tapi tunggu. Baju apa ini?
"Beb! Ini apa?" ucapku seraya mengangkat pakaian warna dongker itu. Aku merinding!
"Baju renang, Ayo berenang!" ucapnya seraya berdiri dan beranjak keluar.
No... No... aku nggak bisa pake ini. Okelah kalau baju sedikit kurang panjang, aku biasa mengenakannya. Trend sekarang, kelihatan pusar. Tapi ini? No.. aku tidak sanggup.
"Beb! Aku nggak mau, lagian aku nggak bisa berenang. Aku nggak bisa ngambang." Cari alasan, padahal aku dulu ikut lomba renang se SD dan menjadi juara harapan satu.
__ADS_1
"Muka kamu nggak bisa bohong, Yang!" ucapnya sudah berada di luar kamar. Aku mengejarnya seraya memegang baju renang yang hanya dalaman itu. Oh tidak, tubuh berhargaku, aku tidak rela menjadi tontonan Jansen dan keluarganya mungkin.
Aku mengejarnya keluar kamar dengan pakaian trening yang luar biasa besar. Baju kaos hampir menyentuh lutut, ditambah celana yang lebih setengah meter. Ini aku kayak orang-orang sawah jadinya, coba deh kalian bayangkan.
Aku keluar kamar tidak sara ada beberapa orang yang melihat tampilanku. Aku sadar setelah mendengar cekikikan seseorang. Aku menoleh dan mendapati Josh baru saja masuk dengan pakaian olah raga, keringat membanjiri wajah hingga lehernya yang memerah, ada handuk kecil menggantung di lehernya. Otot tangannya sangat padat kelihatannya. Oh Tuhan, sungguh indah maha karyaMU.
"Ehem .. Ehem ..." Deheman seseorang membawaku kembali ke alam nyata.
"Cepat ganti baju, kita berenang!" Aku menoleh dan mendapati muka si Jansen udah kesel. Kenapa lagi?
"Ini kekecilan, nggak muat!" Alasan baru.
"Bikini memang mini, Sayaaaaang! Nggak muat apanya? Jangan banyak alasan deh, ntar keburu siang."
Baru saja aku hendak mengeluarkan protes kala aku mendengar suara lembut menyapa.
"Loh, Ayu?"
Aku melihat ka Jo baru turun dengan kimono satinnya yang menjuntai hingga mata kaki. Apa dia baru bangun juga?
"Morning, Kak Jo!" Sapaku dengan senyum ceria di pagi hari seraya membawa tangan yang sedang memegang baju renang kekecilan ke belakang tubuh.
"Punya Jansen?" tanyanya setelah memindai tampilanku. Aku mengangguk dengan senyum.
"Nggak nyaman pake jins kalo tidur, jadi pinjam baju Jansen ka tadi malam," jawabku dan di angguki dengan senyum curiga.
"Cuma pinjam baju dan celana, kan? nggak sekalian yang lainnya?"
Penghuni rumah ini semuanya intelektual, bicara pake kode-kode semua. Kenapa nggak langsung to the point aja sih.
"Itu yang di belakang kamu, apaan?"
"Heheheh, Jansen ajak berenang, tapi aku nggak bisa, nggak bisa berenang soalnya Ka." jawabku tetap menyembunyikan baju di belakang.
"Cetek kok, nggak kan kelelap. Ganti aja sono, kita renang sama-sama!"
Salah cari bekingan ternyata. Haruskah berlindung di punggung camer? Oh Ayu, kamu bukan Jesica Mila yang begitu si sayang mertua, Nak.
"Nggak deh, Ka! AKu tim pemantau aja!" jawabku tetap menolak.
*****
Dengan segala paksaan dari seluruh penjuru, akhirnya aku memakai baju mini itu tapi dengan kalos Jansen sebagai atasan. Gak papa di katain kolot yah.
"Tante, tante beneran nggak bisa berenang di tempat orang dewasa?" tanya Vania seraya mengumpulkan air dalam satu wadah dengan menggunakan gayung kecil. Aku dan Vania sedang duduk di kolam khusus balita yang kedalamannya mencapai batas matahari kakiku atau mungkin lebih sedikit.
"Iya, tante nggak bisa, bisanya di tempat anak-anak kayak gini."
"Tante cemen! Oom ku ajjah bisa, mama juga bisa, papa juga,"
Antara mau nangis atau ketawa, dia polos bangat pas bilang aku cemen.
Mulutnya lancip saat muji-muji oom nya.
"Iya ya, semua bisa, cuma tante aja yang nggak,"
"Makanya belajar dong, Tan. Kayak Vania, Oma kalau libur sering ajarin Vania. Mama juga. Makanya Vania udah bisa di tempat orang gede. Cuma, kasihan tante sendirian disini kalau Vania ikut mama."
Ampun dah, aku duduk bareng dia disini untuk jagain dia karena maknya nitipin ke aku tadi. Malah sekarang dia ikrarin lagi temanin aku makanya nggak ke kolam yang dalam.
Piyik gini di karungin bisa nggak sih?
"Oom, Tante Yuyu nggak bisa ke kolam besar, hahahaha." Malah di gibahin. Aku show off ntar bikin nganga kamu. Juara harapan satu ini dulu, bocah!
Aku menoleh ke arah Jansen yang sedang berenang, kalo boleh jujur sih, bentuk tubuh Josh yang lebih howt, tapi karena dia pacarku dan nggak mau bikin dia cemburu, ya udah deh, aku muji dia aja tadi. Bilang dia howt bangat dengan roti sobeknya itu. Aku malah pura-pura hitung biar dia bangga. Padahal dalam hati, Josh lebih keren, hihihi.
Aku salut dengan keluarga ini, hari libur gini, jika Josh dan Tante Helen tidak ada panggilan darurat dari rumah sakit, katanya mereka lebih banyak menghabiskan waktu berama seperti ini. Berenang bersama, atau kadang jogging bersama, sepedaan juga pernah. Luar biasa!
Kalau aku jangan ditanya, jika saja perutku bisa tahan tanpa diisi, aku mungkin betah baringan di kasur sampe siang bahkan sore.
******
"Kamu beneran nggak bisa renang?" tanya tante Helen setelah menyeruput jus hangat yang baru saja di antarkan oleh asisten rumah tangga ke kolam. Kami semua duduk di sebuah meja bundar besar.
"Se--"
__ADS_1
"Apanya nggak bisa, di rumah dia aja ada piala dia menang lomba waktu sekolah," potong Jansen.
Apa dia melihat sedetail itu piagam dan piala yang ibu pajang di rumah?
"Jadi kok nggak ikutan renang?" lanjut tante Helen.
Aku tersenyum kikuk, nggak tau mau jawab apa.
"Nggak pd dia pake baju renang, lihat aja, masa ke kolam pake baju segede itu." Jansen lagi-lagi mewakili aku untuk menjawab.
"Emang baju kamu gimana? Kekecilan?" Tante Helen menyuapkan sarapannya sambil melihat aku.
"Tante Juli nggak salah kirim baju kan, Jan? Mama minta ukuran M tadi malam."
Oh,, jadi baju ini di pesan sama camer, baik bangat!
"Bajunya pas, orangnya nggak pd, minta kaos ato kemeja Jan tadi."
"Kamu jangan kuni gitu deh, Yu. Ntar Tante juga bakalan sering ajak kamu ke acara-acara yang biasanya teman-teman tante adain. Disana sering sambil berenang loh, biar relaks."
"Iya, Tan." Bisa bilang apa aku selain iya, nggak mungkin aku bantah, kan? Auto minus lagi nilai ku.
Mungkin benar, kebiasaan keluarga ini, kalau makan sambil berbincang, mungkin mereka lupa aturan baru kepala keluarga yang mau ikutin kayak di rumahku. Atau itu hanya berlaku di makan malam aja?
Selesai sarapan, akhirnya aku dengan terpaksa ikut ke kolam dewasa, tapi dengan baju kaos Jansen yang tetap melekat. Ini bukan kaos yang ku pake tidur tadi malam ya, ini kaos yang lain, yang jelas lebih kecil dari yang tadi malam.
Sekarang tinggal kami bersua di kolam ini, Tante Helen dan Om Hartawan udah selesai lebih dulu. Maklum darah Oma dan Opa udah nggak sekuat darah muda seperti kami.
"Gimana perasaan kamu?" tanya Jansen.
"Senang!" jawabku singkat.
"Menurutmu Mama gimana?"
Gimana ya? Masih kadang jutek sih sama aku. Ngomong ketus bangat. Tapi kata-katanya kebanyakan ada benarnya.
"Aku rasa mama mu udah mulai terbuka untuk ku," jawabku sambil tersenyum.
"Will you Marry me?"
Uhuk...
Kampreet..
"Kamu lagi melamar aku?"
"Iya!"
"In this situasion?"
"Yup, romantis, kan?"
"Romantis apanya?"
Aku mencebik, lamaran apaan di kolam renang sambil berenang gini. Cincinnya gak ada juga. Benar-benar nih cowok!
"Hehehehe, sini tangan kamu!"
Dia terkekeh sambil mengulurkan tangan padaku.
"Buat apa?" tanyaku tetapi tetap memberikan tangan.
Entah di ambil dari mana, Jansen tiba-tiba memasangkan cincin di Jari aku.
"Sah! Jaga mata kamu, terutama sama Josh!" ucapnya kemudian mencium jariku yang sudah di pasangi cincin.
"Love tou, Sayang!" ucapnya lalu meraih kepalaku.
Didalam kolam dengan tubuh terbenam hampir seluruhnya, kami saling berbagi lewat ciuman yang dalam. Tanpa menyadari bahwa ada beberapa pasang mata yang melihat kami dengan raut melongo.
#####
Absurd bangat yah..
Like aja lah yah shay, biar makin absurd..
__ADS_1
heheheh