MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
141. OWEN


__ADS_3

Raut khawatir pria tampan itu mengundang perhatian orang-orang di sekitarnya. Ingin bertanya ada apa tapi seperti ada yang mengingatkan bahwa mungkin itu personal.


"Pak Tohir, tolong di lanjutkan, ya! Saya ijin pulang. Istri saya di larikan ke rumah sakit!" Gegas pria itu langsung pergi usai berkata demikian yang menimbulkan rasa khawatir juga bagi mereka. Di larikan ke rumah sakit?  Kenapa? Sakit apa? Separah itu kah?


"Mungkin mau lahiran, kemarin pas nikahan Andrian, istri pak bos kan lagi hamil."


"Masa secepat itu, kemarin hamilnya masih kecil kayaknya."


"Emang harus segede apa? Ada kok yang hamil kecil tapi udah sembilan bulanan."


"Udah semuanya, kita doakan saja apapun itu agar semua baik-baik saja. Ayo kita lanjutkan meeting."


Kericuhan berhenti berganti keheningan dan  rapat kembali di lanjutkan.


Sementara itu, pria tampan dengan kemeja biru langit itu berlari di koridor rumah sakit. Wajahnya bersinar karena keringat di dahinya.


"Sayang!" panggilnya lantang sambil dia mendorong pintu. Semua orang di ruangan itu menoleh. Dokter dan perawat yang sedang memeriksa Istrinya -Ayu- juga menoleh.


"Kamu baik-baik aja? Anakku udah mau keluar?" tanyanya panik sambil mendekat.


"Ck! Sanah! jauh-jauh sana!" usir wanita berperut balon itu dengan raut kesal.


"Sayang, kok gitu?"


"Kamu berisik, lagian kok kamu disini? Tadi pagi aja kamu bilang nggak bisa cuti karena mau meeting. Sana pergi meeting aja!"


Ooo, ternyata lagi merajuk!


"Bukan gitu, Yang! Aku kira belum hari ini, kan pemeriksaan bilang masih lima hari lagi." Pria itu - Jansen- tidak mau di salahkan karena menolak cuti hari ini dan tidak meladeni rengekan istrinya tadi pagi.


"Banyak cakap! Tadi pagi aku kan udah bilang, pinggang aku sakit. Udah pipis-pipis terus. Malah nggak percaya!"


Dokter dan perawat yang kebetulan udah selesai periksa, permisi dengan diam-diam pada nyonya Helena yang cuek saja mendengar pertengkaran anak dan menantunya itu.


"Masih sakit pinggangnya, Yang?" Dengan santainya pria itu duduk lalu meraba pinggang istrinya.


"Nggak, udah di obatin sama dokter. Jangan dekat-dekat ih!" Ayu menepis tangan Jansen dari pinggangnya.


"Anak daddy udah sampe mana? Masih lama lagi? Jangan lama-lama sayang, nanti mami kesakitan. Langsung keluar aja."


Nyonya Helena menggeleng saja melihat kelakuan anaknya. Langsung keluar aja katanya.


"Ma, ini benar Yuyu mau lahiran sekarang? Kata dokter masih lima hari lagi loh!"


"Itukan perkiraan, bisa melenceng lah, biasa itu. Kecuali kalo udah di tetapkan sectio ya sesuai jadwal kalau tidak ada kejadian yang mengharuskan untuk di tindak."


"Jan lari-larian dari kantor karena mama bilang Yuyu ke rumah sakit. Aku kira udah lahir anakku. Masa aku nggak lihat."


"Anakku, anak kita! Emangnya kamu tahan lihat aku teriak-teriak nanti pas brojolin anak kita?" tanya Ayu dengan alis menyatu.  " Kamu kan panikan, aku nggak mau kamu bikin rusuh nanti yah karena panik. Awas!" lanjutnya.

__ADS_1


****


Hingga dua jam kemudian, Jansen yang sudah kelelahan menunggu kelahiran anaknya tertidur di kursi samping bed istrinya dengan kepala telungkup di atas bed.


"Yang, Yang, bangun!" Ayu memanggil pelan dan mendesis.


"Ck! katanya mau jagain malah tertidur! Jansen!" panggilnya sedikit keras. Dasar si Jansen kebo, segitu dekatnya tapi nggak dengar.


Ayu mengangkat tangannya dan memukul kepala Jansen.


"...Hm?" Jansen celingukan melihat sekitar. Lalu berdecak karena sadar itu ulah istrinya, dia tidak memperhatikan wajah istrinya yang sudah mengerut karena merasa sakit.


"Sakit pinggang aku, Yang! Usap!" Ayu mendesis dan  akhirnya Jansen sadar. Dia mengikuti arahan Ayu.


"Mau duduk, nggak? Biar aku usapin pinggangnya."


Ayu menurut dan duduk di bed di bantu Jansen lalu mengusap pinggangnya.


"Sakit bangat ya, Yang"


"Hmm,"


"Sabar ya, mungkin karena pertama kali. Nanti udah anak kedua dan seterusnya mungkin nggak sakit lagi."


Plak, Ayu menampar punggung suaminya.


"Loh, bukannya kayak gadis perawan? pertama-tama katanya sakit, seterusnya nggak lagi!"


"Beda Janjan!"


Kontraksi hilang. Dan mulai sering timbul setelahnya. Sesuai anjuran dokter, Jansen mengingat-ingat jeda kontraksinya. Semakin sore, semakin sering dan Ayu sudah keringat dingin karena menahan sakit. Melihat istrinya begitu, Jansen inisiatif menawarkan operasi.


"No! Tanggung. Udah bukaan empat! Ayo, bantu aku jalan-jalan!" Ayu mengulurkan tangan dan dengan bantuan Jansen, dia berkeliling ruangannya. Mondar-mandir layaknya setrikaan. Sesekali dia berjongkok dan kadang iseng dia melihat video-video di toktok dan di yutub, dia kadang-kadang ikut menari membuat Jansen ketar-ketir.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Operasi ya, Sayang!" Ini ke sekian kalinya Jansen menawarkan pilihan itu pada istrinya dan tetap di tolak.


"Aku masih kuat," jawabnya walau wajahnya sudah mulai pucat.


Kontraksi intens lebih dari tiga jam tetapi pembukaan belum sempurna membuat Jansen dan yang lainnya khawatir. Dokter sih masih menyarankan untuk menunggu sebentar lagi, hanya saja melihat pucatnya wajah istrinya Jansen kasihan.


"Gimana, masih mau bikin lagi nanti?" tanya nyonya Helena sedikit bercanda.


"Jan udahlah. Atau kalau mau lagi, nanti pilih di sesar aja!"


Ayu terkekeh mendengar suaminya, "Bukannya kamu mau punya lima?" tanyanya bercanda.


"Iya, tadinya. Tap--"

__ADS_1


"Yang, sakit!" ucapan Jansen terpotong mendengar teriakan istrinya. Dia bergegas menyerahkan bahunya untuk di jadikan pegangan.


"Gigit aja kalau mau!" katanya dan di hadiahi pukulan oleh istrinya.


"Gigiku tajam!"


"Aku udah biasa, Yang!"


"Itu lain!"


Nyonya Helena dan bu Rohaya geleng kepala melihat kelakuan calon orang tua itu. Sekarang bisa bercanda, tunggu sampai anakmu lahir. Masih sanggup nggak?


"Mas, aku pipis!" teriak Ayu membuat dua ibu itu mendekat.


"Panggil dokter, udah pecah ketuban!"


\=\=\=\=\=\=\=\=


"Kok masih nangis, sih?" Ayu mengusap kepala suaminya yang masih mewek di dadanya.


Oalah, siapa yang barusan melahirkan mempertaruhkan nyawa, hampir habis tenaga, malah orang itu lagi yang ngemong bayi gede mewekan karena terharu katanya.


"Makasih, Sayang! Makasih udah berjuang dan sehat! Aku hampir pingsan lihat kamu tadi." Bayi gede yang harusnya menggendong bayi itu masih saja telungkupkan  wajah di  dada istrinya.


"Awas, berat. Aku masih capek!"


Dengan tidak rela Jansen duduk tegak setelah di dorong oleh istrinya.


Di sudut sana, para kakek dan nenek berebutan ingin menggendong bayi mungil yang masih merah itu. Dan ajaibnya, bayi itu tetap terlelap tanpa terganggu sudah berpindah tangan. Sepertinya tangan para kakek neneknya hangat dan memberinya kenyamanan.


"Ma, Yuyu mau pangku!"


"Belum boleh, Yang! Kamu belum boleh gerak dan angkat berat-berat."


"Aku pangkunya sambil tiduran. Boleh kan, Ma?"


"Boleh dong! Naikin bednya Jan!"


Jansen menuruti Mamanya dan berdiri di samping Ayu. Ayu mengulurkan tangan dan menerima bayinya.


Wajahnya memerah karena menahan tangis. Walau sudah melihat bayinya tadi bahkan sudah mencoba menyusui, tetap saja dia merasa sangat terharu dan masih belum menyangka, umur dua empat yang masih tergolong sangat muda menurutnya tapi sudah bisa melahirkan.


"Hallo sayang ...!" Sapanya sambil tersenyum dan menoel-noel pipi gembul bayi itu.


"Hidungnya mirip aku, pesek. Selainnya mirip kamu," ucapnya seraya melihat suaminya yang masih berdiri.


Dia memberi kode dengan kepala dan guliran bola mata untuk menyuruh Jansen duduk.


"Hai Owen Obey Pradipta. Welcome to the jungle my handsome boy!"

__ADS_1


__ADS_2