
Jerat Cinta Tuan Muda #16
Oleh Sept
Rate 18+
Tidak ada angin, tidak ada hujan. Tiba-tiba saja Dewa mau diterapi didampingi Tika. Sepertinya gara-gara Tante Mira yang super julid, membuat Dewa jadi geram dan terpancing. Siapa yang mau lumpuh? Siapa juga yang mau menyusahkan orang? Dengan gusar, Dewa menyuruh Tika membantunya untuk terapi.
"Lakukan yang benar!" sentak Dewa karena ia hampir jatuh.
"Astaga!" batin Tika menjerit. Memapah Dewa dengan badan yang jauh lebih tinggi dan besar darinya itu bukan perkara yang mudah. Apalagi ini yang pertama, Tika pun merasa kesulitan melakukannya.
"Sabar Tuan," gumam Tika dengan bibir mengkerut. Capek hati dan capek pula badan Tika.
"Sudah-sudah, kembali ke sana!" ucapnya dengan gusar. Dewa ngambek, pria itu gondok tidak mau melanjutkan terapi lagi. Padahal baru sebentar, Dewa benar-benar tidak memiliki keinginan untuk bisa jalan lagi.
Tika mengumpat dalam hati, rasanya ingin ia pites Tuan mudanya itu. Kalau bukan ingat gaji yang besar, lebih baik Tika kerja yang lain. Di mana memiliki bos yang tidak suka membentak, sudah jutek, galak dan kasar.
"Sepertinya Tuan Dewa sedang tidak bersemangat, kita lanjutkan besok saja ya?" ucap perawat. Ia juga kasihan, melihat Tika yang dijuteki sama Dewa.
Dewa diam saja di atas kursi roda, sementara Tika, gadis itu tersenyum kecut pada sang perawat.
"Permisi, Sus," Tika meninggalkan ruang terapi sambil mendorong kursi roda menuju kamar. Karena keputusan ada di tangan Dewa, ya sudah. Terapi jadi batal.
Sampai di kamar, Dewa masih memasang muka dingin. Ia yakin tidak bisa jalan lagi, makanya tidak mau terapi. Semuanya percuma, lihat barusan? Mungkin ia ditakdirkan harus memakai kursi roda selamanya. Pria itu jadi pesimis, tidak yakin bisa jalan kembali. Dan yang jadi sasaran kemarahan adalah si Tika.
***
"Tuan, waktunya makan siang." Tika datang sembari mendorong meja dengan banyak makanan di atasnya. Tika sempat ngiler, menu yang ada membuat ia harus menelan ludah.
"Singkirkan!"
"Tapi, Tuan ...!"
Dewa malah menjalankan kursinya ke balkon. Ia tidak peduli pada makan siangnya. Biasanya juga Tika yang makan.
Sedangkan Tika, tangannya hampir saja mau menyolek kentang goreng dengan saus sambal. Gara-gara ada yang datang, ia urung melakukannya. Derap langkah kaki yang berirama, membuat Tika menoleh ke sumber suara.
"Nyonya."
Tika mundur dan menundukkan kepala. Menaruh hormat pada Nyonya bos.
"Mana Dewa?" Mamanya Dewa memindai seluruh ruangan yang luas itu, mencari keberadaan sang putra.
"Tuan ada di balkon, Nyonya."
"Jangan biarkan lama-lama Tika, nanti masuk angin."
"Baik, Nyonya."
Majikan Tika itu pun menghampiri sang putra.
"Ayo masuk!"
Dewa bergeming, tidak menoleh sedikitpun.
__ADS_1
"Ayolah, Dewa ... sampai kapan kamu seperti ini?"
"Tinggalkan Dewa!"
"Mau sampai kapan?"
"Sudahlah Ma, Dewa sudah divonis lumpuh. Jadi Mama tidak usah banyak berharap!"
Mama memejamkan mata dalam-dalam. Wanita yang tak kunjung menua karena skincare tersebut menghela napas panjang.
"Mama yakin kamu bisa jalan."
"Cih ... kubur impian Mama dalam-dalam."
Mama mendesis, "Kita lihat, nanti!"
Mama berbalik, saat berpapasan dengan Tika. Tangannya menepuk pundak Tika.
"Terus buat Dewa mengikuti terapi!"
"Baik, Nyonya." Tika mengangguk kemudian menghampiri Dewa.
"Tuan, ini makanannya."
PRANGGG
Lagi-lagi Dewa menghempaskan apa saja bila ia sedang marah.
"Ya ampun ... kentang gorengku," batin Tika merutuk saat makanan dibuang begitu saja. Tika sampai berdoa, semoga Dewa kualatan dan kelaparan.
"Kalau tidak suka, jangan dilempar, jangan dibuang. Lebih baik biarkan saja. Tuan tidak tahu, bagaimana rasanya kelaparan!" cerocos Tika tanpa peduli.
"Tuan kan punya TV, pasti melihat berita kelaparan di Afrika. Tuan juga pasti punya quota untuk melihat internet. Betapa banyak orang yang kesusahan hanya untuk mengisi perutnya yang kosong! Harusnya Tuan sadar, tindakan Tuan ini berlebihan."
"Tika! Kamu tahu sedang bicara pada siapa?" sentak Dewa yang marah mendengar perkataan Tika yang baginya seperti omong kosong.
"Saya sedang bicara pada manusia!" Masih menunduk karena membersihkan lantai.
"Berani sekali kamu mendebatku, Tika!"
"Tika bicara apa adanya, Tuan. Lain kali kalau tidak mau, jangan buang. Biar Tika yang makan. Tuan bakal mengerti maksud Tika, kalau Tuan pernah kelaparan."
"Siittt! Banyak bicara kamu, Tik. Keluar!"
"Iya, Tuan. Tika juga sudah selesai!" jawab Tika lempeng seperti tidak takut pada apapun. Makin geramlah si Dewa.
***
Malam hari, Tika balik ke kamar. Ia baru mandi, bersiap untuk tidur. Saat membaringkan tubuhnya di atas ranjang, tiba-tiba ia ingin tidur ditemani uangnya. Melihat cuan bagi Tika berguna menambah imun.
"Aku taruh di mana, ya?"
Tika mencari-cari, tapi di lemari tidak ada. Di bawah bantal juga nggak ada. Terus di mana? Tika berpikir keras, beberapa saat kemudian ia mulai panik.
"Tidak mungkin dibawa tuyul! Tuyul paling ngambil seratus ribu atau tiga ratus," gumam Tika. Ia jadi ingat, si Mei Mei sering curhat uangnya kadang ilang. Mereka curiga ada tuyul lantaran yang dicuri cuma sedikit. Lah, punya Tika puluhan juta. DP sama bonus nggak tahu di mana rimbanya. Padahal Tika udah niat, udah ancang-ancang beli motor. Bahkan sudah menentukan warnanya. Kalau begini? Tika hanya bisa panik dan nangis.
__ADS_1
***
Tok tok tok
Tika berdiri lemas sambil bersandar di tembok kamar Dewa.
"Jangan masuk!" teriak Dewa. Ternyata pria itu belum tidur. Kebetulan, Tika langsung masuk.
KLEK
"Tuan, bantu Tika."
"Tidak! Cepat keluar!"
Belum dikasi tahu bantuan apa, Dewa malah langsung mengusir.
"Uang Tika ilang, ayolah Tuan. Periksa CCTV di kamar Tika. Manusia apa tuyul yang curi."
"Jangan gila! Mana ada CCTV di kamarmu!"
"Lah? Ada kok, di sudut ruangan paling atas."
"Kamu pikir anggota keluarga ini mesum? Memasang CCTV di kamar pelayan? Itu hanya ornaments."
Mendengar penjelasan Dewa, Tika langsung merosot ke lantai. Uangnya melayang.
"Hey! Bangun!"
Tika mengusap wajahnya, kemudian berdiri dengan lemas. Tidak peduli pada Dewa, ia berbalik dan akan keluar dari situ.
"Hey! Berhenti! Aku ganti, tapi lakukan sesuatu!"
Spontan Tika berbalik, "Hutang Tuan yang dulu saja belum Tuan bayar!"
Mata Dewa langsung mau keluar. Tersinggung karena hutangnya dibahas. Dewa langsung menuju brangkas.
Bukkk
"Ambil! Tapi lakukan sesuatu!" Bersambung.
Sambil nunggu up, baca juga novel Sept yang lain ya ;
Rahim Bayaran
Istri gelap presdir
Kesetiaan cinta
Menikah karena Dijebak
Jerat Cinta Tuan Muda
Dea I Love You
Suamiku Pria Tajir
__ADS_1
Pernikahan Tak sempurna
Terima kasih untuk supportnya selama ini ya ....