
~POV AYU~
******
Setelah kata 'aku sudah siap' terlontar dari mulutmu, tidak ada respon dari Jansen, hening.
Apa dia belum mengharapkan jawaban itu sekarang? Bukankah dia ngebet ingin sekali menikah?
Apa semua hanya sandiwara untuk mengujiku?
Apa...
"Thanks Sayang, Aku akan bilang Bapak sama ibu, soon!"
Aku menghela napas lega. Segala pemikiran buruk yang sempat hinggap kini lenyap seketika.
"Soon,, very very soon."
Dari nadanya dia sepertinya sangat bersemangat sekali.
"Happy?" tanyaku.
"More than happy, aku tidak tau ... how to tell my happiness."
Dia menghembuskan napas dengan keras, "Oh God, thanks wanita batu ini akhirnya luluh juga."
Aku tertawa mendengarnya, apa wanita batu itu adalah aku?
Sejak kapan dia memberi julukan seperti itu padaku. Aku akan cari tahu nanti.
"Ayo pulang! Nanti bapak sama ibu khawatir, dua malam anak gadisnya nggak pulang."
Aku melepas pelukan kami, walau seperti tidak rela, Jansen juga terpaksa melepas pelukannya dari ku, tapi kemudian di mengambil tanganku. Menciuminya beberapa kali tepat di cincin yang sudah dia sematkan.
"Ayo, aku sudah tidak sabar," ucapnya kemudian bergegas.
Dengan wajah ceria dan penuh senyuman, dia bersiap untuk mengantarku pulang.
Jarak beberapa ratus meter tidaklah jauh, tidak membutuhkan waktu lebih dari lima menit naik mobil, tapi beda dengan kami, ini bahkan sudah hampir dua puluh menit, kami belum sampai juga. Bukan karena macet, tapi karena sang supir a.k.a Jansen masih belum sembuh dari euforia 'aku sudah siap' dari ku.
Tangannya tidak berhenti mengelus tanganku,mengeratkan genggaman dan sesekali bahkan berkali-kali membawa tanganku ke mulut untuk di ciumnya.
"Ck, kita lebih lambat dari bebek," ucapku protes pada kecepatan yang hampir tidak bergerak ini.
"Pengen cium tangan kamu lebih, ntar kalo di rumah aku nggak bisa, segan sama Bapak sama Ibu."
Aku terkekeh mendengar alasannya.
Dan aku meladeni keinginannya dengan bersandar di lengannya.
__ADS_1
...******...
"Eh Jansen, baru sampe?" Basa - basi unfaedah dari bapak.
Jelas baru sampe lah, kan bapak lihat sendiri.
Sangat jelas lagi.
"Iya Pak. Maaf yah pak, kelamaan anterin Ayu. Tadi singgah bentar di taman itu," balas Jansen seraya mengulurkan tangan meminta tangan Bapak untuk salim.
"Ibu mana?" tanya Jansen. Aku memutar bola mata malas pada dua orang pria di hadapanku. Ibu ya jelas di rumah. Nggak mungkin pergi keluar kelayapan kayak anak gadis Jansen.
"Ada di dalam, mungkin lagi masak untuk makan malam."
Jansen kemudian duduk di kursi sebelah bapak, dan obrolan di mulai. Di saat-saat seperti ini, makan dunia akan menjadi milik mereka berdua.
Aku langsung masuk tanpa membawa satupun paper bag ku, aku hanya membawa kue oleh - oleh Jansen untuk Bapak dan Ibu.
"Hallo Ibu ratu, masak apa?"
Ibuku kaget saat anak gadis ini memeluknya tiba-tiba.
Puk..
"Kamu udah pengen kali mamakmu mati? Hah?"
"Masa langsung mati karena di peluk."
"Kan bisa jantungan, serangan jantung tiba-tiba, Yu!"
"Pikiran ibu kejauhan kesana akah." Aku mengibaskan tanganku di depan mukaku. tujuanku agar ibu melihat apa yang melekat di jari. Aku bahkan menggerakkannya dengan slow motion tapi tidak berhasil.
Hah.. harusnya aku maklum, ibu ku adalah orang jaman dulu yang hidup di masa kini.
"Bu, lihat ini!" aku menghentikan kibasan tanganku tepat di depan wajah ibu.
"Apa?"
"Ada yang berkilau, kan?"Aku bertanya sekaligus memberi tahu. Tipe-tipe emak penggosip di masa depan.
"Ap--"
"Taraaaaa, Jansen melamar Yuyu" Aku tak sengaja memotong ucapan ibu. Menggoyang-goyangkan jari di depan wajahnya.
"Baguslah, kan gak baik pacaran lama-lama, lihat tuh si Vanny, kelamaan pacaran jadinya cepat bosan"
Ibu membandingkan ku dengan tetangga. Kapan ibu ikutan menggosip mengenai itu? Ibu kan sibuk ke pasar, mana sempat nongkrong di mamang sayur untuk bergosip.
"Gimana pendapat ibu?" tanyaku antusias.
__ADS_1
"Bagus, "jawabnya seperti tidak semangat.
Reaksi yang di luar ekspektasi ku. Aku kira ibu akan sangat senang, tapi kenapa kebalikannya?
Aku mendekat dan memeluk ibu lagi,
"Ibu nggak senang?" tanyaku dan beberapa detik berikutnya aku merasakan sakit di punggung karena di tabok ibu.
"Sembarangan!"
"Habisnya ibu nggak ada reaksi, bukan salahku dong berpikir begitu." Aku mengusap pundak yang di tabok barusan. Lumayan parah cui.
"Ibu bukannya nggak senang, ibu hanya belum siap aja kalau kamu pergi dari rumah. Ibu serius, ibu senang. Nak Jansen menyematkan cincin itu berarti karena dia sudah mendapat restu. Ibu bersyukur, akhirnya doa-doa kita di dengar Tuhan."
Ibu mengusap pipinya lalu berbalik kemudian mengaduk sup yang sedang di masak.
Aku memeluknya dari belakang.
Memberi kehangatan kasih sayangku pada ibu yang tak ada seperempat kasih sayangnya padaku.
Aku tidak mengatakan apapun, demikian juga ibu. Kami sedang meresapi begitu banyak cinta.
...********...
Hujannya tak kunjung reda. Saat kami makan malam tadi, hujan tiba-tiba turun dengan deras lalu berhenti sebentar. Sekarang saat Jansen sudah berdiri untuk pamit, hujannya kembali turun.
"Masuk saja dulu, Nak. Tunggu hujan berhenti. Bahaya kamu nyetir sambil hujan, mana jauh lagi." Suara ayah terdengar lembut dan sedang mendekat pada kami.
Akhirnya Jansen masuk lagi ke rumah dan duduk bersama kami di ruang keluarga yang sekaligus ruang tamu.
Kami berbincang-bincang ringan mengenai berbagai hal. Mengkritik pemerintahan dan para anggota dewan yang berjanji manis saat kampanye.
Saya akan begini dan begono, jika saya menang, saya akan membangun ini ono dan memperbaiki jalan. Nyatanya banyak dari mereka yang menang pada akhirnya lupa dengan janji-janji manis, pura-pura amnesia.
Saat mengambil jeda sebentar, tiba-tiba Jansen memperbaiki posisi duduk dan berdehem beberapa kali.
'Apakah ini saatnya?'
"Ehem, ...Pak, Bu. Jansen tau dan sadar bahwa Jansen masih di bawah kata sempurna. Masih sangat jauh. Untuk melengkapi kesempurnaan Jansen, Jansen meminta ijin dari Bapak dan ibu untuk menikahi Ayu."
Tanpa hambatan apapun, Jansen menyampaikan keinginannya.
Bapak dan Ibu diam sejenak saling memandang.
"Nak Jansen, ... selama lebih dari setahun, kamu sudah mengenalkan dirimu pada kami, dan kamu pasti tahu bagaimana reaksi kami. Bahkan kami menyetujui hubungan kalian walau keluargamu tidak begitu setuju dengan putri Bapak. Yang bapak dan ibu inginkan, bicara saja dulu dengan orang tua mu, apakah mereka benar-benar mau menerima Ayu sebagi pendamping kamu? Kamu ingatkan apa yang pernah bapak bilang kemarin. Kami bisa saja menikahkan kalian di rumah ini, tapi itu tidak akan tejadi jika tidak ada restu dari orang tua mu. Hal pertama dan paling penting dalam hubungan adalah, keluarga." Ucap bapak panjang lebar.
Jansen mengangguk, kemudian berkata, "Orang tua ku sudah setuju Pak."
"Baiklah, jika sudah, bawalah orang tuamu ke rumah. Akan kita bahas itu nanti.
__ADS_1