MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
79. DIA MELIHATNYA


__ADS_3

POV JANSEN


*****


"Keluargamu lebih bahagia saat bersama Mira"


Aku sungguh terkejut mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Ayu.


Apa sekarang dia menyerah?


Apa perjuangan kami selama beberapa bulan ini tidak ada artinya baginya?


"Apa itu artinya kamu menyerah sekarang? Setelah sejauh ini?"


Aku bertanya tapi seperti bergumam. Demi Tuhan aku sangat mencintai gadis di depanku ini, karena rasa cintaku yang besar, aku sampai rela menentang orang tuaku. Tapi apa ini sekarang?


Aku melihatnya menunduk, dengan kasar dia menghapus air matanya.


"Aku melihatnya, .... Aku melihat kalian di cafe di mal beberapa hari lalu. Saat itu aku sadar, aku tidak lebih dari perusak kebahagiaan orang tuamu."


Benarkan? Malam itu aku juga seperti melihatnya di mal. Bukan hanya sekali tapi dua kali. Aku juga melihatnya melintas dengan sepeda motor di samping mobil kami.


Vania berarti tidak salah lihat.

__ADS_1


Oh Tuhan, Ayu pasti sudah salah paham.


Apa perubahannya yang beberapa hari ini karena itu?


Ya, benar, dia mulai berubah dan seperti menjauh setelah malam itu.


Bodohnya aku, tidak percaya pada mataku sendiri. Aku malah percaya dengan ucapan temannya yang bernama Ririn itu.


"Kamu salah paham!" ucapku. Aku harus meluruskan masalah ini.


"Kami tidak sengaja bertemu, Mira dan mamanya sedang belanja dan bertemu di butik yang sama dengan mama dan kak Jo.


Aku kesana untuk menjemput mama."


Aku meraih tangannya. Aku ingin dia percaya padaku.


"Baiklah jika memang begitu. Tapi, sepertinya pikiranku benarkan? Orang tuamu sangat menyukai Mira dan pasti masih berharap dia yang menjadi menantu di rumah kalian."


Oh Tuhan, sepertinya pacarku sedang di landa krisis percaya diri.


"Sayang, aku tidak menampik apa yang kamu katakan itu. Benar, bahwa orang tuaku, terutama mama sangat menyukai Mira. Tapi tidak dengan aku, aku menyukaimu."


"....."

__ADS_1


"Mamanya Mira, berteman baik dengan mamaku. Seperti yang aku ceritakan padamu dulu, mereka teman satu sekolah terus berpisah dalam waktu yang sangat lama. Bertu setelah sekian lama lalu berniat menjodohkan kami. Berniat sayang, bukan berarti harus."


"....."


Masih tidak ada respon dari Ayu, apa yang harus aku lakukan?


"Sayang, kemarin mereka bertemu, tidak mungkin tidak disapa, kan? Hubungan mereka sempat renggang karena aku menolak perjodohan, Mamanya Mira kecewa pada mama, tapi seiring berjalannya waktu, mereka menerimanya. Mereka sadar, tidak bisa memaksakan kehendaknya padaku. Lambat laun, hubungan mereka membaik. Ketika mereka bertemu, mereka mencoba berdamai dengan diri masing-masing. Dan akhirnya menyadari persahabatan mereka bukan karena aku dan Mira. Tapi memang sudah ada jauh sebelum kami ada."


Akhirnya aku percaya bahwa gadis ini adalah gadis keras kepala. Lihat dia! sampai begitu panjang penjelasanku tetap saja dia tidak memberi respon. Bahkan saat dia menatapku, aku tak melihat rasa bersalah dan rasa tidak enak hati pada dirinya.


"Mari kita telaah diri kita masing-masing, aku tidak bilang kita putus atau pun break up. Aku hanya minta kita lihat diri kita masing-masing. Terutama dirimu aki percaya kamu mencintaiku, menyayangiku dan berjuang untukku. Tapi, aku merasa bersalah padamu dan pada orang tuamu karena aku kamu menjadi anak durhaka. Karena aku, keinginan orang tua mu tidak tercapai.


Jansen, maafkan aku, jika kamu mau dan sanggup menunggu, silahkan. Jika tidak, aku tidak apa-apa. Aku akan bersedia bersamamu lagi dengan cinta yang lebih besar dari yang sekarang, asal saat itu aku sudah mendapat restu dan di terima dengan baik, ikhlas dan tulus oleh orang tuamu."


Kepalaku berputar karena apa yang barusan di ucapkan oleh Ayu. Aku bahkan tidak mengerti apa maksudnya.


"Persingkat saja, kepalaku sedang tidak baik-baik saja untuk memikirkannya," pintaku dengan lemah.


"Ayo pacaran seperti tidak pacaran. Aku tidak akan keberatan jika kamu menemukan gadis lain yang cocok untukmu selama kamu menjalin hubungan denganku. Ayo kita lihat, sekuat apa kita."


Sungguh gadis yang keras kepala. Pacaran tapi seperti tidak pacaran. Katakan saja break untuk sementara.


"Ayo pulang, sudah malam, kamu harus balik lagi." Ayu berdiri seolah dia tidak sadar telah meremukkan hatiku. Menghancurkan hidupku. Apa mencintainya harus seberat ini?

__ADS_1


Sepanjang jalan pulang. Ayu bersandar pada kaca dan duduk miring. Pandangannya tetep bertahan ke arah luar. Sesekali aku lihat dia menyeka air matanya.


"Aku marah pada diriku sendiri karena sudah melibatkan Bapak sama Ibu. Aku berpikir, kita melangkah terlalu tergesa-gesa kemarin. Aku merasa buruk, karena melihat tawa mama dan kakakmu saat bersama Mira. Saat bersamaku, setengah bahkan seperempatnya saja tidak muncul. Aku rasa kakakmu hanya terpaksa mendukungku, demi kamu."


__ADS_2