
~POV HELENA~
*****
Sebenarnya mulutku sudah sangat gatal ingin bertanya pada Jansen mengenai gadis bernama Ayu itu. Tapi dengan sekuat tenaga aku menahannya mengingat pesan Josh yang ingin memantau lebih jauh hubungan Jansen. Apalagi kemarin itu Jansen tidak pulang setelah berkencan dengan gadis itu. Kemana dia? Apa dia menginap bersama gadis itu?
Semalaman aku menangisi hal itu, berbagai dugaan singgah di otakku dan yang paling menyesakkan adalah bagaimana jika Jansen sudah salah jalan dan sering bermain perempuan. Menginap bersama dan menghabiskan malam panjang yang panas.
Keadaan juga sepertinya tidak mendukungku untuk segera memutus hubungan Jansen dengan gadis itu dengan cara mempercepat pertunangannya. Setiap ada wacana untuk kumpul bersama dengan keluarga Mira, selalu saja ada halangan yang tiba-tiba dari kedua keluarga secara bergantian.
"Len, acara malam ini kita undur yah, anakku Andri demam tinggi dan kami udah di Rumah Sakit sekarang," katanya siang itu melalui panggilan telepon. Tentunya ini membuat aku frustasi karena pertemuan keluarga akan batal untuk ke sekian kalinya.
"Oh, iya, gak pa-pa Er, pertemuan bisa lain kali. Yang penting kesehatan nomor satu. Semoga Andrian lekas sembuh yah Er. Salam dari tante Helena untuk Andrian yah." Nadaku yang lembut sungguh bertolak belakang dengan suasana hatiku yang sedang riuh.
Aku mengabarkan pada keluarga bahwa acara nanti malam di undur lagi ke kapan hari. Walau Jansen hanya membalas 'Ok Mam' pada pesannya. Aku seperti bisa membayangkan bahwa dia sedang tersenyum karena batalnya acara ini.
Me:
'Kamu pergi berdua aja dengan Mira, Jan. Makan malam romantis sekalian kencan!'
'Mama booking tempatnya yah,'
Aku kirim pesan ke Jansen. Biarlah malam ini hanya mereka berdua saja. Sekalian menghalangi dia pergi dengan gadis bernama Ayu itu.
Baru saja aku hendak membuat reservasi untuk mereka, pesan Jansen masuk.
My Son Jansen:
'Sorry Mam,'
'Kantor lagi sibuk banget, ada kontrak baru yang deadline'
[send pict]
Aku mendesah panjang karena gagal lagi. Poto kantor yang sedang sibuk dengan tumpukan dokumen dan orang-orang yang sibuk menandakan Jansen tidak berbohong. Selama seminggu ini, dia memang selalu pulang lebih lama dan aku tidak khawatir karena menurut Josh, Jansen tidak pergi kemana pun selain di kantor dan sesekali menjumpai rekan bisnis.
My Son Jansen:
'Pulang juga mungkin agak malam, kami lembur.'
'Happy weekend Mam, enjoy.'
'OH Tuhan, tolong jangan memberiku satu masalah lagi. Cukup Johana yang membuatku stress. Anakku Jansen, anak kebanggaanku, tolong jauhkan dia dari pelet gadis bernama Ayu itu,' doaku dalam hati.
*****
Ermina:
'Len, Weekend ini aja yah kita ngumpulnya, udah kelamaan kita nggak makan bersama.'
'Kangen juga suasananya.'
Aku tersenyum saat pesan dari Ermina masuk di ponselku. Aku langsung mengabari ini pada semua anggota keluargaku. Dan aku menekankan semua harus ikut dan meluangkan waktu. Aku bahkan meminta asistenku mengecek jadwalku sekali lagi, memastikan tidak ada janji dengan pasienku.
Me:
'Oke Er. Sampai ketemu weekend'
Tak lama, ada pesan baru dari Ermina dan permintaannya di luar dugaan.
Ermina:
'Kita di Mal xy ya kali ini.'
'Kerabat buka usaha disana, kita cobain makanan dia dulu.'
'Lagian, kita perlu ganti suasana.'
__ADS_1
Acara makan malam keluarga ini biasanya kami lakukan di salah satu ruangan restoran yang sudah di booking,
Bisa di katakan ini seperti acara tertutup. Lalu jika di adakan di Mal, apa tidak berisik?
Tapi tidak mungkin aku menolakkan? Apalagi ini usaha kerabatnya Er. Semoga makanannya tidak jauh dari ekspektasi.
Me:
'Oke, atur saja.'
'Kamu benar Er, kita perlu ganti suasana.'
Apa boleh buat, terpaksa harus setuju. Aku sedang berusaha untuk tidak nampak dominan dalam wacana perjodohan ini. Aku tidak ingin menampakkan bahwa aku sudah ngebet sekali. Ntar dikira Jansen tidak laku.
Weekend pun tiba.
Tidak ada satu orang pun yang menolak saat aku mengatakan akan ada pertemuan weekend ini, Pun Jansen. Padahal dari pantauanku, sudah dua mingguan dia tidak bertemu Ayu. Malam minggu kemarin dia lembur di kantor. Dan weekday, dia tidak pernah pergi bersama gadis itu.
Kami berbincang dengan riang. Restoran di mal yang di sarankan Er juga sangat bagus. Makanan juga enak dan cocok di lidah. Pasti usaha ini akan laris manis. Pengunjung juga banyak aku lihat.
Tidak ada pembicaraan serius malam ini, karena aku selalu melihat Josh yang selalu memberikan kode padaku untuk menahan diri.
"Mira, udah lama nggak kerumah. Mainlah, Sayang."
Aku memberikan solusi untuk Mira. Karena Jansen tidak membawanya keluar, maka biar Mira yang datang ke rumah.
"Hehehe, boleh Tante?" tanyanya.
Lihatkan, sopannya dia, aku udah minta dia datang, malah dia tanya apa boleh.
"Ya boleh dong sayang, nginap juga boleh. Mau nginap sekarang?" tanyaku.
Belum sempat dia jawab karena dia tersenyum sumringah, aku tambahkan lagi,
"Kamu tahukan, anak perempuan tante cuma Johana. Dan udah nikah. Udah lama bangat tante nggak bercanda sama anak perempuan. Kangen juga," lanjutku.
Wajahnya benar-benar flat tanpa ekspresi.
"Besok pagi Mira datang yah Tan. Lain kali aja nginap. Nggak bawa baju ganti. Tante sih, ngundangnya baru sekarang, coba kalau tadi, kan Mira udah persiapan, heheheh," tolaknya dengan sopan dan sedikit bercanda.
Dan benar saja, besoknya Mira sudah ada di rumah. Seharian di rumah hingga pada sore harinya dia dan Jansen seperti berantem dan Jansen pergi dari rumah bersama Mira dengan mobil masing-masing.
Aku mengikuti mereka sampai di teras dan bertanya mau kemana.
"Jansen ada urusan mendesak Tante, dia nggak bisa antar Mira pulang. Mira pulang dulu yah Tan," pamitnya seraya salim.
"Kalian nggak berantam, kan?" Aku masih penasaran melihat gelagat mereka berdua.
"Hehehe, nggak tan, beneran. Jansen ada urusan bentar, ini aku mau temanin dia, cuma nanti langsung balik dari sana aja. Jansen capek kalo antar Mira lagi nanti." Mira mengelus pundakku sambil tersenyum teduh.
Aku jadi tenang karena nggak mungkin Mira berbohong, kan?
*****
Selama sebulan lebih ini sejak terakhir kali Mira ke rumah, Jansen berubah. Dia lebih murung dan seperti depresi tapi tidak pernah cerita apa yang terjadi.
Bahkan kadang ketika makan malam, dia sering melamun. Dan sesekali menghembuskan napas keras seperti sedang kelelahan pikiran.
"Jan, are you oke?" tanyaku saat kami sedang berkumpul bersama di ruang keluarga.
Tidak ada sahutan dari Jansen dan matanya tetap menatap televisi tapi aku yakin dia bahkan tidak memperhatikan apa siaran itu. Tidak ada ekspresi bahkan ketika siarannya itu adalah acara komedi.
Kami semua saling tatap.
Tak lama setelah aku bertanya, Jansen berdiri. "Jansen ke atas yah Mam, ngantuk. Selamat malam semua."
Dia berjalan bahkan sebelum kami menjawab.
__ADS_1
"Dia kenapa? Apa ada masalah di perusahaannya, Pa?" tanyaku pada suamiku dan di jawab dengan gelengan.
Aku berdiri hendak menyusul Jansen. "Ma, please stop! Jansen punya masalahnya sendiri. Jika dia tidak bicara, berarti dia tidak mau kita tahu tentang apa. Kasih dia waktu untuk dirinya sendiri. Nanti juga dia pasti cerita kalau udah nggak sanggup lagi mendam sendirian." Johana menghentikan langkahku dengan kata-katanya.
"Mama terlalu memaksa." lanjutnya.
Ditengah malam, aku naik ke atas, aku ingin melihat keadaan Jansen yang semakin aneh akhir-akhir ini. Aku menempelkan telingaku ke daun pintu, tapi aku tidak mendengar apa-apa. Mungkin dia udah tidur. Saat aku berputar hendak turun ke lantai satu, aku mendengar suara dari kamar Jansen, suara seperti sedang menangis. "Please help me God" ucapnya seperti marah.
****
"Ada yang mau Jansen katakan," kata Jansen tiba-tiba membuat kami menatapnya dengan raut 'apa?'
"Nanti saja!" jawabnya sambil makan.
Dan benar saja, setelah kami di ruang keluarga, kata yang selama ini tidak ingin ku dengar akhirnya terucap juga dari mulut Jansen.
"Jansen punya pacar, tolong batalkan perjodohan dengan Mira."
Walau aku sudah tahu, tapi aku tetap kaget karena ternyata Jansen berani melawanku. Jansen seperti mengikuti jejak Johana.
Raut Jansen terkejut, kala Josh mengeluarkan beberapa poto.
Selama tiga bulan lebih, Jansen menjadi musuh keluarga. Dia ada tapi seperti tidak ada, bahkan menyapa juga tidak. Ini pasti pengaruh dari gadis itu. Pelet apa yang dia berikan sampe-sampe Jansen berani berontak. Bahkan dia sendiri yang mengatur pertemuan keluarga dan bicara langsung pada Ermina bahwa dia menolak perjodohan.
Ermina dan suaminya sangat marah dan kecewa. Mira juga demikian tetapi tetap menunjukkan wajah tenangnya. Aku jadi malu karena aku lah pihak yang pertama mencetuskan ide ini.
Aku tak menyangka bahwa Jansen begitu berani mengambil langkah ini. Dia bahkan lebih berani dari Johana. Jika Johana dulu mengancam untuk mendapat restu. Maka beda dengan Jansen, dia tidak bicara apapun dan seolah-olah sudah siap dengan segala konsekuensi.
Aku menyuruh Josh untuk memantau apa yang terjadi dan benar saja, Jansen kembali dengan gadis itu. Mereka dengan terang-terangan sekarang. Aku mencari waktu untuk menemui gadis itu.
Dia cantik juga ternyata, rautnya adem dan seperti punya aura manis. Tapi mulutnya tajam! Bahkan saat bertemu kedua kali dan kali ini bersama suamiku juga, mulutnya tetap tajam. Dia bukan gadis yang bisa di intimidasi.
Josh juga bilang begitu. Bahkan dengan terang-terangan Ayu mengaku mencintai Jansen dan uangnya juga. Hanya Johana yang tertarik dengannya, katanya orangnya ramah dan menyenangkan.
Ramah apanya?
Walau Jansen sudah mulai melunak, dan kadang membantu papanya yang sedang kesulitan. Tetapi dia tetap saja sudah berubah. Sekarang prioritasnya adalah gadis itu. Dia bahkan sudah sangat akrab dengan keluarga Ayu.
Bahkan kata suruhan Josh, Jansen sudah semakin sering kesana, bukan hanya di weekend lagi.
"Ma, maaf karena Jo dulu melawan mama dan itu seperti memberikan pelajaran untuk di tiru oleh Jansen. Tapi ma, Mama juga harus ngerti perasaan kami. Okelah mama cocok dengan Mira. Apa mama tidak penasaran dengan Jansen? Apa dia nyaman? Apa dia merasa terpaksa? Jansen itu manusia ma, punya perasaan. Sejak dulu, mama udah kendalikan hidupnya. Dia tidak bisa memilih apa yang dia mau, dia suka, dia inginkan. Apa salah jika kali ini dia mau memperjuangkan apa yang dia suka? Tolong jangan terlalu mengekangnya, dia bisa tertekan dan depresi."
Johana berbicara dengan pelan, hanya ada kami berdua.
"Sejak dia bersama Ayu, Jo lihat dia serasa lebih hidup. Lebih banyak senyum. Apa mama sadar akhir-akhir ini dia murung lagi?" tanya Jo lagi dan aku memutar ingatan untuk beberapa hari yang udah kami lewati. Benar, Jansen kembali murung.
"Itu karena Ayu menyerah. Ayu tidak ingin melihat kita sedih. Ayu tidak ingin merampas kebahagiaan mama saat bersama Mira. Ihh kesel juga aku jadinya. Ayu menuduh aku berpura-pura padanya. Dan dia menyerah. itu sebabnya Jansen menyerahkan hidupnya pada mama lagi, karena dia udah frustasi, putus asa. Apa mama tidak peka?"
Perkataan Johana seperti menamparku. Peka? benar, aku tidak peka pada anakku.
Berhari-hari aku memikirkan ini, dan aku ceritakan pada suamiku. Suamiku juga ternyata sama seperti Johana, hanya saja dia tidak mau membuatku kecewa, makanya dia selalu mendukung apa yang ku mau.
Dengan berat hati, aku meminta suamiku menjumpai Jansen. Memperbaiki hubungan ayah anak yang sempat hilang karena egoku.
Dan dengan berat hati, aku mengundang gadis itu untuk makan malam di rumahku.
****
Tidak ada raut kebohongan dari gadis itu. Dia seperti tidak menutupi apapun.
Walau aku ketus, sebenarnya aku sudah mulai lunak di dalam. Apalagi melihat anakku yang ganteng semakin berseri-seri. Bahkan tidak segan memanggil 'Sayang' di depanku. Matanya berbinar saat melihat gadis itu. Dan senyumnya tulus sampai ke garis mata.
Dia juga sepertinya cemburu ketika dengan tidak sadar Ayu menatap anak playboyku, Josh.
Mira, maafkan tante, tante tidak bisa mengalahkan Jansen.
Semoga kamu menemukan pria yang lebih dari Jansen.
__ADS_1
Semoga kamu bahagia seperti Jansen yang bahagia dengan gadis pilihannya.