
"Jansen tidak ada yah?"
Aku mengangguk dengan penuh kemakluman.
Aku sengaja. Aku ingin mencari simpati disini ketika suatu saat Ayu yang di perkenalkan.
Apakah aku jahat?
Menurutku tidak, aku hanya sedang memperjuangkan apa yang sempat aku genggam.
Aku pulang dari kantor Jansen dengan kepuasan yang lumayan besar.
"Lihat saja, siapa yang akan mundur." Aku tersenyum simpul saat berjalan ke mobilku.
Aku menunggu sampai sore, tidak ada pesan atau telepon dari Jansen. Apa CS idiot itu tidak melaporkan kedatanganku? Atau Jansen tidak peduli dengan berita hoaks yang aku tebar?
Hingga esok sorenya tidak ada panggilan dari Jansen. Aku mulai kesal sendiri.
Aku uring-uringan sepanjang sore hingga malam menjelang.
"Apa serangan ini terlalu ringan?" Aku bertanya pada diriku sendiri di depan cermin di kamarku.
Aku mulai sibuk dengan pikiranku, dengan rencana baru. Haruskah aku mendekati orang tua Jansen dan menghasutnya?
Aku punya usaha yang bisa ku peralat, tidak apa jika perusahaan ku jatuh ke tangan om Hermawan, yang penting aku bisa bersanding dengan Jansen.
Aku tersenyum jahat dengan ide itu. Siapa yang menyangka, gadis anggun dan tampak polos sepertiku bisa memiliki pikiran yang jahat itu?
Ditengah lamunanku, ponselku berkedip dan aku melihat nama Jansen sebagai pengirim pesan.
Jansen:
'Ayo makan malam besok, ada yg harus kutanyakan padamu. I say thanks jika kamu setuju.'
Ini perintah, bukan permintaan.
Tapi bagaimanapun makna pesan ini, aku sangat bahagia saat melihat namanya di kontak pesanku.
__ADS_1
Me:
'I'm curious if I refuse it,'
Pura-pura jual mahal sikit.
Jansen:
'It's up to u.'
'Artinya kamu pengecut, karena kamu tahu pasti apa yg ingin aku tanyakan.'
Me:
'Tanya sekarang!'
Jansen:
'For me, ini serius, bukan hal sepele, aku ingin menatap orang yang memberi jawaban karena telah berulah.'
'Mir, aku tidak ingin menambah musuh. Tidak berjodoh denganmu, aku bisa menjadi temanmu. Stop beeing childish!'
Kata-kata Jansen sangat melukai harga diriku.
Aku iyakan ajakannya dan aku ingin sekali merobek mulutnya besok malam saat bertemu.
Ditengah malam, aku menerima notif dari Jansen. Pertemuan di ganti jadi makan siang dan dia sudah menentukan tempatnya.
Apa-apaan ini?
****************
Aku tidak menyangka bahwa pertemuan ini melibatkan satu orang yang sudah ku nobatkan jadi musuhku.
Aku membandingkan Ayu yang pernah kulihat dengan yang ada di depanku sekarang. Meski tidak memakai pakaian, tas dan sepatu mahal bahkan tidak ada aksesoris mahal yang melekat di tubuhnya, dia terlihat lebih cantik dari sebelumnya. Dia sudah lebih anggun. Perpaduan pakaian kerjanya juga sangat serasi dan di tambah dengan kaluang halus di lehernya memberi kesan lebih anggun. Mukanya yang sedikit tembam dan juga aura wajahnya membuatku sadar bahwa gadis ini punya daya tarik tersendiri.
"Kamu mau tanya apa?" tanyaku pada Jansen yang sibuk meletakkan makanan di piring Ayu.
__ADS_1
Jika kalian bertanya bagaimana perasaanku. Aku dengan jelas dan tegas mengatakan. Aku sangat cemburu. Bahkan sangat marah ketika melihat wajah Ayu yang bersemu karena perlakuan Jansen.
Oh,, sungguh gadis yang beruntung.
Saat ini aku menyadari, cinta tidak memandang uang dan jabatan.
Bukti nyatanya ada di hadapanku.
Aku juga melihat bagaimana Jansen menenangkan gadis itu. Aku tahu pasti arah tangannya kemana.
Jika ku ingat-ingat lagi, tak sekalipun Jansen memegang tanganku selama melakukan pendekatan denganku. Kami bahkan akan bertemu di lokasi yang di janjikan, artinya kami akan datang sendiri sendiri dengan mobil masing-masing.
Tidak ada kata menyinggung dari Jansen. Dia tidak marah. Bahkan dia seperti menceramahiku agar tidak mengulangnya lagi.
Aku dengan begitu sombongnya berkata bahwa aku masih punya kesempatan dan juga dukungan dari orang tua Jansen.
Ayu menunduk setelah mendengar ucapanku.
Inilah saatnya, aku akan membunuh mentalnya dengan sesuatu yang sangat penting bagi hubungan yaitu restu.
"Kamu benar, Ayu tidak punya perusahaan seperti kamu dan orang tuanya juga tidak punya pabrik. Tapi... dia sudah di terima."
Bukan hanya aku yang kaget dengan apa yang barusan Jansen ucapkan, pun dengan Ayu.
Aku benar-benar kehilangan kesempatan sekarang.
Tak ingin mendengar lebih banyak lagi. Aku berdiri dan menyampirkan tas mahal ku di bahu.
"Selamat kalau begitu!"
Aku pergi meninggalkan Jansen. Cinta yang barusan tumbuh di hatiku kini layu dan mati bahkan sebelum ada yang menyambutnya.
Sekarang aku menyesal telah merubah pemikiranku selama ini.
Benar, seharusnya aku bertekad bahwa tidak akan ada suami dalam hidupku.
Jansen, kau badjingan kedua yang ada dalam hidupku.
__ADS_1
Aku membencimu dan bersumpah semoga kau tidak bahagia dengan pilihanmu itu.