
Jangan lupa tab lovenya dan tinggalkan komen kuy..
******
Sama seperti pengantin baru pada umumnya. Pasangan pengantin baru yang sedang makan itu juga sedang bercakap-cakap ria dan membicarakan kemana akan berbulan madu. Ada perdebatan kecil karena usul yang berbeda.
"Nggak usah! Aku nggak kuat lagi," tolak Ayu ketika di tawari akan berangkat ke Lombok atau Raja Ampat.
"Emang kamu nggak pengen Yang, kayak orang-orang yang pamer hanimun?"
"No!" tolaknya tegas. Tangannya sibuk memasukkan makanan ke mulutnya hingga nyaris tak berhenti mengunyah.
"Kenapa?" tanya Jansen yang juga sedang makan tapi tidak sesibuk istrinya.
"Gak mau pergi sama kamu, apalagi sekarang. No!"
"Kok gitu? Emang nggak pengen rasain gimana hanimun?"
"Nggak, apa bedanya sama disini. Disini aku udah remuk, apalagi disana ntar. Kamu pasti punya alasan 'Ini kita lagi hanimun, Yang'. Nggak mau lagi di bodohin sama kamu!" ucap Ayu sambil geleng kepala.
Jansen tertawa melihat wajah istrinya yang sangat kesal. Bibirnya meruncing saat mengucapkan alasan yang akan Jansen gunakan. 'Ini kita lagi hanimun, Yang'.
"Kapan coba aku bodohin kamu!" ucapnya pelan lalu meraih gelas dan meneguknya.
"Nggak sadar! Itu tadi siapa yang bilang sekali aja, sebentar aja. Tapi nyatanya apa? Hah? Aku hampir pingsan karena lapar tetap aja kamu nggak peduli." Ayu bicara cepat dalam satu tarikan napas dan juga dengan nada kesal.
"Hahahahah" tawa Jansen menggelegar mengundang orang sekitar untuk menatap ke arah mereka.
"Suara kamu!" Ayu mendesis dan bicara nyaris berbisik tapi penuh penekanan. Matanya hampir melompat keluar dan giginya merapat.
"Habisnya kamu gurih, aku nggak kenyang-kenyang biar udah makan kamu berkali-kali," jawab Jansen dengan entengnya.
Ayu hanya bisa mendengus karena tidak bisa melawan Jansen yang selalu saja punya jawaban dan bantahan.
"Aku mau ini lagi!" ucapnya seraya menunjuk piring yang udah kosong.
"Kamu belum kenyang?" tanya Jansen heran.Gimana nggak heran, makan Ayu udah kayak kuli.
"Aku lapar, dari tadi malam nggak makan. Dasar suami nggak tanggung jawab. Masih hari pertama istri cuma di kasih makan sekali."
"Jangan kesel gitu dong, ntar cantiknya hilang. Pokoknya kamu mau makan sebanyak apa, boleh. Aku bayarin."
__ADS_1
Jansen berucap dengan senyum.
"Nggak jadi deh, liat senyum kamu aku jadi kenyang," balas Ayu dengan senyum juga membuat Jansen salah tingkah.
"Nanti beli cemilan aja!" usul Ayu lagi dan menyudahi makannya.
*****
Jansen membulatkan matanya menatap horor pada keranjang di tangannya. Seumur-umur dia nggak pernah makan cemilan ini. Melihat Vania memakannya saja dia udah ngeri karena taburan bumbu penyedapnya yang tumpah ruah.
"Serius, Yang mau makan semua ini? Kamu sanggup habisin?"
"Kan ada kamu yang bantuin," jawab Ayu seraya masukin beberapa botol minuman soda dan juga air mineral ke dalam keranjang.
"Oh, jangan lupa, Beb. Isiin paket data aku dong, nanti mau nonton netflix, ada yang lagi seru."
"Kan ada wifi, Yang!"
"Nggak mau, lelet. Pasti banyak yang pake."
Keduanya berjalan ke arah kasir. Jansen merangkul bahu istrinya yang hari ini menggerai rambut se punggungnya.
Walau menggerutu gerah dan tak biasa gerai begitu, tapi harus, demi menutupi aib yang di tinggalkan Jansen tanpa pikir panjang.
"Kalau Mama nggak larang kita pulang, udah dari tadi aku pulang. Nggak mau deketan sama kamu. Atau kita ke rumah Ibu aja, yuk. Ibu pasti seneng kita nginap disana," saran Ayu yang di balas gelengan dari Jansen.
"Aku udah telepon Ibu, besok kesana habis itu ke rumah Mama. Malam ini kita disini, jadi jangan nolak kalau aku ajakin. Di rumah Ibu atau di rumah Mama, nggak bisa seleluasa disini." Jansen menaik turunkan alisnya menggoda Ayu.
"Pikiran kamu itu-itu terus, Beb. Heran!" Bibir mencebik dan bola mata berputar malas.
"Namanya juga pengantin baru, Yang. Maklumlah!" ucapnya seraya mendekat pada Ayu yang sedang menyusun cemilan yang baru di beli. Jansen berdiri di belakangnya dan mengelus-elus lengannya.
"Stop! Jangan mulai lagi deh. Aku masih capek!"Dia bilang stop tapi tidak mengenyahkan tangan Jansen.
Lampu hijau! pikir Jansen yang semakin menjadi-jadi. Bibirnya udah mendarat di kepala Ayu dan turun perlahan ke pundak yang masih tertutup rambut.
Segera dia menyingsihkkan rambut Ayu dan memulai serangan bertubi-tubi di leher dan pundak.
Yang di serang hanya berdecak kesal tapi memiringkan kepala. Sebuah respon yang membuat seulas senyum di bibir Jansen.
Dan terjadi lagi.
__ADS_1
Walau menggerutu badan pegel tapi nyatanya dia menikmati juga.
*****
"Huh... Adem! Hidupku kembali normal kalau udah di habitat asliku!" ucap Ayu sambil menghempaskan tubuhnya di atas kasur miliknya.
Udah sore dan mereka baru tiba di rumah orang tua Ayu. Rencananya akan menginap disini dan besok akan ke rumah orang tua Jansen.
Jansen yang melihat istrinya rebahan dan mendengar kalimatnya jadi penasaran, gimana nanti istrinya ini jika sudah pindah rumah. Apa dia bisa seceria ini?
"Yang, nanti kita tinggal di rumah Mama, loh!" ucapnya memberitahu.
"Udah tau. Udah lama bangat taunya!" jawabnya kesal.
Dari sebelum menikah pun, dia sudah tahu, kalau menikah dengan Jansen, akan tinggal bersama dengan mertua. Bahkan ipar yang sudah menikah juga.
Hal yang sebenarnya berat buat dia, tapi jika itu sudah menjadi peraturan keluarga itu, apa bisa dia melanggar?
"Beb, emang kita nggak boleh pisah rumah?" tanyanya tanpa mengubah posisi.
Matanya menatap langit-langit kamarnya yang di penuhi stiker bulan bintang.
Jansen yang masih berdiri dan mengamati setiap bingkai yang tergantung di kamar itu, menoleh sejenak pada istrinya yang berbaring terlentang dengan kaki menyentuh lantai. Melihat posisi itu sebenranya membuat pikirannya kemana-mana. Jansen menggelang untuk mengenyahkan iblis kenikmatan di pikirannya. Dia harus sadar dimana dia sekarang dan harus mengerti kondisi istrinya.
"Nanti kita coba ngomong ke Mama sama Papa. Aku juga pengen pisah rumah, bukan mau durhaka ninggalin orang tua, tapi mau belajar mandiri. Entar bantuin ngomong ke Mama, ya!" balas Jansen dan di balas cebikan oleh Ayu.
Walau mertuanya sudah sangat luwes menunjukkan kasih sayangnya ke dia, entah kenapa dia merasa harus berhati-hati kalau mau meminta sesuatu. Dia merasa masih ada jarak jauh antara dia dan mertuanya.
Dia masih merasa khawatir, jika dia meminta sesuatu, mertuanya akan berpikiran jelek terhadapnya.
Karena itulah, sejak lamaran Jansen kala itu, ibunya sibuk menjelainya dengan banyak wejangan. Gimana hidup bersama dengan mertua. Apa yang pantas dan tidak pantas bahkan hingga ke bangun tidur juga di ingatkan. Jangan sampai mertua bangun terlebih dahulu.
"Kamu tahu kan, aku masih segen bangat sama Mama. Masa aku yang minta ijin pisah rumah. Kalo di ancam pecat jadi menantu gimana? Aku nggak mau jadi janda!"
"Ck, pikiran kamu, Yang!" Jansen mendekat dan mengetuk pelan kepala Ayu.
"Jangan biasain berpikiran buruk, Yang! Ubah, ya!"
Ketukan berubah jadi elusan.
"Nggak baik itu, harus berpikiran optimis dan positif, apalagi udah jadi istri. Pasti banyak bangat yang akan kamu hadapi nanti. Beda waktu kamu masih gadis. Jangan pas masalah ada, kamu langsung ambil sisi negatifnya. Langsung berpikir yang buruk-buruknya. Biasain berpikir positif ya, Yang. Terus, sekarang kamu udah punya dua pasang orang tua. Aku paham, Ibu sama Mama pasti beda bangat lah. Kamu harus bisa menyesuaikan diri ya, Yang. Jangan sungkan tanya aku, Mama itu gimana sifatnya, maunya harus gimana. Jangan pendam hal-hal yang nggak kamu suka. Bilang ke aku, kita cari solusi sama-sama. Dan aku juga akan seperti itu ke kamu. Ngerti, kan?
__ADS_1
Ayu mengubah posisi dan melesat secepat kilat ke dalam pelukan Jansen. Memeluk pinggang Jansen yang sedang duduk itu. Kepalanya mengangguk memberi jawaban pada nasihat Jansen.