MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
65. JANSEN MENYERAH?


__ADS_3

~POV AYU~


*****


        "Mira?"


Aku mengangguk beberapa kali tetapi tetap menatap Jansen. Aku ingin menangkap kebohongan yang akan dia ucapkan padaku. Itu sebabnya aku tidak mengalihkan mataku darinya.


        "Aku nggak tahu, aku nggak ada ke kantor dan tidak ada laporan dari sekretarisku," ucapnya seraya mencoba mencondongkan badannya dan meraih ponsel di atas meja.


        "Bentar aku cek," gumamnya saat dia mulai mengotak-atik ponselnya.


Aku memiringkan badanku dan ikut melihat apa yang ingin dia lihat untuk mengecek. Ternyata itu adalah cctv yang ada di kantornya.


Kami jelas melihat ada sebuah mobil yang datang pas siang hari setelah waktu makan siang dan keluarlah seseorang dan masuk ke arah resepsionis.


Tidak lama kemudian dia keluar dan langsung pergi.


Apa tujuannya?


        "Siapa yang bilang sama kamu Mira ke kantor?" tanyanya padaku.


Akhirnya aku menceritakan apa yang di katakan Andrian. Mendengar Andrian di sebut-sebut, api kecemburuan sudah mulai muncul dan itu membuatku tersenyum simpul.


        "Andrian lagi, Andrian lagi, kayaknya aku mau pindahkan dia aja ke kantor papa, biar nggak ketemu kamu lagi," Jansen bicara dengan nasa kesal.


        "Emangnya kantor kamu sama papa kamu bergerak di bidang yang sama?"


Jansen melupakan satu hal saat dia benar-benar emosi.


Aku mendengarnya membuang napas kasar. Emang Andrian kenapa sih? Kan nggak pernah godain aku juga. Justru aku dulu yang godain dia. Kayaknya otak Jansen perlu di beklin deh, biar noda-noda Andrian hilang dari pikirannya.

__ADS_1


        "Kan nggak sengaja ketemu sama dia, dia kayaknya jemput ceweknya yang kerja di tempat kerjaku, Beb."


        "Ceweknya yang kemarin? Bukannya kamu bilang dia model nggak laku?"


        "Yang baru, yang kesekian. Heran sama itu orang, gampang bangat dapat pacar baru, tampangnya benar-benar dimanfaatkan dengan baik."


Tanpa sengaja aku memuji keahlian Andrian di depan Jansen. Kesalahan terbesar cewek adalah, memuji cowok lain di depan  batang hidung cowoknya.


        Sebelum auranya menggelap, aku langsung tertawa dan berkata, " Just kidding, Beb. Andrian emang ganteng, tapi kamu lebih ganteng dari dia. Kamu sama dia menang banyak di kamu lah." Ternyata satu pujian nggak mempa, masih ada tanduk-tanduk kemarahan.


        "Kalau gantengan dia, mending aku lanjutin godain dia ketika ketemu kemarin, nggak terima kamu jadi pacar." Semoga ini mempan. Secara tidak langsung aku udah bilang, kamu lebih ganteng makanya aku pilih kamu.


        "Dan benar, kan? Kamu godain dia kemarin itu, kirim surat sama dia waktu kamu magang. Aku belum amnesia, Beb. Cerita kamu masih ada di otak aku." Jansen belum terima.


        "Kan, aku godainnya nggak serius, saat itu juga aku bilang kalau aku benci sama dia. Kalau aku mau sama dia, nggak mungkin aku terima kamu, kan?"


Gila, susah benar sama ini orang, dia masih tahu Andrian aja, gimana dengan yang lain yang kadang godain aku?


        "Kamu jangan terbawa emosi terus setiap ada nama Andrian. Aku tahu kamu cemburu, tapi kalau kamu gitu terus, aku merasa kamu belum percaya sama aku. Padahal aku cewek setia, tapi kalo gini terus ..." Aku berucap sangat dramatis, namanya juga calon gagal artis. Hal beginian mah, kecil.


        "Bukan nggak percaya sama kamu, Beb." Udah mulai lunak dia, ternyata drama ku berhasil.


        "Aku nggak percaya sama Andrian itu. Terakhir kali pas kita makan sama, dia natap kamu terus. Aku laki-laki, jadi aku tahu apa maksud tatapan dia sama kamu."


        "Jadi, menurut kamu dia suka sama aku sekarang?" Aku malah bertanya antusias dan di jawab decakan.


        "Bagus!, akhirnya dia kena karma. Biar dia tahu gimana rasanya suka sama orang tapi yang kita suka nggak suka. Mudah-mudahan beneran dia suka sama aku sekarang." Aku berucap dengan penuh dendam.


Aku benar-benar ingin melihat dia mati kutu karena cinta tidak berbalas.


        "Belum move on?" tanya Jansen seperti kecewa padaku

__ADS_1


        "Siapa? Aku?"


 Aku menunjuk diriku sendiri dengan menatap pada Jansen. Mataku membola kala melihat dia mengangguk.


        "Aku? Belum move on? Come On, Beb." Aku nggak habis pikir dengan tuduhannya.


Jika aku belum move on nggak mungkin aku biarkan Andrian lolos dari genggamanku saat magang, kan?


        "Ck..ck..ck.., Aku benar-benar kecewa sama kamu. Berarti kamu belum kenal aku gimana." Kali ini aku benar-benar kecewa bukan dramatis untuk menarik perhatian Jansen.


        "Sorry, bukan nggak kenal kamu, bukan nggak percaya, cuma aku merasa terancam aja, karena kalian punya benang hubungan di masa lalu. Kamu pernah suka dia dan sekarang dia  kayaknya suka kamu. AKu takut aja, kalau rasa kamu kembali dan membalas dia yang sekarang. Aku ..." Jansen berhenti sejenak dan menunduk. Menumpukan beban tubuhnya pada tangan yang bertumpu di paha.


        "Aku... Aku krisis percaya diri sekarang, apalagi aku belum berhasil membuat kamu di terima oleh orang tuaku. Aku takut kamu bosan menunggu hal yang tidak pasti ini."


Benar, aku bisa melihat dia kurang percaya diri karena restu untukku belum kunjung turun. Tapi, aku tidak pernah berpikir untuk berpaling loh. Aku udah bulatkan tekat untuk berjalan terus sama dia selama dia mau mengajakku. Aku tidak pernah berencana untuk mundur walau ada celah dan jalan untuk mundur.


        "Apa selama tiga bulan ini aku pernah menuntut?" Aku bertanya dengan pelan dan datar.


Jansen menggeleng kemudian dia melihatku, "Aku takut kamu bosan, selain kamu, aku juga takut Bapak dan Ibu bosan menunggu."


Aku bertanya-tanya, apa maksudnya ini? Apa ini kode dia ingin menyerah?


        "Apa orang tua ku pernah ikut campur dengan ini? Apa pernah mereka menyinggungnya? Atau kamu yang ingin menyerah?"


Aku menatapnya tajam, jika ingin menyerah, sekarang saja, jangan dilama-lamakan, Jangan berputar-putar kesana kemari. Mumpung aku masih muda, masih banyak kesempatan untuk mencari pria lain.


        "Apa ini ada hubungannya dengan Mira yang mengaku tunangan kamu di kantor kamu?"


Otakku yang cerdas sudah mulai bekerja sekarang. Untuk apa tiba-tiba Jansen keluar kota?


Dan Mira datang ke kantornya ketika dia tidak ada. Apa ini sebuah konspirasi?

__ADS_1


__ADS_2