MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
137. A VERY HAPPY ENDING part 2


__ADS_3

~JANSEN POV~


Apa yang lebih membahagiakan selain kamu menikah dengan orang yang kamu cintai setelah banyak perjuangan?


Jujur aku kaget saat itu. Saat aku sedang makan di luar dengan kekasihku Yuyu. Orang tuanya menelepon kami tetapi suaranya tersendat-sendat.


Aku melihat kekhawatiran di wajah ayu kekasihku.


"Ayo pulang saja, kita lihat apa yang terjadi."


Dia mengangguk setelah aku mengajaknya pulang.


Sesampainya di rumah, bukan hanya Yuyu yang kaget. Aku juga sangat kaget saat melihat mobil papaku dan juga mobil ka Jo terparkir di depan rumah Yuyu.


"Apa yang mereka lakukan disini"?


"Siapa, Beb?"


"Itu mobil papa dan ka Jo!" ucapku memberitahunya.


Tanpa memberi respon apa-apa, Yuyu langsung turun dari mobil dan berlari ke pintu rumah yang memang terbuka.


Yang ku khawatirkan adalah, bagaimana jika orang tuaku datang untuk melabrak keluarga Yuyu karena merestui Yuyu bersamaku.


Apalagi, di rumah aku sedang cek cok dengan orang tuaku dan mengatakan tidak apa-apa di coret dari kartu keluarga asal aku bisa menikahi kekasihku.


"Apa?"


Teriak Yuyu dan aku mempercepat langkahku. Aku penasaran apa yang sedang terjadi.


"...Kami melamar Ayu untuk anak kami Jansen. Apakah lamaran kami di terima?"


Itu adalah penggalan kalimat yang ku dengar dari papaku. Aku mengedarkan pandanganku. Apa-apaan ini? Keluarga lengkap ku ada disini?


"Papa!" teriakku dan mereka semua menatap kami berdua yang mematung di ambang pintu.


Akhirnya malam itu, resmi sudah aku dan kekasihku Yuyu bertunangan.


"Gimana hadiah dari keluarga buat loe? Puas?" Adikku Josh meledekku setelah kami tiba di rumah.


"Sangat!" jawabku dengan senyum cerah.


"Terimakasih Ma, Pa, karena sudah melamar Yuyu. Maaf udah banyak salah sama kalian."


Aku berujar dengan pelan dan terharu atas hadiah yang di berikan orang tuaku malam ini.


"Hmm, selamat karena udah buat mama jantungan hari ini. Karena itu mama mau balas kamu malam ini."


"Dan mama udah berhasil. Makasih Ma."


*****


Tiga bulan berselang, aku menikah dengan Yuyu setelah banyak tekanan yang kami terima terutama Yuyu. Keinginannya untuk menikah di umur dua lima membuatnya merasa tidak siap menikah di umur dua tiga.


"Aku udah usaha, tapi aku takut. Aku takut belum siap jadi istri nanti jika aku paksakan. Mentalku down memikirkan pernikahan sekarang ini." Itu jawabannya padahal sebelumnya dia bilang dengan pasti, "I'm ready!"

__ADS_1


Dengan sedikit terpaksa, dia mengiyakan untuk menikah dan keinginannya hanya mengadakan pesta kecil-kecilan aja harus pupus karena di tentang orng tuaku.


"Yuyu suka ini, Ma," ucapnya sumringah waktu fitting baju. Seleranya sama sama mamaku tapi keduanya harus menelan pil pahit karena gaun cantik berwarna putih tulang itu harus tersingkir karen mertuaku ingin kami memakai pakaian adat saja.


Dari pemberkatan pernikahan hingga ke acara resepsi semuanya pakaian adat.


"Kakiku sakit, masih lama kah?" tanya Yuyu saat jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, tapi tamu masih banyak dan bahkan ada yang baru datang.


"Sabar sebentar lagi, nanti aku bantu pijit kakinya," jawabku kalem tapi dalam hatiku aku menambahkan, "Plus seluruh badan tanpa terkecuali."


Jam sepuluh malam, kami sudah berada di kamar hotel dan Yuyu sedang di bantu oleh tata riasnya untuk melepas seluruh embel-embel kepalanya.


"Kamu mandi sana, Beb! Gak gerah kamu?"


Usirnya padaku yang duduk di sofa. Apa dia tidak mengerti? Aku disini menunggunya agar mandi bersama. Setidaknya itu tandanya kami memulai status suami istri.


"Bentar lagi. Masih gerah, ngadem bentar!" jawabku datar dan berharap di jawab dengan,


"Ya udah, tungguin aku bentar, kita bareng aja!"


Tapi mana mungkin Yuyu menjawab seperti itu. Untuk ritual malam pertama kami aja aku rasa akan banyak drama.


Tak tahan karena udah dapat usiran halus untuk yang ketiga kalinya, akhirnya aku berdiri dan akhirnya mandi.


"Kira-kira di mulai dari mana, ya?" tanyaku pada diri sendiri saat aku berdiri di depan cermin di kamar mandi. Aku menghabiskan waktu lebih lama dari biasa karena aku sedang memikirkan strategi memulai malam ini.


"Beb, udah belum? Kok lama?"


Teriakan istriku dengan beberapa ketukan di pintu kamar mandi.


Dia menyingkirkan aku dari pintu kamar mandi yang masih terpaku melihatnya hanya dengan handuk kimono yang membuatku berpikir kemana-mana.


"Ada apa di balik kimono itu?" Itu yang bersarang di otakku sekarang.


"Hufff, sebenarnya mandi malam itu aku ogah banget, takut rematik nanti." Ayu tiba-tiba sudah keluar dari kamar mandi. Secepat itu dia mandi?


Rambutnya di gelung dengan handuk dan dia tetap mengenakan kimono.


Dengan santainya dia berjalan melewati aku dengan tampilan yang aduhai menurutku di malam pertama kami.


"Koper Yuyu mana?" tanya Yuyu.


"Buat apa cari koper?" jawabku refleks.


"Kok nanya? Ya mau ambil baju lah. Maksudmu aku tidur nggak pake baju?"


"Kan gak papa!"


"No! Jangan harap! Aku capek. Aku mau istirahat. Siapa suruh punya undangan sebanyak itu. Bayar hutangmu. Pijitin kaki aku!" Jari telunjuknya mengarah padaku dan matanya melotot hampir melompat dari sarangnya.


"Iya, aku bercanda. Aku juga capek, Yang!" Aku akhirnya mengalah. Tak ingin ad pemaksaan bisa-bisa aku di laporkan dengan kasus perkaos istri di hari pertama jadi suami.


Dengan teganya istriku itu berbaring dan memunggungi aku.


Dua jam setelahnya,

__ADS_1


"Kamu lagi ngapain?" tanya Yuyu dengan mata enggan terbuka.


"Aku nggak tahan, Yang. Boleh, Ya?"


Walau ini pertama kali bagiku, tapi aku rasa aku sangat pro dalam merayu dan akhirnya dia luluh.


*****


Aku memegang dua map di tanganku dan menyimpannya di laci nakas dekat kasur. Hari ini Yuyu pergi metime dengan mama jadi aku pulang sendiri.


Mereka pulang sedikit malam, sudah jam sembilan malam. Mau protes tapi istriku pergi dengan mamaku.


"Belum tidur, Beb? Sorry ya aku lama pulangnya. Keasikan ngobrol sama mama."


Aku senang karena dia semakin cocok dengan mamaku tapi kalau untuk ngobrol nggak perlu sampai ke cafe kan? Di rumah juga bisa.


"Hmm, cepat mandi, ntar makin larut."


Dia mengangguk seraya berjalan ke walk in closet dengan beberapa paper bag merek butik langganan mama.


"Pantas aja lama. Langi shopping-shopping ternyata," gumamku.


Saat dia mandi, aku mengambil kembali dua map tadi yang ku simpan. Aku sudah memikirkan ini. Aku akan meminta untuk pisah rumah dari orang tua.


ceklek


Ayu masuk dengan tampilan segar. Jujur saja, akhir-akhir ini dia semakin seksi aja di mataku. Aku bahkan tidak bisa menahan diri.


"Kamu udah makan, kan?" Sambil menggosok rambut dai bertanya.


"Hmm," jawabku singkat dan mendekat padanya di meja rias lalu tanpa aba-aba aku mencium bibirnya hingga dia nyaris kehabisan napas.


"Jahat! Kalau aku mati gimana?"


Pukulan keras di lenganku menyertai amukannya.


"Maaf, abisnya kamu makin menggairahkan, Yang. Sayang sekali di lewatkan, hehehe."


"Otakmu mesum terus perasaan. Dari awal nikah sampe sekarang."


Aku hanya mengangguk saja membenarkan apa yang dia bilang.


Aku mulai bertanya kemana saja mereka tadi. Seperti wanita lainnya, dua wanita tersayangku itu ternyata menikmati uang papa ku tanpa pikir. Banyak belanjaan mereka dari butik langganan mamaku.


Saat tengah malam, saat aku ingin mengarungi nirwana duniawi dengan istriku, dia berteriak,


"Pelan-pelan, bayinya!"


"Apa?"


"Bayi!"ucapnya pelan.


Aku segera berhenti dan langsung mempertanyakan ucapannya.


"Apa maksudmu, Yang?"

__ADS_1


"Aku hamil dua bulan. Tadi periksa sama mama."


__ADS_2