
~AUTHOR POV~
******
Dua keluarga itu sedang sibuk. Kadang ibu mereka seperti berdebat. Harus ini harus itu, sementara satu pihak tidak setuju.
Calon pengantinnya santai saja, hanya menunggu semua beres.
Sore itu di butik.
"Kamu harus punya banyak koleksi loh, Yu. Papa mertua kamu sama suami kamu kan pengusaha. Jadi banyak acara-acara yang harus di hadiri. Kamu jangan malu-maluin mama pake jeans sobek-sobek kaya ini." Tangan nyonya Helena mendarat di paha gadis itu tepat di bagian yang sobek dari pabriknya.
"Iya, Ma. Tapi belik banyak sekarang ntar jadi ketinggalan jaman. Fashion kan berkembang terus. Pasti bentaran lagi ada model terbaru." Menolak secara halus.
"Ya kalau ada tinggal beli. Ini butik langganan Mama, mereka selalu update kalau ada keluaran terbaru." Niat menolak malah makin di sodorin.
Saat mereka memilih-milih, pintu terbuka dan muncul seorang gadis tinggi yang berjalan dengan anggun ke dalam butik.
"Siang, Mbak Mira. Mau cari model seperti apa? Saya bantu yuk ka!" sapaan ramah pegawai toko itu membuat Ayu mengalihkan pandangan ke arah mereka. Apalagi dia mendengar nama Mira. Apa Mira yang itu?
Deg
Ternyata Mira yang dia pikirkan. Dia menatap tak ramah pada Ayu. Ayu menoleh ke arah mertuanya tadi, tidak ada, kemana? pikirnya.
Mira berjalan mendekat dan dengan tidak terduga dia melayangkan tamparan pada Ayu.
"APA--"
"MIRAAA!"
"PENCURI!"
Ayu, Mira dan nyonya Helena berteriak bersamaan.
Nyonya Helena sangat kaget begitu dia keluar dari fitting room sia melihat Mira melayangkan tangan di pipi menantunya, Ayu.
"Apa-apaan kamu, Mir?"
Semua orang yang ada di butik itu melihat mereka. Ayu yang baru saja di tampar tidak tau harus berbuat apa. Mau balas, tapi tidak tega.
"Dia pencuri, Tante!" ucapnya datar. Semua mata tertuju pada Ayu. Memindainya, apakah benar dia pencuri atau tidak.
Melihat dari tampilannya yang mengenakan jins sobek-sobek tapi terlihat anggun dengan atasan pas di badannya, sungguh tidak mungkin jika dia seorang pencuri.
"Apa maksudmu? Pencuri apa?" Suara nyonya Helena naik setengah oktaf.
"Yuyu, kamu curi apa?" Nadanya sama tinggi saat bertanya pada menantunya.
"Yuyu nggak tau, Ma. Yuyu cuma pegang ini," ucapnya polos sambil mengangkat beberapa pakaian di tangannya.
Mendengar nama 'Yuyu' dan panggilan 'Ma' dari kedua orang itu, membuat Mira semakin benci.
__ADS_1
'Belum sah saja sudah panggil begitu, aku selama setahun jadi calon tunangan tidak pernah di berikan nama panggilan,' batinnya.
Mira tiba-tiba berjongkok lalu menangis.
"Kau mencuri Jansen dariku!" ucapnya sambil terisak.
Nyonya Helena yang mendengar itu menghela napas pelan dengan perasaan bersalah.
Dia berjongkok lalu memeluk Mira. Menepuk punggungnya seraya berkata, "Tidak ada yang mencurinya, mereka hanya sama-sama jatuh cinta. Maafkan Tante ya, udah ikut sakitin kamu. Tante harap kamu bertemu dengan yang lebih dari Jansen."
Orang sekitar yang mendengarnya paham sekarang. Mereka berlalu dan tidak ambil pusing dengan permasalah orang yang sedang patah hati.
Mira masih menangis, dan nyonya Helena masih memeluknya.
"Ayo tante antar pulang!" ucapnya pelan seraya membantu Mira berdiri.
"Terimakasih, tan. Tapi Mira sendiri aja! Maaf udah repotin Tante." Lalu berlalu begitu saja tanpa sapaan lain.
"Huh... salah Mama terlalu ikut campur dulu!" ucapnya pada Ayu.
"Udah pilih-pilihnya? Coba aja dulu!" titahnya.
"Gak usah di coba ya, Ma. Kita pulang aja. Nggak enak jadinya, orang-orang pada lihat tadi."
"Ya sudah, kita pulang. Mama juga udah nggak mood lagi. Mau yang mana jadinya?"
"Yang dua ini aja, lain kali lagi kalau ada model terbaru baru kesini."
Hening,
Dalam pikiran keduanya masih seputaran kejadian yang baru saja mereka alami.
Helena sungguh tidak menyangka jika Mira akan nekat menampar Ayu.
"Coba Mama lihat sini pipi kamu," ucapnya seraya memutar tubuhnya agar menghadap Ayu, demikian juga Ayu.
"Merah. Nanti di rumah kompres dengan air es, minta sama bibi nanti!"
"Iya, Ma."
"Mama minta maaf ya, Yu. Semua ini karena Mama dulu yang kasih harapan pada Mira. Jadinya dia marah dan kelepasan gitu."
"Iya, Ma. Yuyu paham."
Penyesalan kini bertahta di hati dan pikiran
Helena. Jika saja dulu dia bertanya terlebih dahulu pada anaknya. Bersedia atau tidak di jodohkan. Tapi karena keegoisannya, kini ada satu orang yang terluka.
*****
"Yu, lo benar-benar beruntung."
__ADS_1
"Beruntung kenapa?" jawab gadis itu tanpa menoleh pada Pian yang duduk di sampingnya. Tangannya memegang ponsel dan jari-jarinya menari dengan lancar di layar ponsel itu.
"Beruntung karena calon mertuamu kaya. Lo yang mau jadi manten tapi lo nggak ada ngerjain apa-apa. Semua mertua lo yang ngerjain."
Kekayaan yang di miliki oleh orang tua Jansen memang kadang bisa menjadi sumber iri hati.
"Ibu ada bantuin juga. Bukan cuma Mama."
Jawabnya cuek masih dengan posisi seperti semula.
"Cie.... Mama... "
Pian meledek panggilan yang Ayu sebutkan barusan.
"Apaan, sih. Itu aja heboh. Norak!"
"Ada yang udah panggil 'Mama' ni yeee. Menantu kesayangan kayaknya ini bentar lagi," ledeknya makin menjadi-jadi.
"Ck... Norak ih kamu, Pian."
"Seriusan lo udah panggil 'mama'?" tanya Pian memastikan.
Sungguh hal yang di luar prediksi. Baru beberapa bulan lalu sohibnya itu di tolak mentah-mentah, tapi sekarang udah berubah jadi mantu kesayangan.
"Iya, di pukul sama mamanya Jansen kalau aku panggil tante lagi. Harus panggil mama."
"Lidah lo aman?" Pian tersenyum mengejek.
"Awalnya hampir stroke, tapi sekarang udah terbiasa. Sama kayak kamu yang ngomong lo gue. Aku rasa kalo kamu kembali ke habitatmu, lidah mu udah pasti keseleo," balas Ayu dengan nada jengkel.
"Gua pokoknya salut sama lo, Yu. Ternyata pilihan lo untuk berjuang sama Jansen pilihan yang tepat. Lo udah dapat hasilnya sekarang. Lo di terima dengan baik dan bahkan di sayang sama mereka. Sini gua mau peluk lo dulu." Jansen merentangkan tangannya dan di balas oleh Ayu.
Kedua sahabat itu berpelukan erat.
"Gue doakan yang terbaik buat lo. Buah yang lo petik sekarang mungkin semua buah yang manis, tapi nanti suatu saat pasti ada buah yang sepet bahkan asam ataupun pahit. Saat hari itu tiba, gua sebagai sahabat lo siap membantu lo walau hanya menjadi pendengar setia."
Pian dan dewa kebijaksanaan yang tiba-tiba merasukinya memeluk Ayu dan menepuk-nepuk punggungnya.
"Sampai kapanpun, lo akan tetap menjadi Yuyu sahabat gue, kakak gue, adik gue. Gue juga akan tetap jadi adik lo, abang lo dan juga sahabat lo. Semuanya tidak akan berubah walau lo sudah menjadi menantu dan istri nanti," lanjut Pian.
"Thanks Pian, temanku, sahabatku, adikku, abangku. Aku juga mendoakan yang terbaik buat kamu, semoga apa yang sedang kamu perjuangkan membuahkan hasil seperti yang kamu harapkan," balas Ayu.
"Aku akan ingat yang barusan kamu bilang, bahwa tidak ada yang berubah di antar kita walaupun aku akan menjadi istri orang dan kamu akan menjadi suami seseorang nanti," lanjut Ayu.
Orang tua Ayu yang melihat itu tersenyum.
Persahabatan anaknya itu dengan tetangganya itu sungguh luar biasa.
Tidak ada perasaan lain selain sahabat, adik ataupun kakak.
"Semoga mereka berdua bahagia ke depannya. Dan berharap mereka tetap menjadi abang dan adik selamanya," ucap Rohaya dan di aminkan oleh pak Berton.
__ADS_1