MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
Tinggal Bersama


__ADS_3

"Aku merindukanmu, dari jauh ... sangat jauh, aku berdoa untuk kesembuhanmu. Apa aku salah, bila berharap bisa kembali bertemu?" suara hati Sartika Sarasvati. Wanita yang beranjak matang itu masih terisak. Kakinya terasa lemas, tidak mampu sekedar untuk berdiri sesaat. Tika masih berjongkok memegang serpihan ponselnya yang carut-marut.


"Aku kira kau tambah cantik, bagaimana di Hongkong sana? Astaga! Jauh sekali Tika! Aku ingin menyusulmu, tapi dengan kursi roda pasti akan merepotkanmu. Aku bukan bayi, aku butuh waktu ... waktu yang cukup lama hingga mampu berdiri lagi di depanmu." batin Dewa. Tangan pria itu masih menyentuh rambut Tika. Bibirnya tersenyum tipis saat melihat warna rambut gadis pujaan hatinya tersebut.


"Rambutmu jelek sekali!" cibir Dewa. Itu adalah kata pertama setelah mereka berjumpa. Ya, sebua cibiran tapi malah membuat Tika tersenyum dalam tangis.


Masih menundukkan wajah, Tika mengusap pipinya. Pertemuan macam apa ini, ia bahkan belum sanggup menatap wajah pria tampan itu. Si Tuan muda yang selalu memarahi dirinya. Tapi, sangat ia rindukan ketika harus berada jauh di negeri orang.


"Ini mahal! Ini salon khusus!" jawab Tika sambil menyusut hidung. Perlahan ia bangun. Namun, masih belum berani menatap pria di depannya.


"Astaga! Kau ditipu. Bahkan ekor guk guk lebih bagus dari pada rambutmu."


Dewa mencoba mencairkan suasana, ia ingin membuat suasana jadi hangat. Karena melihat Tika dari jauh, hatinya seolah membeku seketika. Jantungnya seakan berhenti. Ya, dia tadi sengaja menabrakkan diri ke Tika. Dewa sengaja, dasar Tika. Asik dengan ponsel, membuat benda itu ambyar. Tapi tidak dengan hatinya.


Hati Tika sudah tidak karuan rasanya. Apalagi saat ia menatap deretan alis tebal, hidung mancung, bibir tipis dan rahang tegas, serta sorot mata yang lembut mengarah pada dirinya. Ya Tuhan, Tika rasanya mau pingsan.


"Mengapa diam saja? Kau tak senang? Lihat! Aku tidak butuh kursi roda lagi."


Dewa mencoba sombong di depan wanita tersebut. Tapi bukannya kata selamat atas kesembuhannya. Ia malah membuat tangis Tika semakin pecah.


"Astaga! Kita jadi pusat perhatian, Tik! Pelankan suara tangismu. Mereka menatapku dengan tatapan tidak suka!" bisik Dewa.


Hiiiii hiiii hiiiii


Tika mengubah nada suara tangisnya. Melihat itu, Dewa menjadi gemas. Tanpa menunggu lama-lama, ia langsung menarik tubuh Tika dalam pelukannya.


"Aku merindukanmu, sangat ... sangat rindu."


Seperti ada kembang api yang meletus dalam hati Tika, ucapan rindu dari mantan Tuan mudanya itu, mengubah dunia Tika. Penantian panjang, kesedihan, kesepian kini hilang musna tak bersisa.


"I miss you too."

__ADS_1


Dewa terkekeh, "Astaga Tika! Kamu sekarang jago bahasa Inggris?" canda Dewa.


Tika yang semula menangis kini malah tersenyum, seperti lopes mambu. Mari nangis, guya guyu! Ish.


"Sepertinya kita butuh tempat sepi." Dewa berbisik dan melepaskan pelukannya.


Tika jelas langsung menelan ludah, tempat sepi? Untuk apa? Eh, otak Tika yang beberapa tahun terakhir lurus, kini mulai bengkok lagi. Dewa benar-benar memberikan pengaruh yang sangat buruk.


"Ayo!" seru Dewa sambil menyeret koper milik Tika. Sedangkan tangan satunya, mengengam tangan wanita tersebut.


JEBRET JEBRET JEBRET


Dari jauh, Kris mengambil potret keduanya. Pas ketika mereka berjalan sambil bergandengan tangan.


***


Kediaman Dewa. Terlihat mamanya Dewa dan tantenya sedang bersitegang.


"Jangan terlalu kolot! Dewa sudah tidak muda lagi, Mbak mau Dewa jadi perjaka lapuk ... perjaka tua, sampai tua tidak mau menikah?"


"Mira!" sentak mamanya Dewa yang tidak suka dengan perkataan adiknya.


"Sudahlah Mbak, biarkan saja."


"Apa katamu? Biarkan saja? Dia itu pembantu!"


Nyonya Mira menghela napas dalam-dalam, sepanjang ia mengenal Tika. Ia merasa tidak ada yang salah dengan gadis itu. Tika hanya terlahir tak kaya, hanya itu saja. Tapi, sepertinya itu adalah masalah yang besar bagi saudarinya tersebut.


Kasta selalu jadi hal yang diributkan, ia jadi ingat bagaimana nasib cintanya. Sampai sekarang sendiri, trauma pernah jatuh cinta dengan orang biasa. Keluarganya menentang, sampai sekarang ia memilih hidup sendiri. Trauma yang meninggalkan rasa sesak, akibat beda nasib.


***

__ADS_1


Di dalam sebuah cafe, masih di area Bandara. Terlihat Tika sedang menyesap jus alpukat sambil menatap wajah tampan di depannya. Memanjakan mata. Tika rasa pria itu makin sip.


"Jangan tatap aku seperti itu!" sindir Dewa.


Pipi Tika merona, karena ketahuan. Tika juga sesekali melihat kaki Dewa. Pria itu benar-benar bisa berdiri. Sejak kapan Dewa bisa berjalan? Mau bertanya tapi ia malah diam saja.


"Em ... maaf Tuan, Tika mau tanya."


"Katakan!"


"Sejak kapan Tuan sudah bisa berjalan lagi?"


"Belum lama ini, mengapa?"


"Tidak ... tidak apa-apa."


Suasana kembali sepi, dua orang itu sampai bingung mau membahas apa.


"Rencana mau tinggal di mana?" suara Dewa memecah sepi.


"Oh ... belum Tika pikirin. Mungkin balik kampung." Tika juga tidak memiliki rencana ke depannya. Ia hanya ingin pulang, entah pulang ke mana saja boleh. Asal pulang ke negaranya sendiri.


"Hemm ...!" Dewa manggut-manggut. Pria itu sedang memikirkan sesuatu untuk dikatakan, tapi bingung cara mengutarakannya.


"Tika ..."


"Iya."


"Mau tidak tinggal bersamaku!" ucap Dewa dengan suara lirih.


Byurrr

__ADS_1


Tika menyemburkan jus alpukat dalam mulutnya. Ia tersedak karena ucapan Dewa. Bersambung.


__ADS_2