MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
63. ANDRIAN


__ADS_3

~POV ANDRIAN~


    Entah kenapa akhir-akhir ini aku mulai memikirkan Ayu. Orang yang dulu sangat agresif padaku semasa sekolah.


Jujur saja aku tidak menyukainya dulu apalagi keagresifannya yang melampau batas. Aku mengira dia remaja tidak tahu mau karena terus mengejar-ngejar ku dengan surat cinta. Bahkan dia dengan beraninya menggombali aku di depan teman-temanku yang membuatku menjadi bahan bullian karena mengira seleraku sudah berubah.


    Aku tahu aku ganteng, primadona di sekolah ini. Aku memanfaatkan dengan baik dengan memacari beberapa siswi yang cantik-cantik, tapi tidak dengan Ayu. Seleraku benar-benar mati rasa padanya. Namanya aja yang Ayu, parasnya dan pembawaannya sungguh bertolak belakang.


    Ada beberapa surat yang datang, tapi tidak sekalipun aku membukanya, aku meletakkannya asal di meja belajar di kamarku.


Walau untuk surat yang terakhir dia bilang, "harus di baca yah, Bang." Aku tidak pernah tertarik.


Sore itu pacarku Nuri datang ke rumah. Karena rumah sepi aku membawanya ke kamarku supaya aku lebih leluasa menguasai tubuhnya. Saat kami sudah selesai bermesraan, Nuri duduk di tepi kasurku sambil merapikan rambutnya yang berantakan. Kancing baju teratasnya masih terbuka dan aku bisa melihat ada beberapa bekas gigiku disana. Huhh...sebejat itulah aku.


    "Surat apa ini?" tanyanya berjalan ke arah mejaku.


    "Nggak tahu, ada siswa yang kasih. Nggak pernah ku buka," jawabku dan mempertahankan posisiku bersandar di kepala ranjang dengan  keadaan toples.


Aku masih berkeringat dan dadaku memerah beberapa bagian akibat ulah Nuri.


Gaes, bermesraan ala kami bukan seperti yang kalian bayangkan yah, aku tahu ini di luar batas, tapi kalau sampe menembus batas terakhir aku belum pernah, aku masih sampe di bagian atas tubuhnya dan dia juga begitu.

__ADS_1


    "Surat cinta yang alay, Ayu yang mana sih?" tanyanya setelah membaca ketiga surat itu.


    "Anak baru, gendut dan jelek." Aku mendeskripsikan Ayu sesuai penilaianku. Aku mendengar Nuri berdecak dan memaki Ayu.


    Aku membiarkan saja surat itu bawa oleh Nuri dan mengira dia akan membuangnya, tetapi ternyata salah.


Beberapa hari setelah itu, aku melihat kerumunan di dekat mading. Aku mendekat dan melihat Ayu yang sedang di permalukan oleh Nuri. Surat yang dari kamarku di pajang di mading dan menjadi santapan para siswa.


Aku melihat Ayu yang sangat malu dan aku bermaksud membubarkan kerumunan orang ini. Walaupun aku tidak menyukainya, tetapi bukan berarti aku mau mempermalukannya. Tetapi aksiku di dahulu oleh seseorang yang sering aku lihat bersama Ayu. Dia menyelamatkan Ayu dari kerumunan dan mengambil kembali surat yang di pajang itu. Aku ingat kata-katanya waktu itu, dia memberitahukan Ayu bahwa aku bukan orang yang pantas untuk di jatuhi cinta, karena aku seorang playboy.


    Sejak saat itu hingga aku lulus dan keluar dari sekolah, Ayu tidak pernah menyapaku lagi bahkan ketika kami bertemu. Aku juga tahu bahwa sejak saat itu, dia menjadi bahan omongan seluruh siswa dan menjadi bulan-bulanan Nuri.


    Lima tahun berselang , kami bertemu lagi. Kali ini dia magang di tempat ku bekerja. Aku pura-pura tidak mengenalinya dan dia juga mengikuti alurku. Sifatnya masih sama, masih pecicilan, tapi banyak dari rekanku yang menyukainya karena dia seria dan selalu bisa menghidupkan suasana. Entah angin apa, setelah beberapa minggu dan sudah menjelang akhir masa magangnya, dia memberiku surat lagi. Dia mengancamku harus membacanya jika tidak tanganku akan melepuh. Dengan bodohnya aku membacanya dan melihat surat cinta alay dengan gambar hari yang sangat besar. Disana juga aku melihat bahwa namaku berubah menjadi "AAN".


    Hubunganku dengan Nuri masih tetap berjalan walau aku selingi dengan beberapa gadis lain. Aku masih bertahan dengan Nuri karena aku ingin membalas sesuatu yang sangat mahal yang ku ambil darinya. Yah, karena hubungan kami yang terlalu bebas, akhirnya aku berhasil membobolnya ketika aku sudah kuliah dan dia masih SMA. Sejak saat itu, kami sering melakukannya. Kami bahkan pernah melakukannya di kamarnya walau ada orang tuanya di rumah. Dia bahkan rutin meminum obat pencengah karena kadang aku lupa pake pengaman.


    "Yang, kalau aku hamil gimana?" tanyanya waktu itu ketika aku masuk tanpa pengaman. Aku yang masih asik bergerak dengan sensasi baru tanpa pengaman menenangkannya dengan berkata akan keluar di luar. Untuk beberapa kali kami melakukannya seperti itu. Tapi, pada akhirnya dia memberiku solusi dengan pil agar bisa lebih leluasa dan lebih puas. Dan benar saja.


    Kebiasaanku dengan Nuri akhirnya aku coba dengan beberapa gadis lainnya. Thanks God untuk ketampanan yang kupunya, dengan begitu aku dengan mudah menggaet gadis-gadis yang lemah iman akan ketampanan.


    Nuri pernah mempertanyakan aku mengenai, kenapa kami jadi semakin jarang melakukannya. Aku jawab karena seharusnya begitu. Dia mempercayaiku tetapi aku tidak percaya dia. Aku tahu dia juga bermain-main dengan yang lain. Bahkan waktu masih sekolah dulu, dalam satu hari bisa ada lebih dari satu bibir yang mendarat di bibirnya.

__ADS_1


Selain itu, aku jarang dengannya belakangan ini karena aku sudah ada yang baru.


    Seusai Ayu magang, aku lost kontak dengannya, walau ada nomor ponselnya padaku tapi aku ragu menghubunginya karena dia katakan dia membenciku. Sepertinya lebih baik begitu, karena entah kenapa daya tarik Ayu seperti sudah menarikku perlahan.


*****


    Aku melihat Ayu berdecak beberapa kali melihat gadis yang menempel di punggungku.


Saat lampur berubah hijau dia meneriakkan nama Nuri dan mengatakan dirinya adalah saingan Nuri. Gantari gadis yang baru kukencani meradang dan mempertanyakan maksudnya. Akhirnya demi menyenangkan Gantari aku minta tolong Ayu menjelaskan siapa dia dan Nuri. Wow, diluar dugaan dia malah lebih dari yang ku mau. Penjelasannya benar-benar membungkam Gantari.


    Walau aku tahu dia tidak punya rasa padaku, tapi mungkin dia bisa ku pengaruhi. Aku mulai berniat mendekatinya dan mendatangi rumahnya yang kebetulan tidak terlalu jauh dari rumah tempat tinggal orang tuaku.


Aku diterima dengan ramah dan diusir dengan ramah karena temannya yang bernama Pian itu.


Apa benar mereka pacaran? teman jadi pacar?


Semua tuduhanku terbantahkan kala aku melihat Jansen bosku mencium tangan Ayu di sebuah restoran.


Aku mendekat ke arah mereka dan memastikan bahwa benar itu Ayu dan Jansen. Dari sini aku tahu bahwa merka berpacaran.


Sejak kapan?

__ADS_1


Wow, beruntungnya Ayu. Niatku yang ingin mendekatinya akhirnya pupus tetapi tidak mati.


'Aku harus mencari tahu, mencari celah untuk bisa merebut Ayu,' batinku.


__ADS_2