MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
119. KEJUTAN UNTUK JANSEN


__ADS_3

~AUTHOR POV~


******


"Ya, Bu. Siapa yah?" tanya Rohaya pada wanita paruh baya yang berdiri di depan pintu rumahnya lebih tepatnya di hadapannya.


Penampilan wanita itu sangat rapi seperti mau kondangan aja.


"Apa benar ini rumah Ayu?" tanya wanita itu.


Ayu? Aku punya anak yang bernama Ayu sih, tapi apa Ayu yang di cari adalah Ayu kami atau ada ibu-ibu bernama Ayu? batin Rohaya.


"Ayu?" balasnya tak yakin. "Ayu yang mana maksudnya, Bu?"


"Ayu, pacar Jansen. Kami keluarga Jansen. Apa benar ini rumahnya?" tanya wanita itu lagi dengan sabar.


"Ah, orang tua nak Jansen ternyata, mari mari masuk dulu Bu." Pintu di buka lebar dan mempersilahkan tamu itu masuk ke ruang tamu.


"Silahkan duduk, Bu. Nak Jansen tidak ada bilang keluarganya mau datang, malah dia sama Ayu lagi di luar. Tadi izin nelpon antar Ayu agak lama. Pak, telpon Ayu, buruan!" Rohaya menyerahkan ponsel yang sedari tadi berada di sakunya pada suaminya.


"Ini si Yuyu kenapa sih malah kelayapan di hari Rabu." Rohaya bersungut pelan tapi masih dapat di dengar oleh tamu itu.


"Kami datang tanpa pengetahuan mereka berdua, Pak, Bu." Tuan Awan membuka suara.


Kedua orang tua Ayu melongo. Bahkan ponsel yang tadinya berniat memanggil Ayu kini hanya tergantung di tangan tanpa memperhatikan panggilan sudah terhubung.


"Hallo... Hallo... Bapak? Pak? Hallo... Bu?"


"Ini gimana sih, nelpon tapi nggak nyaut. Hallo Pak? Bapak?"


Gadis itu bersungut-sungut di seberang karena merasa kesal.


"Kenapa?" tanya pria di sampingnya.


"Bapak nelpon, tapi nggak nyaut. Kenapa yah, Beb?"


"Kita pulang aja?" tanya pria itu karena melihat kekhawatiran di wajah gadis itu.


Gadis itu mengangguk lalu segera menyeruput sisa jus nya.

__ADS_1


Ada rasa khawatir, tak biasanya orang tuanya seperti itu. Apalagi ini jelas-jelas dia ijin terlambat pulang karena akan bertemu Jansen. Bahkan Jansen juga bicara tadi dan minta ijin juga.


"Coba kirim pesan, Yang! Siapa tau ada masalah jaringan makanya tadi suaranya seret," saran sang pria.


Gadis itu mengangguk dan mulai membuka ponsel dan aplikasi si hijau guna mengirim pesan pada sang ayah.


Tangan Jansen terulur, mengusap kepalanya pelan guna menghalau kerisauan yang tampak jelas di wajah sang kekasih.


Sementara itu di rumah.


"Kami kesini tanpa sepengetahuan Jansen. Kami ingin memberi kejutan padanya," lanjut tuan Awan.


"Mohon maaf sebelumnya bapak ibu. Nama saya Hartawan Pradipta dan ini istri saya Helena." Tuan Awan memperkenalkan diri walau sedikit terlambat. Nyonya Helena mengatupkan tangan pada pasangan itu seraya menunduk sopan.


"Yang ini putri kami, Kakak Jansen, Johana. Dan ini Ruli suaminya. Anak masih satu. Sweety, salim sama nenek dan kakek!" Yang di suruh langsung turun dari sofa dan berlari ke arah pak Berton dan bu Rohaya. Salim dengan begitu sopannya.


Kedua paruh baya itu menyambutnya dengan hangat dan mengelus kepalanya. Bahkan, Rohaya sampai mencium pipi Vania dengan gemas."


"Siapa nama, Sayang?" tanya Rohaya usai melepas pelukan dan ciuman.


"Vania, Nek."


"Yang ini si bungsu kami."


"Maaf Pak, Bu, kedatangan kami mungkin mendadak. Tapi ini udah di pikirkan matang-matang." Pak Awan menjadi juru bicara.


Orang tua Ayu hanya mengangguk dan memaklumi. Hingga detik ini, mereka masih merasa seperti mimpi. Belum percaya bahwa keluarga Jansen datang berkunjung.


Memang benar mereka mempersilahkan keluarga Jansen datang tapi dengan syarat sudah iklas dan terbuka terhadap Ayu. Itu mereka sampaikan pada Jansen beberapa hari yang lalu. Tak percaya bahwa langsung datang hari ini.


"Tidak apa-apa, Pak. Kami maklum."


Mau bilang apa lagi selain itu? Nggak mungkin langsung menanyakan untuk apa, kan? Biarlah mereka mengutarakan sendiri tujuan mereka.


Rohaya bangkit dan berjalan ke arah dapur. Menyiapkan teh hangat dan membawanya ke depan.


"Duh, mana di rumah tidak ada apa-apa. Silahkan seadanya saja ya Pak, Bu, Mbak, Mas," ucapnya sedikit menahan rasa minder dan malu. Bahkan hanya cemilan untuk tamu pun dia nggak punya.


"Nggak perlu repot-repot, Bu. Kami maklum, kan kami datang tiba-tiba," balas nyonya Helena.

__ADS_1


Ada obrolan ringan di antara mereka, mulai dari asal muasal dan cerita-cerita masa tua. Hingga mereka tak sadar bahwa panggilan tadi membuat orang di luar sana khawatir.


"Maksud kedatangan kami, kami ingin melamar Ayu buat anak kami Josh dan kami sekaligus hendak membicarakan hari yang bagus untuk pernikahan mereka."


"APA?"


"PAPA?"


Dua orang di pintu masuk dengan raut kaget bercampur khawatir, berteriak bersamaan usai kalimat panjang dari tuan Awan terdengar hingga ke pintu yang mereka buka.


"Ohh, kalian sudah datang?" Dengan santainya tuan Awan bertanya pada mereka berdua. Semua orang di ruangan itu mengarahkan pandangan pada sejoli yang tidak bergerak sejak berteriak.


"Kayaknya Bang Jan beneran pingsan Mam," bisik Josh pada mamanya.


"Dia syok, sampe mematung gitu," lanjutnya.


"Yu, nak Jansen, ayo duduk di sini," Pak Berton ayah Ayu memanggil mereka dan menyadarkan mereka dari keterkejutan.


"Papa dan kalian semua, kok kesini tanpa bilang-bilang Jan?" Raut terkejut itu masih belum bisa santai. Pikirannya sekarang mengarah ke hal buruk. Apa orang tuanya sedang negosiasi untuk perpisahan Ayu dan Jansen? Tapi, yang barusan ku dengar adalah, mereka sedang bicara pernikahan,batinnya.


"Emangnya harus lapor sama kamu. Suka-suka kami lah, mau datang sekarang atau lusa kek. Nggak ngasih tau kamu gak masalah. Mama sama Papa bisa handle semua." Dari cara bicara dan nada yang masih terdengar kesal, mereka -terutama keluarga Jansen- dapat menyimpulkan bahwa masih ada ketegangan Ibu dan anak itu.


"Mari di lanjutkan saja pak!" Lerai pak Berton. Tidak ingin ada keributan antara keluarga di rumahnya.


"Seperti yang tadi saya sampaikan, kami disini untuk melamar putri anda, Ayu, untuk menjadi pasangan buat Jansen. Apakah bapak dan Ibu berkenan?" Lamaran ulang dari pak Awan.


Pasangan itu saling menatap seolah-olah berkomunikasi melalui tatapan mata. Lalu bersamaan menoleh pada Ayu.


"Gimana, Yu? Kamu bersedia?" tanya pak Berton.


Putrinya yang sedang dilamar itu mendadak bloon. Duduk diam terpaku seperti sedang bermimpi. Bahkan siapa yang sedang bicara dan pada siapa dia tidak tahu karena tidak fokus.


"Yu?" ulang pak Berton.


"Ah, iya, Pak. Apa tadi?"


"Ini orang tua Jansen datang mau lamar kamu. Kamu mau nggak?" ulang pak Berton.


"Ini beneran mau lamar Yuyu?" malah bertanya seperti orang linglung.

__ADS_1


"Ya benar dong Yu. Masa kami udah datang sekeluarga tapi nggak ada tujuan. Kalau hanya mau minum teh, kami bisa buatkan di rumah kami masing. Sekarang jawab, apa kamu bersedia atau tidak!"


"Ya, aku mau!" jawabku dengan cepat.


__ADS_2