MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
116. HARTA TAHTA MARTABAT


__ADS_3

~AUTHOR POV~


******


"Mama harus bagaimana, Pa?" Nyonya Pradipta bertanya pada suaminya yang sudah duduk bersandar di head board tempat tidur. Kaca matanya masih terpasang dan ada buku di tangannya.


Mendengar pertanyaan istrinya yang kesekian kali, tuan Pradipta menegakkan punggungnya dan meletakkan buku itu di atas nakas samping tempat tidur setelah memberi tanda pembatas pada halaman yang sedang di baca.


"Ma, jujur sama Papa, Mama sudah bisa terima Ayu atau tidak? Berikan alasannya jika masih belum bisa terima!"


Pak Hartawan yang akrab di sapa Awan itu bertanya seraya menatap istrinya intens.


Sejak kepulangan Jansen tadi, istrinya tidak bisa tenang karena Jansen tidak membuka pintu kamarnya. Akhirnya pertanyaan yang baru saja terlontar dari mulut istrinya menjadi topik malam ini sebelum tidur.


"Mama ... Mama ... " Nyonya Helena sedikit gugup dengan pertanyaan suaminya.


"Tidak apa-apa, jujur saja. Jawaban Mama akan menjadi penentu untuk Jansen."


Dengan sabar, tuan Awan menunggu jawaban istrinya.


"Mama sudah terima, tapi belum seratus persen. Mama rasa, mama butuh waktu. Papa pasti tau alasannya apa."


Bagi nyonya Helena, menantu ideal adalah Mira. Tapi, apa boleh buat, anaknya tidak suka dan malah hampir depresi karena pilihannya di tolak. Mau tidak mau dia harus setuju dengan pilihan anaknya. Dengan sedikit pencerahan dari putrinya Johana, akhirnya dia membuka mata hatinya untuk gadis bernama Ayu itu. Jauh di lubuk hatinya, dia mengagumi kesederhanaan Ayu dan keramahannya saat berada si rumahnya kemarin. Para asisten rumah tangganya juga sepertinya lebih mudah akrab pada Ayu daripada Mira. Tapi, ada satu hal yang belum bisa dia terima. Status keluarga Ayu. Menurutnya, itu sangat jauh di bawah mereka. Dia malu pada teman-temannya nanti jika di tanya apa usaha besannya.


"Cobalah Mama untuk tidak berpikir dari segi itu. Usaha toko kelontong bukanlah usaha kecil. Aku dengar, toko orang tua Ayu malah sudah grosir. Jika tebakan Papa benar, Mama malu karena mereka tidak punya usaha seperti kita, Papa sedikit kecewa. Mama seharusnya ingat, bagaimana Papa bisa punya usaha-usaha ini."


Nyonya Helena tertohok dengan ucapan suaminya. Benar, usaha mereka dulu hanya percetakan pinggir jalan. Yang hanya melayani permintaan customer dalam jumlah sedikit. Hanya cetakan berupa bon atau kwitansi. Tapi berkat tangan dingin suaminya yang gigih, usaha itu bisa berkembang menjadi sebuah percetakan besar. Bukan hanya percetakan spanduk, bon, kwitansi atau buku-buku catatan kecil. Kini bahkan menjadi percetakan berbagai macam buku.


Usaha yang lain itu adalah, perusahaan turunan keluarga.


"Coba Mama turunkan standar hidup dan gengsi Mama sedikit. Papa juga merasa bersalah pada Jansen setelah mendengar tangisnya tadi. Papa sadar, kita memang terlalu memaksanya sejak kecil. Perlakuan kita padanya sangat berbeda dengan Josh."


Tidak ada tanggapan dari nyonya Helena, yang terdengar malah isak tangisnya.


"Mama juga harus mulai berubah pada Ruli. Walau bagaimana pun, dia sudah menjadi menantu kita selama tujuh tahunan." Tuan Awan menepuk bahu istrinya pelan, lalu kemudian menarik tubuh yang masih terisak itu ke pelukannya. Memberikan ketenangan dengan mencium ubun-ubun nya lalu kening istrinya. Tak lupa tangannya mengusap-usap punggung istrinya yang malah semakin terisak. Dalam hati, Tuan Pradipta


berharap, agar mata hati istrinya di bukakan oleh Tuhan. Tidak memandang segala sesuatunya dari harta saja.


******


Sementara itu, Johana yang masih belum bisa memejamkan mata, bergeser sana sini. Kasur berguncang karena dia yang tidak bisa tenang.


"Sayang, kamu kenapa?"


Suaminya bertanya, orang paling peka di dunia ini. Lelaki pilihannya, dia sampai mengancam Mamanya kala itu.


"Aku kepikiran Jansen, Mas. Aku kesel sama Mama. Sampai sekarang belum berubah. Gengsi gengsi dan gengsi, harta terus yang di lihat. Apa dia masih kurang kaya? Makanya selalu minta menantu yang kaya juga. Heran!"

__ADS_1


Wajahnya cemberut karena kesal. Apalagi setelah mengingat bahwa sampai hari ini, mamanya belum seratus persen menerima suaminya. Masalahnya sama. Harta dan asal usul keluarga yang tidak selevel.


"Sudah, jangan kesal begitu. Ntar kamu cepat keriput. Hilang cantiknya. Doakan saja Mama berubah," balas pria itu sambil terkekeh ringan.


Lihatkan! Betapa tulusnya pria itu. Tidak salah Johana memilihnya kala itu.


Johana bergeser dan menjatuhkan tubuhnya di dada suaminya. Melingkarkan tangannya di pinggang suaminya dan menghirup aroma tubuh suaminya itu dengan dalam.


"Terimakasih karena mengerti. Aku bersyukur Tuhan mengirimkan kamu untukku. Semoga cinta kita awet selama-lamanya."


Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut pria itu. Tapi tidak dengan tindakannya. Dia melabuhkan ciuman dalam di kepala istrinya sembari mengaminkan harapan istrinya.


Dia juga berdoa semoga Mama mertuanya segera membuka hati untuk menerimanya begitu juga dengan calon iparnya. Dari yang dia tahu, Ayu, calon iparnya itu berasal dari keluarga yang lumayan. Tapi itu pun tidak memuluskan perjalanannya ke rumah ini. Beda dengannya, dulu saat pertama kali dia mengenal Johana, dia hanyalah seorang karyawan biasa dan Johana adalah atasannya. Keluarganya bukanlah orang kaya. Orang tuanya berprofesi petani di kampung dan dia disini adalah anak perantauan. Tapi karena kuatnya cinta mereka, mereka bisa melewati orang tua Johana walau sampai hari ini, Mama Helena -mertuanya- belum menerimanya sepenuhnya.


******


Jansen menyibukkan diri di dalam kamarnya. Karena matanya yang belum mengantuk, dia akhirnya membuka pekerjaannya. Tidak ada yang urgent, tapi demi menyibukkan diri, dia membaca ulang pekerjaan hari ini.


Karena sudah bosan tetapi mata tak kunjung mengantuk, akhirnya dia berjalan ke ruang kerjanya yang di satukan dengan kamarnya. Hanya ada lemari sebagai dinding pembatas disana. Dia membuka lemari dan mengambil berkas. Membacanya sekali lagi lalu menyimpannya lagi. Dia sudah yakin seratus persen dengan pilihan yang di buatnya.


Dia membuka laptopnya yang lain dan akhirnya bablas keasikan meneliti apa yang ada di dalam file itu.


Dia meraih ponselnya dan menempelkan di telinga.


Tuuuuuut ... Tuuuuut ... Tuuuuut


"....."


"....."


"Bagus, usahakan selesai dalam dua minggu ini paling lama, bisa?"


"......"


"Lalu, jangan asal memilih bahannya, pokoknya harus yang kualitas bagus. Dia sudah bayar kita mahal-mahal."


"......"


"Proyek lain? Apa ada kendala?"


"......"


"Bagus! Kerja Bagus Gav."


Hening sejenak.


"Gav..."

__ADS_1


"......"


"Seperti yang aku bilang waktu itu, aku serius. Sudah aku pikirkan mateng-mateng.


Tolong bantuannya ya Gav. Aku cuma bisa percaya sama kamu."


"....."


"Bukan, dia calon istriku. Tapi ingat ya, jangan sampai ada yang tahu ini terutama orang tua ku."


"......"


"Kamu pasti tau kenapa aku minta itu. Jangan pura-pura!"


"......"


"Nanti aku kenalkan. Aku belum sempat berkunjung karena tidak ad libur. Ayu juga kerja."


"......"


"Oke"


"......"


"Tunggu saja. Kami sedang dalam tahap persiapan. Kalau undangan udah jadi. Ntar aku kirimin satu buat kamu."


"......"


"So pasti, cantik dong! Emang ada pilihanku yang tidak cantik?"


"....."


"Hahahah, pokoknya dia lah paling cantik."


"....."


"Iya, masih sedikit suram. Kamu pasti tau alasannya."


"....."


"Ya, ini sedang di perjuangkan. Baiklah, sudah yah, udah larut."


Percakapan singkat dan berfaedah itu berakhir.


Tak berselang lama setelah memutus panggilan, Jansen mendengar derap langkah.


Dia pura-pura tuli dari tadi. Tak ingin waktu menyendirinya terganggu.

__ADS_1


Walau dia tahu, siapa yang mendekat ke kamarnya, itu tak membuatnya bergerak ke arah pintu. Biarlah dia di bilang tidak sopan. Tapi, dia benar-benar masih sangat marah pada mamanya.


"Maaf, Ma. Jan tidak ingin bicara dengan Mama sekarang ini."


__ADS_2