MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
132. AFTER MARRIAGE // PENYAMBUTAN ANGGOTA KELUARGA BARU


__ADS_3

Tradisi penyambutan anggota keluarga baru sebenarnya tidak umum. Tapi banyak juga yang melakukannya.


Seperti ngunduh mantu.


Entah adat dari negara mana ataupun dari suku apa, kini Ayu dan Jansen berdiri di depan pintu rumah.


Di hadapan mereka, tepatnya di dalam rumah, keluarga Jansen berdiri dengan nampan berisikan satu gelas air minum.


"Selamat datang dan selamat menjadi anggota baru keluarga kami. Semoga kedepannya kamu betah ya!" ujar mama Jansen. Setelahnya menyuapi Ayu dengan air minum yanng di sediakan.


Ayu yang berdiri di samping Jansen tersenyum lalu mengangguk.


"Seharusnya ini tadi pas baru mereka datang, Ma. Bukan sekarang setelah beberapa jam berada di rumah ini," protes papa Jansen yang sebenarnya mengganggap istrinya kurang kerjaan.


"Udah ikutin aja, Pa. Tadi mereka datang tiba-tiba. Mama belum kepikiran buat beginian."


"Terus, dapat ide dari mana?"


"Pas baca-baca ternyata ada ngunduh mantu. Mama jadi kepikiran karena baru punya mantu. Mantu durhaka yang nggak mau nurutin Mama." Saat kalimat terakhir nyonya Helena mencebik ke arah Ayu. Yang di tatap dengan horor malah tersenyum makin mengeratkan tangan di lengan Jansen.


"Ayo masuk, tapi duluan injak itu." Nyonya Helena mengajak Jansen dan Ayu untuk masuk dan menyuruh menginjak tanah di atas alas kaki di dekat pintu.


"Mama orang apa?" bisik Ayu pada Jansen.


"Maksudnya?" di balas dengan bisikan juga.


"Ini adat apa? Aku nggak ngerti. Tapi karena di suruh aku injak aja."


"Ikutin aja apa maunya mama. Aku juga nggak tau ini adat suku apa. Tapi kalau mama itu campuran Manado Jawa. Mamanya nenek dulu orang Manado."


"Apa ini adata Jawa?"


"Kayaknya nggak. Udah turutin aja. Mama mungkin banyak baca referensi."

__ADS_1


"Kenapa nggak sekalian bikin beras di kepala aja kayak adat batak? Kemarin aku lihat di toktok Jesica Mila di bikin seperti itu sama mertuanya."


"Itu kan Jessica Mila. Lagian suku mertuanya jelas. Sedangkan Mama? Mama kebanyakan bergaul sama teman-temannya, jadi mix and match lah." Jawaban Jansen membuat Ayu terdiam.


Memang benar. Semakin kamu membaca semakin banyak yang kamu tahu. Semakin banyak ngobrol atau sharing atau tukar pikiran semakin banyak kamu tahu.


Mungkin mertua Ayu demikian. Selama bersama sosialita, mungkin mendengar banyak cerita. Atau mungkin cerita sesama dokter.


"Mama tahu, seharusnya nyambut kamu saat pertama kali kamu injakkan kaki di rumah ini setelah jadi menantu. Seharusnya tadi. Tapi karena kalian tiba-tiba saja udah ada di depan pintu makanya Mama tidak ada penyambutan apa apa," ujar nyonya Helena.


Johana yang mendengar itu hanya tersenyum simpel. Lebay deh Mama, waktu pernikahan kemarin kan udah speech kalau ada anggota baru. Malah sekarang bikin acara yang nggak tau di adopsi dari adat apa.


"Ini bukan acara besar, sebenarnya tadinya mama mau reservasi aja. Tapi tiba-tiba kepikiran, kamu kan belum pernah coba masakan mama. Makanya mama mutusin masak sendiri."


Ayu terharu. Jika saja tidak jaga image, dia ingin sekali berlari ke arah ibu mertuanya dan memeluknya dengan erat.


"Terima kasih, Ma. Mohon bimbingan Mama biar Ayu bisa segera terbiasa di sini."


Belum sempat drama pelukan antara mertua dan menantu itu. Jansen sudah langsung masuk dan menyeret istrinya untuk duduk di kursi di sampingnya.


"Oh, bibi sama yang lain ikut juga makan bersama." jawab Mamanya.


Jansen tidak kaget lagi. Sudah sering seperti itu. Setiap ada acara kekeluargaan bahkan hanya ulang tahun tiup lilin saja, semua penghuni rumah akan makan bersama.


Lain dengan Ayu. Dia benar-benar memuji mertuanya untuk satu hal ini


"Pantaslah rejekinya bagus. Suka berbagi," pujinya dalam hati.


Benar saja, ada hawa kegembiraan yang memancar di ruangan itu bahkan di seluruh isi rumah karena adanya anggota keluarga baru.


...******...


"Jadi kalian beneran nggak bulan madu?" tanya nyonya Helena sekali lagi.

__ADS_1


Keluarga itu duduk bersama di ruang keluarga.


"Iya Ma. Nanti aja kalau udah sedikit longgar!" jawab Jansen. Sebenarnya dia bisa aja pergi dengan melimpahkan segala pekerjaan ke tenaga ahlinya dia di kantor. Tapi sekali lagi, dia tidak ingin memaksakan Ayu. Lagi pula, untuk apa jauh-jauh kalau tujuan bulan madu itu bisa dia lakukan di rumah ini di dalam kamarnya nanti.


"Yu, kamu masih ingat kata mama waktu itu, kan?" Tatapannya beralih pada gadis bergaun blue ice di hadapannya.


Pengen jawab "Yang mana?" tapi nggak enak.


Sungguh kalimat yang sangat membingungkan karena saking banyaknya, Ayu jadi lupa.


"Maksud Mama yang mana?" tanya Ayu pelan pada akhirnya.


"Kerjaan kamu!" jawab mertuanya pelan.


Ayu sejenak menarik napas dan otak encernya sedang bekerja. Apa kira-kira jawaban yang cocok tanpa menyinggung perasaan mertuanya.


"Ma, untuk sementara Yuyu kerja di tempat sekarang aja, ya. Jaraknya tidak terlalu jauh dari kantor mas Janjan. Lagian, Yuyu kan magang di kantor mas Janjan dulu. Malulah sama teman-teman yang ada disana."


"Malu kamu nikah sama Jansen? paket lengkap ini!" Mertuanya merasa aneh sama Ayu. Dapat yang mapan kok malu.


"Heheheh, bukan malu, tapi... aduh, Yuyu nggak bisa ungkapin."


"Kenapa mama minta kamu satu kerjaan sama Jansen? jawabnya simple. Nanti kamu bisa cuti lebih banyak kalau misalnya kamu hamil nanti dan juga melahirkan."


"Uhuk... uhuk..."


Ayu tiba-tiba tersedak minumannya sendiri.


"Ma, stop bahas-bahas hamil terus. Jan juga mau pacaran dulu. Belum terburu-buru." Jansen maju menjadi pembela istrinya.


"Bener, Ma. Nanti Yuyu malah bisa stress dan tertekan." Josh menimpali. "Mama pasti tau lebih banyak dari Josh."


Sempat ada perdebatan di antara ibu dan anak itu seputaran masalah hamil dan cucu.

__ADS_1


"Ma, untuk sementara Yuyu di tempat lama dulu. Yuyu kerja sampai Yuyu nggak sanggup dan mengaku menyerah. Seperti kata mama tadi. Kalau misalnya aku hamil dan punya anak. Ayu bisa berhenti atau pindah kantor mas Janjan."


__ADS_2