MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
124. HAPPY ENDING


__ADS_3

~AUTHOR POV~


*****


Perjalanan cinta yang tidak mudah. Kebohongan di awal hubungan sempat membuat mereka berada pada keadaan marah dan kecewa.


Tapi, kejujuran dan keberanian akhirnya bisa mengalahkan kebohongan itu.


Dengan tekad yang kuat, keduanya berhasil melewati rintangan dalam mendapatkan restu orang tua.


Hari ini, dua insan itu berdiri berdampingan dengan pakaian indah melekat di tubuh mereka.


"Selamat ya, Yu. Loe cantik bangat hari ini!" ucap Lia saat menghampiri pengantin itu di pelaminan.


"Ayo poto dan aku mau sedikit melati kamu nanti," ijinnya seraya merogoh ponsel.


Ayu mengernyitkan dahi. Melati? Buat apa?


"Liat sini, Yu. Ajak laki loe juga. Jangan pelit-pelit berbagi kegantengan," ucapnya asal dan memposisikan ponsel untuk selfie.


"Kamu tadi minta melati aku, buat apa?"


Tanya Ayu sesaat setelah bunyi cekrek terdengar.


"Susuk gue udah pudar, mau kuatin lagi!" jawabnya sambil terkekeh.


"Serius? Kamu pake susuk?"


Percuma bergaul lama, kelakuan teman sampe sekarang juga belum hafal. Dasar Ayu!


"Iya! Gue mau nambah, siapa tau kecantol sama salah satu keluarga laki loe. Tadi gue lihat, banyak yang cakep-cakep," ujarnya seraya melihat-lihat poto yang barusan di ambil.


Jansen yang mendengar itu hanya menarik bibirnya tipis. Sepertinya dua gadis di sampingnya ini satu server.


"Mau aku kenalin, nggak?" tanya Ayu mulai nyambung kabelnya dengan Lia.


"Anggota DPRD, udah om-om sih, tapi kelihatannya howt gitu!" ucapnya terkikik.


Terdengar decakan dari sampingnya, siapa lagi kalau bukan Jansen.


"Yang kayak laki loe ada? Takut buncit gue kekenyangan makan duit rakyat kalo sama anggota DPR." Semakin nyambung, sepertinya dua gadis itu lupa sedang dimana, dan lebih parahnya salah satunya lupa ini acara siapa.


"Suami aku limited edition, nggak ada yang kayak dia lagi, mirip mungkin banyak," jawab Ayu. Lalu sedetik kemudian terkikik tak jelas.


"Napa loe? Kumat?" tanya Lia dengan mata bulat sebesar jengkol.


"Belum terbiasa lidah aku Li. Kayak geli gitu pas ngomong 'Suami'."


Keduanya terkikik, kemudian tawa pelan mereka terganggu karena kehadiran rekan kerja Ayu yang lain. Datang sekaligus ke pelaminan.


"Ck, pasti ngerusuh nih semua orang!"


"Nasib loe jadi manten emang gitu, bego! Pokoknya satu harian ini loe bakal capek, jangan harap bisa ninu ninu ntar malam."


"Selamat ya, Yu. Wah, loe dapet rejeki nomplok, laki loe bening bener!"


Belum sempat Ayu membalas Lia tadi, sudah langsung di potong dengan suara heboh salah satu temannya.


"Jangan kelamaan liatnya, ntar dia baper!" jawab Ayu membuat mereka semua tertawa.


Jansen yang jadi korban hanya bisa tersenyum tipis atas kejahilan istrinya.

__ADS_1


"Yu, beneran loe udah nikah?" Pertanyaan yang mendapat jawaban berupa toyoran dan tabokan.


"Wah, hari patah hati sekantor dong!"


"Jantung amankan, Vit?"


"Aman, terkendali, bro!"


Semua menatap Vito termasuk Jansen. Dalam hati, dia menyimpan satu pertanyaan dan satu penjelasan dari Ayu.


Dia melirik istrinya yang tetap terlihat santai menanggapi keabsurdan teman-temannya.


"Yu, laki loe temannya bos kita, kan?"


Pertanyaan dari salah satu teman kantor Ayu itu membuat yang lain menatap Ayu dan Jansen lekat-lekat seraya mengingat-ingat.


"Jawab, Beb!" Ayu melempar pertanyaan itu ke Jansen.


Jansen bingung, emang kenapa kalau dia berteman dengan bos Yuyu?


"Hmm? Harus jawab, ya?" Jansen terkekeh.


"Iya, kami satu almamater, dia dulu senior saya."


Jawaban dari Jansen di tanggapi dengan anggukan. Walau mereka masing-masing sedang memikirkan kalimat satu orang tadi.


"Foto lagi, yuk! Habis itu kalian semua turun dan pergi makan. Gara-gara kalian tamu yang lain nggak naik-naik." Ayu membuyarkan fokus teman-temannya.


Bahaya kalau di biarkan, bisa-bisa pikiran mereka melayang kenapa aku bisa bekerja di kantor itu.


Salah satu keahlian kita adalah menganalisis seseorang. Sebab dan akibat seseorang bisa begini dan begitu kesalahannya begitu di cari ke segala sudut.


"Bos kita temenan sama suami aku, nggak ada untungnya buat kita-kita, terutama buat kalian semua. Kuy lah kita poto, pasang pose bagus-bagus, biar di pajang di rumah aku ntar.


...********...


"Tentang?" jawab Ayu yang merasa tidak punya.


"Ck, si Vito itulah, siapa lagi dia itu?"


"Oo, teman satu kantor, satu divisi dan satu ruangan," jawab Ayu santai.


"Mau tau tentang apa soal pak Vito?" tanyanya pada suaminya dengan raut polos. Sungguh tidak bisa menerka betapa masamnya laut laki-laki itu sekarang.


"Beneran dia suka sama kamu?"


"Kayaknya iya!"


"Ck, selain si Dohar jelek itu ternyata ada yang lain lagi. Kayaknya kamu beneran harus berhenti kerja deh, Yang!"


Jansen was-was dan harus hati-hati, selain si Dohar playboy itu ternyata ada yang lain. Sepertinya istrinya itu punya banyak pengagum.


"Ck, mulai deh!" rungut Ayu malas.


"Kamu lupa ini tanda apaan?" tanyanya dengan mata melotot seraya mengangkat tangan guna menunjukkan cincin kawin yang melingkar di jari manis kanan nya.


"Jangan lebay deh kamu, Beb. Udah jadi suami istri pun masih aja di cemburui. Emangnya aku bodoh apa, mau sama mereka lagi kala udah punya suami ganteng macam kamu ini. Ih, bodoh bangat gue!"


Jansen terkekeh melihat gaya istrinya.


"Tapi, Beb. Kok kamu nggak pernah cerita soal si Vito itu?" Jansen penasaran.

__ADS_1


Melihat betapa gentle nya tadi pria itu, sepertinya bukan rahasia pribadi lagi dia suka ke Ayu, tapi sudah menjadi rahasia umum seluruh kantor.


"Aku juga baru tau, itupun gara-gara kamu pamer diri waktu itu," jawab Ayu. "


"Beb, aku lapar loh!" ucapnya memelas.


Jansen mengedarkan pandangan dan menemukan Ririn di sudut ruangan.


Kebetulan sekali Ririn mendongak dan melihat Jansen menatap ke arahnya.


Ririn berdiri dan menghampiri pengantin itu kala melihat kode dari Jansen.


"Bisa minta tolong ambilkan makan? Yuyu laper katanya," pintanya minta tolong.


Ririn mengangguk. Tidak merasa sakit hagi karena di suruh-suruh karena itulah kerjanya disini.


...********...


Semakin sore, tamu semakin banyak.


Baik dari relasi Ayah Jansen dan juga Jansen.


Teman-teman orang tua Ayu juga banyak yang hadir.


Para pedagang di pasar juga langganan mereka banyak yang menyempatkan waktu.


"Tamunya nggak abis-abis, kakiku udah pegel," rengek Ayu kala melihat segerombolan tamu yang berdiri dan bersiap berjalan ke arah pelaminan.


"Sabar, ya! Tahan sebentar lagi, sisa itu, kok," ucap Jansen pelan.


"Kayaknya tadi kamu udah bilang gitu deh, Beb. Sisa itu, kok. Tapi masih ada aja terus," sungutnya menanggapi sang suami.


"Maklum ya, papa punya banyak relasi, mama juga. Ibu sama bapak juga punya banyak teman tadi. Banyak yang datang, banyak berkat dan banyak doa yang kita terima. Nanti aku bantu pijitin kaki kamu, atau buka sepatu aja, gak papa nyeker, gak kelihatan itu," Jansen dengan sangat sabar berbicara pada istrinya.


Belum sempat Ayu membalas, wajahnya tiba-tiba di ubah menjadi wajah penuh senyuman kala orang pertama dari gerombolan 'ini yang terakhir' Jansen menaiki panggung pelaminan.


Dan terulang lagi, senyum mempesona yang penuh suka cita dari sepasang pengantin menyambut para tamu-tamu yang tiada berkesudahan.


...*******...


"Huh, leganya. Akhirnya selesai juga!" Ayu menghempaskan tubuhnya di atas kasur dan sedetik kemudian dia meringis karena tusukan di kepalanya.


"Aw sakit!" ucapnya seraya duduk.


"Kenapa Yang?" tanya Jansen yang baru saja masuk.


"Lupa ini ada di kepala, gimana sih cara copot ini" ucapnya seraya menggoyang-goyangkan hiasan itu dan menarik-nariknya. Bukannya lepas, malah rasa sakit di kulit kepalanya yang menjadi-jadi.


"Duh, ini piye bukanya sih?" rungutnya kesal.


Ya, seharian ini, Ayu san Jansen memakai pakaian adat. Tidak ada gaun indah, semuanya pakaian adat. Songket dan kebaya di sertai hiasan menurut pakaian adat yang di pakai.


Ini hasil perdebatan orang tua Ayu. Terutama para Ibu. Yang akhirnya di menangkan oleh ibunya Ayu. Pakaian adat.


"Hempon, Beb, tolong ambilkan di tas aku, aku mau nelpon Ririn aja, nggak sanggup aku bukain ini sendiri."


Baru saja ponsel berbunyi tut dua kali, pintu kamar di ketuk.


"Kami tunggu-tunggu di kamar istirahat tadi, mbak. Rupanya langsung kesini," ucap wanita muda di depan pintu, dia adalah mua yang menghandle riasan kami sekeluarga.


Akhirnya, segala pernak-pernik di kepala Ayu lepas, dan Ayu langsung rebahan setelah baru bia bernapas lega.

__ADS_1


Mbak MUA itu juga membantu menghapus riasan Ayu.


"Harusnya tadi keruangan dekat acara, karena masih tanggung saya.


__ADS_2