MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
Tika Yang Hilang


__ADS_3

Jerat Cinta Tuan Muda #21


Oleh Sept


Rate 18+


Suasana rumah sudah sepi, para tamu sudah pulang semua, pulang bersama rasa malu karena tindakan Hera. Bisa-bisanya wanita itu menjebak Dewa dengan jebakan tak elegant. Papi Hera sampai malu, padahal sebelumnya ia sudah geram dan naik darah. Tahu bahwa putri angkatnya yang keliru, Papi pun memutuskan hengkang. Tidak mau lama-lama, mau ditaruh mana mukanya?


Taman samping rumah di dekat kolam ikan, Tika sedang menabur pakan ikan. Ia senang, karena sudah boleh memberi makan ikan mahal milik si Dewa. Biasanya pria itu melarang keras Tika dekat-dekat dengan kolam.


"Kura-kuranya kok tinggal satu?" celetuk Tika saat melongok ke kolam ikan.


"Lihat yang benar!" cetus Dewa dengan gaya khasnya yang super dingin seperti kulkas.


"Eh itu ... iya, ada. Hehehe," Tika tersenyum garing saat melihat satu kura-kuranya keluar dari balik bebatuan.


"Boleh aku pegang?" sambung Tika, ia menatap penuh harap.


"Jangan! Kuman!"


"Nggak apa-apa, kura-kuranya bersih kok."


"Kamu yang mengandung kuman, Tika!"


"Ish!" Bibir Tika langsung mengerucut. Melihat Tika komat-kamit merutuk, tiba-tiba ujung bibirnya ikut ketarik. Ya, pria mahal senyum itu akhirnya tersenyum melihat Tika yang ngedumel sendiri.


"Sebentar, hanya sebentar."


"Asiapppp," Tika langsung sumringah dan bersiap mengambil si kura-kura.


Mata Tika bersinar, berbinar-binar seperti melihat uang. Padahal ia hanya sedang menatap kura-kura.


"Sudah! Letakkan kembali!"


"Ya ampun, pelitnya!" batin Tika.


"Jangan pegang lama-lama, itu kura-kura langka. Bila mati, gajimu setahun aja nggak setara."


"Gaji setahun?" ulang Tika.


Buru-buru Tika meletakkan hewan yang katanya langka tersebut. Ia jadi bergidik ngeri. Dasar orang kaya aneh, binatang seperti itu saja setara gajinya setahun? Astaga, memikirkannya saja sudah pusing. Sungguh terlalu kata Bang Rhoma.


***


Hari demi hari pun berlalu, musim hujang berganti dengan kemarau panjang. Tidak terasa Tika sudah bekerja di rumah itu setengah tahun lebih. Dewa masih sama, suka marah-marah ketika waktunya terapi. Suka marah bila dipaksa makan Tika. Suka marah, kalau mandi Tika kadang ngintip. Pokoknya Dewa tidak berubah, masih sama seperti beberapa bulan yang lalu.


"Tuan ...!" Pagi itu, Tika terlihat sedih ketika akan berpamitan.


"Pergilah!"


"Tuan bagaimana?"


"Cih! Kamu pikir aku bayi?" cibir Dewa.

__ADS_1


"Tuan baik-baik ya, Tika cuma mudik satu minggu di Jawa. Tuan jangan susahin Mbak Mar ... ya?"


"TIKA!" sentak Dewa.


Tika langsung tersenyum manis, ia memang suka menguji tekanan darah Tuan mudanya itu.


"Begitu sampai, jangan lupa untuk balik lagi."


Mama Dewa menghampiri Tika yang sudah menenteng tas. Hari ini Tika mau mudik, setengah tahun tidak pulang kampung. Membuat ia rindu tanah kelahiran. Sekalian mau menjenguk makam ibunya. Dan mau mengurus tanah di kampung. Tika habis beli tanah di sana.


Mulanya Mama Dewa tidak memberi ijin, tapi Dewa malah mengijinkan begitu saja. Ia kasihan juga pada si Tika. Barangkali gadis itu ingin ketemu sanak saudaranya di kampung.


"Cepet berangkat, nanti ketinggalan kereta." Dewa menyuruh Tika bergegas.


"Baik, Tuan ... Nyonya, Tika berangkat."


Mama Dewa mengangguk pelan. Rasanya berat melepas Tika. Gadis itu bagai pawang bagi sang putra.


"Jangan lupa balik!"


"Baik, Nyonya."


Tika pun berbalik, tanpa menatap Dewa sebelumnya. Sebuah perpisahan yang biasa, tapi begitu terdengar deru mobil yang mengantar Tika ke stasiun semakin menjauh. Hati Dewa jadi merasakan sesuatu yang aneh. Apa ini adalah sebuah rasa kehilangan? Kalau tiada, kehadiran baru terasa. Eh Nyanyi!


Hari pertama.


"Tikaaa!"


Dewa lupa, tidak ada Tika di sana, biasanya cukup satu teriakan. Maka gadis itu langsung datang.


"Bukan ... Bukan Mbak, tinggalkan kamar ini."


Dewa langsung memutar kursi rodanya, ia memilih ke balkon dan menatap langit yang cerah. Ia kesal, Tika bahkan tidak memberi kabar sama sekali. Sms, Wa, telpon, Vcall, sama sekali tidak ada. Dasar Tika, kacang lupa kulit. Dewa mengerutu kesal. Baru sehari, dunianya jadi sepi tanpa Tika.


Hari ke Tujuh


Dewa sudah mandi, wangi dan berpakaian bagus. Hari ini Tika mau kembali, ia mau terlihat oke di depan wanita itu. Tanpa sadar, ia melakukan banyak hal konyol. Sepertinya, Dewa tertarik pada Tika tanpa ia sadari.


Pukul 10 malam.


Pria itu sudah gelisah, Tika benar-benar tidak ada kabar. Seminggu ini gadis itu tidak pernah menghubungi dirinya. Dan, harusnya hari ini Tika kembali bekerja.


"Di mana kamu, Tika?" Dewa memejamkan mata. Berpikir, jangan-jangan Tika kenapa-kenapa.


Esok harinya.


"Ma ...!"


Mama Dewa langsung menoleh melihat Dewa yang sudah rapi.


"Dewa? Kamu mau ke mana?"


"Sepertinya Tika dalam masalah, Mama bisa temani Dewa ke Suarabaya?"

__ADS_1


"Hah? Mama nggak salah dengar?"


Dewa hanya diam, ekspresi wajahnya terlihat begitu serius.


"Oke ... oke. Mama siap-siap dulu."


Beberapa waktu kemudian, mereka berdua sudah duduk di dalam jet pribadi milik keluarga Diamondland tersebut. Mereka sudah siap terbang ke kampung halaman Tika. Sebuah kota dengan ikon buaya dan hiu yang saling mengigit.


***


"Bapak yakin ini jalannya?" tanya Mama pada sang driver.


"Iya, Bu. Ini memang jalannya."


"Apa masih lama?"


"Satu jam lagi, Bu."


"Ya ampun."


Mama terus mengeluh, kenapa kampung halaman Tika jalannya masuk ke pelosok begini?


"Tau begini, Mama nggak ikut!" ucap Mama sambil memasang muka masam.


Dewa tidak mengubris sang Mama. Matanya malah menikmati pemandangan sawah yang terbentang. Tumbuhan padi yang masih mudah dan tersapu angin, membuat tenang saat melihatnya. Belum derasnya sungai di sisi jalan. Bening dan terlihat segar. Dewa merasa betul-betul dimanjakan oleh alam.


"Wa ... Dewa! Mama ngomong sama kamu!" sentak Mama kesal. Karena Dewa malah acuh padanya.


"Mama lihat pemandangan saja, biar nggak jenuh."


"Ish!"


***


"Nyonya, Kita sudah sampai." Pak Driver membantu menurunkan barang Mama dan Dewa.


"Terima kasih, Pak."


"Sama-sama."


Setelah mobil itu pergi, Mama dan Dewa masih berdiri di sebuah rumah setengah jadi.


"Kamu yakin ini alamatnya?" tanya Mama curiga.


"Iya Ma, Tika yang tulis."


"Kok sepi?"


Ketika keduanya mengobrol, tiba-tiba salah satu warga muncul.


"Maaf, Ibuk sama masnya nyari siapa, ya?"


"Tika! Sartika Sarasvati!" jawab Dewa spontan.

__ADS_1


"Neng Tika? Di ada di rumah sakit. Sudah tiga hari ini."


Mama dan Dewa saling bertukar pandangan. Bersambung.


__ADS_2