
Aku merasa bersalah pada orang tuaku. Tapi aku tidak ingin mereka merasa sangat sakit hati jika nanti tau kenyataan yang sebenarnya. Biarlah aku menjadi gadis cemen bermental tempe di hadapan mereka.
Aku belum pernah mengatakan syarat yang di katakan Jansen beberapa hari lalu.
Setengah dari syarat itu saja sudah menyinggung orang tuaku, menurutku.
Mereka hanya berpesan untuk tidak gegabah saja untuk kedepannya. "Gunakan logika jangan hanya perasaan." Itu kata ibu tadi saat akhirnya aku meminta mereka untuk tidak terlalu berharap. "Jangan bertanya apapun pada Jansen mengenai hubungan kami, jika suatu hari dia datang ke rumah," pintaku juga.
Perubahan sikapku pada Jansen, tentu saja dia menyadarinya.
Beberapa kali dia bertanya tapi aku menjawab semua baik-baik saja.
Jansen P:
'Kamu pasti menyembunyikan sesuatu. Apa ada yang salah? ini bukan hanya sehari, tapi sudah berhari-hari, aku merasa kamu berubah.'
Me:
'Itu hanya perasaanmu saja.'
Dulu, katakanlah ketika aku bucin-bucinnya. Aku akan selalu cari topik agar bisa chattingan lama atau vc an lebih lama. Topik-topik absurd bahkan penggosipan.
Tapi lihat sekarang, bahkan bertanya kabar pun aku seperti enggan.
Logikaku berkata, 'ingat apa yang Pian ucapkan.' Tapi tidak dengan hatiku, 'Kamu sudah lihat sendiri.'
Sampai hari ini, aku masih bisa melihat bayangan tawa Mira bersama keluarga Jansen.
Tring
Tring
Tring
Jansen P:
'Nanti malam ku jemput,'
'Ayo makan bersama.'
' Jam 7, oke!'
Menjelang sore Jansen mengirim pesan padaku. Aku menghela napas dengan kasar. Sebenarnya aku ingin menghindari dia dulu beberapa waktu ini, cuma aku tidak tau alasan apa yang bisa mendukung agar dia tidak datang menemui ku.
Me:
__ADS_1
'Oke'
Menghindar tidak akan menyelesaikan masalah, bisik malaikat di samping kananku.
...****************...
"Bu, nanti Jansen mau datang, kami mau keluar bentar, boleh?" tanyaku pada ibu begitu beliau masuk rumah.
"Hmmm," jawab ibu sambil mengulurkan tangan padaku.
"Jangan pulang kemalaman! Kasihan bapakmu," pesan ibu lagi.
"Iya, lagian nggak usah nungguin Yuyu, kan ada kunci. Kunci aja rumahnya dari dalam."
Puk...
"Bapakmu khawatir!"
Ibu melotot padaku setelah menabokku.
"Maaf yah, Pak. Tapi Yuyu nggak papa kok kalo nggak di tungguin. Bapak udah capek, jangan begadang lagi!" ucapku pada bapak yang barusan masuk.
"Kenapa? Kok minta maaf?" Bapak heran karena tiba-tiba di todong ucapan maaf dari ku.
"Yang kemarin, waktu Bapak nungguin sampe malem," jawabku dan di balas dengan anggukan.
"Ya sudah, nanti bapak tunggu pulangnya."
"Nggak us--"
Jawabanku terpotong oleh suara ketukan di Pintu. Apa itu Jansen? cepat sekali.
Aku menghentikan kegiatanku. Mencuci tangan untuk menghilangkan bekas sabun lalu melap tangan pada pakaianku sendiri.
"Bentaaarrr," seruku pada ketukan kedua.
Tadinya aku mau berteriak 'Sabar' tapi demi attitude yang ku pelajari selama ini, aku menahan mulutku.
Ceklek
Aku melihat senyum teduh Jansen dengan seikat bunga di tangan. Melihat senyum itu, aku tidak bisa menahan untuk tidak tersenyum juga.
"Terimakasih," ucapku seraya menerima bunganya.
"Ayo masuk! Bapak sama Ibu barusan pulang." Aku membuka pintu lebih lebar.
__ADS_1
Aku berjalan mendahului Jansen. Membawa bunganya ke kamarku.
Saat aku berjalan ke arah dapur, aku melihat Jansen dan Bapak sudah duduk di ruang tamu. Mereka bercerita seperti biasa.
Melihat lancarnya Jansen bicara, ini seperti dia tidak menyembunyikan apapun dari ku. Atau dia sudah katam dalam bahasa penipuan?
Aku menyelesaikan mencuci piring kotor lalu bersiap untuk pergi.
"Jangan terlalu malam pulangnya! Nak Jansen juga kan mau pulang, jauh, bahaya kalau malam-malam menyetir." Bapak berpesan saat melihat aku mendekat dengan tas selempang kecil tersampir di bahu.
"Pamit yah, Pak." Jansen salim dan berjalan ke arah dapur. "Bu, Jansen sama Ayu berangkat yah." Dia hendak salim tapi di tolak ibu. "Nggak papa, tangan ibu lagi kotor ini," ucapnya sambil mengangkat tangan yang berlumur bumbu masakan.
"Mau makan apa?" tanya Jansen begitu kami meninggalkan rumah.
"Ramen kayaknya enak," ucapku setelah berpikir beberapa detik. Tadinya aku mau jawab 'terserah' tapi otak cerdas ku langsung bekerja. Jika aku jawab terserah, dia akan curiga aku sedang bad mood.
Jansen mengangguk. Sambil berkendara seperti biasa dia menggenggam tanganku.
Kami ngobrol ringan seperti biasa. Aku berusaha keras untuk mengikuti alurnya walau dalam hati aku setengah mampus berusaha untuk terlihat baik-baik saja.
Kalian tau gaes, trying to act like nothing happened lebih sulit dari nahan pup ketika sedang di bus.
Kami juga makan malam seperti biasa, tidak ada obrolan lain. Hanya basa basi tentang kerjaan yang sudah ku ceritakan berkali-kali padanya.
"Kamu kenapa?"
"Kenapa apanya?"
"Akhir-akhir ini kamu kayak berubah, bukan Ayu yang aku kenal. Kamu kayak lagi menjauh. Semua terasa canggung," Jansen tiba-tiba masuk ke inti utama.
"Aku biasa aja, perasaan kamu aja itu." Aku mengelak.
"Kamu bilang biasa aja, tapi pancaran mata kamu berkata lain. Apa aku ada salah?"
"Tidak. Aku yang ada masalah."
"......"
"Kurasa Mira benar, kita memang tidak cocok. Dan syarat dari orang tua mu tepat sekali. Tidak ada pesta tahun ini pun tahun-tahun ke depan apalagi jika bersamaku. Jadi Jansen, bagaimana jika kita akhiri saja. Aku tidak ingin membawa orang tua ku lebih terlibat lagi. Aku tidak ingin mereka ikut merasa sedih di kemudian hari juka kenyataan yang kujalani hanya sesuatu yang semu. Aku masih muda dan tidak ingin merasa tertekan dan di tipu di usiaku ini. Aku tidak mau merasa trauma kedepannya."
"Apa maksudmu?"
"Kurasa kamu memang cocoknya bersama Mira."
"....."
__ADS_1
"Keluargamu sepertinya sangat bahagia saat bersamanya."
"....."