
Jerat Cinta Tuan Muda Bagian 49
Rate 18+
Oleh Sept
Langit sudah mulai gelap, karena memeriksa banyak berkas, membuat Dewa lupa waktu. Ia baru meletakkan semua kertas-kertas di tangannya ketika ada panggilan vidio masuk.
"Iya ... Papa pulang."
Bibirnya tersenyum tak kalah melihat Ciki muncul di layar smartphone miliknya. Setelah bicara singkat di telephone, Dewa pun meraih tas, bersiap untuk segera pulang.
KLEK
Suara pintu terbuka.
"Loh! Kamu belum pulang? Bukannya saya sudah suruh pulang beberapa saat yang lalu?" Dewa menatap heran pada Malika. Padahal ia sudah menyuruh sekretarisnya pulang, Dewa sengaja berlama-lama karena ingin memeriksa beberapa berkas penting.
Ada banyak hal yang harus ia pelajari setelah bertahun-tahun pergi meninggalkan perusahaan itu.
"Saya menunggu Bapak pulang duluan, tidak enak kalau Bapak masih di dalam, kok saya pulang."
Malika bicara dengan sopan santun, setelah mengatakan itu. Ia pun mengenasi mejanya.
"Ya sudah. Saya duluan." Tanpa mengatakan apapun lagi, Dewa meninggalkan Malika.
"Astaga! Dia bahkan tidak menawari tumpangan? Katanya seleranya rendahan, gitu amat. Jadi penasaran, bembokatnya seperti apa sih?" gerutu Malika sambil memasukkan ponsel dan benda lain ke dalam tas.
***
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, Dewa baru pulang dan disambut wajah masam oleh kedua putrinya.
"Papa lama banget pukangnya!" protes Ciki sambil berkacak pinggang, sudah mirip anak bos.
"Papa kok malam pukangnya?" Ganti anak yang lebih kecil yang protes.
"Papa kan kerja," sahut Tika sembari mengambil tas dari tangan suaminya.
"Papa tadi repot banget, besok janji deh ... bakal pulang sore," ucap Dewa membujuk dua putrinya.
"Janji?" tagih Ciki.
Seketika Dewa mengangguk sambil menyungingkan senyum tipisnya.
"Udah, biar Papa mandi dulu." Tika kemudian mendorong lembut tubuh suaminya untuk masuk ke kamar.
"Bentar ... Papa mandi, ya."
Di dalam kamar.
__ADS_1
Ketika Dewa sedang mandi, Tika menyiapkan semua keperluan sang suami. Mulai dari baju bersih dan handuk. Kebiasaan, Dewa selalu ke kamar mandi dengan tangan kosong. Sepertinya itu sengaja, karena selau begitu.
"Handuk!"
"Hem!"
Tika langsung memberikan handuk yang sebelumnya memang sudah ia siapkan.
"Kebiasaan!" Gerutu Tika.
Srekkkk
Mumpung anak mereka lagi di luar kamar, Dewa main tarik-tarik saja tangan Tika.
"Astaga!" Tika langsung memutar tubuhnya.
Dewa terkekeh, mungkin ia ingat kejadian yang dulu-dulu. Tika kan sering banget membantu dirinya mandi. Dan sekarang sepertinya bayi besar itu mau dimandiin lagi.
"Jangan aneh-aneh! Nanti Lion nangis, malah repot!" cetus Tika.
"Ke mari ...!" panggil Dewa menggoda.
Masih membelakangi Dewa, Tika memilih pergi. Ia bergidik ngeri mendengar panggilan sang suami.
Klek
Selesai mandi, Dewa keluar kamar menyusul semua yang sedang menonton TV. Sedangkan si Tika, ketika melihat suaminya datang, Tika langsung menawari makan. Semua sudah makan malam kecuali Dewa.
"Makan ya?"
Dewa menggeleng.
"Kopi aja," jawab Dewa sambil memangku Cika. Seharian kerja, rasanya ia ingin main sama anak-anaknya.
Saat Tika ke belakang, mama mulai bertanya mengenai perusahaan.
"Bagaimana perusahaan?"
"Semua oke, Ma."
"Lalu kenapa malam sekali pulangnya?"
"Ada beberapa file yang harus Dewa periksa lagi, Ma."
"Syukurlah, jangan malam-malam. Kamu tahu? Berapa kali Ciki dan Cika menanyakanmu? Buat apa punya sekretaris? Jangan terlalu sibuk!" seru Mama yang protes.
"Iya, Ma."
Sesaat kemudian, Tika muncul dengan secangkir kopi. Di belakangan ada mbak Mar yang membawa makanan ringan.
__ADS_1
"Makasih, Mbak!" ucap Tika saat melihat mbak Mar berbalik.
Dalam hati mbak Mar kembali merutuk, tidak tahu mengapa. Ia jadi tidak nyaman bekerja di sana. Mungkin mbak Mar sedang dibakar iri hati. Makanya kerja pun tak nyaman.
***
Pagi harinya, Dewa sudah terlihat rapi dengan setelah jas hitam dan dasi polkadot warna biru tua.
"Nanti jangan malam-malam!" ucap Tika sambil membetulkan letak dasi sang suami.
"Emangnya kalau agak sorean mau apa?"
Tika pun mengerutkan dahi.
"Ya nggak ngapa-ngapain, anak-anak nyariin."
"Anak-anak apa anak-anak?"
Dewa menggoda Tika, merengkuh pinggang yang tidak lagi ramping itu.
"Ish ... anak-anak lah."
"Mamanya anak-anak paling!" Dewa terus saja menggoda. Ia merangsek Tika, hingga istrinya itu mau mengaku.
"Ya ampun, sudah ... nanti telat!" Tika pun mendorong dada bidang tersebut. Membuat Dewa mundur beberapa langkah.
"Belom! Masih ada waktu!" Dewa melirik jam dinding besar yang ada di tembok kamar mereka.
"Anak-anak udah nunggu sarapan!" kelit Tika yang berusaha menghindar. Ia mau beranjak, tapi Dewa malah mengunci rapat ruang geraknya.
Cup
Dewa malah mengecup bibir Tika, tersisa rasa mint bekas pasta gigi beberapa saat lalu.
"Udah dong, Sayang!" ucap Tika dengan tatapan memohon.
"Iya ... bentar aja!"
Cup
Dewa malah kembali merampas bibir itu, menyesapnya dengan lembut dan dalam. Padahal sudah memakai setelan jas rapi, tapi sepertinya Tika membuatnya terbakar pagi-pagi. Tika yang memberikan ASI eksklusif, membuat tempat ASI menjadi lebih besar dua kali lipat. Dan hal itu selalu membuat Dewa hilang konsentrasi.
Fokusnya ambyar, karena Tika jadi tambah aduhai. Kalau begini terus, sepertinya anak ke empat akan segera hadir. Tapi, saat sedang ada di puncak-puncaknya, saat sedang asik meraba-raba, tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu.
Tok tok tok
"Ma ... Mama!"
Seketika wajah Dewa langsung tak tergambarkan. Bersambung. Sudah di ubun-ubun, tapi di pause.
__ADS_1