
~AYU POV~
*****
"Serius?"
Mata si Rinrin hampir bergelantungan melihat cincin permata yang melingkar cantik di jari ramping ku.
"Masa bo'ongan, ya nggak mungkin lah." Aku dengan pongahnya melambai-lambaikan jariku di depan mukanya.
"Wah, how lucky you are! Aku iri!" ucapnya pelan seraya matanya tertuju pada jariku yang kini di pegangnya agar tidak menari-nari di depan wajahnya.
"Yes, I'm really really really a lucky girl," ucapku sumringah. Sumpah! aku memang senang bangat. Bangga bangat, dan juga merasa sangat di sayangi dan di cintai.
"Maybe he still find the right time. Sabar ya!" lanjutku pada akhirnya. Aku menyadari apa makna dari 'aku iri' darinya. Mungkin dia iri karena aku sudah di lamar walau masih belum resmi secara kekeluargaan.
"Hmmm," ucapnya sambil mengangguk ringan tanpa menatapku. Matanya tetap tertuju pada jariku yang ada di tangannya.
Kalau saja dia tau bagaimana proses pemberian cincin ini, dia pasti ngakak so hard.
"Kapan Jansen memasangkan ini?" tanyanya. Wah, baru saja aku berharap agar dia tidak menanyakan ini malah di tanya, habis ini pasti dia akan bertanya 'gimana lamarannya? Pasti romantis dong!'
"Waktu aku ke rumahnya hari itu."
"Wah, jadi ini lamaran resmi?"
"Resmi secara pribadi!"
"Keluarga?"
"Belum!"
Ririn mendongak dan menatapku dengan lekat. Mulutnya terbuka lalu tertutup lagi, bola matanya tetap mengarah padaku.
"Yu, sebenarnya, kamu udah di kasih restu apa belom sih?"
__ADS_1
"Udah!" jawabku pasti sambil mengangguk.
"Kalo udah, kok di lamarnya masih cuma Jansen. Kamu di lamar di rumahnya di kasih kejutan romantis nggak? Orang tuanya pada ikutan kasih kamu suprise gitu nggak? Kayak di tipi-tipi," ucapnya panjang lebar.
Kan, dia pasti ngakak kalau aku cerita ini cincin di kasih pas di kolam renang.
"Nggak, Jansen kasih ini pas kita lagi berduaan. Kalo lamaran resmi kekeluargaan, nanti lah, dia bicara sama orang tuanya dulu. Kapan orang tuanya ada waktu, datang aja ke rumah."
Jawaban aman, aku harap ini tidak di perpanjang lagi.
"Kamu beneran udah siap kalo seandainya orang tuanya datang lamar kamu?"
"Hmm, siap seratus persen sih belum. Tapi udah siaplah. Untuk apa di lama-lama i, Jansen bilang dia udah tua. Nggak kuat nunggu aku sampe dua lima." Aki terkekeh ringan usai mengucapkannya. Kebayang muka si Jansen memelas sambil bilang, "Aku udah tua, Yang. Udah tiga puluh."
"Tua apaan, paling juga dua sembilan ato tiga puluh, jaman now, tua itu kalau udah empat puluh masih lajang. Itu untuk yang laki. Kalau perempuan, kayaknya lagi marak-maraknya nikah di usia tiga puluh. Di bawah itu masih berpikir 'belum saatnya, idealnya tiga puluh.'
Ririn ada benarnya juga, tapi kebayang dong, kalo lakinya usia empat puluh, ceweknya tiga limaan. Pas punya anak, anak masih SD, bapaknya udah batuk-batuk hampir mokad. Kan kasihan anaknya.
"Itu untuk mereka-mereka yang nggak perlu khawatir kelangsungan masa depan, Rin. Jadi kalaupun hanya ongkang-ongkang kaki, pemasukan tetap lancar jaya. Beda sama kita, harus banting tulang biar ada pemasukan."
Ririn diam, lalu melepaskan jariku yang sedari tadi di genggamnya. Kini dia bergeser dan duduk berdampingan denganku. Dengan tanpa aba-aba dia merebahkan kepalanya di bahuku.
Aku meliriknya sekilas tanpa mengucapkan apapun. Kami diam sejenak, meresapi pertemanan kami ini. Dalam pikiranku, jika aku sudah menikah, sudah pasti aku tidak bisa nginap-nginap lagi di tempat Ririn. Meet up mungkin bisa, tapi rebahan seharian hingga begadang karena drakor, itu mustahil.
Pertemanan tetap terjalin, tapi pasti berjarak.
Ternyata, apa yang sedang aku pikirkan, hal itu juga yang sedang dia pikirkan.
"Kita pasti nggak bisa begini lagi kalo kamu udah merid. Jansen pasti nggak izinin kamu nginap kalo malam minggu di kosan aku. Kecuali, kalian berantem lalu kamu kabur." Dia terkekeh, mungkin kebayang, aku kabur ke kosannya dan curhat sambil menangis.
"Ck, jauh amat pikiran kamu. Kalau aku kabur, ya pasti cari tempat yang nggak bisa di temuin lah. Masa kesini, Jansen kan udah tau alamat kamu ini. Kecuali kamu pindah."
Kelihatan kan dia sering nonton drama dan sinetron?
"Heheheh, siapa tau aja dia nggak kepikiran cari kesini."
__ADS_1
Malah ngeyel.
"Pokoknya, kalau kamu beneran kawin nanti, kamu nggak boleh terlalu dikekang ya, gak papa lah sesekali meet up atau nginap sama aku. Jansen pasti ngerti juga," lanjutnya.
Jansen ngerti tapi yang harus aku ambil hatinya kan nggak cuma Jansen. Ada keluarga besar. Gimana kalo mereka ghibahin aku, menantu tak tau diri, udah menikah tetap kelayapan.
Udahlah dari awal susah dapat restu, malah bertingkah lagi. Auto di cap menantu durhaka.
"Jangan nginap dong! Meet up mungkin nggak masalah, tapi kalo nginap nggak lah."
"Ck, itu nggak enaknya nikah muda, belum puas masa foya-foya lajang. Mau lanjutin malah harus berhadapan sama keluarga dan juga tetangga sekitar." Ririn berdecak beberapa kali dan menggeleng kepala pelan.
"Tapi Yu, camer kamu beneran udah terima kamu, kan? Bukan terpaksa, kan?"
Ririn bertanya dan menatapku.
"Tulus atau nggak, aku kurang tau, tapi kata Jansen, mereka udah setuju. Waktu aku kerumahnya hati itu, mamanya masih agak ketus sih, tapi ngomong yang pas sesuai kondisi saat itu." ucapku pada Ririn.
"Ribet bangat ya kisah cinta kamu!" ucapnya tanpa melihat ke arahku. Tangannya sibuk mengorek-ngorek toples besar tempat cemilannya. Dia mengambil satu bungkus kecil cemilan lalu membuka kemasan plastiknya pake gigi.
"Dulu, waktu sekolah, kamu jatuh cinta hampir mampus sama bang Aan kamu itu. Dunia kamu cuma di isi oleh di Aan. Segala keburukan tentang di Aan kamu sangkal dan ganti jadi semua yang baik-baik tanpa peduli fakta yang kami berikan." Ririn mengoceh dan menoleh padaku sekilas dengan mata bergulir malas.
"Nggak mungkinlah, mukanya aja alim begitu! itu kata kamu dulu, padahal, ... pret. Alim apanya, dimana-mana ada cem cemannya." Ririn kesal sendiri mengulang kisah cinta yang tidak kesampaian milikku.
"Jujur ya Yu, aku bersyukur bangat waktu itu. Tapi rasa syukurku ketutup sama rasa kasihan sama kamu. Aku bersyukur kamu tahu kebobrokannya, tapi berharap tidak dengan cara seperti itu. Untungnya kamu si Ayu yang kuat mental. Makanya kami cepat sembuh waktu itu. Coba kalau tadinya kamu bermental tempe, bisa-bisa kamu udah depresi karena di permalukan di depan umum."
Cerita milikku, tapi dia yang emosional. Luar biasa empati temanku ini.
"Sekarang, kamu dapat pacar yang cintai kamu dengan tulus dan bucin bangat. Tapi jalan kalian nggak semulus cinta jalan tol."
Benar kata si Ririn, dulu aku bucin sekarang aku di bucinin apa ini balasan untukku?
"Tapi, aku bersyukur juga kamu dapat pacar si Jansen. Aku akan berdoa semoga kamu bahagia selamanya. Semoga kamu kuat menghadapi keluarga Jansen yang pasti banyak tantangan untuk kamu. Beberapa di antara mereka pasti ada yang tidak suka sama kamu, apalagi kamu berasal bukan dari level yang sama dengan keluarga mereka. Dan satu masalah kamu, Yu. Kamu akan selalu di bandingin dengan Mira. Harap kamu kuat."
Aku bergeser dan segera memeluk pinggang Ririn. Aku menyandarkan kepalaku di bahunya.
__ADS_1
"Aku bersyukur di pertemukan dengan kamu dulu. Sekarang aku punya teman yang seperti kakak. Dari dulu, kamu selalu menasehati ku untuk setiap apapun yang aku perbuat. Kamu benar-benar kakakku. Semoga Tuhan mendengar permohonanmu dan mengabulkannya. Karena aku sudah tau apa yang kamu doakan untukku, aku akan berusaha keras untuk kuat dan harus siap menghadapi segalanya. Terimakasih karena turut berempati padaku, Ririn Dwiranty, sabahat terbaikku. Aku berdoa yang terbaik juga untukmu!"