
Ini buat kalian yang ngeship selain Yuyu dan Janjan.
Remaja gendut itu berlari dengan wajah memerah hingga ke telinganya saat sepucuk surat di tangannya telah berpindah tempat ke tangan orang yang dia tuju.
Dia tidak melihat bahwa pria yang dia tetapkan sebagai crush-annya itu menatapnya dengan senyum simpul dan gelengan kepala.
Gadis gendut berjerawat itu menunggu balasan suratnya hingga beberapa hari. Tapi malang, bukan balasan yang dia terima tetapi ucapan langsung dari orang itu.
"Maaf ya, Dek. Abang sudah punya cewek, abang akan anggap kamu sebagai adik abang saja, ya."
Kalimat penolakan langsung dari orangnya membuat gadis itu tersenyum getir dan terpaksa mengangguk. Dalam hati dia berseru, "aku nggak perlu abang lagi, aku udah punya tiga. Aku perlu pacar!"
Hingga pria yang menjadi crush nya itu tamat dari sekolah itu, gadis itu tidak pernah menyapanya lagi apalagi setelah melihat siapa pacar dari pria yang merupakan seniornya itu.
"Kamu memang terlalu pede, Yu. Orang seperti dia tidak mungkin mai dengan gadis gendut berjerawat seperti kamu," ucap gadis itu pada dirinya sendiri di yang berdiri di depannya di dalam cermin.
Melihat bagaimana ciri-ciri dari cewek yang menjadi kekasih crushannya, Ayu mencoba berbenah diri dan mulai belajar mempercantik diri.
Sudah lima tahun berlalu, hari ini Ayu bertemu kembali dengan crushannya saat sekolah. Pria itu semakin tampan dan terlihat sanga cerdas saat menjelaskan materi pelajaran.
"Bang Andrian?"
Gadis itu berlari keluar dari kelas. Yang di panggil menoleh kebelakang ke arah sumber suara.
"Iya, Saya?"
"Abang lupa sama Ayu ya, katanya mau jadi abang Ayu tapi kok malah lupa sama adek sendiri,"
Pria bernama Andrian itu bingung. Adik dari mana? Sepertinya ini baru pertama kalinya dia melihat cewek ini.
"Iya kah? Tapi beneran saya lupa!"
Gadis bernama Ayu itu mengerucutkan bibir. Masa pria itu tidak mengingatnya?
Padahal baru tiga tahun lalu keluar dari sekolah mereka.
"Aku Ayu loh, bang. Ayu junior abang di sekolah SMA x. Masa lupa?"
Sejenak pria itu mengingat-ingat kemudian dengan segera menepuk keningnya seraya tersenyum.
__ADS_1
"Oh, abang ingat. Ayu yang kirim surat buat abang, kan? Yang ganti nama abang jadi Aan?"
Ingatan itu membuat semburat merah jambu menjalar di pipi Ayu. Antara senang dan malu.
"Kamu udah banyak berubah, Dek. Makanya abang nggak kenali kamu tadi," ujar pria itu lagi dan mulai bisa mengakrabkan diri dengan gadis cantik di depannya.
Dia ingat, gadis yang dulu mengiriminya surat dengan bahasa alay. Ada lirik lagu dan banyak pantun. Yang membuat Andrian tidak tahan dengan isi surat yang mengatakan bahwa di dunia ini hanya Andrian seorang laki-laki ganteng dimatanya dan juga hanya dengan menyebut nama Andrian tiga kali, gadis itu bisa langsung tidur.
"Time flies, Bang. Masa gendut terus dan jerawatan. Kalo gitu terus, kapan lagi bang Andrian jadiin Ayu pacar."
Astaga, sifatnya masih sama aja, mulutnya masih tanpa rem seperti waktu dulu. Bahkan rasa malunya tidak ada.
Tapi, ucapan itulah yang membuat keduanya semakin dekat dan akhirnya menjadi pasangan kekasih. Hanya dalam waktu tiga bulan pendekatan, mereka resmi pacaran. Gadis itu sangat bahagia dan merasa sangat beruntung, pria yang dulu dia crush in di sekolah, kini benar-benar menjadi kekasihnya.
"Bulan depan abang wisuda, kalau langsung lamar kamu gimana?"
Andrian bertanya pada kekasihnya yang berbaring berbantalkan pahanya.
"Jangan dong, tunggu Ayu di tingkat akhir. Ntar kalo bulan depan di lamar, Ayu jadi kebayang nikah terus sama abang."
"Ya kita nikah aja!"
"Ya sudah, abang akan tunggu dua tahun lagi, kalau bisa langsung menikah itu lebih bagus."
Dan impian itu terwujud walau mundur satu tahun.
Love from Andrian & Ayu
*****
"Udah deh, nggak usah nangis gitu. Laki kayak gitu nggak pantas di tangisi. Lagian bukan pacar kamu, kan?"
Pria yang juga berbaring di belakang gadis itu mengomel karena gadis itu menangis sudah lebih dari sejam. Penyebabnya karena cintanya di tolak oleh seorang senior yang sangat playboy di sekolah mereka.
"Lagian Yu, untung kamu nggak pacaran sama dia, dia itu playboy. Banyak pacarnya," lanjut Pian yang sambil membuka ponsel dan bermain game. Sesekali dia berdecak sial karena keberuntungannya salam game ini sangat tipis.
"Bukan di tolaknya itu Pian yang bikin aku nangis. Aku nangis karena malu. Malu surat aku di pajang di mading. Semua orang baca. Pasti habis ini aku jadi bahan ledekan mereka di sekolah. Aduh Pian, ini gimana ya, apa aku pindah sekolah aja?"
Gadis itu punya cowok taksiran di sekolah sejak pertama masuk sekolah. Karena dia percaya cinta pada pandangan pertama, dia memberanikan diri mengungkapkan kekagumannya dan cintanya lewat surat. Tapi, suratnya malah di pajang di mading. Hari ini banyak siswa yang membaca surat itu dan menyebarkannya ke seluruh penjuru sekolah. Alhasil, dia menjadi bulan-bulanan siswa siswi.
__ADS_1
"Pura-pura bodoh aja lah. Hilangin urat malu kamu kayak waktu kamu kirimin dia surat cinta."
"Ngomongnya gampang bangat Pian. Tapi mentalku udah terlanjur down gara-gara sejoli itu."
Benar saja, selama sisa waktunya di sekolah itu. Dia menjadi orang yang terkenal karena keberaniannya menyatakan cinta pada senior.
Yang akhirnya membuatnya trauma berpacaran bahkan setelah taman SMA dan berkuliah.
Ada beberapa pria yang mencoba menyatakan cintanya pada Ayu, tapi gadis itu selalu menolak.
Hingga suatu malam saat dia curhat pada teman dari oroknya, Pian. Pian memberi solusi.
"Nggak semua cowok kayak si Andrian itu dan kamu harus bisa bedain dong, Yu. Dulu kan kamu yang nembak sekarang kan kamu di tembak. Kok masih nggak mau."
Ayu menggeleng. Dia tidak percaya diri lagi.
Di takut, ada gadis yang juga menyukai pria yang menembaknya dan akhirnya mempermalukannya lagi. Atau ada mantan yang belum terima di putuskan.
"Ya udah, gimana kalau kamu coba sama aku aja dulu. Kalau kira-kira kamu udah nggak trauma. Kita bisa ceng."
"Maksud kamu?"
"Ya ayo pacaran sama aku, kita jadi pasangan kayak orang-orang."
"Tapi kita teman, Pian."
"Teman jadi pacar, kan bisa?"
Sejenak gadis itu berpikir. Apa sebaiknya dia menerima tawaran ini? Menjadi pasangan buat Pian.
Kesepakatan di terima, diam-diam kedua orang itu menjalin hubungan. Karena mereka adalah teman dekat sedari kecil. Maka orang tua mereka tidak menaruh curiga. Tetap membebaskan mereka seperti sedia kala.
Tanpa mereka ketahui, sejoli itu semakin nyaman dengan hubungan mereka dan tidak segan-segan berbagi pelukan bahkan ciuman.
Ketika mereka tertidur bersama di dalam kamar Ayu atau Pian. Para orang tua menganggap itu hanya hubungan pertemanan.
Hingga suatu hari ketika ibu Rohaya memergoki keduanya sedang berciuman. Saat itu juga, muncullah peraturan yang sangat berat bagi keduanya. Tidak bisa berduaan di kamar masing-masing.
Hubungan mereka yang awalnya hanya sebagai obat trauma Ayu, kini berganti menjadi hubungan serius kala keduanya bertunangan dan menunggu wisuda untuk menikah.
__ADS_1
"Ternyata mereka benar, pria dan wanita yang berteman tidak mungkin tidak ada perasaan suka dan ingin memiliki."