
Bagian 40
Oleh Sept
Di dalam sebuah ruangan serba putih, bukan rumah sakit. Tika terbaring di atas ranjang dengan ukuran yang besar. Seorang wanita, sepertinya petugas medis sedang memeriksa kondisi Tika. Saat Tika sedang diperiksa, terdengar kegaduhan di luar kamar.
Plakkk
"Kalian bodoh!"
Mama Dewa terlihat begitu prustasi. Ya, wanita itu sudah berada di London. Butuh waktu lima bulan ia mengetahui posisi persis sang putra dan Tika.
Pagi tadi, ia menyuruh anak buahnya menangkap Tika. Tapi, apa yang terjadi? Mama semakin geram karena Tika ditangkap dengan kondisi pingsan tidak berdaya. Ia menuduh anak buahnya melakukan hal yang tidak-tidak hingga si Tika, sang menantu tak dianggap itu jadi tidak sadarkan diri.
Meski ia tidak suka dengan Tika, bukan berarti ia ingin wanita itu celaka. Bisa-bisa Dewa tidak akan mau pulang selamanya. Mama bisa membayangkan, apa yang Dewa lakukan bila sampai Tika mengalami hal paling buruk. Ia hanya ingin Tika dibuang jauh, sangat jauh. Pokoknya jauh dari sang putra. Tidak ada niatan untuk melenyapkan nyawa atau menyakiti secara fisik. Mentok, ia ingin mengirim Tika ke ujung dunia bila perlu, agar berpisah dengan Dewa.
"Dia pingsan sebelum kami menyentuhnya, Nyonya." Salah satu suruhan mama mencoba membela diri.
"Diam! Kalian pikir saya percaya?" Mama melotot, ia menatap semua orang-orangnya satu persatu.
Saat akan kembali memarahi orang-orang di depannya, tiba-tiba pintu kamar terbuka.
"Selamat Nyonya, putri anda sedang mengandung. Mungkin dia belum menyadari. Sepertinya masih beberapa minggu. Harap diperhatikan dengan ekstra ya, Nyonya. Karena masih sangat rawan." terang wanita yang ternyata seorang dokter tersebut.
Seketika tubuh Mama langsung ambruk, kalau tidak dipegang oleh Kris yang tadi di belakangnya. Mungkin Mama akan menyatu dengan lantai.
"Nyonya!" pekik Kris kemudian membantu Mama duduk di sofa.
Mama merasakan rasa lemas di sekujur tubuhnya.
"Ponselku, Kris ... ponselku," ujar Mama dengan linglung.
Kris langsung cekatan, mengambil ponsel Nyonya besar yang ada di atas meja di dalam tas.
Masih dengan tangan yang lemas, Mama menghubungi Dewa. Ia tidak mau anaknya itu akan menyalakan dirinya bila sampai Tika dan anak dalam kandungan Tika kenapa-kenapa.
__ADS_1
Lima bulan Dewa bahkan menghilang begitu saja, Mama tidak mau Dewa hilang selamanya karena tindakannya barusan.
"Hallo,"
Dewa tidak tahu, karena itu adalah nomor asing.
"Cepat ke sini, Mama kirim alamatnya."
Klek
Mama menutup ponselnya. Ia meremas benda pipih itu dengan wajah gelisah. Tika hamil, sebuah tamparan yang membuat mama sulit harus berbuat apa. Mau mengirim Tika ke pengunungan Himalaya. Tapi, jelas tidak tega dengan bibit yang sedang dikandung Tika. Itu adalah anak Dewa, artinya cucunya sendiri. Mama mendadak jadi dilema. Benar-benar buah simalakama.
***
Dewa mengemudi dengan kecepatan penuh, ia khawatir dengan Tika. Jangan-jangan mamanya kembali mengirim Tika ke tempat yang jauh. Tidak mau terlambat, ia menambah kecepatan. Membalap banyak kendaraan, sampai mengabaikan keselamatan.
Chittttt
Decitan mobil itu mengusik telinga bagi yang mendengarnya. Buru-buru Dewa masuk ke dalam sebuah tempat, alamat yang sama seperti yang mamanya kirim kepadanya.
Dengan keras ia membanting pintu, saat masuk matanya langsung memindai seluruh ruangan. Pria itu sangat geram, ketika mendapati banyak orang dalam ruangan.
Dilihatnya sang mama yang duduk dengan lemas.
"Mana Tika?" sentak Dewa.
Tanpa suara, mama menatap pintu ruangan yang tidak jauh dari sana. Matanya menatap nanar, melihat Dewa yang bergegas masuk kamar.
"Kalian pergilah, jika tidak mau mati di tangannya," titah mama dengan nada rendah.
Seketika, semua orang suruhan mama pergi meninggalkan tempat itu. Yang tersisa hanya mama dan Kris.
"Kamu juga pergilah, Kris."
"Tapi, Nyonya ..."
__ADS_1
"Pergilah, Dewa tidak mungkin menyakitiku."
Baru bicara seperti itu, tiba-tiba terdengar teriakan yang menggelegar.
"Mama apakan Tika? Mengapa ia tidak sadarkan diri? Apa yang sudah mama lakukan pada istri Dewa?" teriak Dewa dengan emosional.
"Pergi! Kris."
Mama menatap krisna, kaki tangannya.
Dengan berat hati, pengawal paling setia itu pun meninggalkan mereka berdua.
"Apa yang Mama lakukan?"
"Tenanglah, Wa!" ucap mama sambil menatap mata putranya. Mama sedikit takut, melihat mata yang menyalak padanya itu. Itu kali pertama Dewa terlihat begitu sangat murka.
"Bagaimana Dewa tenang, Mama keterlaluan! Dewa pikir waktu bisa merubah Mama. Mama tetap tidak berubah, belum puas Mama melihat Dewa menderita?"
"De ... wa," ucap mama dengan suara bergetar. Mana ada orang tua yang ingin melihat putranya menderita. Mama hanya tidak suka melihat Dewa menikahi gadis yang tidak memiliki status, hanya kalangan biasa. Apa salah? Mama hanya ingin pendamping yang setara untuk putranya. Apa salah? Oh, mama Dewa belum sadar. Status masih nomor satu.
"Jangan sebut nama Dewa lagi, ketika Mama membekukan semua access harta Dewa, di situ Dewa merasa Mama sudah memutus hubungan kita."
"Bicara apa kamu? Hanya karena Tika, kamu menentang Mama? Siapa Tika? Dia hanya pelayan, lalu bagaimana dengan Mama yang sudah mengandung kamu? Bagaimana dengan Mama yang sudah membesarkan kamu? Kamu membenci Mama hanya karena Mama tidak menyukai wanita itu?" serang Mama dengan mata yang sudah perih.
"Dia istri Dewa, Ma! Dia wanita biasa tapi sangat berarti dalam hidup Dewa. Hanya karena dia miskin, bukan berarti Mama berhak membenci dan menjauhkan Tika dari Dewa."
Mama mengepalkan tangan, meski pada kenyataan ia sangat kalah. Tapi hatinya tetap tidak terima. Mama belum bisa menerima perbedaan kasta di antara keduanya.
Apalagi sekarang Tika telah hamil, mama merasa sudah kalah dalam pertempuran ini. Tika menang, menang banyak. Tika sudah mengambil Dewa dari sisinya. Wanita paruh baya itu pun tidak bisa berbuat apa-apa.
Melihat mamanya diam membisu, Dewa kembali menghampiri Tika. Ia akan membawa Tika pergi dari tempat itu. Dengan kemarahan yang masih membuncah, Dewa membopong tubuh istrinya yang masih pingsan tersebut.
"Hati-hati, dia sedang hamil," ucap Mama lirih.
Seketika Dewa langsung berhenti melangkah. Bersambung.
__ADS_1