MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
134. AFTER MARRIAGE // MOTOR


__ADS_3

Pagi ini, Ayu turun terlebih  dahulu dari Jansen. Sudah berpakaian lengkap dan tas kerjanya juga sudah sekalian di bawa. Dia melangkah cepat dan langsung menuju ruang makan.


Belum ada siapa-siapa di meja itu. Akhirnya dia berinisiatif membantu bibi untuk menyiapkan sarapan.


"Non, Jangan! Nanti bau dapur!" Bibi berlari ke arah Ayu yang sedang berdiri di depan kompor.


"Bibi udah selesai, Non. Ini pesanan mas Josh. Setengah matang!" ucap wanita paruh baya itu menunjukkan telor mata sapi setengah matang yang masih ada di dalam penggorengan.


"Non Ayu mau mata sapi?" tanyanya lagi karena melihat Ayu yang masih belum bergerak dan matanya tetap tertuju pada mata sapi.


"Ayu nggak tau, Bi. Ayu pengen, tapi nggak mood juga," ucapnya seraya meraba mulutnya. Perutnya minta telur mata sapi tapi mulutnya ogah mengunyah.


Bibi terdiam sejenak.


"Non Ayu mau sarapan yang lain selain nasi goreng?"


"Ada indomie nggak, Bi?"


Ayu tiba-tiba membayangkan betapa enaknya indomie kuah kental dan ada telor mata sapinya.


"Indomie kuah, pake telor mata sapi satu, telor ceplok campur indominya satu lagi. jadi dua telor!" ucapnya dengan wajah berbinar.


Bibi terdiam sejenak. Di rumah ini stok mi instan gak pernah ada. Penghuni rumah jarang makan mi instan.


Tapi, sepertinya nggak bisa di tolak. Wajah nona mudanya saat mengatakan apa yang dia mau sudah berbinar-binar.


"Di rumah ini nggak pernah stok mi instan, Non." Wajah itu langsung lesu usai mendengar jawaban bibi. Padahal di rumahnya, paling tidak dua kali sebulan pasti makan mi instan. Kalaupun tidak ada stok, ada warung yang dekat. Bisa beli pas pengen. Disini? Mana ada warung di komplek ini. Komplek orang kaya memang menyusahkan buat orang seperti Ayu.


"Tapi bibi ada, Non. Cuma bibi takut, nanti nyonya marah."


"Ada? Bagi Ayu, Bi!" wajahnya kembali berbinar.


"Nanti Ayu bilang, itu punya Ayu. Bukan dari bibi. Ambilin, Bi!" Usai berkata begitu tangannya juga sibuk memindahkan telor milik Josh. Lalu menyalakan kompor dan berbalik ke arah kulkas. Mengambil telor untuk di goreng mata sapi.


"Uuuh.. makanan paporit sejuta umat!" ucapnya saat membayangkan mie rebus dengan dua telor.


*****


"Ck, Ayu kok malah ninggalin aku, sih!" Jansen berdecak kesal di kamarnya. Biasanya selama apapaun dia di kamar mandi. Ayu pasti akan tetap menunggunya dan turun bersama untuk sarapan.


Dia melihat pakaian yang di siapkan istrinya di atas tempat tidur. Juga sepatu yang sudah di letakkan rapi di dekat kaki tempat tidur.


Dia melihat sekeliling, barang-barang Ayu sudah tidak ada. Artinya istrinya sudah menunggu di bawah atau mungkin sudah berangkat duluan. Segera Jansen bergegas, jangan sampai Ayu berangkat duluan.


Jansen berlari kecil menuruni anak tangga. Aksinya yang terburu-buru tertangkap oleh orang tuanya yang juga sedang berjalan menuju ruang makan.


"Kok lari-lari? Istrimu mana?" tanya tuan Awan.


"Udah duluan turun. Mungkin di ruang makan," jawab Jansen akhirnya menyamakan langkah dengan orang tuanya ke ruang makan.


"Biasanya kalian turun sama-sama. Kenapa Yuyu turun duluan? Kalian berantem?" Selidik nyonya Helena seraya melirik jam tangan. Masih pagi. Ayu belum terlambat. Kenapa dia turun duluan.


"Lagi ngambek!" jawab Jansen singkat.


"..!!!" Keduanya mengerutkan alis. Ngambek? Ayu?


"Minta di belikan motor, Jan nggak mau. Terus dia minta ke rumah ibu mau ambil motor lama, Jan juga nggak mau. Jan pesankan ke Ibu, biar nggak di kasih kalo dia kesana sendirian. Akhirnya ngambek."


"Motor buat apa?" tanya tuan Awan.


Di rumah mereka ada mobil yang siap di pake kapan aja. Selain itu, Jansen punya mobil sendiri. Jika sedang terburu-buru dan perlu naik motor, ada juga. Lalu untuk apa motor baru?

__ADS_1


"Mau naik motor ke tempat kerja. Katanya kalau sama Jan, dia terburu-buru terus. Udah dua kali terlambat bulan ini." Jansen nyengir usai berkata begitu.


"Salah kamu lah!" ujar nyonya Helena.


"Tapi Jan, mama lihat, sejak kamu menikah. Kamu memang makin malas loh. Bangun juga pasti kesiangan, makanya Yuyu mengomel terus dan akhirnya minta motor."


Saat tiba di ruang makan, tidak ada Ayu tapi ada tasnya di kursi. Ketiganya berpikir, mungki saja Yuyu sedang membantu bibi menyiapkan sarapan.


Tapi, sarapan dan peralatan makan sudha lengkap di meja kecuali punya Ayu.


"Bi..." panggil nyonya Helena.


Bibi berlari dari dapur dengan wajah yang tertekan. Takut ketahuan memberikan mi instan pada nona mudanya.


"Yuyu mana? ada tas nya tapi orangnya nggak ada."


Bibi terdiam. Mau jujur takut kena marah. Mau bohong takut dosa. Tanpa sadar bibi menoleh ke arah ruang makan dan itu seperti petunjuk bagi Jansen.


Jansen berdiri dan langsung berjalan ke arah dapur.


Kepalanya menggeleng melihat istrinya yang sembunyi-sembunyi dan terburu-buru makan mi instan.


Beberapa saat Jansen berdiri disana dan melihat cara istrinya makan. Lama-lama dia juga jadi pengen. Akhirnya dia berdehem sebelum mi rebus di piring Ayu ludes.


Ayu kaget dang langsung terbatuk-batuk karena tersedak. Lalu menoleh ke arah suara bas itu dengan gelas yang menempel di mulutnya.


"Makan di meja makan!"


Ayu terdiam. Tidak berani berdiri. Apalagi ada mama mertua nanti di meja makan. Bisa mampus kena ceramah.


"Ayooo!" ujar Jansen berusaha sok tegas dan cool. Tapi sebenarnya ada tujuannya.


Ayu berdiri dan mengangkat piring yang menyisakan setengah lagi mi instan dan telur mata sapi  yang di rebus bersamaan dengan mi instan. Ada gigitan hingga mengenai kunig telurnya. Ada juga telur yang kuningnya masih utuh tapi ini di rebus langsung dengan mi tanpa di goreng dulu.


"Yuyu?" nyonya Helena yang sedang menyuapkan sarapannya mengerutkan kening melihat Ayu datang dari dapur dengan piring di tangannya.


Awalnya dia mengira bahwa menantunya itu memilih sarapan di dapur karena masih ngambek pada Jansen. Tapi setelah melihat apa yang ada di piring itu, dia akhirnya mengerti kenapa Ayu bersembunyi saat sarapan.


"Kamu makan mi instan?" nyonya Helena sudah bersiap mengoceh. Tiga orang yang baru tiba di meja makan juga menatap piring Ayu. Dapat dari mana dia mi instan di area terlarang ini?


"Hehehe, iya, Ma! Tapi, tadi Yuyu buang dulu kok air rebusannya, bumbunya juga nggak bikin semua." Bohong!


"Anda berbohong nona!" batin bibi. Jelas-jelas Ayu berkata kenikmatan mi instan ada pada bumbu dan kuah rebusan.


"Yu, Mi Ins---"


"Kamu udah, kan? Aku juga mau!"


Kalimat nyonya Helena terpotong oleh Jansen yang tidak mau mendnegarkan ceramah panjang lebar mengenai mi instan.


"Enak, Bi! Masakan bibi memang selalu numero uno!" Puji Jansen dengan jempol terangkat.


Ayu melotot tak terima, apalagi melihat telur mata sapinya lenyap di mulut Jansen. Mie yang harusnya masih bisa empat suapan, malah hanya dua kali oleh Jansen.


Bibi dada-dada. "Bukan bibi yang buat, Mas. Non Yuyu yang masak."


"...!!!"


"Kamu yang masak, Yang! Enak!"


Jansen menyantap habis mie instan tanpa menyisakannya lagi pun telurnya.

__ADS_1


Beberapa pasang mata menatapnya tak terkecuali istrinya yang matanya mulai berkaca-kaca.


*****


"Kamu masih marah, Yang?" tanya Jansen sambil menyetir. Perkara mi instan pagi ini terbawa-bawa hingga sore harinya.


Chat nggak di balas, nggak mau ngomong juga.


"Aku mau kerumah Ibu!" ujarnya pelan.


Saat ngambek seperti ini, baiknya di turutin atau nggak? Kalau di turutin, nanti jadi kebiasaan. Tapi kalau nggak, nggak tahan juga di kacangin terus, batin Jansen.


Setelah terdiam beberapa detik. Jansen memutar arah dan menyetir ke rumah mertuanya.


Membutuhkan waktu yang lama untuk tiba. Karena sudah hampir tiba di rumah juga tadinya.


Dug


Pintu di banting dengan kuat. Ayu langsung berlari tanpa peduli pada Jansen.


Jansen menghembuskan napas beratnya. Perkara mie instan bisa sampai sebesar ini.


"Loh, Yu?" Rohaya kaget melihat anak bontotnya datang tanpa pemberitahuan. Lebih kaget lagi karena wajah  anaknya  murung dan langsung menangis memeluk ibunya.


"...!!!" Rohaya melihat ke belakang Ayu. Ada Jansen dengan raut lelah.


"Ada apa?" tanya rohaya tanpa suara pada menantunya. Anak di dalam pelukannya menangis sesenggukan.


Jansen menggelang. Lalu berjalan ke arah ruang tamu. Menyapa ayah mertuanya.


"Kenapa?" tanya pak Berton seraya mengendikkan kepala ke arah Ayu yang masih di dalam pelukan istrinya.


"Ngambek, gara-gara mi instan," jawab Jansen seraya tersenyum terpaksa.


Dia takut di nilai menantu tak becus. Apalagi sang istri kembali dengan keadaan sedih, marah karena makanan. Sungguh hal yang di pantangkan.


"Mi instan? Kenapa emangnya?"


"Tadi pagi dia sarapan mi instan sembunyi-sembunyi karena di rumah memang nggak pernah makan itu. Pas lihat dia makan, Jansen jadi kepengen juga. Jansen ambil dan Jansen makan semua, gak sisain dia. Ngambek sampe sekarang dan minta pulang."


"Ck, masa ngambek gara-gara itu. Udah biarin aja. Di ladenin makin manja nanti."


Pak Berton melanjutkan acara nontonnya. "Jangan lupa kabarin ke rumah, kalau kalian disini."


****


My Son Jansen:


[Ma, Jan sama Yuyu ke rumah ibu. Mau makan mi rebus :) ]


"Pa, lihat ini. Kayaknya dugaan mama benar, deh." nyonya Helena menunjukkan layar ponselnya yang berisikan pesan Jansen.


Sejak pagi, sejak melihat wajah sedih Ayu dan mata memerah karena makanannya di habiskan. Nyonya Helena mulai menyimpulkan sesuatu hal yang sangat di nantikannya.


"Kayaknya kali ini dugaan Mama benar, Pa."Wajahnya berbinar.


"Bulan lalu dan juga sebelumnya mama juga bilang gitu, tapi hasilnya zonk." Tuan Awan mengingatkan kegagalan dugaan yang sangat di yakini istrinya belakangan ini.


"Kali ini, mama berani taruhan. Mama pasti benar."


__ADS_1


Mampir di karya Otor yang lainnya yah ges.


KALI KEDUA-Cinta dalam Kasta-


__ADS_2