
~HELENA POV~
*****
Aku rasa, aku adalah wanita paling beruntung di dunia ini. Punya suami baik, setia dan bertanggungjawab juga mendukung di segala hal. Aku juga punya tiga anak yang cantik dan tampan. Aku bahagia, sekarang bahagiaku bertambah karena sudah punya cucu. Di umur yang sudah setengah abad ini, dengan kondisi tubuh yang sehat aku masih bisa praktek di rumah sakit.
Suatu hari, suamiku mengajak ku menghadiri acara para pengusaha. Dan tidak disangka aku bertemu dengan kenalan lama semasa sekolah dulu. Kami tidak dekat, tapi kenal. Dan karena bertemu di acara ini, kami sedikit nostalgia pada masa-masa sekolah. Temanku -Ermina- datang bersama suaminya yang terasa asing bagiku. Seingatku dulu, kekasihnya bukan pria yang di sampingnya. Sedikit cerita tentang Ermina semasa sekolah. Dia adalah gadis pendiam yang pintar. Bulan-bulan terakhir kami di SMA, dia menjadi buah bibir karena berhasil menaklukkan siswa paling bandal tetapi berparas ganteng. Mereka menjadi sepasang kekasih yang memiliki sifat dan kepribadian bertolak belakang. Banyak yang menyayangkan, banyak pula yang iri.
Mereka menjadi pasangan fenomenal sampai kami lulus dan kabar terakhir yang ku dengar mereka menikah tidak lama setelah lulus sekolah. Setelah itu, kabar berita tentangnya hilang karena kami berpisah untuk melanjutkan hidup masing-masing.
Puluhan tahun kemudian, aku bertemu dengannya. Dia bersama seorang pria yang kalem dan juga seorang gadis yang sudah dewasa. Siapa pria kalem ini? Apakah suaminya? Lalu dimana Marco suami bandal dan gantengnya itu? Lalu gadis ini siapa? Apakah putrinya? Kenapa tidak mirip?
Walau aku sangat penasaran, aku tidak ingin bertanya tentang hal pribadinya. Jika ada kesempatan untuk bertemu di kemudian hari, saat itu mungkin saja ada kesempatan untuk bertanya.
"Kamu tidak berubah, tetap saja cantik dan enerjik seperti dulu," pujinya dan aku mengangguk sambil tersenyum elegan untuk menanggapi.
"Tidak berubah apanya, sudah tua begini, sudah keriput. Dan sekarang sudah gampang encok kalau menggendong cucu." Aku sekalian memberi informasi bahwa aku sudah punya cucu.
"Cucu? Kamu sudah punya cucu Len?" Raut terkejutnya membuatku terkekeh.
"Iyah, anak sulungku sudah menikah, dan sudah punya satu orang putri," paparku.
"Anakmu yang tadi?" tanyanya menanyakan anak bujangku Jansen yang ikut bersama kami ke acara ini.
"Bukan, itu anak keduaku, ganteng, kan?" tanyaku seraya mengedipkan mata seolah-olah memberi kode. Entah kenap sejak melihat anak gadisnya yang bernama Mira itu, aku sudah tertarik. Kelihatannya Mira gadis yang kuat tapi lemah lembut juga elegant. Ermina mendidiknya dengan sangat baik.
Ermina tersenyum menanggapi ucapanku.
"Anak sulungku perempuan, Er," ujarku.
__ADS_1
Lalu mengalirlah cerita singkat, bahwa aku mempunyai tiga orang anak dan sekarang dua putraku belum ada yang menikah. Dan aku juga pada akhirnya tahu bahwa Mira adalah anak Ermina bersama Marco tetapi sudah lama bercerai. Pria sekarang adalah suaminya dan sudah memiliki dua orang anak ~sepasang~.
Di waktu yang singkat itu, Ermina bercerita bahwa sejak menikah dengan Marco dulu, mereka menunda punya anak hingga beberapa tahun. Dan anak pertamanya meninggal saat di kandungan karena perlakuan Marco yang mulai kasar. Hingga pada akhirnya mereka bercerai saat Mira berumur sepuluh tahun karena tidak sanggup menghadapi kekasaran suaminya Marco.
Aku tidak menyangka dia menyerah, karena sejak awal berpacaran dan lanjut ke pernikahan tentunya dia sudah mengetahui sifat Marco. Disekolah saja dulu dia paling berandal. Tapi kembali lagi pada masing-masing orang yah, jika tidak sanggup lagi untuk apa di pertahankan? Hal yang paling tabu menurutku dalam hubungan suami istri adalah main tangan atau kekerasan fisik. Jika sudah dilakukan sekali, makan kedua kali, ketiga kali dan kesekian kali akan tetap terjadi.
*****
"Mira cantik yah, Jan?" tanyaku pada Jansen yang sedang menyetir. Dia menatapku sejenak dari spion depan dan mengangguk. "Hmmm, cantik!" jawabnya datar seperti tidak berminat.
"Mama jodohin, mau?" tanyaku mencari kesempatan. Sungguh, aku sudah membayangkan bersanding dengan menantu yang perpeksionis seperti Mira pasti menyenangkan. Selera kami pasti tidak akan jauh berbeda. Pola pikir kami pasti hampir sama dan akan nyambung jika bercerita. Kebetulan saja Jansen masih betah menjomblo di usia dua puluh delapan hampir dua sembilan ini.
"Kayak Jan nggak bisa cari jodoh sendiri aja," jawabnya masih tetap datar.
"Kalau kamu bisa, pasti sekarang kamu udah nggak jomblo lagi," cibirku sambil mendengus kesal.
Anak bujangku udah setua itu masih jomblo. Dulu aku bahkan sebelum lulus koas saja sudah menikah karena udah pacaran terlalu lama ~lima tahun lebih~.
"Cocok!" jawab suamiku sambil mengangguk.
Kan? aku bilang juga apa. Dia pasti setuju. Aku harus bisa membujuk Jansen, anakkku yang sangat kaku dan pendiam ini. Tidak ada selera humornya dan irit senyum bahkan irit bicara. Aku rasa dia begitu karena tidak punya teman yang bisa di ajak ngobrol. Ada baiknya dia dekat dengan Mira agar dia berubah dan lebih hidup.
Sedikit informasi mengenai anakku itu, Dia berbeda dari adiknya Josh yang lebih bisa mengekspresikan apa yang dia pikirkan. Josh akan melawan jika dia tidak suka dan tidak akan segan menolak apapun yang aku berikan jika dia tidak suka. Bahkan untuk jurusan sekolah saja, dia yang menentukan. Untung dia mengikuti jejakku jadi aku tidak terlalu keberatan.Berbeda dengan Jansen, Jansen sejak dulu sangat suka membuat desain bangunan. Dia bercita-cita ingin menjadi arsitektur. Tapi aku tolak karena suamiku punya usaha di beberapa bidang. Aku dan suamiku memaksanya untuk mengambil jurusan manajemen bisnis. Dan terbukti sekarang dia berhasil menjadi pemimpin di salah satu perusahaan suamiku yang bergerak di bidang percetakan dan penerbitan
"Papa bilang cocok, Jan. Kamu mau yah mama jodohkan? Kalau mau mama bisa ngomong sama tante Er." Aku berusaha membujuknya.
"Ck.. Nggak Ma, Jan nggak suka. Dari pandangan pertama aja Jan udah tahu, dia pasti dominan. Jan nggak mau. Mama jodohkan dia sama Josh aja, pasti mereka cocok." Jansen menolak dan memberikan solusi yang jelas-jelas ku tolak. Kenapa? Karena dari pemantauanku, Josh itu udah punya cewek yang seprofesi dengannya di rumah sakit. Jadi Mira cocoknya dengan Jansen. Bayangkan saja, suatu saat nanti aku berjalan bersisian dengan anak perempuanku yang elegant, dua menantu perempuanku yang tak kalah elegant dan juga cantik. Kami akan menjadi kumpulan wanita-wanita hi quality, benar, kan?
"Coba aja dulu, kenalan aja dulu. Kamu nilai MIra begitu karena masih baru ketemu, belum kenal lebih dekat secara pribadi. Coba dulu, yah!" AKu mengatakannya dengan lembut tetapi ada makna bahwa itu tidak bisa di tolak.
__ADS_1
"Hmm," jawab Jansen. Benar, kan? Dia tidak akan menolak. Jansen anakku yang paling menurut. Apa yang ku minta, dia pasti mau. Beda dengan kedua anakku yang lain. Contohnya Johana, Jujur saja, sampai hari ini aku masih belum terima suaminya si Maruli. Anak perempuanku yang cerdas dan cantik jelita harus bersanding dengan pria yang levelnya di bawahnya. Dari segala aspek. Dari ekonomi terutama. Tapi karena cinta dan keras kepalanya, akhirnya aku mengalah dan memberi restu. "Jo akan jadi perawan tua kalau nggak nikah sama Ruli. Jo bersumpah!" ucapnya waktu itu membuatku terpaksa menerima.
"Oke, nanti kapan-kapan mama undang mereka makan malam, kamu harus kosongkan jadwal kalo mama bilang mau makan malam!" Sumpah dalam hati aku senang sekali.
Gayung bersambut ...
Ternyata Ermina juga tertarik dengan Jansen dan Mira juga sepertinya. Dia tersipu saat aku dan Ermina menyinggung Jansen di depannya. Sejak saat itu, rencana dua keluarga untuk menyatu semakin besar. Pertemuan semakin sering di lakukan. Bahkan kami akan mengadakan makan malam bersama walau tidak ada acara apa-apa.
Suamiku juga sudah semakin akrab dengan suami Ermina. Hanya saja ...
"Jan, kamu kenapa sih, setiap kali ada pertemuan, muka kamu tetap datar. Apa nggak bisa di ubah dikit? Senyum gitu. Kamu kayak terpaksa, mama kadang malu sama tante Er dan juga Mira." Aku mengomeli Jansen yang sedang mengemudi. Di sampingnya ada Josh yang menahan kekehan sambil menutup mulut dengan punggung tangan.
"Udah kumpul sekeluarga gitu, semua ceria, tertawa, muka kamu lempeng aja... bikin kesel mama."
Aku merasakan usapan lembut di punggung. Tentunya itu dari suamiku.
"Kamu udah tau gimana Jansen, kan?" kata suamiku lembut.
Iya, sih, tahu. Tapi apa nggak bisa di ubah gitu, barang dikit aja?
"Kamu kenapa akhir-akhir ini nggak mau ajak Mira keluar? Sesibuk itu kamu?" tanyaku lagi.
Kata Mira tadi, Jansen sibuk. Waktu mereka untuk jalan berdua udah sangat jarang.
"Kan kamu yang minta waktu setahun untuk mengenal lebih jauh secara pribadi. Kalo nggak pernah lagi pergi, gimana caranya kamu kenal dia lebih jauh. Di ajak liburan nggak mau, di ajak nonton nggak mau. Entah apa mau kamu." Sumpah aku kesel sekali setelah mendapat laporan Mira tadi. Jansen yang tidak mau inilah, itulah.
"Udah ada cewek kali dia, Ma." seloroh anak buntutku, Josh yang duduk di samping Jansen.
Mendengarnya, aku sempat kepikiran, tapi nggak mungkinlah. Selama ini Jansen rutin di rumah, nggak kemana-mana, tingkahnya juga biasa aja. Sama aja.
__ADS_1
"Cewek apaan, dia udah mau tunangan sama Mira. Tidak ada cewek lain, selain Mira. No Restu. Jangan kamu ikutin jejak kakak kamu Johana. Awas, kalian berdua jangan sampe ada yang melenceng seperti kakak kalian!"