
Aku berusaha mengenyahkan pemandangan yang ku lihat tadi. Aku mencoba fokus pada tayangan film di layar besar di depanku.
Sungguh, aku tidak pernah memaksakan Jansen untuk tetap memilihku. Bahkan jika kalian ingat aku memintanya untuk membuang ku demi Mira. Aku tidak ingin menjadi orang ketiga di antara mereka yang sudah terlihat hilal masa depannya.
Tapi dengan begitu gentle nya dia datang ke rumah dan meminta restu dari orang tuaku, memberitahukan situasi yang di hadapi dan meminta dukungan.
Jika begini, bukan aku lebih bodoh dari keledai?
Aku bahkan masih terhasut rayuannya setelah tahu situasi yang sedang terjadi.
Aku seperti gadis bodoh bucin akut.
Aku menoleh ke kanan ketika ku merasakan ada elusan pelan di punggung tanganku. Ririn tersenyum teduh padaku. Dia jelas tahu bagaimana perasaanku sekarang.
"It's oke. All is well." Aku mengangguk menanggapi ucapan yang keluar tanpa suara itu.
Belum terlalu malam ketika film selesai, atas keputusan bersama, kami menghabiskan waktu sedikit lebih lama di mal ini dengan rutinitas seperti biasa, hanya jalan-jalan keliling sampe kaki pegel tanpa membeli sesuatu.
Mencoba pakaian dan sepatu seolah-olah ingin membelinya tetapi sebenarnya tidak.
Sedikit banyak kegiatan ini membuatku lupa walau pada saat pulang, setelah aku mengantar Ririn ke kosannya aku merasa sedih. Mataku bahkan berkaca-kaca saat aku mengendarai sepeda motorku. Untung aku udah ahli berkat tiap hari naik motor. Aku bisa menghapus air mataku dengan satu tangan sambil berkendara.
"Kau pembohong, aku benci padamu!" Aku berbicara sendiri seolah-olah ada Jansen di sana dan mendengar kata-kataku.
"Tidak apa jika aku mengalami ini sendirian, tapi orang tua ku sudah terlibat." Ini yang membuat aku semakin sedih. Patah hati sendirian tidak apa-apa. Tapi bagaimana jika orang tu ku ikut patah hati? Hubungan yang kami lanjutkan ini atas restu orang tua ku. Apakah Jansen tidak berpikir sejauh itu?
Aku tidak pernah memaksanya untuk tetap menjadi pacarku, aku tidak mengemis hingga menangis untuk di cintai.
"Kau pasti tertawa terbahak-bahak karena sudah bisa membodohi ku dan orang tua ku, Selamat!"
Bukankah hal ini juga akan membuat aku semakin tidak bernilai di mata Mira
Aku yang 'lumayan' cantik ini benar-benar tidak cocok dengan Jansen sesuai yang di katakan Mira. Orang tua ku juga tidak punya pabrik seperti mereka.
Tidak tau sejak kapan, tapi aku akhirnya menangis tersedu-sedu di atas motor yang tetap melaju dengan kecepatan sedang di tengah malam di tengah jalan sepi.
Aku melihat pantulan wajahku di spion motorku sebelum aku masuk ke rumah.
Selarut ini orang tuaku biasanya sudah tidur, tapi untuk hari ini mungkin belum karena aku belum pulang.
Dugaanku benar, Bapak masih menonton di ruang tamu dengan lampu temaram.
Thanks God, dengan begini mukaku yang sedikit bengkak ini tidak akan kelihatan.
"Yuyu pulang Pak, kok belum tidur?"
Aku tahu bapak sengaja menungguku tapi tidak apa sebagai basa-basi.
"Sudah pulang, cepatlah istirahat, bapak sebentar lagi tidur."
Aku mengangguk dan langsung pergi ke kamarku.
__ADS_1
Saat aku mandi, aku menumpahkan lagi kesedihanku. Aku meredam tangisku dengan membekap mulutku sendiri.
"Maafkan Yuyu, Pak, Bu," kataku dengan suara lirih.
Jika saja aku tegas menolak tawaran Jansen waktu itu. Jika saja aku tidak melibatkan orang tua ku dengan ajakan Jansen waktu itu.
Aku memukul dadaku karena sesak. Ini bukan sedih karena keluarga Jansen dan Mira. Aku merasa sesak karena sedih untuk mak bapakku yang pasti kecewa dan sakit hati.
Saat aku akan merebahkan tubuhku, aku meraih tas selempang yang aku letakkan asal di meja kecil di kamarku. Aku merogoh dan mengambil ponselku. Aku melihat ada beberapa pesan dan panggilan dari Jansen.
Apa dia sudah pulang?
Aku hanya membacanya dan tak membalasnya.
Aku mencoba memejamkan mata berharap aku segera tidur agar aku tidak ingat apa yang sedang terjadi malam ini.
...****************...
"Hai Yu!"
Aku menoleh pada suara husky dari arah belakangku. Aku mendapati Andrian duduk di atas motor di parkiran kantorku.
Aku menaikkan alisku lalu kemudian menyapanya.
"Hai Bang, pagi! Makin sering aja kayaknya kesini yah. Yang disana nggak curiga?"
Aku bertanya seraya melepas helem.
"Mungkin udah terbiasa yah, Bang! Jadi udah katam," ucapku mengejek.
"Hati-hati sama yang disini, Bang. Kayaknya lebih galak dari yang lain." Aku berbisik seperti ibu-ibu penggosip di lingkungan rumahku.
"Iyah, aku tahu. Makanya kamu juga jangan ember kayak waktu itu!"
Dia ikut-ikutan bercanda tapi berisi peringatan.
"Gimana kabar kamu?"
Aku mendelik padanya, tumben aja dia tanya kabar aku.
Aku memberi tanda oke padanya lewat jari ku.
"Pak Jansen gimana?"
"Kan satu kantor, kok nanya aku?"
"Heheheh, tunangannya udah kenal?"
"Udah, Mira namanya."
Setelah mendengar jawabanku, dia diam. Apa dia pikir aku akan kepo sama dia? Hellowww.
__ADS_1
"Udah akh, abang pergi sono, kantornya kan jauh, saya adukan ke bos nya ntar, pagi-pagi ngelayap dulu makanya telat."
Aku meninggalkan Andrian tanpa mendengar bantahannya lagi. Aku takut nanti tante pirang melihat, di kira aku rayu-rayu brondongnya.
Aku duduk di kursiku. Aku langsung bersiap-siap untuk bekerja.
"Kamu sakit?" Lia menggeser kursinya ke dekatku.
"Nggak!" jawabku sambil meraba-raba muka.
"Kamu pucet, bengkak lagi, kamu nggak mekap seperti biasa?"
"Nggak, aku telat dari rumah, nggak sempat," jawabku sambil merogoh tas kecil di tas. Aku mengambil bedak dan menyapukannya di wajah.
"Aku nonton trus ngelayap tadi malam. Jadinya kurang tidur ples kecapean, makanya pucet sama bengkak," lanjutku berbohong.
Lia tidak melanjutkan basa - basi lagi.
Aku juga berusaha untuk menjadi manusia amnesia. Aku ingin lupa pada apa yang aku lihat tadi malam.
Tring...
Tring...
Tring...
Bunyi notif bersahut-sahutan.
Aku melihat ponsel dan terpampang nyata nama Jansen P sebagai pengirim pesan.
Aku membiarkannya sebentar sebelum kemudian membacanya.
Jansen P:
'Pagi Sayang!'
'Udah di kantor?'
'Tadi malam nginep di rumah temen kamu itu?'
Kau kambing berbulu domba, Busukmu sudah aku tahu. Tidak usah sok perhatian.
Kalimat itu aku ucapkan dalam hati tanpa berani mengetiknya di kolom pesanku.
Me:
'Udah di kantor.'
'Tadi malam pulang ke rumah, cuma bentar disana.'
Baiklah Jansen. Mari kita bersandiwara.
__ADS_1