MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
136. A VERY HAPPY ENDING


__ADS_3

~AYU POV-


Menikah dengan orang yang kamu cintai dan mencintaimu adalah impian semua orang tak terkecuali diriku.


Saat aku merasa sudah di atas angin karena impian itu serasa sudah di depan mata, saat itu juga aku jatuh dan terasa sangat sakit.


Aku sempat berpikir kapan aku akan merasakan cinta yang seperti yang ada di drama kesukaanku atau di novel-novel romance yang sesekali ku baca.


"Nasib loe nggak semulus gua deh, Yu. Kemarin waktu SMA kisah loe tragis bangat bahkan harus kandas tanpa di mulai. Sekarang, cinta loe kandas karena orang ketiga."


Sahabatku Pian pernah mengatakan itu padaku saat ku tahu bahwa Jansen ternyata punya calon tunangan.


"Ck, bukan karena orang ketiga bego, aku orang ketiganya. Kan mereka udah di jodohin sebelum si kampret Jansen jadi pacarku," jawabku waktu itu dengan sangat kesal karena udah di tipu Jansen.


"Loe selalu sial karena memilih orang yang salah. Dulu saat sekolah, loe yang butek sok-sokan jatuh cinta sama primadona sekolah. Hasilnya? Jadi bulan-bulanan siswa kan loe selama tiga tahun."


Mau kesal karena dia bilang aku butek tapi kenyataannya memang benar.


"Sekarang, loe malah mau pacaran sama direktur sementara loe anak tukang warung. Mimpi loe kegedean."


Kutabok sekali pundaknya karena bilang aku anak tukang warung. Salah njir, bapakku punya toko kelontong. Bukan warung lagi. Udah grosiran.


Padahal bapakku nggak miskin-miskin amat, empat lima belas lah sama keluarga Jansen. Tapi syedep bangat omongan maknya Jansen sama aku.


Saat aku memutuskan untuk mencari pacar baru dan cari yang usaha bapaknya selevel dengan bapakku atau paling tidak beda-beda satu tingkatlah. Tiba-tiba si ganteng Jansen datang mengemis cintaku dan minta berjuang bersama. Karena aku kasihan lihat muka dia yang hampir gila karena aku putuskan, akhirnya aku terima juga ajakannya.


"Jansen katanya bakal gila bahkan mati kalo nggak sama aku, jadi aku terima aja ajakannya. Nggak mau jadi penyebab seseorang gila karena sangat mencintai aku."


Alhasil setelah mengucapkan itu pada Pian, kepalaku hampir benjol karena di jitak sama dia.


"Bilang aja loe juga bucin, monyet!" ucapnya kesal.


Beberapa bulan menjadi calon mantu durhaka, karena menjadi penyebab anak kesayangan menjadi pembangkang pada orang tua, akhirnya aku di terima dengan terpaksa dan setengah hati oleh keluarga Jansen terutama maknya.


"Sikat aja! Loe kan kawin sama si Jansen bukan sama maknya!" Hasutan Pian dan Ririn akhirnya berbuah manis dengan pernikahan mewah yang di biayai sembilan puluh persen oleh mertuaku yang kaya raya.


"Buset dah, nggak sia-sia loe melet si Jansen. Otomatis jadi sultan loe yah sekarang, segan gua lama-lama sama loe." Pian bergurau di pelaminan saat menyalami kami. Jansen yang mendengarnya hanya terkekeh pelan, sementara aku, aku menepuk dada dengan sombongnya.


"Dia adikku dia kakakku dia temanku, jangan sekali-sekali loe bikin dia nangis. Jangan bikin dia kecewa. Kalau sampai dia menderita karena loe, gua sendiri yang akan menghabisi loe. Ingat, jangan selingkuh!" Pesan Pian pada Jansen yang di angguki Jansen dengan pasti dan yakin. Aku memeluk Pian dengan perasaan terharu. Bahkan abangku tidak sampai berkata begitu pada Jansen.


Bukan karena nggak sayang yah, cuma karena udah sangat percaya jadi nggak perlu ancam-ancam kayak si Pian.


"Kamu tenang aja dan percaya padaku. Aku akan berusaha mati-matian membahagiakan temanmu. Pegang janjiku."

__ADS_1


Jawaban Jansen terbukti sekarang. Dia sedang berusaha mati-matian memanjat pohon mangga di depan rumah Pian demi mewujudkan keinginanku yang lagi hamil muda.


"Bukan yang itu, Beb. Sebelahnya lagi!" Aku berteriak kesal sambil mendongak menatap Jansen yang gemetaran di atas pohon. Tangannya di panjangkan ke arah buah mangga yang besar yang barusan aku tunjuk.


"Yang ini?"


"Iya!"


"Ada lagi?" tanyanya sebelum dia turun. Dia pasti takut kejadian sepuluh menit lalu terulang. Aku menyuruhnya naik lagi karena aku melihat ada buah yang memanggil-manggilku untuk di makan.


"Nggak ada lagi, kamu turun aja!"


Sebagai ucapan terima kasihku, aku menunggunya sampai dia turun dan menepuk-nepuk punggungnya yang di tempeli beberapa semut dan juga remahan daun kering.


"Makasih, Beb!" ucapku saat dia mengambil kresek yang ku pegang sedari tadi, buah hasil panjatan pertamanya.


Aku tersipu ketika dia mengusap kepalaku sebagai balasan.


Entah kenapa, sejak aku hamil, rasanya aku semakin jatuh cinta padanya. Tak ingin dia jauh dan aku bisa saja merasakan rindu yang sangat dalam padanya di siang hari walau pagi harinya sudah ketemu dan nanti sore hari akan ketemu lagi.


Sempat terpikir untuk menerima tawaran mertua untuk bekerja satu kantor dengan Jansen. Tapi aku takut, aku tidak bekerja maksimal tapi malahan menempeli Jansen bahkan meminta yang aneh-aneh. 🤭🤭


Sesampai di rumah Bapak. Kami sudah di sambut Ibu dengan sambal rujak yang sudah di racik.


"Kenapa lama sekali?" tanya ibu.


"Kalo mau di bikin rujak yang penting kan mentah Yu. Dasar kamu aja kayaknya banyak mau," Ibu mengomel karena sudah tau bagaimana aku yang semakin menjadi setelah hamil.


"Nggak papa, Bu. Jan nggak papa."


"Jangan terlalu di manjain Jan!"


Jansen hanya tersenyum menanggapi omelan ibu.


*****


Kehidupan rumah tanggaku sama seperti punya orang lain. Ada saatnya aku menangis karena sedih setelah bertengkar dengan Jansen.


Kadang aku juga mendiami Jansen menunggunya merayuku karena aku merajuk akan suatu hal yang sebenarnya salahku.


"Makasih Papa!" ucapku menirukan suara anak balita saat Jansen memberikan gelas berisi susu padaku.


Jika malam seperti ini, itu adalah tugasnya.

__ADS_1


"Cepat habiskan selagi hangat!" ucapnya mencium kepalaku


Usia kehamilanku sudah tujuh bulan, beberapa hari lalu sudah buat acara tujuh bulanan di rumah ibu dan rumah mama.


"Gimana hari ini di kantor?"


"Kayak biasa cuma karena hamil udah makin besar, aku sedikit lambat dari orang lain."


"Belum mau berhenti? Aku bisa telpon bos mu biar kamu bisa kerja disana lagi nanti setelah lahiran."


"Nggak, Jangan telepon. Aku mau kayak orang lain. Kerja sampai mai hari H. Biar nanti anakku pekerja keras kayak mamanya."


"Anak kita, Sayang!"


Jansen mengingatkanku untuk kesekian kalinya karena aku selalu mengatakan anakku.


Dulu dia masih santai aja, sekarang udah langsung menunjukkan wajah kesal saat aku bilang anakku.


Kadang, hal-hal sepele seperti itu yang memicu pertengkaran kami. Kadang aku mikir itu biasa aja, tapi dia mikir sebaliknya.


"Kita bikinnya sama-sama, berarti anak kita dong! Kalau tidak ada aku, ya nggak mungkin ada dia."


"Iya, iya. Anak kita. Salah dikit aja nggak boleh ya ampun."


Aku malah mengomel membalas Jansen.


"Papa kamu tukang marah-marah sayang, masa gitu aja marah, ya kan?" Aku bicara pada bayiku di dalam perut.


Jansen mendekat dan mencium perutku.


"Papa nggak marah dong! Papa mana mungkin marah sama anak kesayangan papa."


Bayi kami langsung joget-joget dong di dalam perutku.


"Dedek bayi lagi joget ya? Mau papa temani nggak?"


Tangannya bergerak cepat mengelus-elus perutku dan menciuminya.


"Apa sayang? Papa nggak denger!" ucapnya seraya menempelkan telinga ke perutku.


"Bilangin mama dulu sayang!"


Ck, banyak alasan. Kalau mau jenguk ya jenguk aja. Pake banyak pembukaan.

__ADS_1


"Ma, papa boleh jenguk, nggak?" ucapnya menirukan suara bayi.


"Yeee, boleh sayang. Tungguin papa yah!"


__ADS_2