
Pertengkaran pertama dalam rumah tangga sejoli yang baru berumur tiga hari.
Hal yang lumrah sebenarnya, tapi masa dua hari sudah langsung bertengkar?
Bukan pertengkaran yang adu mulut sambil jotos-jotosan atau adu parang maupun panci dan peralatan lainnya.
"Serius kamu masih marah, Beb?" Ayu bertanya dengan bibir berkedut menahan tawa. Sungguh lucu rasanya, hanya karena tiga buah surat cinta Ayu di masa sekolah, pria itu ngambek dn tidur memunggungi Ayu.
"Surat cinta jaman sekolah kan hal yang biasa. Bahkan orang lain punya lebih banyak dari aku," ujar Ayu lagi seraya berusaha menarik pundak suaminya supaya menghadapnya.
Uh, ternyata dia berat juga, aku bahkan tidak bisa mengubah posisinya, batin Ayu karena Jansen tidak mengubah posisinya.
"Aku rasa kamu juga punya surat cinta kayak gitu, apalagi kamu duluan SMA dari aku. Beda jauh gap nya. Pasti masih lebih kuno jaman kamu dari aku. Mau bilang ayo ketemu malam minggu nanti aja pasti melalui surat. Kamu punya, kan?" Ayu tetap mengajak ngobrol suaminya yang sedang ngambek.
"Nggak! Aku nggak punya. Surat kayak gitu masa di simpan. Kalau disimpan berarti memang sangat berarti." Jansen berbicara tanpa melihat istrinya.
"Kamu nyimpan surat kamu yang sama Andrian segitu lama. Hampir delapan tahun, Yang! Gimana kalo aku nggak nemu itu surat hari ini, pasti sampai sepuluh tahun ke depan bahkan lebih kamu masih tetap nyimpan surat itu. Kayaknya Andrian memang sangat berharga buat kamu. Mana ada nama panggilannya lagi. Aku suami kamu, tapi aku nggak punya nama panggilan kesayangan."
Jansen mengoceh panjang lebar. Dan malah di tanggapi decakan oleh Ayu.
"Ck, aku kan panggil kamu Beb, Bebeb, Bebi , kurang apa lagi coba panggilan sayang aku?"
"Itu panggilan biasa, Yang. Bukan panggilan sayang. Ya kali kamu manggil nama aku, nggak sopan!" Disaat hati masih dongkol, bisa-bisanya dia mengingat kesopanan. Dasar Jansen.
"Terus, mau panggilan sayang yang gimana? Mau di panggil Mas?" tanya Ayu.
Dalam hati sudah mulai menggerutu. 'Dasar tua tapi kekanakan. Itu aja di perkarain!'
"Mas itu bukan panggilan kesayangan, Yang!"
Nah kan? Sebenarnya maunya apa sih?
"Janjan?" ujar Ayu sambil mencolek-colek lengan Jansen.
"Di rumah kamu kan di panggil Jan, khusus aku, aku akan panggil kamu Janjan, oke?"
"Apaan Janjan. Ntar orang dengernya Jajan," protes Jansen tapi sudut bibirnya mulai bergerak tipis.
__ADS_1
"Kalau nggak mau Janjan, Sensen juga bisa!" Usul yang sungguh tidak mengenakkan.
"Panggil mas Janjan aja! Kamu kan panggilannya Yuyu. Cocok la Janjan dan Yuyu!"
Tetiba suara gelak tawa menggema di kamar itu. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Ayu?
Janjan? panggilan apa itu?
Udah bagus Jansen, malah di ubah jadi Janjan. Emang, biasanya orang yang lagi cemburu itu, pikirannya rusak sebelah.
"Aduh, perutku sakit," ujar Ayu usai menghentikan tawanya.
"Baiklah, mas Janjan," Ayu terkekeh lagi bahkan sebelum mengucapkan kalimat yang sudah menggantung di lidahnya.
"Oke mas Janjan. Maafkan istrimu ini ya karena masih menyimpan surat cinta untuk Andrian a.k.a Aan sampai hari ini. Bukan bermaksud menyimpan biar jadi kenang-kenangan. Tapi karena aku sudah lupa, itu masih ada atau tidak."
Ayu berusaha menahan mulutnya supaya tidak terkikik saat mengatakan kalimat panjang itu.
Jansen berbalik dan menatap Ayu sejenak. Lalu dia duduk dari posisi baringan menyamping.
"Kan kamu yang pegang tadi, kamu buang kemana?" jawab Ayu.
"Oh!" Jansen menjawab singkat dan segera menunduk ke arah kolong kasur.
Detik berikutnya dia sudah duduk bersila dengan kertas yang sudah kusut karena di remas.
"Ayo kita bakar!" ujar Jansen seraya membuka surat itu kembali dan membaca isinya yang sangat mengesalkan.
Dari tiga surat itu, Jansen dapat menyimpulkan bahwa istrinya ini dulu sangat tergila-gila pada Andrian.
Bahkan setiap surat selalu ada lukisan love dan di warnai merah. Ada nama Yuyu dan Aan di dalam love itu.
Ayu juga mengatakan bahwa Aan adalah semangatnya untuk datang setiap hari ke sekolah. Tidak bisa tidur di malam hari sebelum menyebutkan nama Aan sebanyak tiga kali.
Disalah satu surat, Ayu bahkan menuliskan lirik lagu romantis yang sangat terkenal dulu.
Paling kesalnya, Ayu menuliskan bahwa di dunia ini, tidak ada laki-laki ganteng selain Aan di matanya.
__ADS_1
Sungguh aneh, saat pertama kali membacanya, Jansen sudah kesal. Malah di baca ulang lagi, tingkat kedua dari kesal apaan sih ges?
"Ada yang lain nggak pemberian dari Andrian?" tanya Jansen serius.
"Nggak! Kan udah kamu buang waktu itu, gantungan tas yang dia kasih!" Ayu mengingat saat Jansen begitu saja mengambil benda itu dari tasnya dan segera membuangnya di jalanan.
"Sampai hari ini, kamu belum ganti. Padahal janjinya waktu itu akan di ganti!" Kini gantian Ayu yang merengek kesal.
Sebenarnya Ayu sudah pernah menceritakan dia pernah suka pada Andrian saat SMA, hal itulah yang kadang-kadang membuat Jansen was-was pada Andrian. Apalagi setelah Ayu bekerja dan belajar memoles wajahnya membuat dia lebih bersinar dan semakin cantik.
"Ayo ke belakang! Kita bakar sama-sama surat ini. Surat kenanganmu ini. Pasti si Andrian ini cinta pertamamu kan? Ck,"
Bahkan sebelum Ayu menjawab, Jansen sudah berdecak.
"Iya, tapi pacar pertamaku itu kamu, aku nggak pernah pacaran sebelumnya. Tiba-tiba pacaran sama kamu dan langsung nikah sama kamu. Padahal aku juga pengen rasain gimana pacaran sama yang lain. Minimal tiga lah. Untuk cari pengalaman dan sebagai perbandingan." Ayu sedang menghidupkan api yang sempat padam tadi.
"Wah, jadi kamu nyesel karena sama aku tanpa mencoba pacaran sama yang lain minimal tiga?" Wajah Jansen sudah mulai tidak enak di lihat.
"Ya nggak lah. Mana mungkin aku nyesel nikah sama orang yang aku bucini," Ayu melipat bibir ke dalam usai berucap demikian.
"Banyak cakap! Ayo!" Wajah yang mengetat tadi tiba-tiba berubah menjadi sangat berseri. Sebelah tangannya merangkul pundak istrinya dan mereka berjalan ke luar kar bersama.
Tujuannya halaman belakang, ada tanah kosong yang biasa ibu pakai untuk membakar daun-daun kering tang berasal dari beberapa pohon di halaman depan dan samping.
...******...
"Jadi benar, kamu bucin sama aku, Yang?" tanya Jansen pada Ayu yang ada di pelukannya.
Ini sudah larut dan hampir tengah malam. Keduanya sudah berbaring di atas ranjang Ayu.
"Ck, pertanyaan apa sih itu! Nggak usah di bahas!" balas Ayu mencebikkan bibirnya.
"Jawab dong! Selama ini kamu paling susah bilang i love you sama aku. Dua tahun lebih bahkan hampir tiga tahun kita pacaran, bisa hitung jari kamu bilang i love you sama aku."
Akhirnya, malam itu ada perdebatan kedua kalinya dengan topik tang baru. Dan berujung kekalahan pada Ayu.
"Baiklah suamiku, pacar pertamaku dan bucinan ku. I love you forever till the end of my life."
__ADS_1