MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
Aku Pulang


__ADS_3

Jerat Cinta Tuan Muda Bagian 45


Rate 18+


Oleh Sept


Usai mendapat telpon dari Dewa, suaminya. Tika pun berjalan menuju kamar kosong yang tidak terpakai. Di sana ia mencari koper besar. Mungkin tidak akan cukup untuk baju-baju anak mereka. Tapi setidaknya akan muat barang-barang yang penting saja.


Sambil menunggu kedatangan Dewa, Tika mulai memasukkan beberapa pakaian milik Ciki, Cika dan Lion. Sembari berkemas ia menatap wajah satu persatu anaknya yang baru saja terlelap. Yang paling kecil bahkan masih menyedot empeng.


Tika menghela napas panjang, apa mungkin ini memang saatnya ia pulang? Sebenarnya rindu juga Tika selama ini dengan tanah air. Lima tahun hidup di negara asing. Tanpa sanak saudara, hanya Dewa dan beberapa tahun sekali Tante Mira berkunjung.


Sedangkan mama mertuannya, pertemuan terakhir adalah saat ia hamil pertama dulu. Setelah itu tidak ada saling berkabar apapun. Dewa juga tidak mau membahasnya, mungkin menjaga perasaan Tika.


Padahal Tika tahu, beberapa kali ia mendengar Dewa telpon tante Mira untuk menanyakan keadaan sang mama. Andai Tika diajak pulang dari dulu juga tak menolak, tapi sepertinya Dewa yang enggan. Selama mamanya menutup pintu rumahnya untuk Tika, maka ia tidak akan menginjakkan kakinya di rumah itu.


***


"Tik ... Tika! Sayang!" Dewa mencari istrinya yang tidak ada di dalam kamar. Anak-anak masih tidur, dan beberapa koper sudah tertata rapi. Lalu ke mana Tika?


"Sudah pulang?" sapa Tika yang tiba-tiba muncul dari pintu samping. Rupanya ia dari halaman samping rumah.


"Dari mana?"


"Dari Rumah Mrs. Smith."


"Ngapain?" Dewa heran, mengapa Tika dari rumah tetangga sebelah rumah.


"Aku kasikan kelinci sama hamster ke mereka. Aku rasa nggak bisa membawanya."


"Lah ... Itu punya Ciki, hadiah ulang tahun bukan kemarin kan? Kalau anaknya nyari gimana?"


"Nggak apa-apa, udah nggak diajak main. Anak tiga ke Bandara, ditambah hewan peliharaan. Tolong ... aku nggak bisa."


Tika kemudian pergi ke dapur dan mencuci tangannya.


"Hem ... aku udah pesen tiket. Mereka kok belum bangun?"


"Memangnya jam berapa?"


"Dua jam lagi."


"Astaga!" Tika melotot ke arah suaminya. Mendadak sekali, mana memandikan tiga anak itu penuh drama sekali.

__ADS_1


"Kan tadi aku telpon, bilangnya sekarang." Dewa ngeles, nggak mau disalahkan.


"Tapi nggak mepet banget."


Tika pun buru-buru membangunkan anak mereka. Baru Ciki yang bangun, giliran si Cika, anak tiga tahun itu rewel karena masih ngantuk. Untung saja Lion tidak ikut menangis. Karena dalam gendongan sang papa.


Setelah melewati drama panjang, satu jam kemudian. Mereka berlima siap menuju Bandara. Saat di dalam mobil, Tika baru sempat bertanya. Alasan mereka pulang buru-buru.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Tika yang penasaran alasan detailnya.


"Tante Mira."


"Kenapa tante?" Tika mengeryitkan dahi, ia kira terjadi sesuatu pada sang mama mertua. Eh kok malah tante Mira.


"Lusa tante nikah."


"Serius?"


"Hem."


"Syukulah."


"Kamu tahu Tika?" tanya Dewa sembari mengengam tangan Tika, sedangkan tangan satunya sibuk memegang kemudi.


"Tante nikah sama pacarnya dulu. Mereka baru bertemu lagi, tapi dengan keadaan yang jauh berbeda. Pacar tante Mira udah jadi duda."


"Oh, terus?"


"Selain duda, juga sudah memiliki anak. Lucu banget. Yang bakal jadi anak tiri tante Mira, usianya sama kaya kamu, Tik. Nggak beda jauh."


"Kok tahu banget sih?" Tika curiga.


"Tante yang cerita, dan dia ngancam awas kalau Kita nggak datang di acara spesial tante."


"Oh ... Terus mama bagaimana?"


Dewa seketika langsung terdiam. Melihat hal itu, Tika ikut terdiam. Dia menduga, mungkin keadaan tetap sama. Tidak ada yang berubah. Semua masih seperti semula, tidak ada restu untuk pernikahan mereka.


***


INDONESIA


Marriott International Hotel, Jakarta.

__ADS_1


Dua balita sudah terbangun. Mereka sedang menikmati camilan yang tadi dipesan sang papa. Sedangkan satu bayi masih terlelap di atas ranjang. Lion masih tidur dengan nyenyak.


"Habis makan, kalian mandi ya. Bentar lagi kita ke pesta pernikahan Oma Mira."


Tika membelai salah satu rambut putrinya. Namun, tatapan mata Tika terlihat kosong. Entah apa yang ia pikirkan. Jelas sekali, ia sedang menyimpan kegelisahan dalam hatinya saat ini.


Sesaat kemudian, Dewa terlihat membantu Tika menyiapkan putri dan putra mereka. Ciki dan Cika sudah manis dan cantik dengan rok tutu dan bando ala-ala princess di kepala mereka. Sedangkan Lion, yang juga tak kalah mengemaskan, jagoan Dewa tersebut terlihat nyaman saat di baringkan di stroller.


Karena semua sudah siap, mereka pun bersiap ke gedung pernikahan. Di mana tante Mira akan melangsungkan pernikahan.


"Jangan lari-lari ya, pegangan papa!" seru Tika pada putri tertuanya. Terlalu hiper active, Ciki kadang tak terkendali. Lari ke sana ke mari tanpa kenal takut.


Ketika mereka sudah sampai di tempat acara. Dan akan memasuki tempat yang private tersebut, beberapa orang memeriksa dan menanyakan undangan.


Setelah tahu siapa yang datang, salah satu penjaga langsung mempersilahkan keluarga kecil Dewa tersebut untuk langsung masuk.


Begitu masuk, seperti dugaan Tika. Ciki, putri pertama mereka langsung melepas tangan papanya. Anak kecil itu malah berjalan ke sana ke mari. Matanya berbinar-binar menatap patung es yang besar dan cantik.


Tidak cukup di situ, asik melihat-lihat hal yang baru. Ciki sampai tidak hati-hati. Dasar anak-anak, kalau nggak lari nggak asik. Sudah dipanggil sang mama, tapi anak itu sama sekali tidak mendengar. Malah terus berlari, hingga menabrak seseorang. Membuat minuman yang dipegang orang itu jadi tumpah.


"Ya ampun ... astaga, kotor deh gaun aku. Anak siapa sih? Kok bisa liar begini!" gerutu tamu undangan yang gaunnya jadi kotor karena Ciki menabraknya.


Sedangkan tak jauh dari sana, Dewa dan Tika sedang mencari anak mereka yang lepas. Ampun deh, gesit banget tuh boca. Susah dipegang, seperti belut.


"Di sana ada nggak?" tanya Dewa.


"Nggak ada." Tika menatap sekeliling, dari jauh ia malah melihat mama mertua yang berjalan ke arah kerumunan di sebelah patung es yang menjulang tinggi.


"Mungkin di sana," ucap Tika lirih.


Dewa pun menoleh, ia mengikuti pandangan Tika, dilihatnya sang mama. Sosok wanita yang lama tidak ia temui beberapa tahun ini.


Dewa menelan ludah, mau menemui mamanya. Tapi, hati kecilnya meragu.


Di dalam kerumunan, mama mau melihat, ada kekacauan apa di pernikahan sang adik. Mama mendukung pernikahan tante Mira karena pacarnya yang dulu, kini sudah jadi duda kaya. Coba kalau masih miskin, mana mau mama datang sekedar mengucapkan selamat.


Saat ia menghadiri pernikahan sang adik. Tiba-tiba perhatian mama teralihkan.


"Anak siapa ini?"


Mama menatap Ciki penuh selidik, ada ikatan yang tidak nampak. Dada mama tiba-tiba jadi sesak begitu saja. Sorot mata itu, dan wajah Cika yang memang lebih mirip sang Papa, membuat mama Dewa menerka-nerka.


"Tidak mungkin!" batin Mama sambil memegangi dadanya. Bersambung.

__ADS_1


Instagram : Sept_September2020


__ADS_2