MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
64. ANDRIAN HAREFA


__ADS_3

    Jangan panggil aku Andrian si primadona jika tidak bisa mengambil hati Ayu.


Aku menikmati petualanganku dengan gadis-gadis cantik dan kaya tetapi rasaku hambar. Ini hanya petualangan rasa baru dan kenikmatan baru tetapi tidak dengan perasaan.


Rasa cinta pada Nuri juga sudah semakin hambar tetapi karena tanggung jawab aku melanjutkannya walau dengan kepura-puraan. Aku selalu mengalihkan pembicaraan ketika Nuri berbicara tentang masa depan dan pernikahan.


    Aku yang sudah berniat mendapatkan Ayu, entah kenapa selalu saja ketimpa sial. Aku tak menyangka kali ini aku akan bertemu dengan Ayu lagi dan terjebak bersama di lampu merah.


    "Hai kak Gantari, Pagi Bang Andrian," sapanya dengan menampakkan seluruh giginya. Gadis yang bersamaku bukanlah Gantari dan aku tahu jelas bahwa Ayu mengetahuinya. Dengan polosnya, Fiqih gadis yang sedang kubawa mengoreksi.


    "Huhh,, lain lagi yah?" ucapnya sengaja dengan mimik terkejut dan langsung tancap gas saat lampu berubah hijau. Aku ingin mengejarnya dan ingin tahu dia pergi kemana. Aku tahu dia sudah bekerja tapi tidak tahu dimana. Tapi melihat dari tampilannya, sepertinya bukan pekerjaan kaleng-kaleng. Dia merias diri dengan baik dan Ayu semakin cantik.


    "Stop bentar, Yang!" Aku tidak bisa membantah karena aku sudah mendapat service yang luar biasa darinya.


    "Siapa tadi?" tanyanya menyelidik.


    "Junior waktu SMA," jawabku jujur dan berharap dia tidak membahas soal Gantari.


    "Junior apa mantan? Trus tadi dia panggil aku siapa? Gantari? Siapa Gantari?"


Sepertinya aku kena kutukan si Ayu. Aku selalu sial belakangan ini apalagi jika bertemu  Ayu. Mulutnya yang ember tidak bisa di tambal. Selalu saja bocor tak tau tempat.


    "Teman SMA ku juga, dulu dekat sama dia, mungkin dia kira itu kamu, karena sedikit mirip," jawabku berbohong dan terimakasih karena dia percaya. Lalu kami bergegas lagi ke tempat kerjanya.


    "Jemput ntar sore yah, Yang! Aku kasih kejutan ntar malam," ucapnya dengan genit dan aku suka. Jiwa petualanganku meronta-ronta dan berharap segera malam.


Saat akan pergi, aku seperti melihat sepeda motor Ayu, tapi karena tidak yakin aku hanya menggelang saja.

__ADS_1


    Fiqih gadis dewasa yang baru ku kenal beberapa hari lalu, Pekerjaannya bagus dan dia tidak pelit.


Selama beberapa hari bersamanya, aku tidak mengeluarkan uang. Yang ku keluarkan cuma satu, yaitu -kalian sudah tahu pasti apa itu-.


    Aku menikmati hari bersama Fiqih dan menyampingkan Nuri, Gantari dan gadis lainnya.


Aku sadar, aku benar-benar brengsek dan aku berniat berhenti jika sudah mendapatkan Ayu.


    Setiba di kantor, aku disambut dengan wajah tak sedap dari Wulan,


    "Pesanku nggak di balas," ucapnya manja dan sedikit merajuk. Aku tersenyum dan mengecup bibirnya untuk menenangkan. Pagi ini aku menyadari satu hal lagi, menjadi primadona ternyata bukan hanya senang, tapi juga kewalahan seperti sekarang.


    Ada beberapa gadis di kantor ini yang sudah aku kuasai, dari antar mereka lebih banyak yang menganggap itu hanya cinta satu malam hanya untuk pelampiasan. Tapi beda dengan Wulan, dia berharap lebih. Aku belum bisa kasih karena jelas aku tidak ada perasaan untuknya.


    *****


    Gadis yang luar biasa, sepertinya dia seorang wanita karir. Aku bisa lihat dari teganya pandangannya dan juga wibawa bossy yang melekat padanya. Dia berjalan mendekat ke arah CS dan bertanya,


    "Jansen ada?"


Dari panggilannya, sepertinya mereka dekat. Bukan rekan kerja karena dia hanya memanggil nama.


    "Pak Jansen tidak masuk beberapa hari ini, Bu. Ada pesan?"


    "Oh, hari ini belum masuk juga yah, aku kira sudah karena dia tidak ada di rumah."


Rumah? dia mencari pak Jansen ke rumahnya? siapa gadis ini?

__ADS_1


    "Mungkin sebentar lagi dia tiba disini, siapa tau ada urusan makanya terlambat, sampaikan pesanku yah


    bahwa Tunangannya datang mencari kesini."


Dhuarrrr


Tunangan?


Terus Ayu?


Apa dia dibohongi pak Jansen?


Aku menunduk dan tersenyum samar. Sepertinya aku punya senjata untuk mendapatkan Ayu.


*****


    Pucuk di cinta ulampun tiba.


Saat aku menunggu Fiqih, aku melihat Ayu keluar dan menuju ke parkiran.


Ayu kerja disini? berarti tadi pagi aku tidak salah mengenali sepeda motornya?


Wah, aku bisa menyerangnya disini, batinku. Aku menyapanya dan dia seperti terkejut. Apa dia tidak menyangka aku ada disini? Jika dia bekerja disini, sudah pasti dia kenal Fiqih kan?


    Dengan mulut tajamnya  dia malah memperingatiku tentang kelakuanku. Dia seperti seorang ibu yang menasehati anaknya. Sedikitnya aku kena pukul dengan kata-katanya tetapi aku berpura-pura tidak terpengaruh saja.


Akhirnya aku membungkam mulutnya dengan senjata yang ku dapat hari ini.

__ADS_1


    "Tunangan Jansen datang kekantor hari ini."


__ADS_2