MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
72. MIRA LESMANA


__ADS_3

Bagai disambar petir, aku tak menyangka akan mendengar kalimat penolakan dari Jansen malam ini. Ayu Apriani, aku marah padamu. Semua ini karena kamu. Jika saja kamu tidak magang di kantor Jansen, Jansen tidak akan jatuh cinta padamu. Perjodohan kami akan berlanjut dan kami akan segera bertunangan.


Orang tua ku belum memberi respon karena mereka kaget dengan penolakan yang tiba-tiba. Setahu mereka, selama ini baik-baik saja. Jansen meminta waktu untuk lebih mengenal baik dan mereka menyanggupi. Ternyata keputusan menunda dengan alasan memberi waktu pada Jansen adalah keputusan yang salah. Aku menyesal karena setuju. Jika saja aku ngotot bertunangan dulu, maka tidak akan ada kesempatan bagi Ayu.


Ayu, mulai malam ini, aku membencimu.


"Apa maksudnya ini, Jeng?" Mamaku yang sudah tersadar bertanya dengan intonasi yang tinggi.


"Maaf, Jeng. Kami juga baru tahu hari ini. Sebelumnya Jansen belum mengatakan apa-apa."


Mimik penyesalan tampak di wajah mamanya Jansen.


Apa-apaan Jansen?


Tidak mungkin orang tuanya berbohong, kan?


"Apa alasan kamu Jansen?" tanya Daddyku datar.


"Maaf, Om. Tapi saya rasa tidak ada kemistri di antar kami. Saya sudah berusaha, tapi tidak bisa. Saya tidak ingin hubungan yang kami mulai nanti menjadi bumerang bagi kami." Penjelasan Jansen sungguh masuk akal, tapi bagi aku yang sudah tahu apa penyebabnya, aku kira itu hanya alasan yang di buat-buat saja.


"Bukankah kamu yang meminta waktu untuk mengenal Mira lebih jauh guna mendalami perasaanmu?" tanya Daddyku lagi.


"Benar, Om. Tapi, maaf, setelah sejauh ini saya mencoba, saya menolak perjodohan ini. Maaf, Om."


"Kenapa baru sekarang? Apa kamu yakin ini karena kamu tidak punya perasaan pada Mira atau karena 'sesuatu' hal yang tidak mau kamu jelaskan di sini?" Daddyku menebak dengan sangat tepat sasaran.


Aku melihat Jansen yang tetap tenang berbeda dengan orang tuanya yang nampak kaget dengan tebakan daddyku.

__ADS_1


Apa ini? Apa sebenarnya mereka tahu? Apa mereka menerima Ayu?


"Mohon maaf, Om, atas keputusan saya." Final dari Jansen.


"Hartawan, apa tidak ada yang bisa kamu jelaskan?" Daddyku bertanya datar pada papanya Jansen.


"Maaf Nyu, sebenarnya saat Jansen meminta kami untuk mengundang kalian malam ini, kami bertanya untuk apa. Dia bilang, dia sendiri yang akan mengatakannya langsung disini."


Benarkah?


Benarkah mereka belum mengetahui ini? Kenapa aku ragu yah?


"Ini penghinaan bagi kami Hartawan. Jansen, kamu telah mempermainkan perasaan anak saya. Saya bisa saja memaafkan mu tapi apa yang kamu lakukan ini akan selamanya saya ingat." Daddyku sedikit murka dan kecewa sekali.


"Ayo pulang, Sayang!" ucapnya seraya berdiri dan mengajak Mami dan aku serta adik-adikku pulang.


"Helen, aku pikir persahabatan kita yang mulai kita bangun ini akan berakhir dengan menjadi besan, tapi aku benar-benar kecewa padamu dan juga anakmu. Aku bukan pihak yang menawarkan, aku hanya setuju dengan ide yang kamu ucapkan dulu, tapi kenyataannya anakmu yang menolak. Aku kecewa padamu. Aku ingin mengutuk Jansen karena amarahku tapi itu menjadikanku tidak memiliki rasa ikhlas. Semoga anakmu bahagia setelah keputusan ini dan anakku bisa mendapat yang lebih baik dari anakmu." Walau mamiku sangat kecewa tapi masih bisa berpikir jernih. Aku salut, terimakasih karena aku lahir dari Ibu yang berhati legowo.


Kami meninggalkan keluarga itu dengan hati yang sungguh kecewa dan ingin marah, tapi tidak tau mau marah pada siapa.


Aku yang datang dengan mengendarai mobil sendiri akhirnya pulang bersama orang tuaku. Mobil akan di ambil oleh suruhan Daddy nanti.


"Maafkan mami karena dulu setuju, mami.kira Jansen orang yang baik tetapi nyatanya .... hahhh." Mami menghela napas kasar dan tidak melanjutkan penilaian terhadap Jansen.


"Tidak apa-apa Mam," aku mengusap bahu mami dari balik kursinya.


"Sayang, ...." Mami seperti ingin mengatakan sesuatu padaku tetapi seperti enggan. Aku tahu, pasti ingin menyuarakan kekhawatirannya karena prinsipku yang sebelumnya.

__ADS_1


"I'm fine Mami, akan ada yang lebih baik dari Jansen," ucapku menenangkan.


Aku yang sudah cukup dewasa ini dan sudah mengalami banyak hal dalam hidup, berusaha untuk bersikap normal dan datar saja seolah aku tidak sakit hati. Padahal jauh hari sebelum ini aku sudah sakit hati kala mengetahui kepada siapa Jansen memberikan hatinya. Semakin sakit ketika mengetahui bahwa itu gadis bar-bar yang tidak ada anggun-anggunnya bahkan seperempat pun dari yang ku miliki. Gadis itu hanya anak dari pemilik toko kelontong kecil di pasar. Rumahnya bahkan hanya seperempat luasnya di bandingkan rumah pribadiku. Tetapi dengan beraninya dia menyalipku mengambil hati Jansen.


Ayo taruhan, bahwa Ayu tidak akan di terima oleh keluarga Jansen yang kaya raya.


Mereka bukan orang-orang yang legowo atas pilihan anak-anak. Mereka pasti orang-orang masa kini yang ingin mempunyai menantu setara dengan keluarganya.


...****************...


Aku bukan gadis lemah yang langsung down begitu di skak mat sekali. Aku bisa lebih ganas jika sudah di singgung.


Selama beberapa bulan setelah kejadian itu aku membenahi diri dan berusaha tidak memutus hubungan dengan keluarga Jansen. Jika aku bertemu dimana saja, aku masih berusaha untuk bersikap ramah.


Dari beberapa kali pertemuan yang tidak di sengaja ataupun sudah ku atur dengan mama dan kakaknya Jansen, aku bisa tahu bahwa restu masih ada padaku walau mereka enggan menceritakan tentang Jansen.


Dari mata-mata sewaanku juga memberiku informasi bahwa Ayu belum di terima dan belum pernah di bawa ke rumah oleh Jansen.


Hanya saja kebalikannya, Jansen sudah seperti menjadi menantu kesayangan di rumah Ayu. Jelas yah, siapa sih yang tidak mau punya menantu kompeten di segala bidang?


Aku juga beberapa kali mengikuti kemana Jansen dan Ayu pergi melalui mata-mataku tentunya. Aku tahu bahwa mereka pernah singgah di hotel walau hanya sejam kurang lebih. Apa yang terjadi? Hanya merek yang tahu. Tapi baik aku dan kamu, pasti memikirkan hal lain, kan?


"Huh, selain miskin harta, kamu miskin moral juga ternyata," ucapku pada poto Ayu yang terpampang nyata di layar tabletku.


"Ciri-ciri gadis jaman now, segala cara dilakukan demi bisa menggaet pria kaya, ckckckck." Aku menggeleng tak habis pikir.


Semurah itu, kah?

__ADS_1


Aku ingin memberi mereka goncangan, wanita jika sudah bosan dan sudah bisa mengambil sedikit banyak uang dari prianya akan sangat mudah tersulut emosi. Aku akan membakar emosi Ayu dengan mengaku menjadi tunangan Jansen di kantornya. Jika suatu hari nanti Ayu di bawa kesini sebagai pacar, makan dia akan menjadi gadis perebut tunangan orang. Aku akan membunuh karakternya dulu baru setelah itu aku akan mengambil Jansen yang pasti di landa frustasi menghadapi gadis manja yang sedang merajuk.


"Hahahhaha, otakku memang brilian," pujiku pada diriku sendiri dengan senyum iblis yang tercipta.


__ADS_2