MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
Nirwana


__ADS_3

Bagian 34


Oleh Sept


"Dasar tidak becus! Saya nggak mau dengar. Dewa tidak boleh menikahi pelayan itu!" sentak Mama Dewa dengan mata yang menyalak pada anak buahnya. Ia sangat murka karena merasa kecolongan. Tega sekali putranya mau menikah tanpa restu darinya. Ini pasti gara-gara Tika. Pasti pelayan itu yang meracuni pikiran Dewa. Mama Dewa malah semakin benci, setelah mengetahui keduanya nekad akan menikah.


"Tapi, Nyonya. Mereka sudah tinggal bersama. Sulit sekali mengalihkan perhatian Tuan Dewa." Kris mencoba membela diri.


"Saya nggak mau dengar alasan. Hari ini kalian harus bawa Tika ke depan saya!" titah wanita paruh baya tersebut dengan nada mengancam.


Di depan pintu, Tante Mira tertegun. Ia menguping pembicaraan sang kakak dengan anak buahnya. Tidak mau Dewa mengalami nasib yang sama dengan apa yang ia alami bertahun-tahun silam. Tante Mira pun buru-buru menghubungi keponakannya.


Di tempat lain, Dewa dan Tika sudah keluar dari boutique. Akhirnya ada satu gaun yang menurut Dewa sangat cocok jika dipakai calon istrinya tersebut.


"Kita cari makan ya, aku lapar." Dewa yang kala itu sedang menyetir, melirik ke arah Tika.


"Hem." Tika sedang merapikan rambutnya, agak berantakan karena ulah Dewa barusan di ruang ganti. Pria itu mengerjai Tika. Bibir Tika sampai terasa tebal, gara-gara Dewa menciumnya dengan ganas. Tika sampai tidak berani membayangkan, nanti bila sudah menikah, akan bagaimana malam pertama mereka. Ih, Tika bergidik ngeri sendiri.


Baru mau masuk area parkir, ponsel Dewa berdering. Pria itu menatap sekilas. Namun, tidak ada keinginan untuk mengangkat panggilan telpon dari tantenya itu.


"Mengapa nggak diangkat?" Tika penasaran.


"Nanti, Kita parkir dulu."


Setelah turun dari mobil, ponsel Dewa kembali berdering.


"Mungkin penting, angkat saja, Tuan."


Dewa melirik kesal, masih saja dipanggil Tuan.


"Iya, Tante." Dewa bicara di telpon dan masih menatap ke arah Tika. Mereka berjalan masuk menuju sebuah rumah makan di tepi jalan.


"Kamu di mana?"


"Kenapa, Tan?"


"Bawa Tika jauh-jauh, sepertinya mamamu nggak akan diam saja."


"Maksud Tante?"


"Tante nggak mau kamu mengalami nasib yang sama kayak Tante. Kalau kamu tulus kepada Tika, lindungi dia. Bahaya sudah mengancam wanita itu."


"Mama nggak mungkin separah itu, Tante!" Dewa tahu mamanya tidak suka Tika, tapi mana mungkin sampai membuat Tika celaka.


"Wa! Percaya Tante. Cepatlah menikah dan lindungi Tika! Cuma itu pesan Tante."

__ADS_1


Dewa tertegun, langkah kakinya terhenti. Sampai Tika ikut mengerem kakinya.


"Terima kasih, Tante!" Dewa menutup ponselnya dan memasukkan ke dalam saku.


"Tik, masuk ke mobil."


"Apa yang terjadi?" Tika ikut cemas karena melihat kekhawatiran di wajah Dewa.


"Ikuti saja kataku!" Dewa mengengam tangan Tika, mereka pun kembali masuk ke dalam mobil.


Di dalam mobil, Dewa menelpon seseorang. Ia nampak serius ketika bicara di telpon. Tika bahkan bisa merasakan adanya aura ketegangan di sekitarnya.


"Lakukan sesuai apa yang aku perintahkan," ucap Dewa sebelum mengakhiri sambungan telponnya.


Setelah selesai berbicara di telpon, Dewa menepikan mobilnya di pinggir jalan. Sambil menatap ke arah Tika, Dewa mulai bicara dengan serius.


"Tik, kita nikah sekarang!"


Dahi Tika langsung mengkerut, mengapa mendadak. Katanya masih ada waktu. Tika rasa ada sesuatu yang terjadi.


"Mengapa dimajukan?"


"Kamu tahu Mama? Aku tidak mau mama mengambilmu lagi."


Tika menelan ludah, benar kata Dewa. Ini adalah tindakan nekad. Berani sekali ia jatuh hati pada anak majikannya. Tika sudah menduga, hal buruk akan menimpanya.


Dewa memejamkan mata, tidak ada waktu untuk berpikir. Ia tidak punya banyak waktu dengan kata tapi yang Tika ucapkan berkali-kali.


"Jangan katakan kata tapi, Tika! Apa kamu tidak yakin bahwa aku bisa membuatmu bahagia?"


Tika terdiam, bukannya tidak yakin bisa bahagia atau tidak. Jelas ia pasti bahagia, dinikahi pria yang sudah tampan dan cinta pada dirinya. Masalahnya, ia tidak yakin dengan orang tua si pria. Barangkali Tika trauma dikirim ke Hongkong.


"Katakan ya, maka sekarang Kita berangkat."


Tika terlihat berpikir, kemudian menatap mata Dewa. Dilihatnya sorot mata yang penuh harap dan nampak tulus tersebut. Dengan menghela napas dalam-dalam, Tika kemudian mengangguk pelan.


"Terima kasih!"


Dewa langsung menyalakan mesin mobilnya. Mereka pun langsung meluncur menuju sebuah tempat. Sebuah tempat yang sudah siapkan orang suruhan Dewa. Tempat di mana mereka akan mengikrarkan janji suci pernikahan.


Di sebuah masjid, dengan bangunan kubah seperti di Moscow, Rusia. Terdapat beberapa mobil mewah berjejer di halaman masjid tersebut.


Kini, Tika sedang dibantu Tante Mira mengenakan baju pengantin yang baru mereka beli. Wajah keduanya tegang, ini benar-benar seperti kawin lari. Sejak tadi Tante tidak banyak bicara, setelah dihubungi Dewa. Ia langsung datang.


"Terima kasih, Nyonya!" ucap Tika saat ia sudah siap dengan baju pengantinnya.

__ADS_1


"Panggil saja, Tante." Tante Mira menyentuh pundak Tika. Menepuknya pelan, ia tersenyum dalam hati. Andai dulu ia memiliki jiwa yang berani seperti dua orang itu. Mungkin hidupnya tidak kesepian seperti ini.


"Apa kalian sudah siap?" Dewa datang dengan setelan jas warna hitam. Ia melirik ke arah Tika yang tubuhnya tertutup badan Tante Mira.


Tante Mira mengeser posisinya sedikit, membuat Dewa bisa melihat betapa cantiknya Tika. Ya, tadi Tante Mira yang merias Tika. Semua serba dadakan.


"Ayo, Tika."


Tante Mira menuntun calon pengantin itu masuk ke dalam masjid.


***


"Saya terima nikah dan kawinnya Sartika Sarasvati binti Bambang Hidayat dengan mas kawin berupa uang 20 juta rupiah dibayar tunai."


"Bagaimana para saksi?"


Seketika kata sah menggema di dalam masjid.


Sah


Sah


Sahhhh


Tante Mira tersenyum menatap keduanya, tanpa terasa tangannya mengusap pipi. Ia terharu karena cinta bisa menembus kasta.


"Selamat, sayang!" Tante Mira memeluk Tika, kemudian memeluk Dewa.


"Terima kasih atas dukungannya, Tan!" ucap Dewa.


Wanita itu mengangguk pelan. Kemudian kembali berbicara.


"Tante ikut senang, berbahagialah kalian berdua."


Tika dan Dewa tersenyum sesaat, keduanya kemudian langsung bergegas masuk mobil.


"Tik, mama pasti sedang mencari Kita. Untuk saat ini, Kita nggak usah pulang dulu ke apartemen."


"Hem ... lalu Kita ke mana sekarang?" tanya Tika penasaran.


Dewa langsung menyeringai, sambil menyetir ia melirik ke arah Tika.


"Ayo kerjakan PR!"


WUSHHH

__ADS_1


Mobil melesat bersama angin, menuju tempat paling indah. Dewa dan Tika on the way menuju nirwana duniawi. Bersambung.


__ADS_2