MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
126. FIRST DAY OF MARRIAGE


__ADS_3

Hawa sejuk dari dari pendingin ruangan mengalahkan panas terik matahari di luar.


Membuat dua orang yang sedang tertidur pulas itu semakin pulas. Tidak peduli sudah jam berapa yang penting keinginan mata untuk tetap terpejam dan tubuh pegal tetap rebahan terpenuhi.


*Cos am yor ladi en yuar mamen *Alunan lagu legendaris yang di setting sebagai nada dering dengan volume kecil sayup-sayup terdengar. Tidak ada yang berniat menjawab panggilan hingga dering ketiga kali.


Setelah hening beberapa menit, nada dering itu terdengar lagi dan itu membuat yang punya ponsel berdecak kesal.


    "Ck, siapa sih yang nelpon dari tadi?" Matanya tetap terpejam dan tangannya meraba-raba sisi tempat tidur di atas kepalanya. Tidak ada. Dimana?


Karena tidak dapat menemukan ponsel dengan rabaan seperti biasa, akhirnya sang empunya membuka mata dan mencari keberadaan ponsel yang sedang bergetar sekaligus bernyanyi.


    "Ck..." Sekali lagi berdecak karena tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Seperti terikat.


Dia menoleh dan hampir berteriak saat mendapati ada pria tertidur di belakangnya dengan tangan yang membelit tubuhnya.


    "Kita udah nikah kemarin, Yang!" Sahut pria yang sedang terpejam itu ketika gadis itu hendak membuka mulut untuk berteriak.


    "Hmm?" Bola matanya bergulir seperti orang kebingungan dan akhirnya terkekeh garing kala sudah ingat.


    "Lupa!"


    "Ck! Jangan bilang kamu lupa juga kita ngapain tadi malam."


Hening, bahkan nada dering itu juga sudah berhenti tanpa sempat di jawab.


    "Mau olah tkp dan reka ulang biar ingat?" Ada senyum jahil di wajah pria itu dan tangannya sudah sibuk mencari spot yang tepat untuk mengingatkan.


Perlahan matanya terbuka dan mendapati wanita di depannya tersipu malu. Semburat merah menjalar di pipinya.


Pria itu mendekat dan memberikan kecupan singkat di bibir wanita itu.


    "Morning wife!" katanya pelan. Belum menyadari ini sudah jam berapa.


 Mendengar sapaan itu, Ayu meringis dan semakin tersipu. entah kenapa, masih ada rasa geli mendengar panggilan wife atau husband.


    "Siapa yang nelpon?" tanya Jansen tanpa melepas tangan. Bahkan sedang asyik menguyel-uyel bagian kesukaannya.


    "Bentar!" Ayu hendak meraih ponsel yang berada di nakas.


    "Lepas dulu, sakit!" ucapnya seraya menatap tajam Jansen.


"Sakit apa sakiiiit? Kayaknya tadi malam kamu nggak ada ngeluh sakit deh, Yang," jawabnya santai, tapi menarik tangan, membiarkan Ayu meraih ponselnya.


"Kamu mulai ngawur, Beb. Mandi sana, biar sadar!" usirnya seraya membuka ponsel sambil berbaring. Selimut di tahan di bawah ketiak. Di apit kencang jangan sampai melorot dan membangunkan singa yang sudah jinak di sampingnya.


"Loh udah jam sebelas, Beb!" ucapnya kaget saat melihat jam di ponselnya.


"Udah siang, pantes aku lapar!" ucapnya lagi.


Pria di sampingnya diam saja mengamati kelakuan gadis yang baru saja di nikahi kemarin.


Masih ada rasa tidak percaya, bahwa apa yang dia inginkan kini sudah tercapai.


"Mama, Kak Jo juga Ibu," ucapnya pelan.

__ADS_1


Tak lama dia menempelkan ponsel di telinga. Dia sedang melakukan panggilan.


"Hallo, Bu. Yuyu kesiangan, ini baru bangun. Kenapa, Bu?"


"...."


"Oh, Yuyu kira ada apa!"


"...."


"Hmm... Badan Yuyu pegel semua, Kaki nggak bisa gerak gara-gara semalam berdiri seharian. Kayaknya telapak Yuyu bengkak. Balsem ibu yang biasa namanya apa? Lupa Yuyu." Merengek seperti balita.


"...."


"Hmm.. Iya Bu. Nanti aku beli. Apa?"


"...."


"Masih tidur juga. Ya udah, Yuyu tutup ya, Mau belik makan di bawah, lapar!"


"...."


"Iya, Buuuu. Kali ini aja. Besok-besok kan pasti udah nggak pegal lagi, pasti bisa bangun pagi."


"...."


"Iyaaa, Yuyu ingat, Bu. Udah ya, jangan terlalu khawatir. Yuyu pasti ingat semua pesan Ibu. Yuyu tutup yah Bu."


Panggilan di tutup dan seketika terdengar decakan Ayu.


Ibunya mengoceh karena Ayu bangun kesiangan. Katanya kalau jadi menantu tidak bisa lagi bertingkah kayak di rumah orang tuanya. Harus bangun lebih pagi dari mertua.


Lalu menempelkan ponsel di telinga lagi.


Kali ini, ingin menelpon mertua yang panggilannya dua kali tidak terjawab.


"Awas ih, tangannyaaaa, mandi sana, aku lagi nelpon!" Ayu mendesis dengan mata melotot pada suaminya ketika dengan isengnya meraba perut di balik selimut.


"Pagi, Ma, Hallo!"


"....."


"Hehehehe, Iya, Yuyu salah lihat."


"...."


"Iya, Ma. Belum." Ayu meringis setelah mendengar ocehan mertuanya setelah dia memberitahu baru bangun dan belum sarapan.


"Nggak, ini lagi mau turun, cari apotik beli balsem pegel."


"...."


"Ya udah, nanti kami pulang. Yuyu rendem si rumah aja!"


"...."

__ADS_1


"Kenapa nggak boleh, Ma?"


Ayu menjawab dengan suara sedikit lebih tinggi dari sebelumnya. Dia kaget karena di larang pulang.


Jansen yang mendengar istrinya hampir teriak langsung membuka mata dan menghentikan gerakan tangannya.


Dia mendongak, menatap Ayu yang sedang menggigit jari telunjuk dengan raut khawatir.


"Kenapa?" tanyanya tanpa suara.


Ayu hanya menjawab dengan gelengan.


Karena ingin tahu, Jansen bangkit dari rebahan dan menggeser tubuhnya menempel pada Ayu. Dia mendekatkan telinga ke ponsel yang sedang tersambung itu.


Dia tersenyum simpul kala mendengar ocehan mamanya.


"Pokoknya jangan pulang, kalau udah yakin udah berhasil baru boleh pulang. Ingat, jangan nunda-nunda. Jangan coba-coba ngibulin Mama. Mama---"


"Iya, Ma. Makanya jangan ganggu! Udah ya, bye Ma."


Klik


Sambungan diputus oleh Jansen setelah merebut ponsel Ayu dan menjawab ocehan Mamanya.


Dia melemparkan ponsel ke nakas.


"Kamu gimana, sih? Nggak sopan bangat main matiin gitu. Ntar, kalo Mama marah gimana? Kamu yang tanggung jawab, ya!"


Ayu yang sudah di cekoki wejangan harus ini harus itu oleh ibunya, merasa khawatir karena panggilan terputus dengan tidak sopan.


Bagaimana jika mertuanya marah dan anggap Ayu tidak sopan? Ayu menoleh pada nakas dan berniat meraih ponsel untuk menelpon mertuanya lagi. Minta maaf karena panggilan di putus sepihak.


Jansen segera meraih tangan Ayu yang sudah terulur ke arah nakas.


"Ck, Mama pasti ngerti, Yang," ucapnya seraya mengambil posisi.


"Aku mau lagi!"


"Nggak! Aku lapar!" tolaknya seraya mendorong Jansen dari atas tubuhnya.


"Kita makan habis itu!" Jansen tidak mau menyerah begitu saja. Dia mempertahankan posisinya.


"Nggaaaak! badanku pegel dan tambah pegel gara-gara kamu tadi malam!" Bibirnya meruncing cemberut mengingat kejadian tadi malam.


Jansen menyuruhnya tidur dan bilang dia nggak akan nuntut apa-apa.


Nyatanya baru dua jam mata Ayu terpejam dia sudah terganggu karena Jansen berubah jadi ulat bulu dan merayapi tubuh Ayu.


Ayu tidak bisa menolak karena Jansen begitu lihainya mempengaruhinya dan membuat Ayu tidak bisa berkata-kata selain iya.


"Tapi kamu juga seneng, kan?" ucap Jansen dengan jahilnya. Dia menyingkirkan selimut yang menutupi tubuh polos mereka.


"Sekali saja, cuma bentar, habis itu kita makan!" ucapnya seraya memulai aksinya.


"Hmmm," gumam Ayu yang tidak kuasa menahan serangan Jansen.

__ADS_1


Nyatanya, 'sekali saja' dan 'sebentar saja' berubah menjadi 'sekali lagi' dan 'sebentar lagi'.


__ADS_2