
~AUTHOR POV~
****
Pria jangkung itu sedang berbaring berbantalkan paha gadisnya. Maniknya menatap langit-langit kamar kos gadisnya sementara pikirannya melayang mengingat apa yang sahabatnya katakan barusan via chatting. Dia membuka ponselnya kembali dan membaca ulang chat terakhir mereka.
"Bener juga," ucapnya pelan seperti bergumam tapi dia lupa bahwanya dia menempel pada seseorang yang berpotensi bisa mendengar gumamannya.
"Bener apanya, Yang?" tanya si gadis yang sibuk menyisir rambut pria itu dengan jemarinya.
"Yuyu, benar juga. Kita udah setahunan lebih. Harusnya aku bawa kamu ke rumah, kenalan sama Ibuku." ucap pria yang bernama Sofyan alias Pian itu.
"Kan udah pernah, ibu kamu pasti masih ingat aku, ngapaen kenalan lagi?"gadis itu bertanya seraya memberitahu.
Dulu waktu SMA dia beberapa kali ikut temannya yang sekaligus sahabat pria di pangkuannya yang bernama Ayu alias Yuyu. karena rumah Ayu dan prianya berdekatan, jadi merka main juga kesana. Apalagi mereka bertiga satu sekolah walau beda kelas.
Tentu saja, dari beberapa kali kunjungan, Orang tua Ayu maupun orang tua Pian mengenalnya. Bahkan memanggilnya sama seperti Ayu memanggilnya, Rinrin. Padahal namanya bagus, Ririn.
"Beda, Yang! Itukan masih SMA, kita masih temenan. Sekarang kan beda, kita pacaran," ucap pria itu sambil menarik tangan gadis itu dari kepalanya untuk di genggam.
"Mau, yah?" tanyanya penuh harap pada gadis yang tersipu itu. Entah kenapa setiap kali dia mengatakan status hubungan mereka, gadis itu pasti tersipu. Wajahnya pasti merona dan membuatnya ingin mencubit gemes pipi kekasihnya itu.
Memang wajar sih dia tersipu. Pian ingat, dulu Ayu pernah cerita, 'kayaknya si Rinrin suka sama kamu deh, Pian. Dia kalo lihat kamu itu kayak beda aja rasaku.' Tapi, bukannya percaya sama penerawangan Ayu, Pian malah cari pacar dari tempat lain dan beberapa kali bergonta-ganti. Hingga pada akhirnya, dia memberanikan diri mencoba berhubungan dengan temannya itu. Bermula dari seringnya chat basa-basi hingga keluar bersama, ternyata mereka klop dan mencoba pacaran backstreet hingga tertangkap basah oleh Ayu.
Sekarang, jangan ditanya. Dia beneran jatuh cinta hingga ada di tahap tergila-gila pada temannya itu. Teman jadi pacar. Hal yang tidak pernah ia duga karena dia sudah berteman dengan Ayu sejak orok tapi hingga sekarang, tidak ada perasaan antara laki-laki dan perempuan di antara mereka. Murni berteman.
Jadi tidak selamanya ungkapan 'Tidak ada pertemanan sejati antara pria dan wanita' itu benar.
"Gimana? Mau? Nanti kalau ada hari libur, kita kunjungi ibu kamu juga di kampung," tawar pria itu.
__ADS_1
"Kalo ibu kamu nggak suka aku gimana?"Muncul raut khawatir di wajah si gadis ~Ririn~
"Pasti suka, orang si Yuyu udah ember hari itu, dia bilang kita pacaran. Sampe mak bapaknya kaget."
"Kapan?"
"Waktu aku bantuin Yuyu ngusir Andrian dari rumahnya, aku bilang kami pacaran. Ibuku langsung heboh. Terus si Ayu bocor. 'Piankan pacaran sama Rinrin', katanya waktu itu," terang si pria ~Pian~
"Respon ibu kamu apa?" tanya Ririn pelan tanpa bisa menghilangkan raut khawatir di wajahnya.
"Biasa aja, malah sampe di rumah tanya perjelas, aku bilang iya. Aku dinasehati, jangan sampe nyakitin kamu,
harus jaga anak orang,"
"Gitu aja?"
"Waktu itu, iya. ... Tenang aja, Yang. Ibuku dan ibu Ayu itu orang moderen. Biar masih kolot untuk perkembangan jaman, tapi pemikiran mereka moderen. Pilihan anak adalah yang utama, karena anak yang merasa damai dan nyaman. Kamu pasti nggak tau kan? Mereka sempat berencana jodohin aku dan Yuyu. Tapi mereka gagal karena aku sama Yuyu udah kayak adek-abang." Pria itu terkekeh kemudian melanjutkan lagi.
Ririn mengangguk. 'Ternyata ibunya Pian dan Yuyu keren dan berjiwa muda,' batinnya
Keduanya sepakat untuk mengunjungi rumah Pian terlebih dahulu. Dan jika sudah ada hari libur, mereka akan pergi ke rumah orang tua Ririn yang memilih untuk tinggal di kampung halaman setelah pensiun dari pekerjaan.
Itu sebabnya Ririn memilih kost. Karena tetap tinggal di kota untuk kuliah dan sekarang bekerja.
Ririn menyampaikan sedikit kekhawatirannya pada Pian. Khawatir Pian tidak bisa menerima keluarganya yang sederhana.
"Emangnya keluargaku kaya raya kayak si Jansen?" jawab Pian.
"Ngomong-ngomong tentang si Jansen, kira-kira besok gimana, yah? Kasihan sama Yuyu yang kadang-kadang
__ADS_1
udah berharap besar eh tiba-tiba down lagi karena orang tua Jansen," kata Ririn sambil merebahkan kepala di bahu pacarnya yang sudah duduk bersandar pada kaki kasur.
"Aku sih positif tingking aja, Yang. Lagian si Ayu, ngapain lah dia jatuh cinta sama cowok hi class gitu. Padahal dulu gilanya sama si Andrian nggak ketolong. Kirain sampai mati dia bakal kejar si Andrian." Pian mencibir temannya itu dan di balas kekehan oleh Ririn.
"Masih ingat isi surat dia yang lebay nggak, Yang?" tanya Ririn yang semakin melebarkan mulut. Mengingat temannya yang sering berhayal dan berpuisi semasa SMA dan isinya semua adalah Andrian yang berubah nama menjadi AAN.
"Suratnya sampe sekarang masih di simpan sama dia." Informasi dari Pian mengejutkan Ririn.
"Serius? tau dari mana?"
"Dulu sebelum magang, aku sempat baca suratnya lagi, aku ketawa ngakak pas baca kebanyakan lirik lagu dan
kata-kata alai, 'Kaulah bulanku, kaulah bintangku, masa depanku. Pangeran berkudaku,' pret." Pian menceritakan tapi dia sendiri yang kesal karena mengingat kealaian Yuyu.
"Magang itu dua tahun lalu, Yang."
"Potong kupingku, pasti dia masih simpan. Coba nanti kalau kamu nginap di rumahnya dia, coba tanya atau buka lemarinya, pasti ada."
"Apa dia belum move on?" Ririn menaikkan alis dan menggelang tak habis pikir dengan tingkah sahabatnya itu.
Untuk apa menyimpan surat cinta hingga bertahun-tahun?
"Udah move on kayaknya. Sekarang si Andrian yang kejar-kejar dia."
"Dunia berputar. Rasain si Andrian. Sok kegantengan sih. Aku dari awal udah filing nggak bagus saama dia.Eh
ternyata filingku bener. Yuyu aja yang buta," cibir Ririn.
"Mudah-mudahan besok lancar. Biar dia senang. Kasihan beberapa bulan ini murung mulu. Pengen bantuin tapi
__ADS_1
nggak tau gimana caranya," lanjut Ririn dan di aminkan Pian.