MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
118. BUAH MANIS


__ADS_3

~AUTHOR POV~


"Aku masih belum percaya loh Mas, Jansen bisa sekasar itu. Nggak nyangka aja dia berani lawan Mama Papa." Johana menyuarakan pendapatnya pada sang suami yang sedang menyetir.


Mereka berangkat kesiangan kekantor gara-gara ulah Jansen.


"Kebanyakan orang pendiam dan sabar gitu, Yang. Makanya banyak orang bilang. Marahnya orang sabar itu yang harus di waspadai."Jawaban suaminya itu membuat Johana menegakkan punggungnya.


"Mas, kamu nggak kayak gitu, kan?"


Tiba-tiba saja Johana merasa waspada. Bagaimana tidak, suaminya itu terkenal sangat kalem, pendiam dan sangat ramah.


Bisa jadi berbahaya kan seperti perkataan suaminya barusan.


"Nggak tau, sejauh ini dan seingatku aku belum pernah marah besar sama siapapun."


Tidak mungkin menjawab nggak. Siapa yang tau hari esok.


"Mas, kalau kamu ada yang ngeganjel dalam hati, langsung bilang ya! Jangan dipendam!"


Johana mewanti-wanti, takut kejadian kayak Jansen pagi ini.


Melihat wajah istrinya yang masih risau, Ruli terkekeh. Dia mengulurkan tangannya sebentar untuk mengusap rambut Johana.


"Aku akan belajar dan akan ingat untuk mengendalikan emosiku, jangan khawatir!" ucapnya pelan.


"Hmm.. itu harus, aku kasihan juga jadinya sama Mama pagi ini karena Jansen. Mereka pasti kaget."


Dahulu kala, saat Johana bersikeras menolak pria yang di jodohkan mamanya dan berusaha mempertahankan Maruli, Johana tidak pernah sampai sekasar itu. Paling kasar dia hanya pernah bilang akan bunuh diri jika tidak menikah dengan Maruli. Saat mengatakannya dia menangis terisak-isak.


Akhirnya Mamanya menyerah dan menyetujui pilihannya.


Jansen luar biasa, sampai rela di coret dari kartu keluarga, wow.


*****


"Josh juga nggak terlalu suka sama perempuan itu. Kalemnya kayak pura-pura. Apalagi kemarin dia terang-terangan pacari bang Jan juga karena uangnya."


Bara api yang masih menyala malah di siram lagi dengan bensin. Mamanya yang sedang duduk melamun di ruang keluarga, menoleh sekilas pada si bontot yang tiba-tiba nongol dan lalu duduk di samping mamanya.


Tanpa aba-aba menjatuhkan kepala di paha mamanya dan meluruskan kakinya.


"Josh jadi penasaran, kira-kira mama akan setuju atau nggak sama pilihan Josh nanti. Kalau sampai nggak setuju, fix, kami anak-anak nakal yang tidak turut perintah mama."


Mendengar ucapan bontotnya, nyonya Helena menghela napas dengan kasar.


"Mama salah. Mama egois. Mama udah pikirin mateng-mateng, tak seharusnya mama memaksakan kehendak sama kalian. Lihat abangmu, karena terlalu penurut, sekali berontak bikin mama jantungan."


Tangannya terulur mengusap rambut bontotnya.


"Papa juga udah kesal sama Mama kayaknya."


Sekali lagi, nyonya Helena menghela napas.


"Heleh, kesal apanya, Papa mah bucinnya Mama. Buktinya selama ini, ikut kata Mama aja."


Fakta yang tidak bisa di elak. Tuan Awan memang sebucin itu.


Mendengar anaknya yang mencibir, nyonya Helena akhirnya tertawa pelan.


"Kamu bisa bantu Mama nggak, Josh?"

__ADS_1


tanya nyonya Helena pelan.


"Bantuin apa?" si bontot menatap mamanya masih dengan berbaring.


"Ayo kita beri kejutan untuk abangmu, kita lamar Ayu besok."


"Hah! Besok?"


Josh langsung bangkit dan mengambil posisi duduk bersila menghadap mamanya.


"Kok tiba-tiba? Apa nggak sebaiknya diskusi keluarga dan juga bang Jan?" tanyanya dengan dahi berkerut.


"Kita susun rencana saja dulu, kalau rampung. Kita kasih tau Papa sama kakak kamu, Jan jangan di kasih tahu, biar dia jantungan kayak mama tadi pagi." Ada nada geram di dalam kalimat yang barusan keluar dari mulut nyonya Helena.


Akhirnya ibu dan anak seprofesi itu membuat rencana untuk membalas Jansen. Keduanya tampak serius hingga tak sadar sudah berdiskusi satu jam lebih.


"Mama hari ini masuk, nggak?" tanya Josh seraya bersiap berdiri.


"Nggak, mama libur aja, tanggung."


"Duh enaknya bisa libur. Ya udah Josh siap-siap yah, Josh ada jadwal nanti sore sampe malam."


"Ingat, kosongkan jadwal kamu besok malam!"


"Iya, mudah-mudahan nggak ada panggilan darurat. Gak mungkin di tinggal kalo udah bukaan, kan?"


Nyonya Helena kini sendirian lagi di ruang keluarga, matanya tertuju pada layar tivi tapi pikirannya masih melayang jauh. Mudah-mudahan langkah yang di ambilnya ini, langkah terbaik untuk masa depan anaknya. Semoga anaknya nggak salah pilih.


"Aku berharap, Josh tidak mengulang lagi kisah ini. Dua anakku udah nyaris membuatku mati muda."


******


Jantungnya deg-degan.


"Hush... hush...hush..."


Dia melambai-lambai pada angin seperti orang tak punya kerjaan saja.


"Kenapa?" tanya Lia dari sampingnya. Lia menatapnya dengan alis terangkat.


"Nggak, perasaanku nggak enak, kayak ada yang lagi omongin aku."


Lia menggeleng, udah terbiasa selama beberapa bulan ini dengan tingkah absurd temannya itu.


Pernah dulu menginjak-injak uang karena katanya uang itu di temukannya pas di parkiran.


Biar orang yang punya uang tidak kecarian lagi dan mengikhlaskannya.


Dan ternyata benar, nggak ada pengumuman uang hilang atau desas desus dari para rekan mereka. Artinya uang itu di ikhlaskan, kan?


"Li, kamu percaya santet, nggak?" tanya Ayu tiba-tiba.


"Percaya,"


"Jantungku deg-degan, kira-kira kenapa yah? Apa ada orang yang mau kirimin santet sama aku?"


"Nggak mungkinlah, apanya yang mau di santet dari kamu. Santetnya malah yang takut ntar. Hahahahaha"


Respon yang sangat menyebalkan buat Ayu.


"Nyesel ngomong sama kamu."

__ADS_1


Ayu memalingkan wajah dari temannya itu dengan raut kesal. Bibirnya komat kamit mungkin sedang mengutuk.


*****


Keesokan harinya, di rumah nyonya Helena. Semua berjalan lancar. Rencana yang disusun sudah di sampaikan pada anggota keluarga kecuali Jansen.


"Kebetulan sekali, Jansen nggak pulang cepat malam ini. Dia kemana?" tanya Johana yang sudah bersiap berangkat.


"Nggak ada nelpon mama," jawab nyonya Helena yang juga merapikan dirinya sebelum berjalan keluar rumah.


"Palingan juga di tempat ceweknya, bagus kalo dia disana, biar dia kaget trus pingsan." Yang ini balasan Josh.


"Udah siap Ma, bisa kita berangkat? Ntar Jan keburu tiba di rumah."


"Ayo, Pa!" nyonya Helena memasuki mobil.


Ada dua mobil yang berangkat. Johana sekeluarga dan Josh yang ikut serta dengan Mama Papa nya.


"Habis nikahin Bang Jan, giliran Josh ya, Ma!"


ucapnya sambil menyetir.


Dia layaknya supir taksi yang menyetiri pasangan tua bucin.


"Kasih jeda dong Josh, pamali nikahin anak dua orang di tahun yang sama," kata nyonya Helena.


Lihatkan, hidup di jaman now, tapi masih bawa-bawa mitos jaman purba kala.


"Di tahun yang sama kan?"


tanya Josh memastikan.


"Tinggal beberapa bulan lagi," lanjutnya sebelum mendapat jawaban mamanya.


"Kita lamar Ayu sekarang, emang mau nikahnya kapan?" tanyanya lagi.


"Nikahnya kapan lihat ntar, lamarannya dulu, ntar diskusi dua keluarga."


Sepanjang jalan, yang hampir dua jam, mereka bercerita dengan topik pernikahan.


Pasangan yang cocok untuk Josh, yang berakhir dengan wejangan.


"Kamu ya Josh, mama lihat, di Rumah Sakit, kamu itu gonta ganti cewek, ingat ya, jangan sampai salah jalan. Kalau sempat. Mama coret langsung dari kartu keluarga."


*****


Sepasang paruh baya kebingungan kala ada dua mobil mewah masuk ke halaman rumah mereka. Setelah di perhatikan itu bukan mobil anak-anak mereka maupun Jansen calon menantunya.


Saat ibu Rohaya hendak beranjak keluar, keluarlah paruh baya dari pintu penumpang juga di susul oleh seorang pemuda dari bagian pengemudi.


Dari mobil lain juga, keluar wanita muda yang menggendong seorang bocah. Apa ini? Siapa mereka? Salah alamat?


"Bapak kira tadi itu Jansen, tapi kayaknya nggak. Jansen kan lagi sama Yuyu," ucap pak Berton mengingat anak gadisnya izin pulang terlambat karena sedang bersama Jansen.


Belum keluar jawaban dari bu Rohaya, suara sapaan di pintu yang memang terbuka terdengar.


"Sepada!"


Keduanya tergopoh gopoh berjalan ke arah sumber suara sambil menjawab sapaan.


"Kami keluarga Jansen, salam kenal bapak ibu, kami berniat ingin melamar anak bapak ibu, Ayu."

__ADS_1


__ADS_2