
~AYU POV~
( Man teman, jangan lupa kasih likenya dong. Komen dan subs juga yah.)
********
Menjadi anak gadis satu-satunya di keluargaku sebenarnya sangat menyenangkan. Segala-galanya seperti di utamakan. Apalagi aku ini anak bontot lagi. Jadi bersikap manja pada abang-abang ku adalah hal yang biasa. Cuma, semua itu berubah seiring bertambah dewasanya aku dan juga mereka sudah menikah. Aku tahu diri, aku harus menjaga sikap untuk menghormati para kakak iparku. Kecuali, sama abang ku yang satu itu, yang masih setia menjomblo di umur yang sudah lewat seperempat abad.
"Jadi, kamu mau langkahin abang gitu?" ucapnya dengan tampang tidak rela.
"Maybe, soalnya kalau Yuyu nungguin abang, calon Yuyu udah keburu ubanan," jawabku dengan santai dan sedikit jujur.
"Emang calonmu udah tuir? makanya ubanan?" Dia membulatkan matanya ke arahku.
"Makanya pulang sekali-sekali, percuma dapat gaji ke tiga belas, ongkos pesawat nggak terbeli." Aku mengejeknya terang-terangan. Abangku yang satu ini memang terkenal sedikit hemat. Bisa mengarah ke pelit.
"Ntar nanti habis ini aku kirimin potonya. Poto terbaru. Abang harus nilai nanti. Cocok apa nggak buat Yuyu."
Aku sedang baringan di sofa berbantalkan paha ibu yang asik menonton siaran ikan terbang. Astaga! dari dulu ini aja channel di rumah ini, yang lain pada kemana sih?
"Aku penasaran, cowokmu seganteng apa, makanya ibu setuju kamu sama dia. Mana udah tua, lumayan kalau tajir. Bisa bikin kamu ongkang-ongkang kaki aja nanti, nggak khawatir suara token sekarat."
Kami memang tak pernah memberitahukan siapa Jansen, kecuali pada kedua abang ku yang tinggal di kota ini. Karena mereka udh pernah ketemu Jansen. Dan pernah dulu aku berkunjung untuk curhat ke kakak iparku, minta pendapat mau di lanjut atau tidak hubungan ini. Jadi, abang dan kakak iparku sudah tahu status Jansen dan betapa sulitnya keluarganya menerimaku.
"Tanya aja sama ibu, kenapa ibu suka sama cowokku dan kasih restu." Aku mengarahkan ponsel pada ibu. "Coba bilang bu sama abang, kenapa ibu suka sama Jansen," ucapku pada ibu.
Ibu berdecak setelah melihatku sekilas. Lalu menatap ponsel yang ku arahkan ke depan wajah ibu. "Ya, karena dia kaya, ibu nggak khawatir, adikmu nggak makan nantinya," ucap ibu lalau memfokuskan pandangan ke arah televisi.
"Noh, udah dengarkan, ibu suka karena Jansen kaya!" ucapku lalu aku tertawa.
Astaga ibu! Apa nggak ada jawaban yang lebih keren dari itu?
"Emang apa kerja cowokmu? Aku kok jadi penasaran ya!" Raut wajahnya benar-benar menunjukkan rasa penasaran.
Dua tahunan aku bersama Jansen, Abangku ini selalu aja sial. Setiap kali dia pulang, Jansen pasti ada kegiatan penting yang nggak bisa di tinggal, makanya nggak pernah ketemu.
__ADS_1
"Kuli, bukan PNS kayak kamu, Bang!" jawabku.
"Jadi beneran kamu udah mau nikah? Udah siap jadi istri dan menantu? Udah siap nggak di transferin lagi aku?" Dia tersenyum jahil di kalimat terakhir.
Udah aku bilang, jadi anak bontot, aku punya sedikit keistimewaan. Aku masih dapat bulanan walau sudah bekerja. Tidak banyak tapi cukuplah untukku.
Dulu, waktu abang nomor dua -Yosafat- belum nikah, aku juga di kasih bulanan. di jemput sesekali ke kampus dan di ajak kongkow-kongkow. Di ajak ke mal beli-beli apa yang aku mau. Tapi setelah menikah, waktu itu aku belum lulus kuliah, transferan auto berhenti dan aku mengerti itu kenapa. Dan kebetulan abang aku yang nomor tiga, yang udah PNS itu udah kerja, jadi dia yang gantiin isi rekening walau tak setebal dari bang Safat.
Untuk abang nomor satu, aku nggak sempat di transferin, tapi di kasih kes. Waktu itu masih SMP. Dan dia menikah. Kakak ipar nggak keberatan sih ngasih-ngasih, tapi aku yang nggak enakan. Apalagi mereka langsung punya anak. Sudahlah, putuslah sumber uang jajan. 😞😞
"Rappelin aja boleh, Bang?" Aku mengubah raut wajahku dengan tampang memelas.
"Rappelin untuk tiga tahun ke depan!" lanjutku dan di balas jitakan onlen oleh abangku.
"Dari dulu sifat nguras mu nggak hilang-hilang, Abang rasa tabunganmu udah banyak sekarang. Udah bergaji, tapi nggak ada pengeluaran lain, makan masih sama Bapak dan Ibu, tempat tinggal juga."
"Marah sama Bapak sama Ibu sana, kenapa abang nggak jadi anak bontot aja," balasku.
"Nggak berani!" bisiknya.
"Belum siap aku dapat ceramah panjang malam ini," ucapnya dengan berbisik juga.
Aku terkikik, dan sedang memikirkan apa yang harus ku katakan supaya ibu marah sama dia.
Ibu menoleh sekilas padaku. Mungkin saja ibu mendengar apa yang kami bicarakan dan sadar bahwa kami sedang mengatai Ibu.
"Back to topik dulu, Dek! Jadi beneran calonmu lebih tua dari Abang?" tunjuknya pada diri sendiri.
Aku mengangguk, "Hampir sama kayak bang Safat, kalo nggak salah. Iya kan, Bu?" Ibu menoleh padaku karena aku bertanya.
Lewat tatapan mata, aku mengerti apa yang sedang ibu maksud.
"Jansen seumuran bang Safat, kan ya?" tanyaku memastikan.
"Tua'an abangmu sedikit!" jawabnya dan langsung kembalikan arah pandangan pada layar di depan.
__ADS_1
"Calonku masih tiga puluh, Bang!" ucapku memberitahu.
"Wah, canggung bangat nanti mau sapa dia. Mau sapa pake Bang, dia adik ipar. Mau dek, umurnya udah tua. Nggak pantes lagi. Ujung-ujungnya canggung."
"Nggak papa lah, canggungnya sama kamu aja.Nggak terasa itu, soalnya kamu kan tinggal di luar pulau. Paling sekali setahun kalian bertemu," ucapku mengingatkan dia bahwa dia hidup jauh dari kami.
"Ck...kayak ngeledek aja," ucapnya.
"Nantilah, aku cari hari libur, kalau ada aku sempatin pulang. Aku jadi penasaran. Kamu tau kan, Dek? Aku ahli baca wajah orang. Siapa tau dia nggak cocok sama kamu, biar abang luruskan," lanjutnya pongah sambil membusungkan dada.
"Bagus itu!" jawabku.
"Udah ya, aku ngantuk!" lanjutku tapi di tahan oleh abang.
"Ntar kalau kamu nikah, kamu masih kerja lagi?" tanya abang perhatian.
"Tergantung aku, Bang. Kalau memang aku berniat lanjut, ya lanjut
Kalau pengen jadi ibu tangga rumahan, ya aku harus siap di jatah bulanan sama Jansen," kataku sambil menerawang ke masa depan. Benar juga, kalau aku tidak bekerja, berarti aku harus ngamen ke suamiku hanya untuk beli bakso. Duh! nggak enak bangat. Tapi teringat kata tante Helena waktu itu, kalau mau kerja, harus sama Jansen. Biar bisa pulang pergi bersama. Tapi, kebayang kerja di kantor Jansen akan seperti apa? Pasti mereka iri dan cemburu padaku karena aku si anak magang bisa menggaet bos dingin mereka itu.
"Nggak mau coba CPNS kayak abang?" tanyanya padaku. Pertanyaan aneh, siapa sih yang tidak mau jadi CPNS.
"Abang dengar, akan ada buka tahun ini, coba aja dulu. Siapa tau nasib," lanjutnya.
"Hmm, liat nanti. Kira-kira abang udah punya orang kuat yang bisa bekingin, nggak?" tanya ku iseng sambil tersenyum.
"Belum cukup kuat, tapi mungkin udah bisa!" jawabnya serius.
"Kamu mau pake jalur dalam?" lanjutnya.
Wah, mendengar pertanyaan itu, aku teringat pada beberapa bulan lalu.
Buset, kalau mau jadi CPNS harus nyogok, dapat uang dari mana? Jansen mau bayarin? Bah... Auto di cap calon mantu gold digger dong.
"Nggak lah, aku cuma tanya!" jawabku tegas.
__ADS_1