MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
122. SIDE STORY OF ANDRIAN


__ADS_3

~AUTHOR POV~


*****


Pria sipit berkulit putih itu duduk termenung. Sudah di pastikan bahwa harapan yang dia paksakan sebelumnya benar-benar musnah.


Undangan yang sudah di sebar bos nya di kantor sebagai bukti bahwa harapannya yang hanya setipis benang benar-benar lenyap.


Teringat tadi siang saat undangan itu di bagikan. Semua orang terkejut.


"Ayu yang itu, kan? Yang pernah magang disini?"


"Astaga! beruntungnya si Ayu."


"Jadi perempuan yang pernah ngaku-ngaku tunangan pak bos itu siapa?"


"Masih ingatkan waktu itu aku bilang ada perempuan sama pak bos di mobilnya tapi bukan yang pernah kesini itu? Nah, aku rasa perempuan itu si Ayu."


"Sejak kapan yah mereka itu berhubungan?"


" Atau sebelum magang disini?"


Nggak mungkinlah, waktu dia magang, gak ada perilaku aneh-aneh dari mereka berdua."


"Menurutku, mereka cocok sih. Ganteng dan ayu. Ih.. gak sabar mau kondangan. Kangen juga aku sama Ayu."


Ayu menjadi topik hangat hari ini di kantor Jansen dan membuat telinga seseorang semakin panas. Apalagi saat ada temannya yang bertanya,


"An, lo kan kenal sama Ayu, di kantor ini cuma lo doang yang dia kenal. Apa dia nggak pernah cerita soal dia pacaran sama pak bos?"


Mau jawab iya, salah. Karena Ayu nggak pernah cerita tapi dia melihat sendiri ketika Ayu dan bosnya kencan.


Mau jawab nggak pernah, pasti teman-temannya nggak percaya dan akan menyangka bahwa hubungan senior-junior dengan Ayu hanya sebatas itu saja.


"Aku nggak sedekat itu sama Ayu, nggak pernah cerita dia."


"Tapi waktu dia disini, lo pernah ajak dia makan malam kan? Gua masih ingat waktu itu. Dan lo juga pernah bilang mau beli cemilan buat Ayu. Masa lo bilang nggak sedekat itu?" Seorang temannya bertanya.


"Emang gak dekat bro, cuma karena kenal, kan kasihan, dia nggak ada teman disini."

__ADS_1


Jawaban bijak dari sang casanova yang mulai kena karma.


"Cuma...."


Semua orang yang ada disana menantikan kelanjutan cuma dari Andrian.


"Gue tau kalo bos dan Ayu pacaran. Waktu itu pernah ketemu waktu mereka kencan.


Pernah tanya ke Ayu juga soal mbak-mbak yang datang waktu itu. Ayu cuma bilang, kenal dengan mbak itu. Tapi, emang nggak ada hubungan sama bos apalagi tunangan. Itu aja."


"Kok lo nggak pernah cerita ke kita-kita?"


Seorang teman perempuan protes.


Udah punya berita hebat, malah disimpan sendirian, batinnya.


"Emang itu penting?" jawab Andrian.


Dan semua orang mengangguk pada akhirnya, karena Andrian benar. Urusan asmara bos mereka bukanlah hal penting bagi mereka.


"Semoga bos dan Ayu bahagia."


"Ooo,,, jadi karena ini panggilan aku di abaikan?" Suara cempreng yang keras mengganggu ketenangan pikiran Andrian. Dia menoleh pada kekasihnya yang baru saja datang dan memergoki dirinya sedang melamun dengan undangan pernikahan Jansen dan Ayu di tangan. Melihat itu, pastilah Nuri salah paham. Apalagi beberapa waktu ini, Andrian berubah dan lebih banyak melamun, kadang tanpa sadar menceritakan soal Ayu walau Nuri tidak membuka topik mengenai gadis itu.


"Apaan sih, jangan salah paham. Aku nggak angkat karena nggak dengar. Ponsel aku silent." Andrian berusaha tenang dan meletakkan undangan itu di atas kasurnya.


"Hahahahaha...."


Jawabannya di respon dengan tawa keras dan panjang oleh Nuri.


"Silent ya. Bahkan saat aku di pintu kamarmu aku bisa dengan suara ponselmu tadi," ucapnya setelah meredakan tawanya.


"Udahlah Andrian, nggak usah galau begitu. Kayak kamu pacarnya Ayu aja. Dulu waktu dia ngebet sama kamu, kamu cuekin dan bahkan gak peduli waktu aku pajang surat cintanya untuk kamu waktu itu. Kamu malah sering ngejek dia. Ngatain dia nggak menarik, gadis gendut sarang jerawat." Perkataan Nuri mengingatkan salah satu dosa Andrian di masa lalu yang hampir dia lupakan.


"Kapan pestanya?" tanya Nuri sambil meraih undangan itu dan merebahkan diri di kasur Andrian sambil membaca undangan itu.


"Dua minggu lagi!" jawabnya pada diri sendiri saat membaca tanggal yang tertera disana.


"Benar-benar gadis beruntung," gumamnya pelan.

__ADS_1


Dia mengingat perlakuannya dulu. Dia sering mengompori teman-temannya untuk mengejek Ayu di sekolah. Bahkan di kampus dulu dia pernah bermaksud mempermalukan Ayu, tapi gadis itu membungkamnya saat itu.


Sekarang, buah manis dari segala ejekan yang di alamatkan buat Ayu telah di terima oleh gadis itu. Dia akan dinikahi oleh seseorang yang sangat potensial dari segi apapun.


"Kita kapan cetak yang beginian, Yang? Aku udah mulai bosan menunggu dan bertanya," ucapnya pelan.


Yang ditanya diam seribu bahasa. Kapan ya? Dia bimbang, rasa yang dulu ada kini sudah mulai pudar. Bahkan sudah hambar tapi Nuri tidak bisa diabaikan karena sebuah tanggung jawab.


"Nanti aku bicarakan sama orang tua ku dulu," jawabnya. Tidak mungkin dia mengulur waktu lagi. Dia tidak mau memupuk dosa lagi.


Beberapa waktu ini, dia sudah mulai sadar apalagi pernah di tanya oleh Ayu, apa dia nggak merasa bersalah pada setiap gadis yang di kencaninya. Sejak itu, dia sudah mulai mengurangi kenakalannya.


"Aku tunggu. Jangan terlalu lama," jawab Nuri pelan.


Dia juga sebenarnya tidak memaksakan Andrian. Bila Andrian mengatakan tidak, dia harus terima karena dia juga bukanlah seseorang yang setia.


Mereka berdua bukannya tidak sadar pada kelakuan mereka. Tidak ada hal yang istimewa lagi di antara mereka. Semua ini karena keterlanjuran.


"Aku harap kita bisa memperbaiki hubungan ini jika memang kamu berniat, jika memang tidak, katakan saja terus terang. Aku bisa mengerti."


Kalimat yang baru saja terdengar itu adalah pertama kalinya bagi kedua memulai topik yang berat.


Selama ini, selain kesenangan, mereka tidak pernah memikirkan apapun.


"Aku bukan orang yang setia, dan jelas kamu tau itu. Aku juga sama sepertimu, bermain-main di belakangmu. Aku selalu merasa tidak seistimewa itu, makanya kamu mencari belaian dari gadis lain. Akhirnya aku juga membalas mu dan malah bablas."


Nuri menceritakan awal mula kenakalannya dan itu membuat Andrian semakin merasa bersalah.


"Maaf, aku menjadi orang yang membawa pengaruh buruk padamu. Jika kamu mau dan bisa menunggu sebentar lagi, ayo kita perbaiki hubungan kita dan kita mulai dari nol lagi. Ayo kita belajar untuk saling mencintai dan saling percaya juga setia kedepannya."


Pria itu berhenti sejenak dan berjalan ke arah gadis yang masih setengah berbaring itu.


Andrian menarik tangan Nuri untuk duduk. Lalu dia duduk di hadapan gadis itu. Menatap mata gadis itu dengan begitu dalam. Sarat akan permintaan maaf dan penyesalan.


"Nuri, aku tahu aku bukan orang baik. Beri aku kesempatan untuk bisa memperbaiki diriku terlebih dahulu. Maukah kamu menunggu?"


Gadis itu melihat pria di hadapannya dengan intens. Sudah saatnya untuk dewasa dalam berpikir.


"Baiklah, aku akan menunggu. Mari sama-sama memperbaiki diri."

__ADS_1


__ADS_2