MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
Kesayangan


__ADS_3

Bagian 42


Oleh Sept


Tika mencoba mengeluarkan senyum senormal mungkin. Mencoba mengatakan bahwa ia tidak apa-apa. Namun, nyatanya ia tak terlihat kuat seperti biasanya. Meskipun bibir tersenyum, Dewa dapat melihat dengan jelas ada tangis dalam tatapan mata itu.


Dewa melangkah, meraih tubuh tersebut. Perlahan ia bisa merasakan, tubuh itu bergetar menahan isak tangis yang akhirnya pecah.


"Jangan dengar kata mama, itulah mengapa aku tidak ingin kembali ke tanah air. Sudah ... hapus air matamu. Mana Tika ku yang dulu? Setegar karang yang diterjang ombak pun bergeming. Jangan bersedih ... jangan Tika, ada aku di sisimu!" Tangan Dewa mengosok punggung wanita itu. Menenangkan hati Tika agar tidak gunda gulana terlalu dalam.


Sedangkan di depan pintu, mata mama melirik tak suka. Tangannya mengepalkan melihat kemesraan Dewa dan Tika. Panas, merasa kalah. Mama lantas berbalik dan meninggalkan tempat itu. Mungkin sekarang ia kalah, tapi esok, dia akan membuat keadaan berbalik.


***


"Apa mama masih di depan?" tanya Tika yang sudah merasa tenang dan baikan. Setidaknya ia sudah mulai menata hatinya kembali. Sebuah hati yang harus sekuat baja, untuk menghadapi kenyataan hidup yang kadang tak seperti harapan.


"Sudah," jawab Dewa dengan datar. Ia mungkin masih kecewa dengan sikap sang mama.


"Ayo berkemas, kita ke dokter," sambung Dewa sembari menatap perut Tika yang sangat rata itu.


"Aku sudah nggak apa-apa," sanggah Tika.


"Nggak apa-apa bagaimana, katanya sempat pingsan."


"Tapi, aku udah baikan."


"Nggak, ayo ganti baju. Aku mau lihat anak aku."


"Ya ampun, ini mungkin baru beberapa minggu ... pasti sangat kecil sekali."


"Gak apa-apa, sayang. Aku mau lihat. Ayo ...!"

__ADS_1


Dewa membantu Tika turun dari ranjang, kemudian mengambilkan sebuah dress bunga-buga yang longgar.


"Pakai ini," seru Dewa sambil mengarahkan pakaian warna salmon tersebut.


Kali ini Tika menurut saja, tidak mau suaminya tambah cerewet bila tidak dikabulkan titahnya. Setelah siap, mereka berdua pun menuju rumah sakit terdekat. Selama menyetir, tangan Dewa yang satu terus saja membelai perut Tika. Mengelusnya dengan lembut dan sayang.


"Udah ah, fokus nyetir. Geli." Tika menepis jari-jari suaminya yang terus menelusuri permukaan perutnya.


Dengan gemas, Dewa malah mengusap perut itu. "Aku nggak sabar lihat baby Kita lahir, Tik."


Terlihat sekali bila pria itu sangat senang dengan kabar kehamilan Tika. Meski sedang bersiteru dengan sang mama, setidaknya Dewa memiliki hiburan. Yang mungkin akan menarik perhatian pria itu. Bukan hanya menarik perhatian, mungkin calon bayi itu kedepannya akan menguras pikiran Dewa.


Anak pertama, anak yang ditunggu-tunggu membuat Dewa lebih bersemangat menjalani hidup dengan keluarga kecilnya itu.


***


Rumah sakit


Dewa tak berkedip ketika matanya menatap layar. Dilihatnya sebuah titik, katanya itu calon anak mereka.


Selama dokter memberikan penjelasan, Tika hanya manggut-manggut. Sepertinya ia harus mengambil les bahasa lagi. Agar menambah kosa kata. Jujur, bahasa asing Tika jauh di bawah standard. Beda sekali dengan sang suami, berbicara dalam bahasa asing sudah makanan sehari-hari.


Saat keluar dari ruang periksa, sepanjang lorong rumah sakit Tika bertanya pada sang suaminya.


"Sayang, aku tadi hanya mengerti sedikit apa yang dokter Kathrine katakan. Sepertinya kalian tadi membahas sesuatu yang serius. Aku penasaran, kalian membahas apa? Apalagi tadi dokter itu sempat tersenyum menatapku?" tanya Tika penasaran.


"Oh ... ada, ayo pulang." Dewa tersenyum lebar sambil merangkul pundak Tika.


"Mencurigakan! Katakan, aku penasaran!"


"Sungguh ingin mendengarnya?" Dahi Dewa mengerut.

__ADS_1


Tika pun mengangguk cepat.


"Ke mari!" Tangan Dewa menarik Tika untuk lebih dekat, setelah itu ia membisikkan sesuatu ke telinga wanita itu.


Bak buk bak buk


Malu, Tika langsung memukuli dada Dewa bertubi-tubi. Bisa-bisanya suaminya menanyakan hal itu. Pantas, dokter Kathrine menatapnya sambil tersenyum.


"Udah, cukup ... simpan tenagamu. Kita lanjut di rumah."


Mata Tika langsung membulat, dan itu membuat Dewa makin terkekeh. Di usapnya kepala Tika dengan sayang, lalu mengecup keningnya.


"Ayo cepat pulang, kita lanjutkan di rumah."


Cup


Kecupan di bibir yang singkat menjadi tanda, bahwa sinyal-sinyal sudah menguat.


Dengan malu-malu tapi mau, Tika pun mengikuti sang suami yang sudah menuntunnya meninggalkan lorong rumah sakit yang panjang itu.


Waktunya mengunjungi titik kecil itu, dokter Kathrine bilang tidak apa-apa. Asal jangan banyak gaya.


***


Apartemen


"Nanti jatoh!" pekik Tika yang melihat ke bawah. Ya, baru membuka pintu, Dewa langsung membopong tubuhnya.


Buk


Dewa meletakkan tubuh Tika dengan hati-hati tepat di tepi ranjang. Dan keduanya pun sempat diam sesaat, hanya saling menatap, memandang dengan dalam. Sebuah tatapan yang mampu membuat aliran darah berdesir tak menentu.

__ADS_1


Tak puas hanya saling menatap, Dewa kini mulai menyibak dress Tika. Pelan-pelan memasukkan tangannya, menempelkan telapak tangannya tepat di atas perut wanita tersebut.


"Kesayangan Papa," bisik Dewa sambil mencium perut Tika. Bersambung.


__ADS_2