
~JANSEN POV~
*****
Pesan suara yang ku kirimkan tadi malam pada Ayu sampai hari ini tidak ada balasan. Dia benar-benar berubah sekarang. Aku menekan tombol untuk memanggilnya. Satu detik dua detik, tidak ada jawaban hingga panggilan berakhir. Apa dia memang sudah tidak mencintaiku lagi?
"Baiklah, mari kita coba sekali lagi, jika ini juga tidak di angkat, berarti semua sudah berakhir," monolog ku sambil mencoba menekan tombol panggil sekali lagi.
"Hallo."
Entah kenapa aku sangat sedih mendengar suaranya. Aku ingin menangis tapi tidak bisa.
Kalian mungkin berpikir aku sangat berlebihan, tapi aku serius. Mungkin karena besarnya cintaku padanya tetapi tidak bisa kami satukan karena restu orang tuaku.
"Hallo, Jansen?"
"Sayang, tolong panggil aku sayang sekali saja!"
Aku tahu ini konyol, tapi bisakah aku mendengarnya kali ini? Sudah seminggu ini dia menghilangkan panggilan 'Beb' padaku. Bahkan chat nya juga sudah tidak ada panggilan itu.
"Kamu kenapa?"
"Panggil aku sayang!"
"Ck, kekanakan. Jansen Sayang, kamu kenapa?"
"Hehehehe, terima kasih. Aku ok, hanya lelah."
Aku merebahkan tubuhku di kasur. Walau dia jengkel, tetap saja dia menuruti permintaanku, kan? Aku rasa dia juga sama. Punya cinta yang besar untukku, tapi dia sedih dan kecewa karena tidak di terima oleh keluargaku dengan tulus.
"Jangan aneh-aneh!" Lihat! gadis yang bukan pacarku tapi pacarku ini. Di balik sikapnya yang keras kepala dan selalu berusaha menjauh dariku, ada juga rasa pedulinya padaku.
"Seharusnya aku mengambil Apartemen itu kemarin, atau rumah juga nggak apa-apa. Hufff"
"...."
"Aku lelah, mau istirahat!"
"Ada apa? Kamu sakit?"
"Iyah, aku sakit."
"...."
"...."
"Sayang!"
"...."
"Maaf, ternyata aku tidak sekuat yang kamu kira. I can't stand by myself. I need somebody to hold. Tadinya aku sangat berharap bahwa orang itu adalah kamu. Tapi, sepertinya kamu tidak punya keinginan untuk menjadi peganganku."
"...."
"You know how much i love you. Bagaimana aku sangat ingin bersama kamu. Tapi hari ini aku menyerah. Aku menyerah, Sayang. Maafkan aku."
klik
Sambungan telepon aku putus dengan sepihak. Sebenarnya aku ingin sekali mengatakan banyak hal padanya, tapi aku tidak mau terlalu membebaninya. Sudah cukup beban yang ku berikan padanya selama beberapa bulan ini.
Tak berapa lama, ponselku bergetar.
__ADS_1
Drrrrttttt
Drrrrttttt
Drrrrttttt
Getar ponselku yang aku letakkan di atas nakas samping kasur
Yuyu Love calling......
"Hehehehe, aku rasa kamu khawatir sekarang, tapi maaf aku tidak kuat mendengar suaramu lagi." Aku hanya menatap ponsel hingga panggilan berakhir tanpa ku jawab.
Tring
Tring
Tring
Notif pesan beruntun dan aku bisa melihat nama Ayu paling atas.
Sebelumnya, banyak pesan yang masuk, dari Johana, Josh, Mama juga Papa. Tak satupun yang ku balas.
Yuyu Love:
'Kamu dimana?'
'Jawab telponku!'
'Kamu dimana?'
Me:
'Aku lagi istirahat. Don't worry.'
Aku baru bisa bercanda setelah aku dekat dengan Ayu. Tapi dia baru saja melepaskan tanganku karena beban yang mungkin tidak sanggup dia pikul.
Yuyu Love calling....
Getar ponsel yang masih ada di tanganku. Aku melihat nama kekasih hatiku yang memanggil.
Dengan terpaksa aku menerimanya karena ini sudah berulang.
"Hall---"
"KAMU DIMANA?"
Refleks aku menjauhkan ponsel dari telingaku begitu sapaan ramah dari kekasihku menggelegar.
"SEMUA ORANG NYARIIN KAMU DAN DI KIRA AKU LAGI NYULIK KAMU BRENGSEK!! PULANG SEKARANG SEBELUM AKU SERET KAMU PULANG!!
Klik
Ayu langsung memutus panggilan sebelum aku memberikan jawaban. Bahkan sapaanku juga terpotong.
Tring
Yuyu Love:
'Pls pulang, jangan kekanakan.'
'Aku nggak mau di anggap bawa pengaruh buruk buat kamu sampai - sampai kamu kabur.'
__ADS_1
'Kalau harus menikah dengan Mira, ya Silahkan!'
'You two will be a great couple'
Walau aku hanya membaca, tapi aku dapat merasakan bahwa Ayu sangat sedih.
Aku membuka kunci ponsel, masuk ke room chat Johana.
Me:
'Aku tidak pulang malam ini, aku menginap di hotel x, tolong kasih tahu mama, Thanks.'
Kak Jo:
'You should go home sebelum aku kesana seret kamu pulang, pengecut!'
Aku terkekeh miris, ya benar, aku memang pengecut.
Me:
'Aku capek, ngantuk.'
'Besok aku pulang.'
Kak Jo:
'Sekarang!'
Akhirnya dengan tidak rela aku meninggalkan hotel dan mengemudi ke rumah dengan mood yang buruk.
Inilah Jansen yang sebenarnya. Jansen yang tidak bisa berkata lain selain mengikuti kemauan mereka. Hal terbesar yang kulakukan dalam hidupku adalah menentang orang tuaku dan menolak di jodohkan demi seorang gadis sederhana.
Sepanjang jalan aku mengenang masa kecilku hingga dewasa ini. Aku baru sadar, bahwa aku hidup sesuai apa yang mereka katakan.
Tidak perlu waktu lama, karena hotel ini memang dekat rumah. Ada di pertengahan kantor dan rumah.
Dengan santai aku masuk ke rumah, semua orang berkumpul di ruang keluarga dengan raut wajah yang bermacam-macam dan cenderung ke masam.
"Dari mana aja kamu?"
"Hotel"
"Seharian? Apa kantor sudah tidak penting untukmu?" Ini seruan dari Papaku yang ada di ruang tamu juga.
Halah, cuma bolos sehari udah kayak setahun aja. Percuma punya para tenaga ahli yang sudah berpengalaman.
"Hanya satu hari, tidak langsung bangkrut, kan?"
Aku duduk dengan gaya cuek. Sungguh, jika bisa aku ingin menjadi anak berandalan yang tidak takut apapun.
"Ngapain kamu di hotel? Sama siapa?" Mamaku ngegas. Aku tahu apa yang mamaku pikirkan, mungkin dia pikir aku bersama...
"Jangan bilang barusan mama berpikir aku bersama Ayu. Hehehehe"
Mama gelagapan. Aku heran kenapa orang berpendidikan tinggi seperti mama bisa berpikiran seperti itu. Apa mama pikir Ayu itu murahan? Huh..
"Ayu bukan perempuan seperti itu, Ma. Jangan selalu berpikir negatif tentangnya. Mungkin benar dia bukan selera mama, tapi bukan berarti mama harus berpikir buruk tentangnya. Mama hanya belum kenal dia saja. Jansen harap mama menyesal telah berpikir seperti itu, suatu saat nanti," lanjutku tanpa menatap mama. Tatapanku ku arahkan pada televisi yang menyala tanpa penonton.
"Hari ini aku hanya sedang malas saja, aku bosan dan ingin istirahat. Seharian aku di kamar hotel tidur. Dan baru malam seseorang meneriaki ku dan mengatai ku brengsek jika aku tidak pulang. Aku tidak peduli pada awalnya, tapi ada yang menggelitik hati ku saat mendengar bahwa dia di sangka menculik ku, lucu sekali..." Aku bisa menebak siapa yang mengatakannya.
"Baiklah, anak pengecut ini sudah pulang, aku pamit istirahat." Aku berdiri dan berniat ke kamarku.
__ADS_1
"Josh, don't judge book by the cover!"