MY BOSS MY HUSBAND

MY BOSS MY HUSBAND
139. HAPPY FAMILY


__ADS_3

HAMPIR END


*****************************


"Mbayu nggak boleh nolak. Kita pergi rame-rame. Sekali-sekali harus refreshing, Mba. Jangan kerja terus. Anak-anak juga sudah pada berkeluarga semua." Nyonya Helena sedang membujuk besannya agar mau pergi bersama mereka.


Keluarga Pradipta berencana pergi liburan singkat ke kampung halaman Maruly di Sumatera.


"Mbayu nggak penasaran  dengan Pizza Andaliman? Kemarin ada teman di rumah sakit yang pergi kesana dan udah nyobain. Saya juga mau ke daerah yang di kunjungi pak presiden."


Bu Rohaya hampir oleng terpengaruh ucapan besannya. Tapi tersadar, toko nggak bisa di tutup. Pelanggannya gimana?


Saat kebimbangan menyelimuti pikirannya, anak gadisnya yang sudah tidak gadis lagi lewat dari sampingnya sambil berbicara,


"Cuma seminggu aja, Bang. Masa abang nggak kasihan sama Ibu sama Bapak. Nanti gantian setelah Yuyu lahiran. Yuyu jaga toko Abang, Hehehehe"


"....."


"Benaran! Nggak lebih Bang. Iya kan, Ma?" Ayu menatap mertuanya sambil bertanya. Yang ditanya bingung mau jawab apa soalnya belum begitu paham apa yang sedang di bicarakan menantunya dan dengan siapa dia bicara.


"Ibu mau tapi nggak mau, Bang. Kepikiran toko. Padahal kan ini permintaan Yuyu sama dedek bayi. Dedek bayinya nangis mau jalan-jalan sama nenek katanya." Wajahnya di buat memelas padahal lawan bicara berada jauh puluhan kilometer darinya.


Mendengar Yuyu bicara seperti itu, Ibu Rohaya segera memukul lengan  gembul Ayu yang kebetulan duduk di sampingnya.


"Bocah sableng!" ucapnya geram tanpa suara.


"Sttt!" Ayu yang di marahi hanya memberi isyarat pada ibunya dengan jari telunjuk di bibirnya sendiri.


"Boleh, kan?"


"....."


"Ka Marta memang yang terbaik. Nanti Yuyu bawain kain tenun kas Danau toba."


"...."


"Iya, bereslah itu. Nanti kita seragaman kalau bang Rudi menikah."


"Oke ka. Yuyu tutup."


"Beres!" ucap Ayu seraya menurunkan ponsel.


"Ibu sama bapak boleh pergi, Abang yang gantikan. Ka Marta udah kasih izin."


"Ck, Ka---"


"Ini ganti janji Yuyu bawa ibu ke Jerusalem, Bu," jawab Ayu memotong ucapan ibunya pun jitakan yang hampir mendarat di jidatnya.


"Dari danau toba ke Salib kasih itu cuma dua tiga jam. Nanti kita sekalian kesana."


"Ya nggak sebanding dong Yu, sama Jerusalem!" Mertuanya malah ikut menyudutkan.


"Mama kok nggak belain Yuyu. Ini Yuyu bantuin mama yang lagi bujuk Ibu. Lagian kalau ke Jerusalem, nanti udah anak Yuyu besaran dikit. Masih lama, jadi ke anakannya aja dulu."


Mertuanya hanya berdecak merespon Ayu. Sama-sama wisata rohani. Tapi jelas beda.


"Bener ya, udah lahiran kita jadi pergi, utang kamu loh ini, Yu!" ucap ibu Rohaya.

__ADS_1


"Bener, Bu. Coba bilangin menantu Ibu juga, karena semalam dia ada rencana, begitu Yuyu brojol mau langsung bikin anak lagi."


Setelah itu, jitakan benar-benar mendarat di kepalanya di tambah pukulan sayang di punggungnya.


"Kamu ini, jangan-jangan ini rencana kamu, tapi bilangnya rencana Jansen."


Ayu terkekeh sambil mengusap lengannya.


*****


"Beneran nggak papa kan Pak kita pergi?" Rohaya agak sangsi apabila suaminya tidak setuju bahkan terpaksa.


"Benar, Bu! Jansen udah lama ajakin Bapak liburan. Tapi bapak beralasan soal toko. Setelah bapak pikir-pikir, yang Jansen katakan ternyata benar. Masa tua kita ini harus lebih banyak di habiskan dengan menikmati alam. Jangan kerja terus."


Rohaya merasa tenang usai mendengar jawaban suaminya.


Dia mulai berkemas karena akan berangkat besok pagi-pagi. Perjalanan kali ini sudah di atur keluarga Pradipta. Mereka hanya sebagai pengikut saja.


Semenjak putri mereka resmi bermarga Pradipta, beberapa kali dua keluarga itu sering berkumpul walau hanya sekedar makan bersama atau barbeque.


"Ibu masih belum nyangka, Pak. Ibu kira walau Yuyu resmi dengan Jansen, keluarga mereka akan biasa saja sama kita. Tapi perkiraan ibu jauh melenceng."


"Bapak juga gitu. Apalagi dulu Yuyu sempat di tolak. Tapi, syukurlah. Bapak lihat Yuyu cocok sama ibu mertuanya."


Keduanya bersyukur usaha anaknya yang bertahan dari serangan keluarga Jansen dulu, berbuah manis sekarang.


******


Sementara itu, pasangan muda di dalam kamar mewah itu sedang dalam keadaan tidak bisa berkata-kata.


"Udah lama aku ngimpikan ini, Mas."


Wanita muda yang adalah Johana itu masih sesenggukan sambil menyusun pakaian mereka ke dalam koper.


"Aku harus beli oleh-oleh apa buat Inang?"


Selama ini, setiap kali mereka berkunjung atau mertuanya datang mengunjungi mereka, Johana bingung mau belikan apa, karena mertuanya selalu menolak dan mengatakan itu tidak terlalu di perlukan.


"Kamu datang bawa Vania, itu udah hadiah besar untuk Mamak. Ditambah sekarang bawa keluarga besar. Mamak pasti lebih senang lagi."


Ruly mengelus wajah istrinya yang masih basah.


Kali ini dia benar-benar bersyukur, berlipat ganda karena mertuanya sudah sangat menerimanya dengan iklas. Bahkan mertuanya kemarin meminta maaf karena selalu ketus padanya.


"Jangan lupa telepon Inang, aku mau makan ikan yang di masak pake asam itu lagi."


"Naniura?"


"Iya!"


"Hehheehe, baiklah ratuku. Apapun untukmu!" Ruly mencium ubun-ubun istrinya.


"Tapi jangan kebanyakan. Itu tidak bagus untuknya!" lanjutnya sambil mengusap perut datar istrinya.


"...!!!" Johana mengangkat wajahnya menatap suaminya dengan raut tak percaya.


"Mas?"

__ADS_1


"Iya, kamu lupa simpan tespeknya, yah aku jadi lihat," ucapnya sumringah.


Johana menepuk keningnya. Rencananya dia mau memberi kejutan di kampung nanti malah sudah ketahuan sekarang.


"Apa kita nggak sebaiknya ke dokter dulu? Kita cek sekalian minta vitamin dan penguat. Kita kan mau liburan. Takut kamu kenapa-napa karena perjalanan jauh."


Ruly merengsek duduk di samping istrinya. Menyandarkan kepala di bahu istrinya dan tetap mengelus perut rata itu.


"Aku tidak akan memaksa. Dan aku akan terima apapun itu nanti. Tapi kalau boleh meminta, semoga anak laki-laki yah, Sayang. Bagi kami orang batak, keturunan laki-laki itu sangat penting karena akan meneruskan silsilah keluarga."


"Amin, semoga Tuhan berkenan ya, Mas!"


Johana sudah tahu itu. Sejak dia menikah dengan Maruly yang notabene adalah suku batak. Dia banyak membaca-baca tentang batak. Salah satunya penerus silsilah keluarga. Dulu saat hamil Vania, dia berharap anak pertamanya juga laki-laki. Tapi Hadiah Tuhan lain dari yang dia minta."


"Kita ke dokternya malam ini saja, nggak usah bilang mama, nanti aku di larang ikut karena hamil muda."


"Iya, tapi disana nanti, kalau memang capek, jangan si paksakan ya, Sayang!"


Johana mengangguk.


Keduanya bergegas dan sengaja meninggalkan Vania pada oom dan tantenya untuk menjaga rahasia agar tidak bocor.


"Ma, Jo sama mas Ruly keluar bentar, ya. Mau beli cemilan dan oleh-oleh buat ke kampung."


Johana mendekati putrinya.


"Main sama oom dan tante Yuyu dulu ya, Sweety. Ajak dedek bayi ngobrol," tunjuknya pada perut Yuyu yang membukit.


Vania selalu senang ketika dia mengelus perut buncit itu. Katanya dedeknya gerak-gerak ikutin tangan Vania.


"Iya Mama. Jangan lupa beli donat!"


Johana mengangguk sambil tersenyum. Dia juga penasaran, apa Vania nanti akan sesayang itu pada adik di perut mamanya?


Karena kata orang-orang, anak kita bisa lebih sayang pada bayi orang lain dari pada adik bayinya sendiri.


"Jangan kebanyakan belinya, Jo. Repot bawanya. Disana udah ada maret-maret kan, Ly?"


"Ada, Ma!"


"Ya udah, beli dikit aja, yang kira-kira gak di jual di maret-maret."


Johana dan Ruly mengangguk.


****


"Bayinya sehat, perkembangannya bagus. Semua normal saya lihat. Udah tiga belas minggu ya, Bu!"


Johana dan Ruly terkejut. Tiga belas?


Johana lupa dan tidak terlalu memperhatikan. Bulanannya memang kurang teratur. Tahun ini dia sering sekali cek di rumah apa sudah positif atau belum. Tapi masih nihil. Saking seringnya tes dan selalu kecewa. Akhirnya dia mengabaikannya beberapa bulan ini.


"Sstt, jangan menangis! Kok cengeng." Maruly terkekeh seraya mengusap lengan istrinya.


"Aku senang, Mas. Nggak nyangka, saat aku tunggu-tunggu dan sangat berharap tapi aku selalu kecewa tespeknya negatif."


"Syukuri aja, rejeki kita mungkin sekarang!"

__ADS_1


Keduanya keluar dari ruang praktek dokter itu dengan wajah berbinar.


__ADS_2